Al-Waliyy, Al-Maula

Al-Waliyy, Al-Maula

Memasuki kaedah kedua dari kaedah-kaedah memahami nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu semua nama-nama Allah Ta’ala adalah nama-nama yang paling berbobot dan paling mensifati. (Pertama) Yang paling berbobot dilihat dari tanda-tandanya pada dzat Allah Ta’ala. (Kedua) Dan yang paling mensifati dilihat dari kandungan makna yang terkandung di dalamnya. Dalam timbangan poin pertama yaitu merupakan kesamaan dalam menunjukkan atas penamaan yang tunggal, (yaitu) hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Dan poin kedua ditimbang dari kesesuaian dalam menunjukkan setiap nama-Nya atas makna yang khusus. Maka (seperti) “Al-Hayyu (Yang Maha Hidup), Al-‘Aliim (Yang Maha Mengetahui), Al-Qadiir (Yang Maha Berkuasa), As-Samii’ (Yang Maha Mendengar), Al-Bashiir (Yang Maha Melihat), Ar-Rahmaan (Yang Maha Pengasih), Ar-Rahiim (Yang Maha Penyayang), Al-‘Aziiz (Yang Maha Perkasa), Al-Hakiim (Yang Maha Bijaksana)”. Semuanya adalah nama-nama yang penamaannya hanya tunggal, yaitu (untuk) Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Akan tetapi, makna Al-Hayyu berbeda dengan makna Al-‘Aliim. Dan makna Al-‘Aliim berbeda maknanya dengan Al-Qadiir, dan begitu seterusnya. Dan hanyalah kami mengatakan bahwasanya nama-nama Allah adalah yang paling berbobot dan paling mensifati karena penunjukkan Al-Qur’an atas hal tersebut. Sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala,

وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

(yang artinya), “dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Surat Yuunus: 107).

Dan firman-Nya,

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ

(yang artinya), “Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat” (Surat Al-Kahfi: 58).

Maka sesungguhnya ayat yang kedua menunjukkan bahwasanya Ar-Rahmah (Yang Maha Penyayang) yaitu sesuatu yang disifati dengan rahmah (sifat kasih sayang). Dan pada kesepakatan ahli bahasa bahwasanya tidak boleh dikatakan: ‘aliim (sesuatu yang sangat berilmu) kecuali untuk sesuatu yang memiliki ilmu. Tidaklah (dikatakan) samii’ (sesuatu yang benar-benar mendengar) kecuali untuk sesuatu yang dapat mendengar. Tidaklah (dikatakan) bashiir (sesuatu yang benar-benar melihat) kecuali untuk sesuatu yang dapat melihat.”. Dan ini adalah perkara yang dijelaskan dari (sesuatu) membutuhkan kepada dalil.

Oleh karena itu, diketahui (bahwa) orang yang sesat (yaitu) orang yang mereka merusak makna nama-nama Allah Ta’ala, dari kalangan ahlu ta’thiil (orang-orang yang menyimpangkan makna yang benar dari nama-nama Allah). Dan mereka berkata: Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar mendengar tanpa (dapat) mendengar. Benar-benar melihat tanpa (dapat) melihat. Benar-benar perkasa tanpa (bersifat) perkasa. Dan seterusnya. Mereka beralasan (untuk) hal tersebut karena (apabila) menetapkan sifat-sifat (maka) melazimkan berbilangnya wujud (penyerupaan dzat Allah). Maka ini adalah alasan yang sakit (bermasalah) bahkan merupakan bangkai (busuk), sebagaimana ditunjukkan (oleh) As-Sam’u [1] dan pembersihan (dengan dalil-dalil) atas kebohongan mereka [2].

Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, Al-Waliyy, Al-Maula (Yang Maha Mengurus, Yang Maha Melindungi) [3].

Dalil nama Allah, Al-Waliyy, Al-Maula (الوَلِيّ ، المَوْلَى) dari Al-Qur’an

Kedua namanya berulang dan valid terdapat dalam Al-Qur’an Al-Karim. Allah Ta’ala berfirman,

أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۖ فَاللَّهُ هُوَ الْوَلِيُّ وَهُوَ يُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

(yang artinya), “Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Surat Asy-Syuuraa: 9).

