Haudh

Termasuk bagian iman kepada hari akhir, adalah mengimani adanya haudh (telaga) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan didatangi oleh umatnya pada hari kiamat.

Pengertian Haudh

Secara bahasa, haudh bermakna tempat berkumpulnya air. [1]

Adapun yang dimaksud dengan haudh di sini adalah telaga hakiki yang telah diciptakan dan berada di padang hari kiamat. Airnya dialirkan dari Al-Kautsar (sungai di surga). Telaga yang panjang dan lebarnya sama. Airnya lebih putih dari susu, salju ataupun perak, lebih harum dari misik, lebih manis dari madu, dan lebih dingin dari salju. Cangkir-cangkirnya lebih banyak dari jumlah bintang-bintang di langit. Akan didatangi oleh umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah kehendaki. Barangsiapa minum darinya, maka tidak akan merasa haus selamanya. [2]

Dalil Adanya Haudh

Dalil dari Al-Quran, adalah firman Allah,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” [3]

Ayat ini memang tidak secara tegas menyebutkan tentang haudh. Hanya saja sebagian ulama menafsirkan Al-Kautsar yang Allah sebutkan dalam ayat tersebut sebagai haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [4]

Adapun dalil dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan akan adanya haudh pada hari kiamat, maka sangat banyak. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، مَنْ وَرَدَهُ شَرِبَ مِنْهُ ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهُ أَبَدًا ، لَيَرِدُ عَلَىَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِى ، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ

“Aku mendahului kalian pada haudh. Barangsiapa mendatanginya, maka dia akan minum darinya. Dan barangsiapa minum darinya, maka dia tidak akan merasa haus selamanya. Sungguh akan ada sekelompok orang yang mendatangiku, aku mengenal mereka dan mereka mengenalku kemudian dihalangi antara aku dengan mereka.” [5]

Hadits-hadits tentang haudh telah dinukilkan secara mutawatir. Banyak para sahabat yang meriwayatkannya dengan berbagai redaksi. Di antara mereka adalah Ibnu Umar, Abu Sa’id Al-Khudri, Sahl bin Sa’ad, Jundab, Abdullah bin Amr, Aisyah, Ummu Salamah, Uqbah bin Amir, Ibnu Mas’ud, Hudziafah, Haritsah bin Wahb, dan lain sebagainya. [6]

Wajib Mengimani Adanya Haudh

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata, “Hadits-hadits tentang haudh adalah shahih. Mengimaninya merupakan kewajiban. Dan membenarkan adanya haudh termasuk bagian keimanan. Ahlussunnah meyakini haudh sesuai zhahirnya, tidak ditakwil dan tidak diperselisihkan tentangnya.” [7]

Setiap Nabi memiliki Haudh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ نَبِىٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّى أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً

“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki haudh (telaga). Dan mereka saling berbangga-bangga, siapakah di antara mereka yang paling banyak pengunjungnya. Dan aku berharap akulah yang paling banyak pengunjungnya.” [8]

Sifat dan Ciri-ciri Haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَوْضِى مَسِيرَةُ شَهْرٍ وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ وَمَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ الْوَرِقِ وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلاَ يَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا

“Haudh ku (jaraknya) perjalanan satu bulan, dan sisi-sisinya (panjang dan lebarnya) sama. Airnya lebih putih dari perak, aromanya lebih wangi dari misik, cangkir-cangkirnya seperti bintang-bintang di langit. Barangsiapa minum darinya maka dia tidak akan merasa haus setelahnya selamanya.” [9]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ لِى حَوْضاً مَا بَيْنَ أَيْلَةَ إِلَى صَنْعَاءَ عَرْضُهُ كَطُولِهِ فِيهِ مِيزَابَانِ يَنْثَعِبَانِ مِنَ الْجَنَّةِ مِنْ وَرِقٍ وَالآخَرُ مِنْ ذَهَبٍ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ وَأَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ وَأَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ فِيهِ أَبَارِيقُ عَدَدَ نُجُومِ السَّمَاءِ

“Sesungguhnya aku memiliki haudh yang jaraknya antara Ailah ke Shan’a. Lebarnya seperti panjangnya. Padanya ada dua saluran air yang mengalir dari surga, satunya dari perak dan yang lain dari emas. Airnya lebih manis dari madu, lebih dingin dari salju, dan lebih putih dari susu. Barangsiapa minum darinya, maka tidak akan merasa haus sampai dia masuk ke dalam surga. Padanya ada cerek-cerek sebanyak bintang-bintang di langit.” [10]

Di manakah Haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada?

