Haidh

Darah haidh adalah salah satu dari jenis darah yang khusus hanya keluar pada wanita saja, dan tidak pada pria. Ini adalah sesuatu yang telah Allah takdirkan bagi wanita, sebagaimana perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha;

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Sesungguhnya (haidh) ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi para wanita.” [1]

Dan wanita pertama di dunia ini pun, yaitu Hawa, sudah mengalami haidh, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hajar rahimahulllah di dalam kitabnya Fathul Bari. [2]

Sepakat para fuqaha rahimahumullah bahwasanya darah yang khusus keluar dari wanita saja ada tiga jenis, yaitu: darah haidh yang keluar dalam keadaan sehat, darah istihadhah yang dihukumi sebagai darah penyakit. dan darah nifas yang keluar mengiringi kelahiran. [3]

Definisi Haidh

Ditinjau dari etimologi, menstruasi atau haidh berasal dari bahasa Arab (حاض حائض) yang berarti mengalir (السيلان);

سمي الحيض حيضا من قولهم حاض السيل إذا فاض

Dinamakan dengan haidh karena diambil dari perkataan mereka, “Air bah mengalir jika meluap.” [4]

Ditinjau dari terminologi, haidh adalah darah alamiah, atau yang muncul pada kebiasaan (wanita) yang normal, yang berasal dari pangkal rahim setelah wanita mencapai masa baligh, dalam kondisi normal dan sehat tanpa ada penyebab, dan dalam waktu-waktu tertentu yang sudah diketahui para wanita yang mengalaminya. [5] 

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Rahim meluruhkan darah haidh jika wanita telah mencapai baligh, lalu menjadi kebiasaan (bagi wanita) di waktu-waktu yang diketahui, yang mempunyai hikmah sebagai bentuk penjagaan/pemeliharaan terhadap anak. Jika wanita hamil maka atas ijin Allah darah tadi berubah menjadi nutrisi makanan bagi si anak yang ada di dalam kandungan. Oleh maka itu, wanita yang hamil tidak mengalami haidh. Jika sang anak lahir maka Allah dengan penuh hikmah, merubahnya menjadi ASI yang akan dikonsumsi olehnya. Oleh maka itu jarang sekali ada wanita yang sedang menyusui mengalami haidh. Apabila wanita sudah selesai dari hamil dan menyusui, maka darah tadi sudah tidak termanfaatkan dan akhirnya menetap pada suatu tempat dan akan keluar pada setiap bulan berlangsung 6 sampai 7 hari, dan bahkan mungkin lebih.” [6] 

Sifat Darah Haidh

Darah haidh mempunyai sifat kental, berwarna kehitaman, berbau tidak sedap dan sulit untuk mengering dibandingkan dengan darah biasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ دَمَ اَلْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ

Sesungguhnya darah haidh adalah darah yang berwarna hitam yang dikenal.” [7] 

Batas Waktu Haidh

Menurut madzhab Syafi’i dan Maliki, batas maksimal haidh adalah 15 hari. Maka jika wanita haidh lebih dari lima belas hari, maka darah di hari ke-16 bukan dihukumi darah haidh. Imam Abu Hanifah rahimahullah berpendapat batas maksimal haidh adalah 10 hari.

Adapun batas minimal haidh adalah sehari semalam menurut Syafi’i dan tiga hari menurut Imam Abu Hanifah rahimahullah.  [8]

Semua pendapat di atas tidak disandarkan satupun pada nash-nash yang jelas atau shahih. Oleh karena itu, pendapat yang paling benar adalah tidak adanya batasan maksimal dan minimal pada keluarnya darah haidh. Semua dikembalikan kepada kebiasaan umumnya wanita. Hal  ini ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah

وأما الذين يقولون: أكثر الحيض خمسة عشر كما يقوله: الشافعي وأحمد ويقولون: أقله يوم كما يقوله: الشافعي وأحمد. أو لا حد له كما يقوله مالك. فهم يقولون: لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه في هذا شيء والمرجع في ذلك إلى العادة كما قلنا. والله أعلم

