Ibnul Qayyim

“Tidak diragukan lagi bahwa orang yang mengkaji sejarah hidup beliau dan mengkaji karya-karya tulis beliau yang sudah tercetak akan tumbuh pada dirinya penghargaan kepada orang ini (Ibnul Qayyim), akan mengetahui bagaimana luas ilmu beliau, bagaimana luasnya akal beliau, kecerdasan luar biasa, seorang imam lagi mulia yang menghapus debu-debu paganisme, meletakkan kebebasan berfikir yang dibimbing oleh sumber Islam yang asli. Beliau memurnikan ilmu, lantas beliaupun mempersembahkan untuk umat ini ilmu nan luas, pemikiran nan subur dengan bersandar pada kaidah-kaidah istimewa dan metode penelitian yang lurus. Bahkan saking luasnya ilmu beliau dalam berbagai ilmu Islam, siapa yang membaca karya beliau dalam suatu disiplin ilmu, dia akan menyangka bahwa sang imam hanya menguasai disiplin ilmu itu dan barangsiapa yang pernah membaca kajian dan penelitian beliau dalam suatu masalah, ia akan mencukupkan dengan kajian sang imam.” [1]

Nama Beliau

Beliau adalah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Hariz bin Makki Az-Zur’i Ad-Dimasyqi Al-Hambali julukan beliau adalah Syamsuddin dan kunyah beliau adalah Abu Abdillah lebih masyhur dengan sebutan Ibnul Qayyim (ابن القيم) atau Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (ابن قيم الجوزية).

Sebutan Az-Zur’i nisbat kepada sebuah daerah yang berada di sebelah selatan Damaskus, sekarang ini disebut dengan daerah Azru’. [2]

Kelahiran Beliau

Imam Ibnul Qayyim lahir tahun 691 H tanggal 7 bulan Shafar. [3] Berbagai referensi yang menyebutkan biografi Ibnul Qayyim tidak menyebutkan tempat lahir beliau secara gamblang. Belakangan sebagian ulama menyebutkan bahwa Ibnul Qayyim lahir di kota Damaskus. Sebagian lagi menyebutkan bahwa beliau lahir di daerah Azru’. Namun, pendapat yang lebih mendekati kebenaran bahwa beliau lahir di kota Damaskus sebagaimana dikuatkan oleh beberapa ulama termasuk Abul Hasan An-Nadawi [4]. Hal ini karena dua sebab:

  • Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa salah seorang guru beliau bernama Syihab Al-Abir (wafat: 697H) yang berdomisili di kota Damaskus dan sama sekali tidak pernah tinggal di daerah Azru’, saat berguru Ibnul Qayyim mencapai umur 7 tahun, beliau mengatakan: “Aku mendengar darinya beberapa juz, dan saya tidak sempurna menimba ilmu ini kepada beliau lantaran umur saya yang masih kecil dan keburu beliau meninggal dunia.”
  • Ayahanda Ibnul Qayyim adalah qayyim (kepala) sebuah madrasah, tentu untuk memperoleh posisi kepala tidak dalam waktu yang singkat, sehingga sangat besar kemungkinan memang ayahanda beliau tinggal dari awal memang di Damaskus dan Ibnul Qayyim lahir di sana.

Beliau lebih sering disebut dengan Ibnul Qayyim atau Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah karena ayahanda beliau yaitu Abu Bakr memiliki julukan Qayyim Al-Jauziyyah, sehingga sang imam lebih sering disebut dengan nama Ibnul Qayyim atau Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Qayyim artinya kepala atau pengawas, karena ayahanda beliau adalah seorang kepala atau pengawas madrasah terkenal dan populer bahkan merupakan sekolah paling besar kala itu terutama dalam mempelajari mazhab hambali kala itu, yaitu Madrasah Al-Jauziyyah. Madrasah ini merupakan madrasah wakaf dari seorang bernama Yusuf bin Abdurrahman bin Jauzi yang merupakan putera dari ulama terkenal yang bernama Abdurrahman Ibnul Jauzi penyusun kitab Talbis Iblis dan Shaid Al-Khatir, sehingga penamaan Madrasah Al-Jauziyyah terambil dari nama pewakaf madrasah yaitu keluarga Ibnul Jauzi. [5]

Keluarga Ulama

Ibnul Qayyim termasuk salah seorang ulama yang diberi kelebihan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan tumbuh besar di tengah keluarga yang cinta ilmu dan agama, sehingga tidak heran apabila beliau sejak kecil merupakan pribadi yang haus ilmu.