Para ulama berbeda pendapat tentang masalah ini. Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah menyebutkan empat pendapat dalam masalah ini.

Pertama, pendapat yang menyatakan bahwa haudh ada sebelum shirath.

Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa haudh ada setelah shirath.

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa haudh ada sebelum shirath dan setelah shirath. Satu haudh yang terbentang dari padang mahsyar (sebelum shirath) sampai padang luas yang ada sebelum surga (setelah shirath).

Keempat, pendapat yang mengatakan bahwa ada dua haudh; satu sebelum shirath dan satu setelah sirath. [11]

Lalu beliau (Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah) menyebutkan dalil pendapat pertama beserta sisi pendalilannya. Dan beliau menyatakan bahwa inilah pendapat yang benar.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa haudh ada sebelum shirath, adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيَرِدُ عَلَىَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِى ، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ

“Sungguh akan ada sekelompok orang yang mendatangiku, aku mengenal mereka dan mereka mengenalku kemudian dihalangi antara aku dengan mereka.” [12]

Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، وَلَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِى فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku mendahului kalian kepada haudh. Dan sungguh akan ada di antara kalian yang ditarik kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Lalu aku akan berkata, wahai Rabbku, itu sahabatku. Maka akan dijawab, sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sepeninggalmu.” [5]

Sisi pendalilan dari hadits-hadits ini, bahwa adanya orang-orang yang dihalangi dan dijauhkan dari haudh bahkan dimasukkan ke dalam neraka, menunjukkan bahwa itu terjadi sebelum manusia melewati shirath. Wallahu a’lam. [12]

Yang akan minum dari Haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Orang-orang yang akan mendapat kesempatan minum dari haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umat beliau secara khusus. Dan beliau akan mengenali umatnya dengan tanda bekas air wudhu yang ada pada wajah dan tangan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّ حَوْضِى أَبْعَدُ مِنْ أَيْلَةَ مِنْ عَدَنٍ لَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ الثَّلْجِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ بِاللَّبَنِ وَلآنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ النُّجُومِ وَإِنِّى لأَصُدُّ النَّاسَ عَنْهُ كَمَا يَصُدُّ الرَّجُلُ إِبِلَ النَّاسِ عَنْ حَوْضِهِ

“Sesungguhnya haudhku lebih jauh daripada (jarak) Ailah dari Aden. Sungguh haudh ini lebih putih dari salju, dan lebih manis dari madu dengan susu. Dan sungguh cangkir-cangkirnya lebih banyak dari jumlah bintang-bintang. Dan sungguh aku akan menghalang-halangi manusia (umat lain) dari haudh ini sebagaimana seseorang menghalang-halangi unta milik orang lain dari kolam airnya.”

Lalu para sahabat bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَعْرِفُنَا يَوْمَئِذٍ

“Wahai Rasulullah, apakah Anda bisa mengenal kami ketika itu?”

Beliau menjawab,

نَعَمْ لَكُمْ سِيمَا لَيْسَتْ لأَحَدٍ مِنَ الأُمَمِ تَرِدُونَ عَلَىَّ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ

“Iya. Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari umat terdahulu. Kalian akan mendatangiku dalam keadaan bercahaya bagian wajah dan tangan karena bekas wudhu.” [13]

Yang akan dijauhkan dari haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di samping umat lain yang tidak bisa minum dari haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata ada sebagian orang dari umat ini yang juga tidak diizinkan minum darinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku mendahului kalian pada haudh. Dan akan ditampakkan kepadaku beberapa orang dari kalian. Sehingga apabila aku hendak memberikan kepada mereka, tiba-tiba mereka didorong menjauh dariku. Lalu akan akan berkata, wahai Rabbku mereka adalah sahabat-sahabatku. Maka dikatakan (kepadaku), kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.” [14]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَرِدُ عَلَىَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ أَصْحَابِى فَيُحَلَّئُونَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِى . فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ ، إِنَّهُمُ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمُ الْقَهْقَرَى

