Al-Hafiizh Al-Haafizh

Terdapat kaedah-kaedah dalam kita memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kaedah-kaedah ini bertujuan agar seseorang berada di atas pemahaman yang benar dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan tidak terjatuh ke dalam pemahaman-pemahaman yang menyimpang dalam pembahasan ini. Dimulai dari kaedah dalam memahami nama-nama Allah Ta’ala, pertama adalah semua nama-nama Allah Ta’ala seluruhnya adalah husna (yang terbaik). Artinya nama-nama Allah mencapai puncaknya arti atau makna dari tiap nama-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

{وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ}

(yang artinya), “Hanya milik Allah asmaa-ul husna (nama-nama yang terbaik” (Surat Al-A’raaf: 180).

Hal tersebut karena nama-nama-Nya tersebut mengandung sifat-sifat yang sempurna, tidaklah ada cacat dari segala sisi. Bukan merupakan pengandaian belaka dan bukan pula praduga.

Contohnya adalah nama Allah “Al-Hayyu” (Yang Maha Hidup). Nama ini merupakan diantara nama Allah Ta’ala yang mengandung (makna) sifat hidup yang sempurna yang tidaklah didahului oleh sesuatupun. Tidaklah menimpanya kebinasaan. Hidup yang seterusnya karena kesempurnaan sifat-Nya, berupa ilmu, kekuasaan, pendengaran, penglihatan, dan selainnya [1]. Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, Al-Hafiizh, Al-Haafizh (Yang Maha Menjaga/Yang Maha Memelihara) [2].

Dalil nama Allah, Al-Hafiizh, Al-Haafizh dari Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman,

{إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ}

(yang artinya), “Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu” (Surat Huud: 57).

Lalu Allah Ta’ala berfirman,

{وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ}

(yang artinya), “Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu” (Surat Saba’: 21).

Allah Ta’ala berfirman,

{وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِوَكِيلٍ}

(yang artinya), “Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka; dan kamu (ya Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka” (Surat Asy-Syuuraa: 6).

Dan Allah Ta’ala berfirman,

{فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ}

(yang artinya), “Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang” (Surat Yuusuf: 64).

Allah Ta’ala berfirman,

{وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ}

(yang artinya), “dan adalah Kami memelihara mereka itu” (Surat Al-Anbiyaa’: 82).

Serta Allah Ta’ala berfirman,

{إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ}

(yang artinya), “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Surat Al-Hijr: 9).

Macam-Macam Penjagaan Allah, Al-Hafiizh, Al-Haafizh

Ini adalah adalah 2 nama Allah yang agung yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu disifati dengan (sifat) penjagaan. Dan sifat ini dibagi (menjadi) 2 macam:

Pertama, yaitu menjaga dengan ilmu-Nya segala sesuatu. Maka tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sedikitpun. Dan termasuk di dalamnya adalah (sifat) lupa. Allah mensucikan dirinya dari hal tersebut karena kesempurnaan ilmu-Nya dan penjagaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا}

(yang artinya), “dan tidaklah Tuhanmu lupa” (Surat Maryam: 64).

dan Allah Ta’ala berfirman,

{قَالَ عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى}

(yang artinya), “Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa” (Surat Thaha: 52).

Allah Ta’ala berfirman,

{أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ}

(yang artinya), “Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Surat Al-Mujaadalah: 6).

Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala menjaga atas hamba-Nya dari amal-amal mereka. Dia menghitung atas mereka apa-apa yang mereka ucapkan. Dia mengetahui niat-niat mereka dan apa yang berada di dalam hati-hati mereka. Dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sekecilpun dan tidak ada yang samar dari dari-Nya sedikitpun. Dia menulis semua itu di dalam Lauh Mahfuzh (kitab catatan takdir). Allah Ta’ala berfirman,

{وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُّسْتَطَرٌ (53)}

(yang artinya), “(52) Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. (53) Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (Surar Al-Qamar: 52-53).

Allah Subhanahu menugaskan malaikat-Nya yang mulia sebagai 2 pencatat (amal) yang mereka menjaga (mencatat) atas hamba dari amal-amal mereka. Allah Ta’ala berfirman,

{إِن كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ}

(yang artinya), “tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya” (Surat Ath-Thaariq: 4).

Dan Allah Ta’ala berfirman,

{وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (12)}

(yang artinya), “(10) Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), (11) yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), (12) mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Infithaar: 10-12).

Dan inilah makna dari penjagaan-Nya Subhanahu yang berkonsekuensi peliputan (penyertaan) ilmu-Nya pada keadaan-keadaan hamba seluruhnya, yang tampak atau yang tidak tampak, dan yang terang-terangan atau yang tersembunyi. Semuanya dicatat dalam Lauh Mahfuzh dan dalam suhuf (lembaran-lembaran) yang berada di tangan malaikat-malaikat. Dia mengetahui apa-apa yang ditakdirkan padanya, kelebihannya, kekurangannya dan takdir (berupa) balasannya dalam pahala dan hukuman. Kemudian Dia membalas mereka atasnya (hal-hal tersebut) dengan keutamaan-Nya dan keadilan-Nya.