Lalu Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

(yang artinya), “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa, dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (Surat Asy-Syuuraa: 28).

Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفَىٰ بِاللَّهِ نَصِيرًا

(yang artinya), “Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu)” (Surat An-Nisaa’: 45).

Lalu Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

(yang artinya), “dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Surat Al-Hajj: 78).

Allah Ta’ala berfirman,

بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ

(yang artinya), “Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong” (Surat Ali Imran: 150).

Dan Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

(yang artinya), “dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Surat At-Tahriim: 2).

Macam-Macam Pengurusan Allah Ta’ala

Dan  pengurusan Allah Ta’ala dan perlindungan-Nya untuk hamba-Nya ada 2 macam:

1) Pengurusan Allah yang pertama, yaitu pengurusan umum.

yaitu pengurusan-Nya Subhanahu dan pengaturan-Nya untuk semua makhluk. Kekuasaan-Nya atas hamba yang diinginkan-Nya berupa kebaikan dan keburukan, serta manfaat dan bahaya. Dan penetapan makna penguasa segala sesuatu yaitu Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya hamba seluruhnya tunduk pada pengaturan-Nya, tidaklah satupun dari mereka keluar dari pelaksanaan kehendak-Nya dan peliputan kekuasaan-Nya. Ini adalah perkara yang mencakup orang beriman dan orang kafir, serta orang baik dan pelaku maksiat. Hal ini ditunjukkan (dengan) firman Allah Ta’ala,

ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ ۚ أَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِين

(yang artinya), “Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat Perhitungan yang paling cepat.” (Surat Al-An’aam: 62).

Dan firman Allah Ta’ala,

هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَّا أَسْلَفَتْ ۚ وَرُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ ۖ وَضَلَّ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

(yang artinya), “Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan.” (Surat Yuunus: 30).

Dan makna yang dimaksud Allah Subhanahu pelindung orang-orang kafir, yaitu bahwasanya Dia adalah raja bagi mereka, yang mengatur mereka sesuai kehendak-Nya. Dan hal ini tidaklah bertentangan dengan firman-Nya Ta’ala,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَىٰ لَهُمْ

(yang artinya), “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung” (Surat Muhammad: 11).

Karena pengurusan yang dinafikkan dalam ayat ini adalah pengurusan kecintaan, taufik, pertolongan, dan pengaturan. Yang itu semua adalah khusus bagi orang-orang beriman. Dan orang-orang kafir bukanlah merupakan bagian darinya. Namun jatah mereka (orang-orang kafir) adalah kerugian, bagian mereka adalah hal-hal yang haram, pelindung mereka adalah setan, dan teman dekat mereka adalah nerka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Allah Ta’ala berfirman,

فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

(yang artinya), “tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih” (Surat An-Nahl: 63).

Dan Allah Ta’ala berfirman,

فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنكُمْ فِدْيَةٌ وَلَا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ مَأْوَاكُمُ النَّارُ ۖ هِيَ مَوْلَاكُمْ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِير

(yang artinya), “Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali” (Surat Al-Hadiid: 15).

2) Pengurusan Allah yang kedua, yaitu pengurusan yang khusus dan perlindungan yang khusus.

Dan ini paling banyak yang terdapat dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan itu adalah pengurusan yang agung dan perlindungan yang mulia. Allah mengkhususkan dengannya bagi hamba-hamba yang beriman, golongan orang-orang yang taat dan wali-wali-Nya yang bertakwa.

Maka ini adalah pengurusan yang khusus, berkonsekuensi (berupa) perhatian-Nya dan kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Dan memberi taufik kepada mereka dengan membimbing mereka di atas keimanan dan dijauhkan dari jalan-jalan yang sesat dan celaka. Allah Ta’ala berfirman,

{اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

(yang artinya), “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Surat Al-Baqarah: 257).

Serta berkonsekuensi (berupa) ampunan untuk dosa-dosa mereka dan rahmat bagi mereka. Allah Ta’ala berfirman,

أَنتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۖ وَأَنتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

(yang artinya), “Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya” (Surat Al-A’raaf: 155).

