Ash-Shamad

Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tinggi dan mulia. Kiat penting untuk menjaga dan meningkatkan keimanan seseorang kepada Allah Ta’ala diantaranya adalah dengan mempelajari nama-nama-Nya yang husna (terbaik). Terutama apabila ada faktor-faktor yang apabila tidak disikapi dengan benar maka faktor-faktor tersebut dapat menjadi jalan turunnya iman seseorang, seperti kala seseorang ditimpa musibah atau bencana. Sehingga berusaha meningkatkan keimanan di masa-masa tersebut, diantaranya dengan mempelajari nama dan sifat-Nya yang mulia, menjadi suatu hal yang urgent/penting bagi setiap muslim [1]. Pada kesempatan ini akan dibahas salah satu dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang husna, yaitu Ash-Shamad (Yang Maha Sempurna sifat-sifat-Nya).

Pembahasan ini kami sarikan dari kitab Fiqh Al-Asmaa’ Al-Husna karya Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahumallahu ta’ala ,

Dalil dari Al-Qur’an

Telah terdapat nama ini (Ash-Shamad) dalam Surat Al-Ikhlas,

{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)} [الإخلاص : 1-4]

(yang artinya),

( 1 )   Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

 ( 2 )   Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

 ( 3 )   Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

 ( 4 )   dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Surat Al-Ikhlas: 1-4). [ آيات.]

Dalil dari As-Sunnah

Surat Al-Ikhlas adalah surat yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa surat tersebut senilai dengan 1/3 Al-Qur’an. Dalam Shahih Bukhari [2] dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu beliau berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ : ” أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ ؟ ” فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ
 وَقَالُوا : أَيُّنَا يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ فَقَالَ : ” اللَّهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآنِ “. رَوَاهُ البُخَارِيُّ

(yang artinya), “Apakah merasa lemah (tidak mampu) salah satu dari kalian untuk membaca 1/3 Al-Qur’an pada malam hari?”.

Maka merasa sulit hal itu bagi mereka (para sahabat) lalu mereka berkata, Siapa diantara kami yang mampu melakukan hal tersebut wahai Rasulullah? Lalu Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allahul waahidush shamad (Surat Al-Ikhlas) adalah sepertiga Al-Qur’an” [3].

Penjelasan Ulama tentang Nama Allah “Ash-Shamad

Ash-Shamad maknanya adalah tuan (Rabb) Yang Maha Agung yang sungguh sempurna dalam ilmu-Nya, hikmah-Nya, kelembutan-Nya, kekuasaan-Nya, kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, dan seluruh sifat-Nya. Dan As-Shamad adalah (mencakup) luas dan agungnya sifat-sifat-Nya. (Yaitu) yang menyandarkan kepada-Nya (dari) seluruh makhluk-Nya. Dan setiap makhluk dengan dirinya menghadap kepada-Nya dalam setiap keadaan. Maka tidak ada bagi-Nya sesembahan yang semisal-Nya. Dan tidak ada tujuan selain (untuk) menuju-Nya dan bersandar kepada-Nya dalam perbaikan urusan-urusan agama, maupun dalam perbaikan urusan-urusan dunia.

Menghadap kepada-Nya ketika (terjadi) musibah-musibah dan hal-hal yang menggelisahkan. Tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya apabila menimpanya hal-hal yang berat dan menyusahkan. Serta berdoa kepada-Nya apabila menimpanya bencana-bencana dan kesulitan-kesulitan. Karena ia (manusia) mengetahui sesungguhnya di sisi-Nya-lah (pemenuhan) hajat-hajat (kebutuhan-kebutuhan) mereka. Dan hanya milik-Nya pelepasan (jalan keluar) dari hal-hal yang menyusahkan mereka. Karena kesempurnaan ilmu-Nya, dan luasnya rahmat, kemurahan dan kasih sayang-Nya. Serta agungnya kekuasaan, kemuliaan dan kerajaan milik-Nya.

Diriwayatkan dari Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya [4], dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Ash-Shamad yaitu tuan (Rabb) yang sempurna dalam ketinggian-Nya, Yang Maha Mulia yang sempurna dalam kemulian-Nya, Yang Maha Agung yang sempurna dalam keagungan-Nya, Yang Maha Penyantun yang sempurna dalam kemurahan-Nya, Yang Maha Kaya yang sempurna dalam kekayaan-Nya, Yang Maha Perkasa yang sempurna dalam keperkasaan-Nya, Yang Maha Mengetahui yang sempurna dalam ilmu-Nya, dan Yang Maha Bijaksana yang sempurna dalam kebijaksanaan-Nya. Maka Dia-lah (Allah) yang sempurna dalam segala bentuk kemuliaan dan ketinggian. Dia-lah Allah Subhanahu. Inilah sifat-sifat-Nya, tidaklah dipunyai kecuali hanya milik-Nya.”.

