Ibnul Jauzi

Nama Ibnul Jauzi

Namanya adalah Jamaluddin Abul Faraj, Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali Al-Qurasyi Al-Bagdadi, yang lebih dikenal dengan nama Ibnul Jauzi. [1] Kakeknya terkenal dengan sebutan Ibnul Jauzi (anak kelapa), karena kelapa yang ia miliki di Wasith, disana sama sekali tidak ada kelapa selain milik beliau. [2]

Kelahiran Ibnul Jauzi

Ibnul Jauzi dilahirkan di Darb Habib, salah satu wilayah di Baghdad pada tahun 510. [3] Ayahnya wafat ketika beliau berumur tiga tahun, lalu beliau diasuh oleh bibinya (dari pihak ayah). [2]

Pertumbuhan Ibnul Jauzi

Dia tumbuh di lingkungan keilmuan yang bagus. Ketika ayahnya wafat saat dia berusia tiga tahun, ia kemudian diasuh oleh bibinya. Perhatian penuh diberikan bibinya ini, hingga dia menjadi sosok unggul dibanding teman-teman sebayanya. Bibinyalah yang membawanya ke masjid Imam Abul Fadhl Muhammad bin Nashir (w.550 H), ulama yang kemudian mendidiknya dengan didikan terbaik, dan beliau memperdengarkan hadits kepadanya. [3] Kemudian menghasilkan ilmu dalam memberikan wejangan yang tidak dihasilkan oleh seorangpun selainnya, bahkan diceritakan bahwa sebagian majelisnya dihadiri oleh lebih dari seratus ribu orang. [2]

Ibnul Jauzi dan Majelis Ilmu

Ibnul Jauzi hidup bergelimang harta, sebagaimana yang dia tuturkan sendiri. Namun setelah itu, dia mengalami banyak penderitaan di dalam perjalanaanya mencari ilmu, bahkan dia pernah bertutur tentang dirinya: “ketika masih kecil, aku biasa membawa bekal roti kering sebelum pergi mencari hadits. Aku duduk di tepi sungai Isa, sedang aku tidak bisa memakan roti itu kecuali dengan air, maka setiap aku makan satu suap, aku iringi ia dengan satu teguk air, sementara tidak ada yang aku inginkan melainkan lezatnya merasakan lezatnya ilmu.” [3]

Usaha Ibnul Jauzi dalam mencari ilmu dengan memilih ulama terkemuka pada zamannya berdampak positif, yakni datangnya para penuntut ilmu untuk menimba ilmu darinya. Diantara mereka terdapat al-Hafidz Abdul Ghani al-Maqdisi (w.600 H) dan cucunya, Yusuf bin Qoz Ughali bin Abdullah (w.645 H). [4]

Sifat Fisik dan Tabiat Ibnul Jauzi

Ibnul Jauzi memiliki perawakan yang lembut, tabiat yang manis, suara yang merdu dan gerakan yang teratur. Beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktu sedikitpun sehingga beliau dapat menulis empat kitab setiap hari. [2]

Ibnul Jauzi terkenal piawai dalam memberikan nasehat. Al-Hafidz Ibnu Katsir menyatakan: ” Ibnul Jauzi memiliki keunggulan dalam bidang ceramah yang tidak bisa dilampaui siapapun. Kepiawaiannya tidak tertandingi dalam bidang ini; baik dilihat dari sisi metode, pilihan kata, kefasihan, ketinggian bahasa (Balaghah), keindahan susunan kalimat, pengaruh yang kuat, penyelaman makna yang mempesona, serta pendekatan terhadap sesuatu yang asing dengan hal-hal realistis yang dia tuangkan dalam ungkapan singkat yang mudah dipahami dan juga mudah dicerna, yaitu menghimpun makna yang kaya ke dalam kalimat yang sederhana.” [5]

Guru Ibnul Jauzi

Ibnul Jauzi memiliki guru yang sangat banyak. Bahkan ketika menulis kitab Musyaikhah, dia menyebutkan bahwa jumlah gurunya hamper mencapai 90 orang. Ibnul jauzi bercerita: “Tatkala masih kecil, aku dibawa guru kami, Ibnu Nashir, untuk belajar kepada para ulama. Dia memperdengrkan bagiku alawali (sanand-sanad tinggi) dan memantapkan semua yang aku dengar dengan tulisan. Dia juga mengambilkan ijazah-ijazah untukku dari mereka. Setelah saya mengetahui bagaimana mencari ilmu, sayapun ber-mulazamah (duduk menuntut ilmu syar’i) kepada guru yang paling alim dan ahli hadits yang paling paham.” [4]