Ayahanda beliau Abu Bakr, seorang alim bahkan Ibnul Qayyim sempat berguru kepada ayahanda beliau ini terutama dalam ilmu faraid, dipuji oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah dengan mengatakan: “(Abu Bakr) seorang yang shalih dan ahli ibadah, sederhana, dan mulia, serta sempat mendengar kitab Dala’ilun Nubuwwah dari gurunya Rasyid Al-Amiri.” [6] Adapun adik laki-laki Ibnul Qayyim yang bernama Zainuddin Abdurrahman bin Abu Bakr seorang imam dan qudwah, berguru kepada Ibnu Abd Ad-Da’im, Isa Al-Mut’im, Al-Hajjar dan dia meriwayatkan hadits. Salah seorang muridnya adalah Ibnu Rajab Al-Hambali.” [7] [8] [9] Begitu pula keponakan Ibnul Qayyim yang bernama Isma’il bin Abdurrahman seorang penunut ilmu dan sempat memiliki kebanyakan kitab-kitab milik sang paman (Ibnul Qayyim) dan meninggal tahun 799H. [10]

Adapun Ibnul Qayyim sendiri memiliki beberapa orang putera yang menjadi penuntut ilmu bahkan ulama, diantaranya adalah Abdullah bin Muhammad Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, memiliki kecerdasan yang luar biasa, berhasil menghafal surat Al-A’raf dalam jangka waktu 2 hari, menggantikan sang ayah untuk mengajar di As-Shadriyyah. [11] [12] [13] Putera beliau yang lain bernama Ibrahim bin Muhammad, lahir tahun 716H, berguru kepada sang ayah dan sempat mengajar di As-Shadriyyah menggantikan sang ayah, terkenal dengan ilmunya terutama dalam Ilmu Nahwu. Salah satu karyanya adalah kitab syarah (penjelasan) Alfiyah Ibn Malik yang diberi nama Irsyad As-Salik ila Halli Alfiyyah Ibn Malik, termasuk ulama yang kaya raya sehingga peninggalannya mencapai seratus ribu dirham. Ibnu Hajar dalam kitab beliau Ad-Durar Al-Kaminah menyebutkan sebuah cerita unik yang terjadiantara Ibrahim bin Muhammad dengan Ibnu Katsir pemilik kitab tafsir yang terkenal itu: “Terjadi pertengkaran antara Ibnu Katsir dengan Ibrahim putera Ibnul Qayyim dalam masalah mengajar. Ibnu Katsir berkata kepada Ibrahim: “Engkau membenci saya karena engkau menganggap saya Asy’ari (penganut paham Asy’ari)? Lantas Ibrahim menanggapi seraya mengatakan: “Seandainya mulai dari ujung kepala sampai ujung kakimu ada bulu (dalam bahasa arab bulu atau rambut disebut dengan “Sya’ar” sehingga dari segi pengucapan mirip dengan kata Asy’ari) tak akan ada orang yang mempercayai bahwa engkau adalah asy’ari sedangkan gurumu adalah Ibnu Taimiyyah.” [14] Ibrahim memiliki sebuah kitab yang sudah diterbitkan berjudul Ikhtiyaarat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. [15]

Pujian Ulama kepada Beliau

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Aku tidak mengetahui ada orang yang ibadahnya lebih banyak dari beliau, melakukan shalat begitu panjang, memanjangkan berdiri, memanjangkan ruku’, bahkan banyak beberapa teman mengeluhkan begitu panjangnya beliau shalat, namun beliau tetap melakukan itu (memperpanjang shalat).” Ibnu Katsir juga mengatakan tentang Ibnul Qayyim: “Seorang ulama yang bacaan Al-Qurannya bagus, akhlaknya mulia dan penyayang, tidak punya hasad (iri) dan tidak pernah menyinggung orang lain.” Sebuah pujian objektif dari seorang yang sangat dekat dengan Ibnul Qayyim, karena Ibnu Katsir termasuk orang yang paling banyak bergaul dan bersahabat dengan Ibnul Qayyim, bahkan dalam beberapa kesempatan Ibnu Katsir mengungkapkan kebanggaan beliau bersahabat dengan Ibnul Qayyim. Beliau mengatakan: “Dan saya merupakan sahabat yang paling akrab dengan Ibnul Qayyim bahkan saya termasuk orang yang paling dia cintai.” [16]

