Hadits

Hadits

Pengertian

Hadits secara bahasa

Hadits dalam bahasa arab dituliskan (الحديث), berasal dari huruf asli (ح، د، ث) memiliki arti secara bahasa : “suatu hal yang baru”

Sebagimana dalam sebuah hadits :

لَوْلَا أَنَّ قَوْمِي حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَهَدَمْتُ الْكَعْبَةَ، وَجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنِ

“Seandainya bukan karena kaumku baru saja terbebas dari kejahiliyahan, niscaya saya akan menghancurkan Ka’bah (lalu aku bangun lagi) dan membuat memiliki dua pintu” [1] (maksudnya beliau ingin membangun ka’bah sebagaimana awal dibangun oleh Nabi Ibrahim)

Coba perhatikan kata yang tercetak tebal diatas, yaitu pada kata “baru saja terbebas dari kejahiliyahan”. Itu merupakan terjemahan dari kalimat “حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ” yang mana kata “حديث” dalam hadits tersebut diartikan dengan “baru saja”

Begitu juga saat Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam hujan-hujanan dan beliau singkapkan bajunya. Saat ditanya kenapa beliau melakukan hal tersebut, beliau mengatakan :

لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

“Karena hujan ini baru saja dicipta oleh Allah [2]

Dan kata (حديث) dalam hadits tersebut kita artikan, “baru saja”

Pengertian Secara Istilah

Hadits adalah :
“Segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam baik berupa perkataan, perbuatan, perizinan atau sifat beliau.” [3]
Dari istilah ini, kita tahu bahwa hadits dan sunnah memiliki definisi yang mirip, dan menurut sebagian ulama, menyatakan bahwa “hadits” dan “sunnah” itu sama.

Dalam pengertian “hadits” secara istilah, disebutkan “Segala sesuatu yang diriwayatkan dari nabi baik berupa perkataan, perbuatan, perizinan atau sifat beliau”

Hadits Yang Berupa Perkataan

Hadits yang berupa perkataan ini dalam Bahasa Arab dinamakan “hadits qauli” (الحديث القولي), sebuah hadits dari ucapan yang disampaikan, diucapkan oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam  secara langsung.
Salah satu contohnya adalah ketika Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ، وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Jika kalian makan, makanlah dengan tangan kanan, Jika kalian minum, minumlah dengan tangan kanan.
Karena setan itu makan dan minum dengan tangan kiri” [4]

 

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ العَبْدِ، مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah akan membantu seorang hamba, selama dia membantu saudaranya” [5]

Itulah contoh hadits qauli yang merupakan perkataan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam  secara langsung

Hadits Yang Berupa Perbuatan

Dalam pengertian hadits disebutkan “Segala sesuatu yang diriwayatkan dari nabi baik berupa perkataan, perbuatan, perizinan atau sifat beliau”

Hadits yang berupa perbuatan, dalam bahasa arab dinamakan “hadits fi’li “(الحديث الفعلي).

Hadits jenis ini merupakan hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat, yang berkaitan dengan perbuatan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam 

Salah satu contohnya adalah :

Hadits Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau ditanya oleh Syuraih bin Hani’, “Dahulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam  jika masuk rumah apa yang beliau lakukan pertama kali ?”
Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menjawab :

كَانَ إِذَا دَخَلَ يَبْدَأُ بِالسِّوَاكِ

“Yang Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam lakukan pertama kali ketika hendak masuk rumah adalah bersiwak (membersihkan gigi dan mulut)” [6]

Apa yang disampaikan oleh ibunda Aisyah rhadiyallahu ‘anha ini merupakan salah satu bentuk hadits, walaupun bukan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam  sendiri yang berbicara

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Adalah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam  jika telah masuk 10 hari terakhir bulan ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya (dengan ibadah) dan membangunkan keluarganya (untuk ibadah)” [7]

Hadits ini merupakan hadits qauli, yang mengabarkan tentang perbuatan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam . Dan riwayat dari para sahabat yang menggambarkan perbuatan Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dinamakan hadits.

Hadits Yang Berupa Perizinan

Dalam pengertian hadits disebutkan “Segala sesuatu yang diriwayatkan dari nabi baik berupa perkataan, perbuatan, perizinan atau sifat beliau”
Hadits yang berupa perizinan dalam bahasa arab dinamakan “hadits taqriri” (الحديث التقريري). Dan bisa berupa perizinan atas ucapan / perkataan dan perbuatan juga

 

Contoh Hadits Taqriri Atas Ucapan

Misalkan ada seorang yang mengatakan suatu perkataan didepan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, atau pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hidup dan beliau mengetahui namun beliau tidak mengingkarinya,
Contohnya adalah saat para sahabat bertalbiyah dan bertakbir pada tanggal 9 dzul hijjah dari mina menuju arafah, sahabat Anas bin Malik berkata :

كَانَ يُهِلُّ مِنَّا المُهِلُّ فَلاَ يُنْكِرُ عَلَيْهِ، وَيُكَبِّرُ مِنَّا المُكَبِّرُ فَلاَ يُنْكِرُ عَلَيْهِ

“Diantara kami ada orang yang membaca talbiyyah, Beliau tidak mengingkarinya dan juga ada orang yang bertakbir namun Beliau juga tidak mengingkarinya” [8]

Contoh Hadits Taqriri Atas Perbuatan

Jabir bin Abdillah pernah bercerita,

كُنَّا نَعْزِلُ وَالقُرْآنُ يَنْزِلُ

“Dahulu kami melakukan Azl [9] pada masa Al-Qur’an masih turun”

