Al-Ghaniyy

Al-Ghaniyy

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Ta’ala…

Kaedah keempat dalam memahami nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu petunjuk nama Allah Ta’ala atas dzat-Nya dan sifat-sifat-Nya sesuai dengan kesesuaian, kandungan dan kelaziman. Contoh hal ini adalah (nama) “Al-Khaaliq” (Yang Maha Mencipta), menunjukkan atas dzat Allah, sifat pencipta dengan kesesuaian (dari nama ini), serta menunjukkan atas dzat yang tunggal, sifat pencipta yang tunggal dengan kesesuaiannya (dengan nama ini) dan sifat ilmu dan kuasa dengan kelazimannya (dengan nama ini). Oleh karena itu, ketika Allah menyebutkan penciptaan langit dan bumi, Allah Ta’ala berfirman,

لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

(yang artinya), “agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Surat Ath-Thalaaq: 12).

Dan dalaalah al-iltizam (petunjuk kelaziman) adalah (hal) yang sangat bermanfaat bagi penuntut ilmu (agama) apabila ia mempelajari maknanya dan semoga Allah Ta’ala memberikannya taufik berupa ilmu tentang dalaalah al-iltizam. Maka dengan hal tersebut tercapailah dalil tunggal utuk masalah-masalah yang banyak.

Dan ketahuilah bahwasanya dalaalah al-iltizam dari firman Allah Ta’ala dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila valid (dalilnya) maka merupakan sesuatu yang lazim/pasti. Hal tersebut karena firman Allah dan sabda Rasul-Nya adalah benar. Dan melazimi yang benar adalah kebenaran. Dan karena Allah Ta’ala yang mengetahui sesuatu yang lazim (dalaalah al-iltizam) dari firman-Nya dan sabda Rasul-Nya, maka inilah yang dituju. Adapun kelaziman dari perkataan seseorang selain firman Allah dan Rasul-Nya, maka nantinya dibagi menjadi 3 keadaan.

Penjelasan lainnya tentang dalaalah al-iltizam seperti untuk nama Allah, Al-Khaaliq (Yang Maha Pencipta) adalah selain nama Allah ini mengandung penetapan sifat mencipta bagi Allah, terdapat pula dalaalah al-iltizam (petunjuk berupa kelaziman/ konsekuensi) pada nama ini, yaitu berupa sifat hidup, berilmu dan berkuasa bagi Allah. Karena tidak mungkin sesuatu yang mencipta, namun bukanlah ia sesuatu yang hidup. Dan tidak mungkin sesuatu dapat mencipta kecuali ia memiliki ilmu dan kuasa untuk melakukannya. Oleh karena itu, dalaalah al-iltizam untuk nama Allah Al-Khaaliiq adalah penetapan sifat hidup (al-hayah), berilmu (al-‘ilmu) dan berkuasa (al-qudrah) untuk Allah Ta’ala [1].

Kaedah selanjutnya dalam memahami nama-nama Allah Ta’ala adalah seluruh nama Allah Ta’ala adalah taufiqiyyah (diketahui dari dalil), tidak ada ruang bagi akal padanya. Berdasarkan kaedah kelima dari kaedah-kaedah memahami nama-nama Allah Ta’ala ini maka wajib berhenti (mencukupkan diri) padanya (nama-nama Allah) sesuai dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka tidak boleh menambahnya dan tidak pula menguranginya. Karena akal tidak mungkin mencapai apa saja yang menjadi hak nama-nama-Nya Ta’ala. Maka wajib berhenti dalam hal tersebut sesuai dengan nash (dalil). Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

(yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Surat Al-Isra’: 36).

Dan firman-Nya,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

(yang artinya), “Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (Surat Al-A’raaf: 33).

Dan karena penamaan-Nya Ta’ala dengan apa yang tidak dinamakan dengan-Nya sendiri, atau pengingkaran (terhadap) apa yang telah menjadi nama-Nya, merupakan sebuah kejahatan (pelanggaran) terhadap hak-hak Allah Ta’ala. Sehingga wajib beradab dalam hal tersebut dan mencukupkan diri atas apa yang ditunjukkan dalam nash (dalil) [2].

Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, Al-Ghaniyy (Yang Maha Kaya) [3].

Dalil nama Allah, Al-Ghaniyy ( الغَنِي ) dari Al-Qur’an

Nama Allah ini terdapat dalam 80 tempat dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ

(yang artinya), “Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat” (Surat Al-An’aam: 133).

Lalu Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

(yang artinya), “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (Surat Faathir: 15).

Dan Allah Ta’ala berfirman,

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

(yang artinya), “Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Surat Luqman: 26).

Penjelasan Nama Allah, Al-Ghaniyy

Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah Al-Ghaniyy (Maha Kaya) dalam dzat-Nya, yang bagi-Nya kekayaan yang sempurna yang mutlak dari segala sisi dan arah. Karena kesempurnaan-Nya dan kesempurnaan sifat-Nya yang tidak menimpa kepada-Nya kekurangan dari segala sisi. Dan tidaklah mungkin (hal ini) kecuali pada dzat Yang Maha Kaya. Karena kekayaan-Nya dari kelaziman dzat-Nya. Maka sebagaimana tidak ada (yang seperti ini) kecuali Yang Maha Pencipta, Maha Pemberi Rezeki, Maha Pengasih, dan Maha Baik, maka tidaklah Dia kecuali juga Yang Maha Kaya dari seluruh makhluk-Nya. Dia tidaklah membutuhkan mereka dari segala sisi. Dan tidaklah mungkin mereka seluruhnya kecuali merupakan orang-orang yang fakir kepada-Nya dari segala arah. Mereka tidaklah merasa kaya dari kebaikan-Nya, kemuliaan-Nya, pengaturan-Nya, dan pengajaran-Nya baik secara umum maupun khusus sekejap matapun. Dan setiap yang ada di langit dan bumi menyembah-Nya. Menjadi tunduk dengan keperkasaan-Nya. Dipalingkan sesuai dengan kehendak-Nya. Seandainya Dia membinasakan mereka seluruhnya, tidak akan mengurangi dari kemuliaan-Nya, kekuasaan-Nya, kerajaan-Nya, rububiyah-Nya dan uluhiyah-Nya sebesar dzarrah-pun.

Maka Dzat yang sempurna kekayaan-Nya bahwasanya tidak bermanfaat kepada-Nya ketaatan dari orang-orang yang taat dan tidak pula membahayakan-Nya maksiat orang-orang yang bermaksiat. Maka seandainya penduduk bumi seluruhnya beriman (kepada Allah) maka tidak akan hal tersebut menambah sedikitpun pada kerajaan-Nya. Dan seandainya semuanya kafir maka tidaklah mengurangi sedikitpun kerajaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

(yang artinya), “Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (Surat An-Naml: 40).

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

(yang artinya), “Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Surat Al-Ankabuut: 6).

Allah Ta’ala berfirman,

فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوا ۚ وَّاسْتَغْنَى اللَّهُ ۚ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

(yang artinya), “lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Surat At-Taghaabun: 6).

Dan Allah Ta’ala berfirman,

إِن تَكْفُرُوا أَنتُمْ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيد

(yang artinya), “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Surat Ibraahim: 8).

Dalil tentang nama Allah, Al-Ghaniyy dari Hadits

Dan Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Ilaahi/Qudsi,

يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا. يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ  مِنْ مُلْكِي شَيْئًا “. رواه مسلم

(yang artinya), “Wahai hamba-Ku. Andaikan dari awal kalian hingga akhir kalian, dari manusia dan jin dalam keadaan atas seseorang yang hatinya paling bertakwa dari kalian, (maka) hal tersebut tidaklah menambah pada kerajaan-Ku sedikitpun. Dan seandainya dari awal kalian hingga akhir kalian,  dari manusia dan jin dalam keadaaan seseorang yang hatinya paling buruk dari kalian, (maka) hal tersebut tidaklah mengurangi dari kerajaan-Ku sedikitpun.” (HR. Muslim).