Dalam hal sifat tulus dan penyayang kepada sesama manusia, Ibnul Qayyim sendiri pernah mengatakan: “Jika ada orang yang berbuat jahat kepadamu, lantas ia datang untuk meminta maaf atas perbuatan jahatnya itu, maka sebagai bukti sifat tawadhu’ hendaknya engkau menerima permintaan maafnya itu tanpa mempedulikan apakah permintaan maafnya tulus atau tidak, serahkan masalah ketulusan atau ketidaktulusan itu kepada Allah ‘azza wa jalla. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang munafik yang tidak ikut berperang bersama beliau. Saat Rasulullah kembali dari perang, mereka datang kepada beliau untuk meminta maaf dan diberi uzur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menerima permintaan maaf mereka dan menyerahkan apa yang ada di hati mereka itu kepada Allah ‘azza wa jalla.” [17]

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan tentang Ibnul Qayyim: “Menunaikan shalat tahajjud dan shalat lainnya dengan bacaan yang panjang dengan penuh kekhusyukan dan kerendahan hati kepada Allah aku tidak pernah melihat orang seperti beliau dalam hal ini, akupun tidak pernah melihat orang yang begitu luas ilmunya selain beliau, tidak juga aku pernah melihat orang yang begitu luas pengetahuannya tentang makna ayat-ayat Al-Qur’an, As-Sunnah dan tentang iman selain beliau. Beliau memang tidak maksum namun aku sama sekali tak pernah melihat orang seperti beliau. Beliau diuji dan disiksa berkali-kali (namun tetap bersabar), dan beliau juga sempat dipenjara beberapa kali bersamaan dengan dipenjaranya guru beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Pada kali yang terakhir beliau dipenjara dan ditaruh di penjara yang berbeda dengan penjara sang guru dan beliau tidak dikeluarkan dari penjara hingga guru beliau terlebih dahulu wafat.” [18]

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan tentang Ibnul Qayyim: “Apabila beliau selesai shalat subuh beliau berdiam di tempat beliau shalat untuk berdzikir hingga datang waktu siang seraya mengatakan: “Ini adalah sarapanku, seandainya aku tidak melakukannya, maka kekuatanku akan pupus.” Beliau juga pernah mengatakan: “Dengan kepapaan dan kesabaran, kepemimpinan dalam agama ini akan diperoleh.” Dalam kesempatan yang lain beliau juga mengatakan: “Seseorang itu harus memiliki semangat yang menggerakkan dan meningkatkan taraf keimanannya dan seseorang itu juga harus memiliki ilmu yang bisa menunjukkan dan membimbingnya.”” [19]

Guru-guru Beliau

Ibnul Qayyim rahimahullah memiliki banyak guru yang mempunyai pengaruh besar dalam membentuk karakter keilmuan beliau. Berikut diantaranya:

Ayahanda Beliau Abu Bakr

diantara ulama yang menyebutkan bahwa sanga bapak adalah salah seorang guru beliau adalah As-Safadi [20] Ibnu Tagri Bardi [21] dan yang lainnya.

Ibnu Abdid Da’im

Diantara yang menyebutkan bahwa Ibnu Abdid Da’im adalah salah seorang guru beliau adalah As-Safadi [20], Ibnu Rajab [22] dan lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Termasuk guru yang palig banyak memberi pengaruh kepada Ibnul Qayyim. Beliau belajar berbagai disiplin ilmu kepada Syaikhul Islam: ilmu tafsir, hadits, fiqih, fara’id, usul fiqh, usul i’tiqad dan lainnya hingga Ibnul Qayyim merupakan murid yang paling banyak mengambil ilmu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan termasuk guru yang paling banyak disebut oleh Ibnul Qayyim dalam berbagai karya tulis dan kitab beliau. Ibnul Qayyim mulai menimba ilmu kepada Syikhul Islam semenjak sang guru pulang dari negeri Mesir ke negeri Syam tahun 712H hingga sang guru wafat tahun 728H.