“Pada hari kiamat, akan ada sekelompok dari sahabat-sahabatku yang mendatangiku pada haudh. Lalu mereka dihalangi dari haudh. Maka aku pun berkata, wahai Rabbku mereka adalah sahabat-sahabatku. Maka dikatakan kepadaku, sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu, mereka telah murtad.” [15]

Dari hadits di atas dan beberapa hadits lain yang semisal dengannya, para ulama telah menjelaskan bahwa ada di antara umat ini yang terhalang dan dijauhkan dari haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Abdil Barr berkata, “Setiap orang yang membuat-buat hal baru dalam agama, sesuatu yang tidak diridhai Allah dan tidak diizinkan oleh-Nya, maka dia termasuk orang yang terusir dan dijauhkan dari haudh. Wallahu a’lam.

Dan yang diusir paling keras adalah orang-orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin dan memisahkan diri dari jalan mereka. Seperti orang-orang Khawarij dengan berbagai firqohnya, orang-orang Rafidhah dengan berbagai kesesatannya, dan orang-orang Mu’tazilah dengan bermacam-macam hawa nafsunya. Mereka semua adalah orang-orang yang mengubah (agama ini).

Demikian pula orang-orang yang zhalim, yang berbuat melampaui batas dalam kezhaliman dan penganiayaan, yang berusaha menghapus kebenaran, yang membunuh dan merendahkan para pengikut kebenaran. Yang terang-terangan dalam dosa besar dan yang meremehkan maksiat. Semua orang-orang yang menyimpang, pengikut hawa nafsu dan kebid’ahan. Mereka semua dikhawatirkan termasuk orang-orang yang dimaksud dalam hadits ini. Dan tidak ada yang kekal di neraka kecuali orang yang kafir, yang menentang, yang tidak ada sedikit pun keimanan dalam hatinya.” [16]

Imam Nawawi menyebutkan tiga pendapat para ulama tentang orang-orang yang terhalangi atau diusir dari haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama, orang-orang munafik yang secara zhahir seperti umumnya kaum muslimin.

Kedua, orang-orang yang dikenal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang muslim ketika beliau masih hidup, lalu orang tersebut murtad sepeninggal beliau.

Ketiga, para pelaku kemaksiatan dan dosa besar yang masih memiliki keimanan, dan para pengikut bid’ah yang kebid’ahannya tidak sampai mengeluarkan dari Islam.

Lalu beliau menukilkan perkataan Ibnu Abdil Barr di atas yang mengisyaratkan bahwa tiga golongan itu semuanya sangat mungkin dan dikhawatirkan termasuk yang dimaksud dalam hadits tersebut. [17]

Wallahu a’lam.

 

  1. Lisanul Arab 1/141
  2. Mausu’ah Al-Aqidah wal Adyan 2/1084
  3. QS. Al-Kautsar: 1
  4. Lihat Mausu’ah Al-Aqidah wal Adyan 2/1085)
  5. HR. Al-Bukhari no. 7050 dan Muslim no. 2290
  6. Lihat Syarh Shahih Muslim 15/53
  7. Syarh Shahih Muslim 15/53
  8. HR. At-Tirmidzi no. 2443, dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1589
  9. HR. Al-Bukhari no. 6579 dan Muslim no. 2292 (dan redaksi ini adalah lafal Muslim)
  10. HR. Ahmad 7/188, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 6458
  11. Lihat Al-La’ali Al-Bahiyyah fi Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah 2/247-248
  12. Lihat Al-La’ali Al-Bahiyyah fi Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah 2/249
  13. HR. Muslim no. 247
  14. HR. Al-Bukhari no. 7049
  15. HR. Al-Bukhari no. 6585
  16. At-Tamhid 20/262, dinukil dari Mausu’ah Al-Aqidah wal Adyan 2/1089
  17. Lihat Syarh Shahih Muslim 3/136-137

Tinggalkan komentar