Maka (nama) Ash-Shamad menunjukkan sesungguhnya nama yang agung ini dari kumpulan nama-nama Allah yang husna (Asma’ul Husna) sebagai bukti atas berbilangannya sifat-sifat-Nya (dalam satu nama). Tidak hanya (terdiri) atas satu makna/sifat. Maka padanya (nama Ash-Shamad) juga menjadi bukti atas banyaknya sifat-sifat Allah, serta agung dan sempurna sifat-sifat-Nya.

Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala berkata, “Ash-Shamad adalah tuan (Rabb) yang sempurna kemulian-Nya. Oleh karena itu, dahulu bangsa arab menamakan orang-orang yang terhormat dengan nama ini (ash-shamad). Karena banyaknya sifat-sifat yang terpuji dalam (kandungan) namanya. Seorang penyair mereka (bangsa arab kuno) berkata,

أَلاَ بَكَرَ النَاعِي بِخَيْرَيْ بَنِيْ أَسَدْ           بِعَمْرُوْ بْنِ مَسْعُوْدٍ وَبِالسَّيِّدِ الصَّمَدْ

(yang artinya), “Ketahuilah telah bangun berpagi-pagi seorang yang meratap (sedih) karena kebaikan kaum Asad, (yaitu) dengan (adanya) ‘Amr bin Mas’ud dan tuannya yang ash-samad (mulia)”.

Maka sesungguhnya Ash-Shamad (memberikan) berupa penjagaan (pada) segala sisi hati dengan rasa harap dan takut (kepada-Nya). Dan hal itu (terjadi) karena banyaknya sifat-Nya yang bagus padanya (pada nama Ash-Shamad). Dan banyaknya sifat-sifat-Nya yang terpuji padanya. Oleh karena itu, mayoritas ulama shalih (salaf) terdahulu berpendapat, diantaranya (ulama tersebut) adalah ‘Abdullah bin ‘Abas radhiallahu ‘anhuma, “Ash-Shamad adalah yang sempurna kemulian-Nya. Maka Dia-lah Yang Maha Mengetahui yang sempurna ilmu-Nya, Yang Maha Berkuasa yang sempurna kekuasaan-Nya, Yang Maha Bijaksana yang sempurna kebijaksanaan-Nya, Yang Maha Penyayang kepada orang-orang beriman yang sempurna kasih sayang-Nya, dan Yang Maha Dermawan yang sempurna kedermawanan-Nya” [5].

Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala menjelaskan, sesungguhnya musytaqnya (kata ash-Shamad) menunjukkan atas hal ini (sifat-sifat yang terpuji). Maka (dalam) kata itu (terkandung) penggabungan dan makna. Maka ash-Shamad adalah yang menggabungkan makna-makna yang semacamnya. Dan tergabung padanya sifat-sifat yang mulia. Dan ini adalah asalnya (makna asal) secara bahasa. Orang Arab (kuno) menamakan orang-orang yang terhormat dengan (nama) ash-shamad, untuk menggabungkan makna dari orang-orang yang yang menujukan makna kepadanya (nama tersebut) dan menggabungkan gelar kehormatan padanya” [6]).

Oleh sebab itu, terjadi perbedaan pengungkapan (dari) salaf dalam menafsirkan nama ini. Maka dari mereka ada yang berkata: “Ash-Shamad: Dia (Allah) yang tidak bercelah (tidak ada cacat), tidak makan dan tidak minum”. Dan dari mereka ada yang berkata, “Dia yang bergantung semua makhluk kepada-Nya dalam segala hajat dan masalah mereka”. Dan dari mereka ada yang berkata, “Dia yang tidak keluar dari-Nya sesuatupun”. Artinya: tidak keluar dari-Nya sebuah mata dari banyaknya mata, maka (artinya) Dia tidak melahirkan/beranak. Dan dari mereka ada yang berkata, “Dia adalah tuan (Rabb) yang (memiliki) akhir (puncak) kemuliaan”. Dan dari mereka ada yang berkata, “Dia adalah yang tidak ada sesuatupun yang melebihi-Nya”.

Penyimpulan Ulama tentang Makna Nama Allah “Ash-Shamad

Dan Ibnu Jarir Ath-Thabari telah mendatangkan gabungan perkataan-perkataan ini dalam kitab tafsirnya [7]). Dan disebutkan dari perkataannya (perkataan Imam Ath-Thabari) berupa (pendapat-pendapat) imam-imam salaf rahimahumullah. Dan Al-Hafizh Ibnu Katsir membawakannya (seperti hal tersebut) begitu pula dalam kitab tafsirnya [8]). Serta selain keduanya pula dari ulama-ulama tafsir. Dan setiap dari mereka adalah benar. Karena nama ini menujukkan atas kata yang mensifati dengan berbilang (banyak sifat), tidak atas makna/sifat tunggal. Sebagaimana telah lewat penjelasan hal tersebut.

