Al-Lathif Al-Khabir

Al-Lathif Al-Khabir

Sesungguhnya iman kepada nama-nama dan sifat-sifat (asmaa’ wa shifaat) Allah adalah salah satu rukun dari beriman kepada Allah Ta’ala. (Iman kepada Allah) yaitu iman kepada wujud/dzat Allah Ta’ala, iman kepada rububiyah Allah, iman kepada uluhiyah Allah, dan iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah. Dan (dalam) mentauhidkan Allah padanya ada salah satu pembagian dari 3 macam pembagian tauhid, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asmaa’ wa shifaat. Maka kedudukannya (nama-nama dan sifat-sifat Allah) dalam agama adalah (kedudukan) yang tinggi, yang penting dan yang besar. Dan tidaklah mungkin seseorang dapat sempurna beribadah kepada Allah hingga dirinya berada di atas ilmu (mengilmui) nama-nama Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya (asmaa’ wa shifaat). Sehingga ia dapat beribadah kepada Allah di atas ilmu. Allah Ta’ala berfirman,

{وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ }

(yang artinya), “Hanya milik Allah asmaa-ul husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” (Surat Al-A’raaf: 180) [1].

Dan (berdoa) dalam ayat ini mencakup doa masalah dan doa ibadah. Pada doa masalah yaitu memulai antara berdoa permintaan yang engkau minta dengan nama-nama Allah Ta’ala yang sesuai (dengan permintaan tersebut), seperti: Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah aku. Wahai Yang Maha Penyayang, sayangilah aku. Wahai Yang Maha Menjaga, jagalah diriku. Dan yang semacamnya. Sedangkan pada doa ibadah adalah engkau beribadah kepada Allah dengan kandungan nama-nama Allah. Maka engkau bersegera bertaubat kepada-Nya, karena Dia-lah At-Tawwaab (Yang Maha Penerima Taubat). Engkau berhati-hati terhadap apa yang diucapkan, karena Dia-lah As-Samii’ (Yang Maha Mendengar). Engkau beribadah kepada-Nya dengan anggota tubuhmu, karena Dia-lah Al-Bashiir (Yang Maha Melihat). Engkau takut kepada-Nya saat sedang sepi, karena Dia-lah Al-Lathiif Al-Khabiir (Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui). Maka begitulah maksudnya [2] . Pada pembahasan kali ini kita akan membahas salah satu nama Allah Ta’ala, Al-Latiif Al-Khabiir [3].

Dalil nama Allah, Al-Latiif Al-Khabiirdari Al-Qur’an

Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahumallahu ta’ala berkata,

“Dan keduanya (Al-Lathiif dan Al-Khabiir) adalah dua nama yang berulang dan pendalilan keduanya terkumpul dalam sejumlah ayat Al-Qur’an Al-Kariim. Allah Ta’ala berfirman,

{لَّا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}

(yang artinya), “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang terlihat; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-An’am: 103).

Lalu firman-Nya Ta’ala,

{أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً ۗ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ}

(yang artinya), “Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Hajj: 63).

Lalu firman-Nya Ta’ala,

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(yang artinya), “(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Surat Luqman: 16).

Lalu firman-Nya Ta’ala,

{أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}

(yang artinya), “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (Surat Al-Mulk: 14).

Dan firman-Nya Ta’ala,

{وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا}

(yang artinya), “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Ahzab: 34)

Penjelasan tentang nama Allah, Al-Khabiir

Adapun (nama) Al-Khabiir, maknanya adalah yang ilmu-Nya menjangkau hal-hal yang rahasia. Dia melihat atas tersimpannya hal-hal yang tersembunyi. Dia mengetahui lintasan-lintasan hati. Dia mengawasi segala urusan. Dia mengetahui dengan detail hal-hal yang sangat kecil. Maka Al-Khabiir adalah nama (Allah) yang dikembalikan dalam maknanya kepada pengetahuan tentang perkara-perkara yang tersembunyi yang terdapat dalam sesuatu yang lembut (tipis) dan kecil, serta dalam sesuatu yang samar. Maka lebih-lebih lagi pengetahuan-Nya terhadap hal-hal yang tampak dan jelas.