Adapun mereka yang berpendapat, maksimal keluarnya darah haidh adalah 15 hari sebagaimana yang dikatakan oleh Syafi’i dan Ahmad, dan yang mengatakan minimalnya adalah sehari, sebagaimana yang dikatakan oleh Syafi’i dan Ahmad. Atau tidak ada batasan (pen -maksimal dan minimalnya), sebagaimana yang diungkapkan oleh Malik. Maka mereka semua berkata bahwasanya tidak ada dalilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun para sahabatnya dalam permasalahan ini, dan semua dikembalikan pada kebiasaan sebagaimana kami berpendapat. Wallahu a’lam.” [9]

Tanda-tanda Datangnya Haidh dan Berhentinya

Adapun tanda-tanda datangnya haidh adalah dikembalikan pada kebiasaan masing-masing wanita. Dan begitu ia melihat darah yang berwana kehitaman kental berbau tidak sedap keluar, walaupun sedikit, maka tetaplah hukum haidh. Inilah maksud dari firman Allah;

﴿وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذًى ..﴾

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. (QS. Al-Baqarah : 222))

Kata Syaikh Shalih Al Utsaimin, “kapanpun melihat darah ini (haidh), maka tetaplah  hukumnya.” [10]

Adapun berhenti atau selesainya darah haidh pada wanita, diketahui dengan dua cara.

  • Keluarnya cairan berwarna putih dari kemaluan wanita saat berhentinya darah haidh, atau yang dikenal dengan istilah Al-Qashshah Al-Baidha’. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits

لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةَ البَيْضَاءَ

“Jangalah kalian tergesa-gesa (merasa sudah suci) sampai kalian melihat cairan putih (Al-Qashshah Al-Baidha’).” [11]

  • Terhentinya aliran darah haidh, atau keringnya rahim karena tidak mengeluarkan darah haidh lagi. Caranya adalah dengan memasukkan kapas atau cutton bud ke dalam kemaluannya. Jika tidak nampak pada kapas tersebut bekas darah haidh, maka sudah dihukumi sebagai suci. Tapi apabila di kapas tersebut masih ada noda merah, kuning, atau kecoklatan, maka jangan dia terburu-buru untuk bersuci dulu.

Hukum cairan kuning keruh setelah haidh

Cairan ini dikenal juga dengan istilah Sufrah Kadarah. Cairan ini menyerupai nanah yang berwarna keruh. Apabila cairan ini keluar bersamaan dengan waktu keluarnya haidh maka hukumnya mengikuti darah haidh. Tapi apabila darah ini keluar setelah berhentinya darah haidh, maka darah ini tidak teranggap darah haidh.

Hal itu disandarkan pada sebuh hadits riwayat Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha

كنا لا نعد الكدرة والصفرة [بعد الطهر] شيئًا

“Dahulu kami tidak menganggap apapun cairan keruh dan kekuning-kuningan (yang keluar) setelah masa suci.”[12]

Larangan Bagi Wanita Haidh

Bersetubuh

Berhubungan suami istri yang mana suami menjima’ istri di kemaluannya. Hal ini dilandaskan pada firman Allah

﴿وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذٗى ..﴾

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” [13]

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ

“Lakukanlah oleh kalian segala sesuatu kecuali jima’” [14]

Ini merupakan kesepakatan seluruh ulama, atau ijmak. Dan diqiyaskan kepadanya wanita yang haidh, yaitu tidak bolehnya menjima’ wanita yang haidh.

Barangsiapa yang menjima’ istrinya dalam keadaan haidh maka ia telah berbuat dosa besar dan konsekuensinya adalah ia harus membayar kafarah, yaitu bersedekah dengan satu dinar atau setengahnya. Apabila hubungan suami istri ini atas kemauan keduanya, maka kedua-duanya mengeluarkan kafarah ini. Tentu saja membayar kafarah dengan satu dinar lebih utama dari setengahnya. Hal ini didasarkan pada hadits

يتصدق بدينار أو بنصف دينار

“Maka hendaknya ia bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar.” [15]

Mengerjakan shalat

Sepakat ulama bahwa wanita haidh diberikan keringanan untuk meninggalkan shalat selama haidh, dan tidak wajib menggantinya di masa-masa mereka suci. Karena mengganti shalat yang ia tinggalkan selama haidh adalah perkara yang memberatkan mereka.