Kitab-kitab Karya Ilmiah Ibnul Jauzi

Beliau memiliki peran dalam semua bidang ilmu, beliau adalah seorang yang sangat menonjol dalam bidang tafsir, memiliki gelar al-Hafidz dalam bidang hadits, termasuk ulama yang sangat luas dalam bidang sejarah, bahkan beliau memiliki satu kitab dalam bidang kedokteran yang diberi nama ” Kitab Al-Luqath.” [6]

Karya-karya ilmiah Ibnul Jauzi mencapai sekitar 500 kitab. Ini sebagaimana telah ditelusuri dan dihitung oleh ustad Abdul Hamid al-Ulwaji dalam sebuah kitab yang dicetak di Baghdad pada tahun 11965 H. Dari karya ilmiahnya diatas, yang sudah dicetak lebih dari 50 kitab diantaranya ialah:

  1. Nawaasikhul  Quraan
  2. Zaadul  Masir fii  ‘Ilmit  Tafsir
  3. Dzammul  Hawa
  4. Talqih Fuhum Ahlil Atsar
  5. Shifatus  Shofwah
  6. Shaidul  Khathir
  7. AlQushshash wal mudzakkirun
  8. AlMishbahul Mudhi’
  9. Al-Muntazham fii Taariikhil Muluk wal Umam
  10. Al-Maudhuu’aat
  11. Al-‘Ilallul Mutanaahiyah fill Aahaadits Al-Wahiyah
  12. Nuzhatul A’yunan-Nawazhir Fii Ilmil Wujuh Wan Nazha-ir

Dan masih banyak lagi karya ilmiah Ibnul Jauzi yang lainnya yang tidak tercantum di sini. [7]

Pujian Para Ulama kepada Ibnul Jauzi

Para ulama memuji Ibnul Jauzi, serta para ahli sejarahpun menyebut dirinya dengan segala kebaikan. Ibnu Khallikan berkata: ” Ibnul Jauzi merupakan ulama paling alim (Allamah) di zamannya, seorang imam dalam bidang hadits, dan motivator ulung pada masanya.” Adz-Dzahabi berkata: ” dia unggul dalam ilmu tafsir, nasihat dan sejarah. Juga dalam ilmu hadits, dia memiliki pengetahuan yang sempurna pada matan-matannya.” [4]

Ibnu Rajab mensifati beliau dengan al-Hafidz (julukan dalam bidang hadits), seorang pakar tafsir, seorang ahli fiqih dan penasihat, guru besar pada masanyadan seorang imam pada masanya. Ibnu Najjar berkata: ” Tidak diragukan bahwa perkataan beliau didalam memberikan nasehat bukanlah perkataan orang asing yang sekedar menukil dan kosong dari perasaan, akan tetapi perkataan beliau adalah perkataan yang penuh dengan perasaan.” Guru beliau, yaitu Ibnu Nashir berkata: ” ia memberikan sebuah penjelasan yang bersumber dari sebuah ilmu dan pemahaman yang sangat luas dengan ungkapan yang ringkas agar mudah dihafal dan diamalkan. Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat kepadanya dan umur yang panjang agar bisa memberi manfaat kepada kaum muslimin, menolong sunnah dan pengikutnya menghancurkan bid’ah beserta pendukungnya.” Cucunya, yaitu Abul Muzhaffar mensifati beliau dengan berkata, “beliau adalah seorang yang zuhud akan dunia dan hanya mengambil sedikit darinya.” [8]

Namun Ibnul Jauzi ragu-ragu dalam menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah. Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Rajab dalam adz-Dza’il ‘ala thabaqaatil hanabilah (I/1414), bahwa dia berkata: ” terkait hal ini para ulama mengingkari Ibnul Jauzi dengan keras. Sebab dia ragu-ragu dalam masalah takwil, padahal pengetahuannya mengenai hadits-hadits dalam masalah ini begitu luas, akan tetapi ia tidak mampu mengurai syubhat-syubhat mutakallim (ahli kalam dan para pemuja akal). Oleh karena itu imam adz-Dzahabi berkata di dalam siyar ‘alaamin nubalaa’ (XXI/368): ” Aduhai, sekiranya Ibnul Jauzi tidak menyalahi imamnya.” [9]

Beberapa Keindahan Ungkapan Ibnul Jauzi [10]

Berikut adalah sebagian keindahan ungkapan Ibnul Jauzi yang mengandung makna yang dalam dengan ungkapan yang ringkas

Seseorang bertanya kepada beliau, “Apakah yang paling utama, apakah aku harus bertasbih atau beristigfar? ” beliau menjawab: ” Baju yang kotor lebih membutuhkan sabun daripada minyak wangi.”

Siapa saja yang qana’ah (menerima apa adanya), maka dia akan berumur panjang dan siapa saja yang rakus, maka kegegabahannya akan lama.”