Oleh karena itu, kami menukil (perkataan) Al-Hafizh Ibnu Katsir, dari Abu Qasim Ath-Thabarani dalam kitab “As-Sunnah” miliknya setelah ia menyampaikan banyak dari pendapat-pendapat ini pada tafsiran Ash-Shamad. Dia berkata, “Dan setiap (pendapat) ini adalah benar. Dan hal itu (pendapat-pendapat itu) adalah dari sifat-sifat Rabb kita ‘Azza wa Jalla. Dan Dia-lah (Allah) yang digantungkan kepada-Nya semua hajat. Dan Dia-lah yang (memiliki) akhir (puncak) kemuliaan. Dia adalah Ash-Shamad yang tidak ada cela (cacat) bagi-Nya. Dan tidak (Dia) makan dan tidak pula minum. Dan Dia adalah Yang Maha Kekal terhadap penciptaan-Nya.” [8])

Imam Al-Baghawi rahimahullahu ta’ala berkata, “Dan yang lebih utama (adalah) untuk membawa lafadz Ash-Shamad pada setiap pendapat yang dikatakan tentangnya. Karena (semua pendapat tersebut) dapat dibawakan baginya (makna dari Ash-Shamad). Maka atas hal ini berkonsekuensi bahwa tidak ada dalam perwujudan (makna) Ash-Shamad selain (untuk) Allah Ta’ala, Yang Maha Mulia, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Ash-Shamad adalah nama khusus bagi Allah Ta’ala, tersendiri bagi-Nya. Hanya bagi-Nya-lah nama-nama yang husna (Asma’ul Husna) dan sifat-sifat yang tingi (Shifatul ‘Ulya). (Allah Ta’ala berfirman),

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} [الشورى : 11]

(yang artinya), “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat” (Surat Asy-Syuaraa: 11) [9]). [ آيات.]

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullahu ta’ala berkata, “Seperti yang sudah diketahui dari perkataan orang Arab (kuno) keumuman (penggunaan) kata ash-shamad atas (untuk) tuan yang agung. Dan atas sesuatu yang tidak bercela (cacat) yang tidak membutuhkan apapun bagi-Nya [10] …, Maka Allah Ta’ala, Dia-lah As-Sayyid (satu-satunya Tuan) yang (merupakan) satu-satunya tempat berlindung ketika kondisi-kondisi sulit dan (dalam) hajat-hajat. Dia-lah yang terbersihkan dan tersucikan dari sifat-sifat makhluk, seperti memakan makanan, dan yang semisalnya, Subhanahu wa Ta’ala dari hal-hal tersebut, karena Dia-lah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar” [11]).

Faedah dari Nama Allah “Ash-Shamad

Dan apabila seorang hamba mengetahui pensifatan Rabbnya dengan (nama) ini yang sempurna dan mulia, dan bahwasanya Allah Subhanahu tidak ada sesuatupun yang melebihi-Nya. Tidak ada sesuatupun yang melemahkan-Nya. Dan Allah Subhanahu (merupakan) tempat bergantung dan tempat berlindung semua makhluk [10]. Maka tidak ada tempat berlindung dan tempat menyelamatkan diri dari-Nya kecuali hanya kepada-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah satu-satunya tempat berlari. Dia-lah satu-satunya yang bergantung segala makhluk dalam (memenuhi) hajat-hajatnya, masalah-masalahnya dan keinginan-keinginannya. Maka wajib atasnya (makhluk) untuk tidak berlindung kecuali hanya kepada-Nya. Tidak meminta hajat-hajatnya kecuali hanya dari-Nya. Tidak menujukan ibadah kecuali hanya untuk-Nya. Tidak menjadikan permintaan tolongnya kecuali hanya kepada-Nya. Dan tidak menjadikan tawakkalnya kecuali hanya kepada-Nya. (Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman),

{أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ}

(yang artinya), “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (Surat An-Naml: 62). [ آيات.]

Referensi

  1. Faedah dari kajian “Mutiara Pagi” bersama Ustadz Nuzul Dzikri, Lc. hafizhahullah, pada hari Kamis, 8 Sya’ban 1441 H / 2 April 2020
  2. nomor: 4727 (dari “Jaami’ul Kutubit Tis’ah”) 
  3. HR. Bukhari no. 4727
  4. (24/736, Cet. At-Turkii
  5. Kitab “Ash-Shawaa’iqul Marsalah” (3/1025) 
  6. Kitab “Faaidatun Jaliilatun fii Qawaa’idi Al-Asmaa’i Al-Husnaa” (hal. 21-22
  7. (24/731-737, Cet. At-Turkii
  8.  (8/548
  9. Kitab “Ma’aalimu At-Tanziil” (7/321
  10. Faedah terjemah dari kajian Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA. hafizhahullah membahas Kitab “Fiqhul Asmaail Husna” di Masjid Al-Mukmin Yogyakarta, 1438 H / 2017
  11. Kitab “Adhwaau Al-Bayaan” (2/187