Dan Dia berfirman (dalam hadits yang sama),

يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي “. رواه مسلم

(yang artinya), “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan pernah dapat menimpakan bahaya kepada-Ku hingga kalian membahayakan-Ku. Dan kalian tidak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku hingga kalian memberi manfaat kepada-Ku.”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim [4].

Bentuk Kesempurnaan Kekayaaan Allah Ta’ala

Dan diantara kesempurnaan kekayaan-Nya bahwasanya infaknya orang-orang yang berinfak dan dermanya orang-orang yang dermawan di jalan-Nya dan berharap keridhaan-Nya, tidaklah memberikan manfaat kepada-Nya sedikitpun. Sebagaimana juga pelit dan rakusnya (syuh) orang-orang yang syuh dan pelitnya (bakhil) orang-orang yang pelit tidaklah merugikan-Nya sedikitpun. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِ ۚ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنتُمُ الْفُقَرَاءُ ۚ وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُم

(yang artinya), “dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (Surat Muhammad: 38).

Dan Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

(yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Surat Al-Baqarah: 267).

Dan diantara kesempurnaan kekayaan-Nya adalah pensucian diri-Nya Tabaraka wa Ta’ala dari kekurangan-kekurangan dan aib-aib. Maka barangsiapa yang menisbatkan kepada-Nya Ta’ala kekurangan maka sungguh ia telah menisbatkan kepada-Nya hal yang bertentangan dengan sifat kaya yang dimiliki-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ الْغَنِيُّ ۖ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

(yang artinya), “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak”. Maha Suci Allah; Dialah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi.” (Surat Yuunus: 68).

Dan diantara kesempurnaan kekayaan-Nya adalah mensucikan-Nya Tabaraka wa Ta’ala dari segala sekutu dan tandingan. Karena bagaimana mau menyamakan sesembahan-sesembahan yang ibarat serpihan debu tersebut dengan Allah. Bagaimana disamakan antara sesuatu yang miskin, lemah, tidak berdaya dan yang butuh secara dzatnya, serta yang tidak ada dari dirinya kecuali pasti akan lenyap, dengan Dzat Yang Maha Kaya, Maha Berkuasa, yang kekayaan-Nya, kekuasaan-Nya, kerajaan-Nya, sifat hidup-Nya, kebaikan-Nya, ilmu-Nya, rahmat-Nya, dan kesempurnaan-Nya mutlak dan sempurna yang selalu melekat pada-Nya. Dan bagaimana mau menyamakan seorang budak dengan tuannya para budak, yang seluruh budak sahaya tersebut berada di bawah genggamannya dan tunduk pada pengaturannya. Allah Ta’ala berfirman,

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قُلْ فَمَن يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَن يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

(yang artinya), “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Surat Al-Maaidah: 17).

Dan diantara kesempurnaan kekayaan-Nya adalah sesungguhnya seluruh harta benda di langit dan bumi berada di tangan-Nya. Kedermawanan-Nya pada ciptaan-Nya selalu berkesinambungan sepanjang malam dan siang hari. Dan tangan-Nya terbentang (terbuka) di setiap waktu. Allah Ta’ala berfirman,

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيد

(yang artinya), “Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Surat Luqmaan: 26).

Dan diantara kesempurnaan kekayaan-Nya bahwasanya hamba-hamba-Nya berdoa untuk meminta kepada-Nya di setiap waktu. Dan Dia menjawab hal tersebut dengan pengabulan (doanya) meskipun merupakan permintaan yang besar. Dia memerintahkan mereka untuk berbadah kepada-Nya dan menjanjikan mereka dengan pengkabulan dan pembalasan (doa). Maka Dia-lah Tabaraka wa Ta’ala Yang Maha Luas karunia-Nya. Yang demikian berlimpah pemberian-Nya. Dan Dia-lah yang memberi kepada mereka dari setiap yang mereka minta. Serta Dia-lah yang memberi mereka setiap apa yang dikehendaki-Nya dan diinginkan-Nya.