Dan telah berlalu penjelasan dari sifat ilmu (Allah) dan cakupan ilmu-Nya Subhanahu meliputi segala sesuatu. Dan ilmu Allah ‘Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu dengan benar-benar mengilmuinya. Dan menghitung segala sesuatu dengan benar-benar menghitungnya.

Penjelasan tentang nama Allah, Al-Lathiif

Adapun (nama) Al-Lathiif, padanya ada 2 makna. Makna pertama, bermakna Al-Khabiir. Dia-lah (Allah) yang ilmu-Nya sangat rinci dan lembut (tipis), sampai menjangkau hal-hal yang rahasia, hal-hal yang tersembunyi dan hal-hal yang samar. Makna kedua, (bermakna) yang memberikan kepada hamba-hamba-Nya atau wali-wali-Nya (berupa) hal-hal yang memperbaiki (keadaan) mereka dengan kelembutan-Nya dan kebaikan-Nya, dari jalan yang tidak disadari dengannya (jalan tersebut).

Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala berkata dalam [4],

وَهُوَ اللَّطِيْفُ بِعَبْدِهِ وَلِعَبْدِهِ             وَ اللَّطِفُ فِيْ أَوْصَافِهِ نَوْعَانِ

إِدْرَاكُ أَسْرَارِ الأُمُوْرِ بِخِبْرَةٍ              وَاللَّطِفُ عِنْدَ مَوَاقِعِ الإِحْسَانِ

فَيُرَيُّكَ عِزَّتَهُ وَ يُبَدِّيُ لُطْفَهِ             وَالعَبْدُ فِيْ الغَفْلاَتِ عَنْ الشَانِ

(yang artinya),

“Dia (Allah) adalah Al-Lathiif  (Maha Halus) terhadap hamba-Nya dan untuk hamba-Nya. Dan kelembutan itu dalam sifat-sifat-Nya ada 2 macam…

Meliputi perkara-perkara tersembunyi dengan ilmu-Nya. Dan kelembutan itu ketika terwujudnya kebaikan-kebaikan…

Maka Dia mengawasimu dengan keagungan-Nya dan Dia menampakkan kelembutan-Nya. Dan seorang hamba dalam kelalaian dari Dzat yang mengetahui aib-aibnya…”.

Maka kelembutan Allah kepada hamba-Nya merupakan bagian dari rahmat-Nya. Bahkan itu adalah rahmat yang khusus. Maka rahmat yang terwujud kepada hamba-Nya dari sisi yang tak disangka kedatangannya atau tidak disadari sebab-sebabnya, maka itu adalah (makna) Al-Lathiif.

Ada juga yang mengatakan, “Kelembutan Allah terhadap hamba-Nya dan kelembutan-Nya baginya (hamba), yaitu (berupa) penjagaan-Nya dengan penjagaan yang khusus. Dengannya (penjagaan tersebut) memperbaiki keadaan-keadaan yang tampak (zhahir) dan yang tidak tampak (bathin). Dan dengannya mencegah darinya hal-hal yang dibenci dengan amalan-amalan batin maupun amalan-amalan lahir. Maka (dengan) amalan-amalan batin adalah (bentuk) kelembutan terhadap hamba-Nya. Dan (dengan) amalan-amalan lahir adalah (bentuk) kelembutan terhadap hamba-Nya.

Perwujudan dari nama Allah, Al-Lathiif Al-Khabiir

Maka apabila Allah memudahkan urusan-urusan hamba-Nya dan memudahkannya baginya jalan kebaikan sebagai pertolongan-Nya atasnya (urusan-urusan tersebut), maka itu (merupakan) kelembutan dari-Nya. Dan apabila Dia menetapkan baginya (hamba) sebab-sebab (pertolongan) lahir tanpa sebab-sebab batin dalam kemampuan hamba untuk melakukannya (sebab-sebab tersebut) dan dapat memperbaikinya (dirinya), maka itulah kelembutan Allah baginya.

