Al-Aakhir

Salah satu nama Allah ‘azza wa jalla adalah Al-Aakhir (Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah).

Dalil Al-Qur’an

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dia-lah Yang Awwal dan Yang Akhir Yang Zahir dan Yang Bathin, dan Dia maha mengetahui segala sesuatu.” [1]

Dalil Sunnah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a tidur:

اللهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

“Ya Allah Rabb langit, Rabb bumi, Rabb ‘arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan, yang menurunkan Taurat, Injil dan Furqan, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan segala sesuatu yang Engkaulah yang menguasainya. Ya Allah Engkaulah Al-Awwal, yang tidak ada sesuatu apa pun sebelum-Mu, dan Engkaulah Al-Aakhir, yang tidak ada sesuatu apa pun setelah-Mu, dan Engkaulah Az-Zhaahir, yang tidak ada sesuatu apa pun di atas-Mu, dan Engkaulah Al-Baathin, yang tidak ada sesuatu apa pun yang lebih dekat kepada makhluk daripada-Mu, tunaikanlah hutang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran.” [2]

Penjelasan Ulama

Nama Allah Al-Aakhir menunjukkan bahwa Dia-lah kesudahan dan tempat bergantung semua makhluk dengan menyembah, berharap, takut dan semua memohon kepada-Nya. [3]

Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah mengatakan: “Bahwa Dia-lah yang tetap kekal dan selain-Nya tidak kekal, dan apabila ada makhluk yang kekal maka itu hanyalah berasal dari Allah ‘azza wa jalla, seperti surga, neraka dan penghuni keduanya, karena pada hakikatnya surga dan neraka tidaklah kekal (dengan sendirinya), akan tetapi Allah ‘azza wa jalla yang menjadikan keduanya kekal dan terus menerus ada, maka kekekalan Allah adalah kelaziman zat-Nya, adapun kekekalan surga dan neraka adalah sesuatu yang mereka dapatkan, dan Allah ta’ala yang memberikannya kepada keduanya, andai Allah mau memusnahkan keduanya niscaya Allah subhanahu wa ta’ala maha mampu untuk melakukannya.” [4]

Baca pula

Referensi

  1. QS. Al-Hadid : 3
  2. HR. Muslim, IV/2084
  3. Al-Haqqul Wadihul Mubin, Abdurrahman As-Sa’di, hlm. 25.
  4. Syarh Sunan Abi Dawud, 15/573 (Al-Maktabah As-Syamilah).