Fi’il Mudhari’

Definisi

Istilah fi’il mudhari’ (الفعل المضارع) terdiri atas dua kata, yaitu kata fi’il (الفعل) yang artinya kata kerja dan mudhari’ (المضارع) yang secara bahasa artinya al-musyabih (المشابه) yang artinya mirip atau menyerupai, disebut demikian karena fi’il mudhari’ ini menyerupai isim (kata benda) dari segi keadaannya yang mu’rab.

As-Sanhaji mengatakan : “Fi’il mudhari’ adalah kata yang diawalnya terdapat huruf zawa’id (tambahan) yang berjumlah empat yang terkumpul dalam lafadz (أنيت).” [1] seperti :

أكتب – نكتب – يكتب – تكتب

Hukum Fi’il Mudhari’

Ditinjau dari segi awalnya dan ditinjau dari segi akhirnya.

Ditinjau dari segi awalnya, maka fi’il mudhari harus diawali oleh salah satu huruf tambahan : alif, nun, ya’ atau ta’, empat huruf ini terkumpul dalam lafadz (أنيت).

Adapun ditinjau dari segi akhirnya, maka fi’il mudhari kebanyakannya adalah mu’rab dan terkadang pada beberapa keadaan adalah mabni.

Fi’il Mudhari’ yang Mabni

Fi’il mudhari’ yang mabni pada dua keadaan:

Mabni  dengan sukun

Ketika bersambung dengan nun al-inats, contohnya: firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ [2]

Kata (يرضعن) di sini adalah fi’il mudhari yang mabni karena bersambung dengan nun al-inats di akhirnya.

Mabni dengan fathah

Ketika bersambung dengan nun at-taukid (nun yang ditambahkan pada akhir fi’il yang berfungsi untuk memberi penekanan pada makna fi’il itu), contohnya: firman Allah subhanahu wa ta’ala:

لَنُخْرِجَنَّكَ [3]

Pada kata (نخرجنك) terdapat nun taukid yang menyebabkan kata tersebut mabni dengan fathah.

Fi’il Mudhari’ yang Mu’rab

Fi’il mudhari’ yang mu’rab dibagi menjadi dua bagian: Ada yang mu’rab dengan memakai harakat dan ada pula yang mu’rab dengan memakai huruf.

Fi’il mudhari’ yang mu’rab dengan harakat (baris)

Jika tidak bersambung dengan alif al-itsnain, waw al-jama’ah atau ya’ al-mukhatabah, contohnya:

يذهبُ – لن يذهبَ – لم يذهبْ

Kita bisa perhatikan bahwa ketika fi’il mudhari’ (يذهب) dimasuki oleh (لن) yang merupakan salah satu huruf yang menashabkan fi’il mudhari, harakatnya berubah menjadi fathah, begitu pula saat fi’il ini dimasuki oleh (لم) yang merupakan salah satu huruf yang menjazamkan fi’il mudhari maka harakatnya berubah menjadi sukun, begitu halnya ketika fi’il mudhari ini tak dimasuki oleh amil nashab atau amil jazam, harakat akhirnya adalah dhammah.

Fi’il mudhari’ yang mu’rab dengan huruf

Jika fi’il mudhari’ bersambung dengan alif al-itsnain, waw al-jama’ah atau ya’ al-mukhatabah, contohnya:

يذهبان – يذهبون – تذهبين [4]

Referensi

  1. Matn Al-Ajurrumiyyah, As-Sanhaji, hlm. 10.
  2. QS. Al-Baqarah : 233
  3. QS. Al-A’raf : 88
  4. Al-Mumti’ fi Syarh Al-Ajurrumiyyah, Malik bin Salim Al-Mahdzari, 61.