Syihab Al-Abir

Dijuluki dengan Al-Abir karena terkenal mumpuni dalam ilmu takwil (ta’bir) mimpi, disebut oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad sebagai guru beliau di awal-awal masa menuntut ilmu, seraya mengatakan: “Begitulah keadaan guru kami (Syihab Al-Abir) dan bagaimana penguasaan beliau terhadap ilmu takwil mimpi, dan saya sempat membaca beberapa bagian dari ilmu takwil mimpi ini, namun saya tidak sempat mempelajari dengan menyeluruh ilmu ini kepada beliau karena ketika itu umur saya masih kecil dan beliau keburu meninggal dunia.” [23]

Majd Al-Harrani

Nama beliau adalah Isma’il Majduddin bin Muhammad Al-Harrani, As-Safadi [24] dan Ibnu Hajar [25] menyebutkan beliau sebagai salah satu guru Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

Syarafuddin Ibnu Taimiyyah

Beliau adalah saudara kandung Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Nama lengkap beliau Abdullah Abu Muhammad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah, memiliki ilmu yang luas dalam berbagai disiplin ilmu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sangat menghormati beliau dan meninggal tahun 727H. Ibnul Qayyim menyebut guru beliau ini diantaranya dalam kitab I’lam Al-Muwaqqi’in tatkala membahas tentang salah satu masalah khilaf dalam bahasan al-yamin (sumpah) dalam thalaq seraya mengatakan: “Dan inilah yang dirajihkan oleh guru kami Abu Muhammad Ibnu Taimiyyah saudara guru kami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.” [26] Dalam kitab As-Shawa’iq Al-Mursalah Ibnul Qayyim juga menyebutkan tentang guru beliau ini seraya mengatakan: “Cukuplah dalam bahasan ini dengan menyebutkan peristiwa debat yang terjadiantara seorang yang berpaham jahmiyyah dengan seorang sunni yang disebutkan cerita ringkasnya oleh guru kami Abdullah Ibnu Taimiyyah.” [27]

Ibnu Muflih

Beliau adalah Syamsuddin Muhammad bin Muflih Al-Maqdisi Al-Hambali. Ibnul Qayyim rahimahullah memuji sang guru dengan mengatakan: “Tidak ada orang di atas muka bumi ini yang lebih tahu tentang mazhab Imam Ahmad selain Ibnu Muflih.” [28]

Al-Mizzi

Beliau adalah Jamaluddin Yusuf bin Abdurrahman Al-Mizzi. Ibnul Qayyim kerap kali mengutip ucapan sang guru dalam berbagai karya tulis beliau dengan menyebut beliau dengan sebutan Syaikhuna (guru kami), diantaranya dalam kitab Tuhfatul Maudud (hlm.159), Ar-Ruh (hlm.11), Haadil Arwah (hlm.67) dan dalam kitab-kitab beliau lainnya.

Az-Zamlakani

Beliau adalah Kamaluddin Muhammad bin Ali Az-Zamlakani meninggal tahun 727H, disebutkan oleh Iwadullah Hijazi bahwa Ubnul Qayyim pernah berguru kepada beliau. [29]

Abul Fath Al-Ba’labakki

Beliau adalah Syamsuddin Muhammad bin Abul Fath Al-Ba’labakki. As-Safadi mengatakan: “Ibnul Qayyim belajar ilmu bahasa arab dan fiqih kepada Abul Fath Al-Ba’labakki.” [30]

Bintu Jawharah

Dia adalah Fathimah bintu Ibrahim bin Jauharah, disebutkan oleh Ibnu Rajab [31] dan Juga Ad-Daudi [32] bahwa Ibnul Qayyim pernah mendengar ilmu darinya.

Ibnu Jama’ah

Beliau adalah Izzuddin bin Abdul Aziz. [33]

Dan guru-guru beliau lainnya.