Dan berkonsekuensi (berupa) penguataan dan pertolongan terhadap para musuh. Allah Ta’ala berfirman,

أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

(yang artinya), “Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (Surat Al-Baqarah: 286).

Dan Allah Ta’ala berfirman,

لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِندَ رَبِّهِمْ ۖ وَهُوَ وَلِيُّهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

(yang artinya), “Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan” (Surat Al-An’aam: 127).

Dan tatkala Abu Sufyan berkata pada seseorang saat peperangan: Bagi kami (orang-orang musyrik) kemuliaan dan tidak ada kemuliaan bagi kalian (orang-orang beriman). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya,

 أَجِيبُوهُ “. قَالُوا : مَا نَقُولُ ؟

(yang artinya), “Jawablah dia”. Lalu mereka (para sahabat) bertanya, “Apa yang harus kami ucapkan?”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,

” قُولُوا : اللَّهُ مَوْلَانَا، وَلَا مَوْلَى لَكُمْ “. رواه البخاري

(yang artinya), “Katakanlah oleh kalian: Allah-lah pelindung kami dan tidak ada pelindung bagi kalian”. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam “Shahih Bukhari” [4].

Dan berkonsekuensi seperti itu pula (berupa) anugerah-Nya atas mereka di hari kiamat kelak dengan dimasukkan ke surga dan diselamatkan dari neraka. Allah Ta’ala berfirman,

30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ)

(yang artinya),

“(30) Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

(31) Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.

(32) Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Fushshilat: 30-32).

Dan Allah Subhanahu telah menjelaskan dalam Al-Quran Al-Karim sebab-sebab yang dengannya dapat tercapai pengurusan Allah kepada mereka, dan perlindungan-Nya kepada mereka dengan taufik-Nya, balasan-Nya, pertolongan-Nya, dan penguatan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(yang artinya),

“(62) Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

(63) (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

(64) Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Surat Yuunus: 62-64).

Maka pengurusan Allah ini tidak dapat dicapai kecuali dengan keimanan yang tulus dan ketakwaan kepada Allah, baik dalam kondisi sepi maupun ramai. Dan bersungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan (menunaikan) kewajiban-kewajiban (agama) Islam dan keutamaan-keutamaan dalam agama.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam “Shahih Bukhari” [5], dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ اللَّهَ قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ، وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ “. رواه البخاري

(yang artinya), “Sesungguhnya Allah berkata (hadits Ilahi/Qudsi): Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh aku mengumumkan perang kepadanya. Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan dari (mengerjakan) hal-hal yang Aku wajibkan atasnya. Dan terus menerus seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan amal-amal yang sunnah hingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya. Dan penglihatannya yang ia melihat dengannya. Tangannya yang ia memegang dengannya. Kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan apabila dia meminta kepada-Ku, (maka) sungguh benar-benar Aku akan memberinya. Dan apabila ia meminta perlindungan kepada-Ku, (maka) sungguh benar-benar Aku akan melindunginya.” [6].

Yang merupakan Wali-Wali Allah

Dan wali-wali Allah yang paling afdhal (terbaik) adalah mereka para nabi-Nya. Dan nabi-nabi yang paling afdhal adalah mereka para rasul. Dan rasul-rasul yang paling afdhal adalah Ulul ‘Azmi (5 rasul pilihan). Dan Ulul ‘Azmi yang paling afdhal adalah nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, penutup para Nabi, pemimpinnya para rasul dan tuan/pemimpin anak keturunan Adam seluruhnya. Allah menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebagai) pembeda antara wali-wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya. Maka tidaklah menjadi wali milik-Nya kecuali orang yang beriman kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dengan apa yang diturunkan kepada beliau (yaitu agama Islam). Serta mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lahir dan batin. Adapun orang yang ia menyeru (untuk) mencintai Allah dan (memperoleh) kewalian-Nya namun ia tidak mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang tersebut bukanlah wali-wali Allah. Namun ia adalah orang yang menyelisihi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (sehingga) jadilah ia musuh-musuh Allah dan wali-wali syaithan. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

(yang artinya), “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu” (Surat Ali Imran: 31).