Dalilnya adalah hadits Abu Sa’id, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepadanya tentang kurangnya agama wanita;

أليس إذا حاضت لم تصل ولم تصم؟ فذلك نقصان دينها

“Bukankah jika wanita mengalami haidh tidak shalat dan tidak berpuasa? Dan ini menunjukkan kurangnya agama mereka.” [16]

Dan juga perkataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha;

كنا نحيض مع النبي صلى الله عليه وسلم فلا يأمرنا به

“Kami dahulu haidh di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami beliau tidak memerintahkan kami mengerjakanya (shalat). [17]

Berpuasa

Wanita haidh tidak wajib berpuasa, dan bahkan haram hukumnya jika ia nekat puasa. Apabila yang ia tinggalkan adalah puasa Ramadhan, maka wajib ia untuk menggantinya di waktu-waktu sucinya di luar Ramadhan. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata;

كان يصيبنا ذلك فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة

 “Kami dahulu mengalami haidh dan diperintahkan untuk mengqodho’ shalat dan tidak diperintahkan untuk menqodho’ shalat.” [18]

Didasarkan pada perkatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mengalami haidh ketika hendak menunaikan haji pada peristiwa haji wada’.

افعلي ما يفعل الحاج غير ألا تطوفي بالبيت حتى تطهري

“Lakukan apa-apa yang dilakukan orang haji kecuali thawaf sampai dengan engkau suci.” [19]

Membaca Al Qur’an

Dan ini pendapat kebanyakan ulama dan yang lebih berhati-hati. Akan tetapi jika ada kebutuhan mendesak yang mengharuskan ia membaca Al Qur’an, maka diperbolehkan, seperti halnya seorang guru tahfidz atau penghafal Al Qur’an yang khawatir akan hilangnya hapalanya.

Jika mengharuskan ia membaca Al Qur’an, maka hendaknya wanita yang haidh tersebut tidak menyentuh mushaf, atau menyentuhnya dengan menggunakan kaus tangan. Hal ini didasarkan atas firman Allah

﴿لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ ٧٩ ﴾

tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan [20]

Berdiam diri di dalam masjid

Tidak diperbolehkan bagi wanita haidh untuk duduk-duduk berdiam diri di dalam masjid. Walaupun dalam hal ini ada perbedaan pandangan di kalangan fuqoha, akan tetapi melihat dalil-dalil yang ada, dan juga kehati-hatian, maka wanita haid lebih baik jangan masuk ke dalam masjid kecuali ada hajat yang sangat penting, atau hanya berlalu saja.

Diantara dalil yang tidak memperbolehkan wanita masuk dan berdiam diri di masjid adalah firman Allah Ta’ala

﴿..وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغۡتَسِلُواْۚ .. ﴾

(jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. [21]

Dan hukum wanita yang haidh dalam hal ini sama dengan hukum orang yang junub. [22]

Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

يَخْرُجُ العَوَاتِقُ وَذَوَاتُ الخُدُورِ، أَوِ العَوَاتِقُ ذَوَاتُ الخُدُورِ، وَالحُيَّضُ، وَلْيَشْهَدْنَ الخَيْرَ، وَدَعْوَةَ المُؤْمِنِينَ، وَيَعْتَزِلُ الحُيَّضُ المُصَلَّى

“Hendaknya para gadiis dan wanita pingitan, atau gadis pingitan, wanita-wanita yang sedang haidh dan hendaknya mereka kebaikan (hari raya) dan khutbah kaum mu’minin dan hendaknya wanita haidh menjauhi tempat shalat.” [23]

 dan juga hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mana beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

فَإِنِّي لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ

“Sesungguhnya aku tidak memperbolehkan (berdiam di) masjid bagi wanita yang haidh dan orang yang sedang junub.” [24]

Thawaf di Ka’bah

Seorang wanita yang sedang haidh, Nabi larang untuk melakukan Thawaf di Baitullah atau Ka’bah.