Dan diantara kesempurnaan kekayaan-Nya bahwasanya apabila berkumpul penduduk langit dan bumi dari yang paling awal penciptaan hingga yang akhir dari mereka di sebuah tanah lapang menjadi satu, lalu mereka meminta kepada-Nya setiap yang menjadi permintaan mereka, maka Dia memberi mereka atas apa yang mereka minta dengan tidak mengurangi sedikitpun apa yang ada di sisi-Nya. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Ilaahi/Qudsi,

يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَسَأَلُونِي، فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ. “. رواه مسلم

(yang artinya), “Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya yang paling awal hingga yang paling akhir dari kalian, dari manusia dan dari jin, berdiri di tanah lapang menjadi satu, lalu mereka semua itu meminta kepada-Ku, dan Aku beri setiap dari mereka permintaannya, (maka) hal tersebut tidaklah mengurangi yang berada di sisi-Ku, kecuali sebagaimana tetesan (dari) sebuah jarum ketika dimasukkan ke dalam laut”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim [5] [6].

Dan diantara kesempurnaan kekayaan-Nya adalah Yang Maha Agung yang tidaklah terbatas kekuasaan-Nya. Dan tidaklah mungkin mensifat-Nya dengan apa yang telah melapangkannya Tabaraka wa Ta’ala atas orang-orang beriman di dalam surga yang penuh kenikmatan berupa segala bentuk kelezatan, berbagai macam kenikmatan dan anugerah-anugerah terbaik. Disamping hal-hal tersebut tidaklah pernah sebelumnya satupun mata melihatnya, tidak pula satupun telinga mendengarnya dan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benak seseorang. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

(yang artinya), “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (Surat As-Sajdah: 17) [7].

Maka barangsiapa yang mengenal Rabbnya dengan sifat yang agung ini maka ia akan mengenali dirinya. Barangsiapa yang mengenal bahwa Rabbnya memiliki kekayaan yang mutlak, maka ia akan mengenali dirinya hanyalah seorang yang fakir yang mutlak. Barangsiapa yang mengenal Rabbnya memiliki kekuasaan yang sempurna, maka ia akan mengenali dirinya hanyalah seorang yang lemah dengan sebenar-benarnya lemah. Dan barangsiapa yang mengenal Rabbnya memiliki ilmu dan hikmah yang sempurna, maka ia akan mengenali dirinya adalah seorang yang bodoh. Maka pengetahuan seorang hamba tentang sangat membutuhkan dirinya kepada Allah yang telah mengajarkan pengenalan ini, hal itu menjadi sebab-sebab kebahagiaan hamba dan keberuntungannya di dunia dan akhirat.

Referensi

  1. Penjelasan Ustadz Aris Munandar, M.PI. hafizhahullahu ta’ala dari sesi tanya jawab kajian pagi Ramadhan, 3 Ramadhan 1441 H / 26 April 2020.
  2. Kitab “Al-Qawa’idu Al-Mutslaa fii Shifaatillahi wa Asmaaihi Al-Husnaa”. Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala. Cet. Darul Aqidah, 1429 H.
  3. Dari Kitab “Fiqh Al-Asmaa’ Al-Husnaa”. Karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahumallahu ta’ala. Cet. Darul Ibnul Jauzi, 1434 H.
  4. Nomor: 2577, yaitu bagian dari hadits yang panjang, dari Abu Dzarr radhiallahu ‘anhu.
  5. Teks hadits dalam artikel ini diambil dari aplikasi  جَامِعُ الكُتُبِ التِسْعَةِ””.
  6. Bagian dari hadits Abu Dzarr radhiallahu ‘anhu yang sebelumnya
  7. Teks ayat Al-Qur’an dan terjemahnya dalam artikel ini diambil dari aplikasi  آيات””.