Maka Allah menjelaskan dalam ayat ini, sesungguhnya orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah mencintai Allah. Dan barangsiapa yang menyeru (untuk) mencintai Allah namun tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukanlah termasuk dari wali-wali Allah.

Orang-Orang yang Menyimpang terkait Kewalian

Dan pada kebanyakan dari sebagian manusia menyangka dalam dirinya atau oleh selain dirinya bahwa ia adalah wali-wali Allah. Namun dalam realita perkaranya ia bukanlah dari wali-wali-Nya. Maka orang Yahudi dan Nasrani mereka menyeru bahwa mereka adalah wali-wali Allah dan orang-orang yang dicintai-Nya. Dan bahwasanya tidak akan masuk surga kecuali orang yang seperti mereka. Dan masyarakat arab (yang musyrik) mereka menyeru bahwa mereka adalah keluarga Allah karena tempat tinggal mereka adalah Makkah dan mereka bertetangga dengan Ka’bah. (Allah Ta’ala berfirman),

وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ ۚ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُون

(yang artinya), “padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidilharam, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa” (Surat Al-Anfaal: 34).

Demikian juga orang-orang yang telah keluar dari Islam dari orang-orang pendusta dengan (nama) Wahdatul Wujuud atau (yang berkata) “Sesungguhnya Allah telah bersatu dengan diriku” atau yang seperti itu, dan bahwasanya tidak ada beda antara Rabb (Allah) dengan hamba. Dan mereka berpandangan sesungguhnya hal tersebut puncak perealisasian wali-wali Allah. Maka (sebenarnya) itu dalam hakekatnya adalah puncak penyimpangan, penyelewengan dan penandingan untuk Allah. Sehingga bukanlah setiap orang yang menyeru/menyatakan (kepada) kewalian dan menampakkannya (dengan tampilan fisik), lantas mereka mengira/merasa (sudah menjadi) wali Allah.

Karena wali-wali-Nya adalah mereka orang-orang yang beriman, yang bertakwa dan menjaga atas hukum-hukum (agama) dan kewajiban-kewajiban, serta menjauhi dosa-dosa besar dan hal-hal yang haram. Adapun sebagian orang yang menampakkan (tampilan fisiknya) dengan kewalian dan menyerukannya (dirinya seperti itu) namun ia tidak menunaikan kewajiban-kewajiban (agama) dan tidak menjauhi hal-hal yang haram, bahkan ia telah mendatangkan/berbuat (sesuatu) dengan apa yang membatalkannya hal itu (sendiri), atau ia berdalih (dengan) hal yang sebenarnya adalah kehancuran orang-orang yang berlebihan (dalam agama), atau yang semacamnya dari hal-hal yang ditempuh (oleh) kelompok yang keliru dan jalannya orang yang menyimpang dan sesat, maka ia dalam hakikatnya adalah wali-wali syaithan, dan bukanlah dari golongan wali Allah sedikitpun.

Maka golongan wali Allah adalah mereka yang telah baik amal-amal mereka dengan ketaatan kepada-Nya dan menghiasi waktu mereka dengan ibadah kepada-Nya. (Allah Ta’ala berfirman),

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

(yang artinya), “Sesungguhnya pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh” (Surat Al-A’raaf: 196) [7].

Referensi 

  1. As-Sam’u yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, banyak digunakan kata ini (As-Sam’u/pendengaran) sehingga melemahkan pendapat orang-orang yang menyimpang tersebut.
  2. Kitab “Al-Qawa’idu Al-Mutslaa fii Shifaatillahi wa Asmaaihi Al-Husnaa”. Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala. Cet. Darul Aqidah, 1429 H.
  3.  Dari Kitab “Fiqh Al-Asmaa’ Al-Husnaa”. Karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahumallahu ta’ala. Cet. Darul Ibnul Jauzi, 1434 H.
  4. Nomor hadits: 4043
  5. Nomor hadits: 6502
  6. Teks hadits dalam artikel ini diambil dari aplikasi  جَامِعُ الكُتُبِ التِسْعَةِ””.
  7. Teks ayat Al-Qur’an dan terjemahnya dalam artikel ini diambil dari aplikasi  آيات””.