Diantara dalilnya adalah, suatu saat Aisyah radhiyallahu ‘anha melakukan ibadah haji bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ketika sampai di daerah Saraf, Aisyah mengalami haidh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menemui beliau, dan bertanya apakah beliau haidh, dan A’isyah membenarkan bahwa beliau sedang haidh. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ ، فَاقْضِى مَا يَقْضِى الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ
“Haid adalah kondisi yang Allah takdirkan untuk putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di ka’bah”. [25]
Terdapat tambahan di riyawat yang dibawakan oleh Imam Muslim, yaitu :

فَفَعَلَتْ وَوَقَفَتِ الْمَوَاقِفَ حَتَّى إِذَا طَهَرَتْ طَافَتْ بِالْكَعْبَةِ وَالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ

“A’isyah pun melakukannya, beliau melaksanakan semua aktivitas orang haji. Hingga ketika beliau telah suci, bliau thawaf di ka’bah dan sa’i antara shafa dan marwah”. [26] 

 

Dalam riwayat lain, A’isyah radhiyallahu ‘anha menceritakan kisah haidh beliau ketika berhaji besama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan lafadz :

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ . . فَقَدِمْتُ مَكَّةَ وَأَنَا حَائِضٌ وَلَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ وَلا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ ، فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : انْقُضِي رَأْسَكِ وَامْتَشِطِي وَأَهِلِّي بِالْحَجِّ
“Saya ikut haji wada’ bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.. ketika sampai Mekah, saya mengalami haid, sehingga tidak bisa thawaf di Ka’bah dan tidak sa’i. Akupun mengadukan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Lepas gelunganmu, bersisirlah, dan niatkan ihram untuk berhaji.” [27]

Diantara dalil lain adalah, terdapat keringanan bagi wanita haidh untuk tidak melakukan thawaf wada’. Ibnu Abbas berkata :

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ ، إِلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْحَائِضِ

 Manusia diperintahkan menjadikan akhir amalan hajinya adalah di Baitullah (dengan thawaf wada’) kecuali hal ini diberi keringanan bagi wanita haidh.” [28]

Referensi

  1. HR. Al-Bukhari no. 294 dan Muslim no. 1211
  2. Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/400
  3. Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd, 1/56
  4. Lisanul ‘Arab, 7/142 dan Tajul ‘Urus, 18/312
  5. Mughnil Muhtaj, Al-Khatib Asy-Syarbini, 1/277
  6. Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 1/223
  7. HR. Abu Dawud no. 286, An-Nasa’i no. 185, Ibnu Hibban no. 1348, dan Al-Hakim no. 174
  8. Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd, 1/56
  9. Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah,21/623
  10. Syarhul Mumti’, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 1/467
  11. HR. Al-Bukhari dalam kitab Al-Haidh
  12. HR. Al-Bukhari no. 326, Abu Dawud no. 307, An-Nasa’i  no. 368, dan Ibnu Majah no. 647
  13. QS. Al-Baqarah : 222
  14. HR. Muslim no. 302
  15. HR. Ahmad no. 2032, Abu Dawud no. 264, dan An-Nasa’i no. 289
  16. HR. Al-Bukhari no. 320 dan Muslim no. 333
  17. HR. Al-Bukhari no. 305 dan Muslim no. 119
  18. HR. Muslim no. 265 dan Abu Dawud no. 263
  19. HR. Al-Bukhari no. 304
  20. QS. Al-Waqi’ah : 79
  21. QS. An-Nisa’ : 43
  22. Fatwa Lajnah Da’imah, 6/272
  23. HR. Al-Bukhari no. 324
  24. HR. Abu Dawud no. 232 dinilai dhaif oleh Syaikh Al-Albani
  25. HR. Bukhari 294 & Muslim 2976
  26. HR. Muslim 2996
  27. HR. Bukhari 1556 & Muslim 1211
  28. HR. Bukhari no. 1755 dan Muslim no. 1328
Baca juga: