Ibnu Abbas

Nama, Nasab Ibnu Abbas

 Namanya adalah Abdullah, Bapaknya adalah al-Abbas bin Abdul Muththalib, paman Nabi   , yang lahir dua tahun sebelum Nabi . Dizaman Jahiliyyah Abbas adalah pemegang tugas member minum jamaah haji dan saat Islam datang, Islam menyetujuinya. Ibunya adalah Ummu al-Fadhl Lubabah al-Kubra binti al-Harits al-Hilaliyah, saudara kandung Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits, Istri Nabi [ .[1 

Kelahiran dan kepribadian Ibnu Abbas

 Ibnu Abbas adalah seorang yang berperibadi rabbani di kalangan umat ini, orang yang paling mengetahui kitab Allah, paling memahami takwilnya, paling mampu menyelami kedalaman makna dan mengungkapkan maksud dan kandungannya. Ia lahir lima tahun sebelum hijrah, dan saat Rasulullah wafat, usianya 13 tahun.[2] 

Hijrah Ibnu Abbas

 Sekalipun Ibnu Abbas sudah masuk islam di Makkah, namun dia belum bisa berhijrah kecuali menjelang Fathu Makkah,  hal itu sesudah bapaknya masuk islam lalu mereka berhijrah, dan keduanya berpapasan dengan Nabi di juhfah,  dan saat itu Nabi sedang berangkat hendak  menaklukkan Makkah, lalu keduanya ikut dengan rombongan Nabi  dan kembali ke Makkah, serta menyaksikan peristiwa Fathu Makkah. Fathu Makkah sendiri terjadi pada 20 Ramadhan pagi Hari jumat tahun 8 H.[3]

 Jadi hijra Ibnu Abbas dari Makkah ke Madinah adalah tahun Fathu Makkah. Sesudah hijrah, Rasulullah membaiatnya padahal dia masih anak-anak yang belum baligh. Ini mengandung pelajaran bahwa anak-anakpun patut diarahkan untuk memegang perintah Rabb mereka dan membela aqidah mereka, sebagaimana hal yang sama berlaku atas orang-orang dewasa, laki-laki dan wanita tidak berbeda.[4]

Ilmu Ibnu Abbas

 Ibnu Abbas menguasai berbagai bidang ilmu dan pengetahuan; dimana dia adalah seorang ahli fikih, pakar takwil dan tafsir, menguasai sastra, syair, dan bahasa, sehingga dia menjadi rujukan masyarakat di semua bidang tersebut, dan sandaran para ulama dalam apa yang mereka perlukan terkait dengan ilmu-ilmu tersebut. Abu Shalih berkata, Aku melihat sebuah majlis Ibnu Abbas, seandainya seluruh orang-orang Quraisy membanggakannya, niscaya mereka patut untuk berbangga. Aku melihat orang-orang berdesak-desakan di pintu rumahnya, hingga jalan menjadi sempit oleh mereka, sehingga tidak ada yang bisa datang atau pergi.

Aku mengabarinya apa yang terjadi di luar, maka dia berkata, Siapkan air wudhu untukku. Maka dia berwudu dan duduk. Dia berkata kepadaku, Keluarlah dan katakan kepada mereka, Barangsiapa ingin bertanya tentang al-Quran, huruf-hurufnya dan maksudnya, maka hendaklah dia masuk. Aku keluar, lalu aku menyampaikan hal itu kepada mereka, maka mereka masuk sehingga memenuhi rumah dna kamar, mereka tidak bertanya tentang sesuatu kecuali Ibnu Abbas menjawabnya dan terkadang menjawabnya dengan jawaban yang lebih luas dari apa yang mereka tanyakan. Kemudian dia berkata kepada mereka, Berikan kesempatan kepada saudara-saudara kalian. Maka merekapun keluar.

Kemudia Dia berkata kepadaku, Keluarlah dan sampaikan kepada mereka, Barangsiapa ingin bertanya tentang tafsir al-Quran dan takwilnya, maka silahkan masuk.Maka aku keluar dan menyampaikannya kepada mereka. Maka mereka masuk, mereka memenuhi rumah dan kamar, mereka tidak bertanya kepadanya tentang sesuatu, kecuali ia menjawabnya, dan terkadang ia menjawabnya dengan jawaban yang lebih luas dari pertanyannya. Kemudian dia berkata kepada mereka, Berikanlah kesempatan kepada saudara-saudara kalian. Maka mereka pun keluar.

Kemudian dia berkata kepadaku , Keluarlah dan katakan kepada mereka, Barangsiapa ingin bertanya tentang halal, haram, dan fikih, maka silahkan masuk. Maka aku keluar dan mengumumkannya kepada mereka. Maka mereka masuk, mereka memenuhi rumah dan kamar, mereka tidak bertanya kepadanya tentang sesuatu, kecuali dia menjawabnya, dan terkadang dia menjawabnya dengan jawaban yang lebih luas dari pertanyaannya. Kemudian dia berkata kepada mereka, Berikanlah kesempatan kepada saudara-saudara kalian. Maka merekapun keluar.

Kemudian dia berkata kepadaku , Keluarlah dan katakan kepada mereka, Barangsiapa ingin bertanya tentang faraid dan hal-hal yang berkaitan dengannya, maka silahkan masuk. Maka aku keluar dan mengumumkannya kepada mereka. Maka mereka masuk, mereka memenuhi rumah dan kamar, mereka tidak bertanya kepadanya tentang sesuatu, kecuali dia menjawabnya, dan terkadang dia menjawabnya dengan jawaban yang lebih luas dari pertanyaannya. Kemudian dia berkata kepada mereka, Berikanlah kesempatan kepada saudara-saudara kalian. Maka merekapun keluar.

Kemudian dia berkata kepadaku , Keluarlah dan katakan kepada mereka, Barangsiapa ingin bertanya tentang bahasa Arab,syair, kata-kata sulit dari perkataan orang Arab, maka silahkan masuk. Maka mereka masuk, mereka memenuhi rumah dan kamar, mereka tidak bertanya kepadanya tentang sesuatu, kecuali dia menjawabnya, dan terkadang dia menjawabnya dengan jawaban yang lebih luas dari pertanyaannya. Kemudian dia berkata kepada mereka, Berikanlah kesempatan kepada saudara-saudara kalian. Maka merekapun keluar.

Abu Shalih berkata, Seandainya seluruh orang-orang Quraisy membanggakannya, niscaya mereka patut untuk berbangga. Aku tidak pernah melihat kemampuan seperti ini ada pada seseorang selainnya.[5]

Ilmu agung yang didapat oleh Ibnu Abbas adalah berkat wallahualam– keberkahan doa Rasulullah yang bersabda,

اللّٰهُمَّ عَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ وَ فِقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

Ya Allah, ajarilah dia takwil dan pahamkanlah dia dalam agama.[6]

Ibadah Ibnu Abbas

 Ibnu Abbas memulai hidupnya dalam asuhan Rasulullah , dia memperhatikan ibadah Beliau dan rasa takut Beliau kepada Allah. Dia meneriman pelajaran praktis dalam beribadah kepada Allah dan keikhlasan kepdaNya. Dan sesudahnya Ibnu Abbas menyertai Amirul Mukminin Umar bin al-Khatthab, khalifah yang bertakwa, ahli ibadah, dan pemilik hati yang bersih. Maka tidak heran bila sesudah itu Ibnu Abbas tumbuh sebagai orang yang mencintai ibadah kepada Allah dan berkonsentrasi kepadanya, selalu merasa takut kepadaNya, meninggalkan hal-hal subhat dna berhenti pada batasan-batasan Allah.[7]

Abdullah bin Abi Mulaikah berkata, Aku menyertai Ibnu Abbas dari Makkah ke Madinah; beliau shalat dua rakaat, dan bila malam tiba, dia bangun setengahnya, membaca al-Quran dengan tartil huruf demi huruf, dan dalam shalatnya dia memperbanyak tasbih dan mengangis.[8]