Kedua, sesungguhnya Allah Ta’ala menjaga makhluk-makhluk-Nya, baik langit, bumi dan yang berada diantara keduanya, sehingga tetap terjaga sepanjang waktu terjaganya. Maka (makhluk-makhluk tersebut) tidaklah lenyap, tidak hilang, tidak berguncang dan tidak jatuh antara satu dengan yang lainnya. Dan tidaklah memberatkan-Nya dan tidaklah melemahkan-Nya satupun dari hal tersebut. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

{وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا}

(yang artinya), “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya” (Surat Al-Baqarah: 255).

Allah Subhanahu menjaga langit jatuh ke atas bumi. Allah Ta’ala berfirman,

{وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَن تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ}

(yang artinya), “Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya” (Surat Al-Hajj: 65).

Dan Allah Ta’ala berfirman,

{وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَّحْفُوظًا ۖ وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ}

(yang artinya), “Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya” (Surat Al-Anbiyaa’: 32).

Allah Ta’ala berfirman,

{إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَن تَزُولَا ۚ }

(yang artinya), “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap” (Surat Faathir: 41).

Dan Dia Subhanahu menjamin dengan penjagaan pada kitab-Nya yang mulia (Al-Qur’an). Allah Ta’ala berfirman,

{إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ}

(yang artinya), “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Surat Al-Hijr: 9).

Maka tidak memanjangkannya perubahan, tidak menyertainya pergantian dan tidak berubah padanya satu huruf pun. Dan seiring bergantinya hari-hari dan kurun waktu, Al-Qur’an tetap (tidak berubah) sebagaimana Al-Qur’an itu (aslinya). Tidak berubah ayat-ayat-Nya sebagaimana yang Allah telah turunkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan akan tetap terjaga dengan penjagaan Allah ‘Azza wa Jalla.

2 Bentuk Penjagaan Allah Ditinjau dari Sesuatu yang Dijaga

Dan diantara makna nama ini (Al-Hafiizh, Al-Haafizh)  sesungguhnya Allah Subhanahu adalah penjaga bagi hamba-Nya dari segala hal-hal yang dibencinya. Dan penjagaan-Nya bagi mereka tersebut ada 2 macam, yaitu (penjagaan) umum dan khusus.

Penjagaan umum

yaitu penjagaan-Nya kepada mereka (hamba-hamba-Nya) dengan kemudahan bagi mereka (untuk) makan, minum dan keinginannya. Dia menunjukkan mereka kepada hal-hal kebaikan bagi mereka. Dan kepada apa yang dikehendaki bagi mereka dan apa yang ditakdirkan kepada mereka berupa hal-hal vital dan yang menjadi kebutuhan. Maka ini adalah hidayah (penjagaan) yang umum, yang Allah Ta’ala berfirman tentangnya,

{قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ}

(yang artinya), “Musa berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (Surat Thaha: 50).

Dan Dia menjaga mereka dengan mencegah dari berbagai hal yang dibenci, yang berbahaya dan yang buruk pada mereka. Maka ini adalah penjagaan yang terjadinya berserikat (umum) pada orang yang baik dan orang yang buruk (pelaku maksiat), bahkan (pada) hewan-hewan dan selainnya. Dan Dia menugaskan malaikat kepada Bani Adam (manusia) untuk menjaga mereka berdasarkan perintah Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

{لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ }

(yang artinya), “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah” (Surat Ar-Ra’du: 11).

Artinya: mereka (para malaikat) menjauhkan darinya (hamba) dengan perintah Allah dari setiap hal yang membahayakannya dimana hal itu dapat membahayakannya apabila Allah tidak menjaga.

Penjagaan khusus

yaitu penjagaan-Nya untuk wali-wali-Nya –melebihi dari penjagaan sebelumnya (penjagaan umum)- dengan penjagaan iman mereka dari syubhat yang menyesatkan, fitnah yang buruk dan syahwat yang membinasakan. Maka Dia menyelamatkan mereka dari hal-hal tersebut. Dan Dia menjaga mereka dari musuh-musuh mereka dari kalangan jin dan manusia. Maka Dia menolong mereka atas musuh-musuh tersebut dan mencegah dari mereka tipu daya para musuh dan gangguan mereka. Sebagaimana Allah Subhanahu berfirman,

{إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا ۗ }

(yang artinya), “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman” (Surat Al-Hajj: 38).

Dan atas sesuatu yang berada di sisi hamba, berupa keimanan yang menjadi perlindungan Allah kepadanya.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebagaimana dalam wasiatnya untuk Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma,

 ” احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ “. رواه أحم

(yang artinya), “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu” [3]. Artinya: Jagalah perintah-perintah-Nya dengan melaksanakannya (perintah-perintah tersebut), menjauhi larangan-larangan-Nya dan hukum-hukum-Nya tanpa melanggarnya. Maka Dia akan menjagamu pada dirimu, agamamu, hartamu, anakmu, dan pada semua yang Allah berikan kepadamu dari keutamaan-Nya.

Dan Allah memuji hamba-Nya yang mereka menjaga hak-hak-Nya dan mentauhidkan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

{وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ}

(yang artinya), “dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (Surat At-Taubah: 112).

Dan Allah Ta’ala berfirman,

{هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ

(yang artinya), “(32) Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (33) (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Surat: Qaf: 32-33).

Dan termasuk dalam penjagaan (hak) ini adalah (menjaga) tauhid dari segala pembatal dan pengurangnya. Karena hal itu (tauhid) adalah perkara terbesar yang hendaknya untuk dijaga dan dilindungi. Dan juga menjaga syiar-syiar Islam, terlebih-lebih lagi shalat. (Allah Ta’ala berfirman),

{حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ}

(yang artinya), “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Surat Al-Baqarah: 238).

Dan menjaga pendengaran, penglihatan dan hati:

{إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا}

(yang artinya), “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Surat Al-Israa’: 36).

Dan menjaga kemaluan:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ , إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ , فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ 

(yang artinya), “(5) dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, (6) kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (7) Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Surat Al-Mu’minuun: 5-7).

Serta kepada selain hal-hal tersebut yang Allah perintahkan hamba-Nya untuk menjaganya. Dan Dia menjadikan balasan untuk mereka atas hal tersebut (penjagaan yang telah mereka lakukan) dengan menjaga mereka serta mencegah dan melindungi mereka dari setiap bahaya dan musibah.

Dan tidak ada yang mampu menjaga seorang hamba dalam agamanya, dunianya dan setiap urusan dari urusan-urusannya kecuali hanya Allah. (Allah Ta’ala berfirman),

{فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ}

(yang artinya), “Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang.” (Surat Yuusuf: 64) [4].

Dalam “Al-Musnad” [5] dan selainnya, dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa seperti doa-doa itu ketika sore hari dan ketika shubuh (pagi hari),

” اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي،
 وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي “. قَالَ : يَعْنِي الْخَسْفَ ” . رواه أحمد

Allahumma innii as’alukal ‘aafiyata fid dunyaa wal aakhirah. Allahumma innii as’alukal a’fwa wal ‘aafiyata fii diinii wa dunyaaya wa ahlii wa maalii. Allahummas tur ‘awraatii, wa aamin raw’aatii. Allahummah fazhnii min bayni yadayya wa min khalfii, wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii, wa a’uudzu bi’azhamatika an ughtaala min tahtii.” [6]

(yang artinya), “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keafiaatan (keselamatan dari penyakit, dosa dan azab) di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu maaf dan keafiaatan dalam agamaku, duniaku, istriku (keluargaku), dan hartaku. Ya Allah, tutuplah auratku dan tentramkanlah rasa takutku. Ya Allah, jagalah diriku dari arah depanku, arah belakangku, arah kananku, arah kiriku, dan dari atasku. Dan aku berlindung dengan keagungan-Mu, agar aku tidak dibunuh secara khianat dari bawahku.” [7]

  1. Kitab “Al-Qawa’idu Al-Mutslaa fii Shifaatillahi wa Asmaaihi Al-Husnaa”. Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala. Cet. Darul Aqidah, 1429 H.
  2. Dari Kitab “Fiqh Al-Asmaa’ Al-Husnaa”. Karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahumallahu ta’ala. Cet. Darul Ibnul Jauzi, 1434 H.
  3. Dalam “Musnad Imam Ahmad” (1/293), “Jami’ Tirmidzi” no. 2516,, dan selain keduanya. Imam At-Tirmidzi berkata: (Hadits) hasan shahih.
  4. Teks ayat Al-Qur’an dan terjemahnya dalam artikel ini diambil dari aplikasi  آيات””
  5. (2/25) dan sanad-sanadnya shahih.
  6. Teks hadits dalam artikel ini diambil dari aplikasi  جَامِعُ الكُتُبِ التِسْعَةِ””
  7. Terjemah doa dari Buku Saku “Kumpulan Doa Mustajab dan Dzikir Pilihan, Berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah” (Terjemah Buku Hisnul Muslim). Penerbit: Darul Haq. Cetakan 1: Sya’ban 1434 H / Juni 2013.