Dalam sebuah nasihat beliau berkata, “Wahai amirul mukminin! Jika aku berbicara aku takut kepadamu dan jika aku diam, aku khawatir akan dirimu, aku akan lebih mengutamakan kekhawatiran akan dirimu daripada takut kepadamu, aku berkata sebagai seseorang yang memberi nasehat, ‘bertakwalah!!'” (perkataan tersebut) lebih utama dari perkataan seseorang, “Engkau adalah penghuni rumah orang yang diampuni.” Lalu beliau berkata, ” fir’aun bangga dengan sungai yang tidak dia alirkan.”

Wafatnya Ibnul Jauzi

Ibnul Jauzi meninggal di Baghdad pada jum’at (12 Ramadhan 597 H), tepatnya pada waktu sore diantara Magrib dan Isya, dan dimakamkan di dekat makam Imam Ahmad bin Hambal. Menjelang wafatnya Ibnul Jauzi bersyair:

Wahai Dzat yang memiliki ampunan melimpah,

bagi hamba yang berlumur dosa,

hamba yang penuh dosa  ini datang pada-Mu seraya

berharap ampunan atas kedurhakaan yang dilakukannya,

aku adalah tamu, dan balasan bagi tamu

adalah memperlakukannya dengan baik

Semoga Allah melimpahkan rahmat yang luas kepada Ibnul Jauzi, memaafkan segala kesalahannya, serta mengampuni segala dosanya. [11]

Referensi Biografi Ibnul Jauzi

Biografi atau riwayat hidup Ibnul jauzi tersebut berasal dari sumber-sumber pustaka berikut.

  1. Al-Bidayah wan Nihayah (XIII/28) karya Ibnu Katsir
  2. Wafayaatul A’yaan (II/321) karya Ibnu Khallikan
  3. Dzail thabaqaatil Hanabilah (I/399) karya Ibnu Rajab
  4. Tadzkiiratul Huffaazh (no.1097) karya adz-Dzahabi
  5. Siyar A’laamin Nubalaa’ (XXI/365) karya adz-Dzahabi
  6. Al-I’bar (IV/297) karya adz-Dzahabi
  7. Duwalul Islaam (II/79) karya adz-Dzahabi
  8. Al-Mukhtasharul Muhtaj Ilaihi min Taariikh Ibnud Dubaitsi (II/205) karya adz-Dzahabi
  9. Al-Kamil (XX/171) karya Ibnu Katsir
  10. Miftaahus Sa’aadah (I/107) karya Thasy Kubri Zadah
  11. At-Takmilah li Wafayaatin Naqalah (II/291) karya Imam al-Mundziri
  12. Ghayaatun Nihaayah (I/375) karya Ibnul Jauzi
  13. Mir-atuz Zamaan (VIII/481) karya cucu Ibnul Jauzi
  14. Mir-atul Janaan (VIII/489) karya al-Yafi’i
  15. Al-Masy-yakhah (140) karya an-Na’al al-Baghdadi
  16. Al-Mukhtashar fi Akhbaaril Basyar (II/118) karya Ibnul Wardi

Dan, berdasarkan kitab-kitab lain karya para ulama. [12]

Referensi

  1. Talbis Iblis, hal. 7, yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi diterjemahkan oleh Umar Mujtahid Lc. Pustaka Imam Syafi’i.
  2. Jawahiru Shifatis Shofwah, hal. 3, diterjemahkan oleh Beni Sarbeni. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.
  3. Talbis Iblis, hal. 7, yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi diterjemahkan oleh Umar Mujtahid Lc. Pustaka Imam Syafi’i.
  4. Talbis Iblis, hal. 8, yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi diterjemahkan oleh Umar Mujtahid Lc. Pustaka Imam Syafi’i.
  5. Talbis Iblis, hal. 8-9, yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi diterjemahkan oleh Umar Mujtahid Lc. Pustaka Imam Syafi’i.
  6. Jawahiru Shifatis Shofwah, hal. 3-4, diterjemahkan oleh Beni Sarbeni. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.
  7. Talbis Iblis, hal. 9-10, yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi diterjemahkan oleh Umar Mujtahid Lc. Pustaka Imam Syafi’i.
  8. Jawahiru Shifatis Shofwah, hal. 6-7, diterjemahkan oleh Beni Sarbeni. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.
  9. Talbis Iblis, hal. 9, yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi diterjemahkan oleh Umar Mujtahid Lc. Pustaka Imam Syafi’i.
  10. Jawahiru Shifatis Shofwah, hal. 4, diterjemahkan oleh Beni Sarbeni. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.
  11. Talbis Iblis, hal. 10, yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi diterjemahkan oleh Umar Mujtahid Lc. Pustaka Imam Syafi’i.
  12. Talbis Iblis, hal. 11, yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi diterjemahkan oleh Umar Mujtahid Lc. Pustaka Imam Syafi’i.