Oleh sebab itu, dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam di saat Allah mentakdirkan urusan-urusan yang banyak, secara nyata datang kembali menemuinya sebagai bentuk pujian kepada Nabi Yusuf dan Bapaknya. Dan hal tersebut (yang dialaminya) pada asalnya adalah hal yang dibenci bagi jiwa-jiwa (dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam saat dimintai bantuan oleh saudara-saudaranya yang dulu ingin membunuhnya ketika beliau sudah menjadi menteri di Mesir). Akan tetapi berubahlah hasilnya menjadi hasil yang sangat terpuji (Nabi Yusuf ‘alaihissalam memberikan bantuan kepada saudara-saudaranya tersebut). Dan faedah-faedahnya merupakan faedah-faedah yang mulia. Oleh karena itu, Nabi Yusuf ‘alaihissalam berkata,

{إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ}

(yang artinya), “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki.” (Surat Yusuf: 100).

Artinya: sesungguhnya ini adalah hal-hal yang terwujud. Kelembutan yang Allah melembutkan kepadanya (Nabi Yusuf ‘alaihissalam). Maka ketahuilah akan nikmat ini.

Kelembutan Allah kepada hamba-Nya merupakan bahasan yang luas. Allah melebihkan sesuai dengan kehendak-Nya atas siapapun yang dikehendaki dari hamba-Nya, yang Dia mengetahui orang itu pantas menerima hal tersebut dan sesuai untuknya. Keutamaan hanyalah di tangan-Nya yang Dia memberikannya kepada siapa yang dikehendaki. Dan Allah-lah sebaik-baik pemberi keutamaan.

Bentuk-Bentuk Kelembutan Allah kepada hamba-Nya

Diantara kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman sesungguhnya Dia menjaga mereka dengan kelembutan-Nya. Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya. Yaitu dari kegelapan-kegelapan kebodohan, kekafiran, kebid’ahan, dan maksiat kepada cahaya ilmu, keimanan dan ketaatan.

Dan diantara kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya sesungguhnya Dia menguatkan mereka (dengan) ketaatan jiwa-jiwa mereka (dari) nafsu yang mengajak kepada keburukan yang ini merupakan tabiatnya (pada manusia). Maka Dia memberi taufik kepada mereka untuk mencegah dirinya dari hawa nafsu. Dan Dia memalingkan dari mereka keburukan-keburukan dan kekejian-kekejian, meskipun terdapat sebab-sebab fitnah dan menariknya maksiat-maksiat dan syahwat-syahwat. Maka Allah memberi nikmat atas mereka dengan petunjuk (dari) kelembutan-Nya dan cahaya keimanan mereka yang merupakan nikmat atas mereka dengannya.

Dan diantara kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya sesungguhnya Dia mentakdirkan (pembagian) rezeki-rezeki mereka berdasarkan dengan ilmu-Nya untuk kebaikan bagi mereka. Tidak sesuai dengan keinginan-keinginan mereka. Maka (apabila) mereka ridha terhadap pemberian yang sedikit atau yang semisalnya, maka itu yang terbaik. Maka Allah menentukan bagi mereka (pilihan) yang terbaik meskipun mereka tidak menyukainya, dalam rangka kelembutan kepada mereka. (Allah Ta’ala berfirman),

{اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ}

(yang artinya), “Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Surat Asy-Syuuraa: 19).

Dan diantara kelembutan-Nya kepada mereka (hamba-hamba-Nya) sesungguhnya Dia mentakdirkan berbagai macam musibah dan bencana, berupa ujian-ujian dan cobaan-cobaan yang menggiring mereka hingga menyempurnakan (keimanan) mereka dan sempurna nikmat-nikmat atas mereka.

Dan diantara kelembutan-Nya kepada hamba-Nya bahwa Dia mentakdirkan bagi hamba tersebut dididik dalam lingkup orang-orang yang shalih, berilmu dan beriman. Dan berada di antara orang-orang yang baik. Agar dia mendapat (pelajaran) dari adab mereka dan pengajaran mereka. Demikian pula ketika ia tumbuh diantara kedua orangtuanya yang shalih. Lebih mendekatkannya kepada ketakwaan dan (berada) dalam kumpulan orang-orang yang shalih. Maka hal ini adalah diantara kelembutan-Nya yang paling besar kepada hamba-Nya. Maka sesungguhnya keshalihan seorang hamba dapat tegak di atas sebab-sebab yang banyak, berupa besarnya manfaat sebab-sebab tersebut dalam keadaan ini.

Dan diantara kelembutan Allah kepada hamba-Nya adalah Dia jadikan rizki hamba tersebut halal dalam kondisi yang lapang (cukup rezeki) dan qana’ah (merasa cukup dengan rezeki tersebut), yang mengantarkan dengan hal-hal tersebut kepada tujuan (pemberian rezeki untuk beribadah kepada Allah). Sehingga tidak menyibukkannya secara umum (dari hal-hal) yang memang diciptakan untuknya, dari beribadah, berilmu dan beramal. Bahkan (dengannya) membantunya atas hal tersebut.

Dan diantara kelembutan Allah kepada hamba-Nya yaitu Dia mengaitkan baginya teman-teman yang shalih dan yang membersamainya (adalah) orang-orang yang bertakwa yang membantunya di atas kebaikan. Mereka mengokohkan kekuatan imannya dalam menapaki jalan istiqamah, serta menjauhkan dari jalan kebinasaan dan penyimpangan.

Dan diantara kelembutan Allah kepada hamba-Nya adalah Allah mengujinya dengan sebagian musibah-musibah. Agar mencocoki untuk tegaknya kedudukan sabar padanya. Maka memperolehnya tingginya derajat dan tingginya tingkatan (pada hamba tersebut). Dan Dia memuliakannya dengan sesuatu yang ada dalam hatinya (berupa) manisnya iman (dengan) rasa harap, mengharapkan rahmat Allah, menanti kelapangan (jalan keluar) dan terbebas dari kesulitan tersebut. Sehingga (dengannya) dapat menutupi rasa sedihnya dan menyemangati jiwanya.

Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala berkata, “Maka sesungguhnya menunggu dan berharap, tetap menjalaninya dan menantinya (kelapangan), dapat meringankan beban kesulitan. Dan lebih-lebih lagi ketika (dengan) kuatnya rasa harap atau keyakinan akan (datangnya) kelapangan. Maka sesungguhnya (dengan hal-hal tersebut) akan diperoleh dalam terjadinya bencana berupa luasnya kelapangan, kemudahan dan keringanan, yang mana hal itu (merupakan) diantara anugerah yang tersembunyi dan kelapangan yang disegerakan. Maka dengannya dan hal selainnya tersebut (menjadi) dipahami makna nama-Nya, Al-Lathiif”.

Kesimpulan

Maka semua itu (uraian di atas) adalah hal yang bermanfaat bagi hamba untuk mengetahui arti dari nama yang agung ini dan maknanya. Dan agar ia benar-benar memacu jiwanya untuk merealisasikan keimanan dengan nama tersebut dan menegakkan atas apa yang dituntutkan kepadanya berupa ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka memenuhi hatinya rasa harap dan tamak dalam memperoleh keutamaan dari Allah dan kesuksesan dengan nikmat-nikmat-Nya dan pemberian-pemberian-Nya. Penempatan diri di setiap kondisinya dalam keadaan menang dengan sikap-sikap yang terpuji dan perilaku-perilaku yang tepat. Dan kepercayaan yang kuat kepada Rabbnya, Yang Maha Halus dan Pelindungnya Yang Maha Mulia. Sang Pemberi nikmat-nikmat, kelapangan-kelapangan, dan segala pemberian-pemberian.

Maka barangsiapa yang mencari kebaikan (maka) akan diberikan kepadanya. Dan barangsiapa yang melindungi diri dari keburukan (maka) akan diberikan perlindungan kepadanya. Maka keutamaan hanyalah di tangan Allah semata, yang Dia berikan kepada orang yang Dia kehedaki. Dan Allah-lah sebaik-baik pemberi keutamaan.

Referensi

  1. Teks ayat Al-Qur’an dan terjemahnya diambil dari aplikasi  آيات””
  2. Kitab ”Al-Qawa’idu Al-Mutslaa fii Shifatillahi wa Asmaaihi Al-Husnaa” hal. 2. Cet: Darul ‘Aqidah th. 1429 H.
  3. Dari Kitab “Fiqh Al-Asmaa’ Al-Husnaa” hal. 169-172. Cet: Darul Ibnul Jauzi th. 1434 H.
  4. نُوْنِيَّتِهِ