Ibnu Abbas berkata, Aku tidak menyesali sesuatu yang terlewatkan saat aku masih muda, kecuali aku tidak menunaikan haji dengan berjalan kaki. Al-Hasan bin Ali menunaikan haji sebanyak 25 kali dengan berjalan kaki, padahal unta-unta kuat digiring bersamanya. Sungguh dia telah membagi hartanya tiga kali, hingga dia memberikan sepatu dan menahan sandal.[9]

Ibadah dalam pandangan Ibnu Abbas bukan sekedar shalat, puasa, haji, dan zakat saja, akan tetapi ibadah dalam pandangannya adalah amal yang mendekatkan kepada Sang Pencipta, bisa berupa menjenguk orang sakit, membantu keperluan seorang Muslim, atau kata-kata yang baik untuk seorang Muslim.[10]

Jihad Ibnu Abbas

 Ibnu Abbas yang tumbuh di Madrasah Muhammad bin Abdullah dn berkembang di dalamnya tidak mungkin berpangku tangan dari jihad di jalan Allah sekalipun kesibukannya di lahan ilmu dan pengajarannya berjumlah besar. Ibnu Abbas ikut dalam beberapa peperangan, dan dengan itu dia mendapatkan kebaikan dan pahala yang besar, disamping peperangan yang dia hadiri pada zaman Rasulullah yang diawali dengan Fathu Makkah. Ibnu Abbas ikut dalam perang di Afrika dan Konstantinopel. Diriwayatkan dari Abu Said bin Yunus bahwa dia berkata, Ibnu Abbas ikut dalam perang di Afrika bersama Ibnu Abu Sarah, dan penduduk Mesir yang meriwayatkan darinya ada 15 orang.[11] Perang ini terjadi pada tahun 27 H.

Di zaman Muawiyah, Yazid bin Muawiyah menyerang konstantinopel, dalam pasukannya ada beberapa sahabat besar yang mulia, salah satunya adalah Ibnu Abbas. Diriwayatkan secara shahih dari Nabi , bahwa beliau bersabda,

أَوَّلُ جَيْشٍ يَغْزُوْنَ مَدِيْنَةَ قَيْصَرَ مَغْفُوْرٌ لَهُمْ

pasukan pertama yang menyerang ibu kota Kaisar diampuni.[12]

Pasukan ini adalah pasukan yang pertama yang menyerangnya, dan mereka tidak sampai kepadanya, kecuali sesudah mereka mengerahkan segala daya upaya.[13]

Kesabaran Ibnu Abbas

Di akhir hayatnya, Ibnu Abbas kehilangan penglihatannya, dia tidak bisa melihat. Kehilangan penglihatan bagi seseorang merupakan musibah besar yang berat untuk dipikul, namun tidak dengan Ibnu Abbas, iman dan kesabarannya membuatnya mampu mengubah musibah menjadi kenikmatan, dimana dia diberi ganti dengan sesuatu yang lebih mahal dari cahaya penglihatan. Tentang hal ini Ibnu Abbas berkata,

Bila Allah mengambil cahaya kedua mataku

Maka lisan dan hatiku masih memiliki cahaya

Hatiku cerdik dan akalku bersih jernih

Sedangkan kata-kataku tajam seperti pedang[14]

Pujian kepada Ibnu Abbas oleh para sahabat dan tabiin

 Telah banyak perkataan para sahabat dan tabiin yang menyanjung Ibnu Abbas, dan berikut ini adalah sebagian kecil diantaranya:

1. Umar berkata, Sebaik-baik penerjemah al-Quran adalah Ibnu Abbas. Suatu hari Umar berkata kepada Ibnu Abbas, Sesungguhnya kamu mengetahui ilmu yang tidak kami ketahui. Umar juga berkata, Sesungguhnya kamu telah menjadi pemuda kami yang paling bersinar, paling bagus akhlaknya, dan paling paham tentang Kitab Allah.[15] Umar juga berkata, Jangan ada yang menyalahkanku karna aku mencintai Ibnu Abbas.[16]

2. Thalhah bin Ubaidillah berkata, Ibnu Abbas telah diberi pemahaman, kecerdasan, dan ilmu, aku tidak melihat Umar mendahulukan siapapun atasnya.[17]