Maksud sahabat Jabir bin Abdillah mengatakan hal tersebut adalah Azl itu diperbolehkan, karena kami (para sahabat) pernah melakukan hal tersebut pada masa turunnya wahyu dan tidak ada teguran pada perbuatan tersebut, jika hal tersebut salah, tentunya Allah akan memberitahu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menegur para sahabat, maka ini termasuk dalam hadits taqriri (disetujui oleh syariat)

 

Hadits Yang Berupa Sifat

Dalam pengertian hadits disebutkan “Segala sesuatu yang diriwayatkan dari nabi baik berupa perkataan, perbuatan, perizinan atau sifat beliau”
Maksud sifat disini adalah akhlak dan juga sifat jasad. Jika ada sebuah hadits yang mengabarkan tentang sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam baik sifat akhlak atau sifat jasad maka juga dinamakan hadits.

Contoh hadits yang berkaitan dengan sifat akhlak

Diantaranya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas -rhadiyallahu ‘anhuma-, beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang sangat dermawan. Dan sifat dermawan beliau meningkat saat bertemu jibril. Biasanya beliau bertemu jibril setiap malam bulan ramadhan untuk belajar Al-Qur’an. Dan hal tersebut memberikan efek, beliau semakin dermawan dengan kebaikan, kedermawanan yang lebih kencang dari pada angin berhembus” [10]

Hadits ini merupakan sebuah hadits yang diceritakan oleh seorang sahabat, dan bercerita tentang sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dinamakan hadits juga.

Contoh hadits tentang sifat jasad Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam 

كَانَ رَبْعَةً مِنَ القَوْمِ لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلاَ بِالقَصِيرِ، أَزْهَرَ اللَّوْنِ لَيْسَ بِأَبْيَضَ، أَمْهَقَ وَلاَ آدَمَ، لَيْسَ بِجَعْدٍ قَطَطٍ، وَلاَ سَبْطٍ رَجِلٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang memiliki tinggi ideal, tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, memiliki kulit putih kemerahan (sedikit), kulit beliau tidak putih 100%, tidak pula coklat, Rambut beliau tidak keriting tidak pula lurus (rambut beliau sedikit bergelombang)” [11]

Struktur Hadits

Hadits memiliki dua unsur penyusun yaitu sanad dan matan

Sanad

Sanad adalah : rangkaian perawi hadits untuk menuju matan
Sanad ini berisi orang-orang yang meriwayatkan hadits dari masa kemasa

Matan

Matan adalah : isi hadits

Contoh Hadits Tentang Niat, “Amalan itu tergantung pada niatnya”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari diawal kitab beliau dengan mengatakan :

حَدَّثَنَا الحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى المِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»

Dari hadits diatas yang dinamakan sanad adalah rangkaian nama-nama perawi dibawah ini

حَدَّثَنَا الحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى المِنْبَرِ قَالَ

Imal Al-Bukhari berkata : “Menyampaikah hadits kepada ku, Al-Humaidi Abdullah bin Az-Zubair, beliau berkata
Menyampaikan hadits kepadaku, Sufyan, beliau berkata
Menyampaikan hadits kepadaku, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, beliau berkata
Memberikan kabar kepadaku, Muhammad bin Ibrahim At-Tamimi, beliau mengisahkan, bahwasannya beliau mendengar Alqomah bin Waqqash Al-Laitsy, beliau berkata
Aku mendengar Umar bin Al-Khaththab rhadiyallahu ‘anhu diatas mimbar berkata :”

Nah inilah yang dinamakan sanad, dan dari sanad ini nanti diteliti tentang derajat keshahihan, atau kebenaran hadits. Para ulama telah menuliskan banyak kitab yang menuliskan biografi para penulis hadits, dan dari sana bisa diambil kesimpulan apakah perawi (orang yang meriwayatkan) itu adalah orang yang terpercaya, lemah, pendusta, suka berbohong atau terindikasi berbohong saja

Dari contoh rangkaian hadits diatas, yang dinamakan matan atau Isi hadits, adalah perkataan

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya,
Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan
Siapa yang berhijrah karena dunia, atau wanita, maka hijrahnya yang teranggap adalah sesuai dengan niatnya

Keutamaan Hadits

نَضَّرَ الله امرَأً سَمِعَ منَّا حديثاً فحفِظَه حتىِ يُبَلَّغَهُ

“Semoga Allah memutihkan, mencerahkan wajah seorang hamba, yang mana ia mendengar hadits kemudian ia menghafalnya, sehingga ia bisa menyampaikannya kepada yang lain” [12]

Itulah sekilas tentang hadits, semoga bermanfaat. Dan disana masih ada pembahasan yang sangat banyak tetang permasalahan hadits

Wallahu a’lam

Referensi

  1. HR. An-Nasai 2902. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah ta’ala
  2. HR. Muslim 898
  3. https://wikimuslim.or.id/sunnah/
  4. HR. Muslim 2020
  5. HR. Muslim 1425
  6. HR. Ibnu Majah no 290 da dishahihkan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah ta’ala
  7. HR. Al-Bukhari 2024
  8. HR. Al-Bukhari 1659
  9. Azl ( العزل ) adalah mengeluarkan mani diluar kemaluan istri sebagai cara agar istri tidak hamil
  10. HR. Al-Bukhari 6, 1902, 3220, Muslim 2308
  11. HR. Al-Bukhari 3547, Muslim 2347
  12. HR. Abu Dawud 3661, At-Tirmidzi 2656, dan Ibnu Majah 232. Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah ta’ala