3. Saat Umar ditanya tentang sesuatu, dia menjawab, Bertanyalah kepada Ibnu Abbas, karna dari orang-orang yang tersisa dialah orang yang paling mengetahui tentang apa yang Allah turunkan kepada Muammad . Maknakala Ibnu Umar ditanya tentang firman Allah:

كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا

(langit dan bumi) dahulu keduanya menyatu, kemudian kami pisahkan antara keduanya.[18]

maka dia menjawab,pergilah dan bertanyalah kepada syaikh itu, kemudian kembalilah kepadaku dan sampaikan apa yang dia katakan. Maka orang itu pergi bertanya kepada Ibnu Abbas, maka Ibnu Abbas menjawab, Dulu langit itu menyatu, tidak menurunkan hujan dan bumi juga demikian, tidak mengeluarkan tumbuhan lalu Allah membelah langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuhan. Lalu laki-laki itu kembali kepada Ibnu Umar dan mengatakan jawaban Ibnu Abbas kepadanya, maka Ibnu Umar berkata, Sungguh Ibnu Abbas telah diberi ilmu yang benar. Aku pernah berkata, Aku kurang respek terhadap keberanian Ibnu Abbas dalam  menafsirkan al-Quran. Namun sekarang aku mengetahui bahwa dia memang telah diberi ilmu.[19]

4. Hasan bin Tsabit berkata, kami pernah menghadapi sebuah keperluan di sisi Utsman atau pemimpin selainnya, kami menuntutnya kepadanya bersama beberapa orang sahabat diantara mereka ada Ibnu Abbas, keperluan tersebut memang sulit, maka yang bersangkutan sulit pula menunaikannya, mereka mendesaknya hingga akhirnya merekapun menyerah, mereka bubar kecuali Ibnu Abbas, dia terus berbicara dengan kata-kata yang komprehensif, sehingga yang bersangkutan pun bisa menerimanya, maka tidak ada jalan baginya kecuali menunaikan keperluan kami itu, kami keluar dari sisinya sementara aku memegang tanga Ibnu Abbas, kami melewati orang-orang yang telah menyerah tersebut, aku berkata kepada mereka, Abdullah mengalahkan kalian. Maka aku memujinya,

Bila Ibnu Abbas memperlihatkan wajahnya kepadamu

Niscaya kamu melihat keunggulan dalam setiap perkataannya

Bila dia berkata, maka dia tidak menyisakan celah bagi siapapun

Kata-katanya tersusun rapi, kamu tidak melihat titik lemah padanya

Cukup dan memuaskan apa yang di dada dan tidak meninggalkan

Peluang bagi lawan bicaranya untuk berkata; serius atau main-main

Engkau menggapai ketinggian tanpa kelelahan

Engkau mendapatkan puncaknya tidak kurang dan tidak lebih

Engkau diciptakan sebagai kawan kehormatan diri dan kedermawanan

Bersinar terang dan engkau tidak meninggalkan kemalasan dan kebodohan.[20]

5. Mujahid bin Jabr , seorang tabiin berkata, Aku tidak pernah mendengar fatwa yang lebih bagus dari fatwa Ibnu Abbas, kecuali bila ada yang berkata, Rasulullah bersabda.[21] Dia juga berkata, Aku tidak pernah melihat seorangpun seperti Ibnu Abbas. Dia meninggal dunia sebagai ulama umat ini.[22]

6. Thawus berkata, aku bertemu kurang lebih 500 orang sahabat, bila mereka membicarakan Ibnu Abbas lalu mereka tidak sependapat dengannya, maka Ibnu Abbas akan berdialog dengan mereka sehingga mereka menerima pendapatnya.[23]

7. Masruq berkata, Bila aku melihat Ibnu Abbas, aku berkata, Orang paling tampan. Bila dia berbicara, aku berkata,Orang paling fasih. Bila dia berkata, aku berkata,Orang paling berilmu.[24]

8. Abu Wail berkata, Ibnu Abbas berkhutbah kepada kami, saat itu dia adalah Amirul Haj, dia membuka dengan surat an-Nur, lalu dia membaca dan menafsirkan, aku berkata, Aku tidak pernah melihat dan mendengar perkataan seseorang seperti ini, seandainya orang-orang Persia, Romawi dan Turki mendengarnya, niscaya mereka masuk islam.[25]

Wafatnya Ibnu Abbas

 Pada satu hari di tahun 68 H, cahaya bintang yang bersinar terang yang menyinari umat islam dengan ilmu dan pengetahuannya meredup, hampir 60 tahun sesudah kematian rasulullah dan akhirnya beliau pun wafat di Thaif. [26]

Ibnu Abbas wafat, cahaya ilmunya pun terbenam dari alam manusia, dan setiap yang hidup pasti akan mati, bangunan islam retak karena kematiannya, keretakan yang tidak bisa ditambal kecuali oleh orang yang sepadan dengannya dalam ilmu, fikih, keutamaan, adab, dan kesempurnaan akalnya. Sepupunya Muhammad bin al-Hanafiyah menshalatkan jenazahnya. Manakala jasadnya di makamkan, Muhammad berkata, hari ini seorang yang berpribadi rabbani dari kalangan umat ini telah meninggal dunia. [27]

Orang-orang mulai memuji dan menyanjungnya. Rafi bin Khadij berkata, hari ini, orang yang diperlukan ilmunya di antara timur dan barat telah wafat.  Muawiyah berkata, demi Allah, orang yang paling fakih dari orang-orang yang mati dan orang-orang yang hidup telah wafat. [28]

Referensi

[1] Lihat Shuwar Min Siyar ash-Shahabiyyah oleh Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, Edisi: Indonesia, Penerbit: Darul Haq, hal. 389

[2] Lihat al-Ishabah, 2/330 Dar Shadir. (Namun dalam al-Ishabah, 4/122, cet. Darul Kutub al-Ilmiyah, cet.1 th. 1415 H, bahwa Ibnu Hajar menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Abbas lahir 3 tahun sebelum hijrah. Demikian wallahua’lam)

[3] Nur al-Yaqin, al-Hudhari hal.230

[4] Lihat Shuwar Min Siyar ash-Shahabiyyah oleh Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, Edisi: Indonesia, Penerbit: Darul Haq, hal. 390

[5] Al-Bidayah wa an-Nihayah, 8/305

[6] Musnad Ahmad, 1/266; dan al-Mustadrak al-Hakim, 3/534, dan beliau menshahihkannya dan adz-Dzahabi menyetujuinya

[7] Lihat Shuwar Min Siyar ash-Shahabiyyah oleh Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, Edisi: Indonesia, Penerbit: Darul Haq, hal. 390

[8] Siyar Alam an-Nubala, 3/326

[9] Siyar Alam an-Nubala, 3/360; dan lihat Akhbar Makkah, 1/396

[10] Lihat Shuwar Min Siyar ash-Shahabiyyah oleh Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, Edisi: Indonesia, Penerbit: Darul Haq, hal. 390-391

[11] Siyar Alam an-Nubala, 3/336

[12] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.2924. Ed.T)

[13] Al-Bidayah wa an-Nihayah ,8/34

[14] Siyar Alam an-Nubala, 3/357

[15] Al-Bidayah wa an-Nihayah ,8/302

[16] Siyar Alam an-Nubala, 3/346

[17] Siyar Alam an-Nubala, 3/347

[18] Al-Quran Surat al-Anbiya: 30

[19] Al-Ishabah, 2/332-333

[20] Al-Ishabah, 2/230; dan Siyar Alam an-Nubala, 3/353

[21] Siyar Alam an-Nubala, 3/350-351

[22] Ibid.

[23] Ibid.

[24] Ibid, 3/351

[25] Hilyatu al-Auliya, 1/324

[26] Tarikh Baghdad, 1/174

[27] Ibid. Lihat al-Ishabah, 4/151 dan ath-Thabaqat al-Kubra , 2/368

[28] Lihat Shuwar Min Siyar ash-Shahabiyyah oleh Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, Edisi: Indonesia, Penerbit: Darul Haq, hal. 397