Murid-murid Beliau

Ibnul Qayyim rahimahullah memiliki banyak murid yang menimba ilmu kepada beliau, diantara mereka adalah:

Ibnu Rajab Al-Hambali

Beliau adalah Zainuddin bin Ahmad bin Rajab Al-Hambali. Beliau meninggal tahun 795H dan memiliki banyak sekali karya tulis, diantaranya adalah kitab Dzail Thabaqat Al-Hanabilah. Dalam kitab inilah beliau menuliskan biografi panjang tentang guru beliau Ibnul Qayyim. Beliau mengatakan di dalamnya: “Aku ikut dalam majlis ilmu beliau satu tahun lebih sebelum beliau meninggal, aku mengambil dari beliau qasidah (sya’ir) An-Nuniyyah dalam jangka waktu satu tahun dan kitab-kitab karangan beliau yang lainnya.” [34]

Ibnu Katsir

Beliau adalah Abul Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir, meinggal tahun 774H. Ibnu Katsir sempat berguru kepada Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim dan juga kepada Al-Mizzi yang kelak menjadi mertua beliau. Adapun hubungan Ibnu Katsir dengan Ibnul Qayyim maka sebagaimana diceritakan dan disebutkan sendiri oleh beliau dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah: “Saya termasuk orang yang paling dekat dengan beliau (Ibnul Qayyim) dan termasuk pula orang yang paling beliau cintai.” [16]

Putera Beliau Ibrahim

Ibnul Imad mengatakan: “Berguru kepada ayahanda beliau yaitu Ibnul Qayyim, ikut andil dalam ilmu bahasa arab, menuntut ilmu dan pernah juga belajar kepada ayahandanya di Hijaz.” [35]

Putera Beliau Abdullah

Ibnu Hajar mengatakan: “Menuntut ilmu kepada ayahandanya dan kepada ulama yang lain.” [36]

Imam Az-Dzahabi

Ulama terkenal dengan berbagai macam karya beliau yang istimewa. Az-Dzahabi menyebutkan biografi Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Muktash, pada kitab inilah Az-Dzahabi menyebutkan bahwa beliau pernah berguru kepada Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. [37]

Ibnu Abdul Hadi

Beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi, wafat tahun 744H. Ibnu Rajab berkata dalam kitab Dzail Thabaqat Al-Hanabilah: “Para ulama menghormati beliau (Ibnul Qayyim) bahkan menimba ilmu kepada beliau, diantaranya yang menimba ilmu kepada beliau adalah Ibnu Abdul Hadi dan lainnya.” [38]

An-Nabulsi

Beliau adalah Syamsuddin Muhammad bin Abdul Qadir An-Nabulsi, memiliki banyak karya tulis diantaranya kitab Mukhtashar Thabaqat Al-Hanabilah. Ibnul Imad mengatakan tentang beliau: “Berguru lama kepada Ibnul Qayyim dan sempat membaca banyak karya sang guru secara langsung di hadapannya.” [39]

Al-Gazzi

Beliau adalah Muhammad bin Muhammad Al-Gazzi As-Syafi’i. Nasab beliau bersambung kepada sahabat Az-Zubair Bin Awwam, meninggal tahun 808H. As-Syaukani berkata tentang beliau: “Memasuki kota Damaskus, lalu berguru kepada sejumlah ulama diantaranya: Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim dan juga As-Subki.” [40]

Al-Fairus Abadi

Pemilik kitab Al-Qamus yang terkenal, wafat tahun 817H. As-Syaukani berkata: “Pergi ke Damaskus pada tahun 755H, lantas menimba ilmu kepada As-Subki dan kepada ratusan ulama lainnya termasuk kepada Ibnul Qayyim.” [41]

As-Subki

Ali bin Abdul Kafi As-Subki, kelak banyak berseteru dengan sang guru, wafat tahun 756H. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Ad-Durar Al-Kaminah bahwa As-Subki sudah sangat sering melanglang buana untuk menuntut ilmu, ke negeri Syam, Hijaz dan Iskandariyah. Di negeri Syam beliau belajar kepada sejumlah ulama diantaranya Ibnul Qayyim. [42]

Kitab-kitab Karya Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim mempunyai banyak sekali karya tulis yang hingga saat ini masih menjadi rujukan istimewa dan diambil manfaatnya oleh para penuntut ilmu. Syaikh Bakr Abu Zaid bahkan setelah melakukan penelitian mendalam menyebutkan bahwa karya Ibnul Qayyim jumlahnya mencapai 98 kitab, dan termasuk salah satu keistimewaan yang diberikan Allah kepada Ibnul Qayyim adalah kemampuan beliau dalam menysusun kitab karya beliau tanpa secara langsung berada di hadapan kitab-kitab rujukan dan referensi, sehingga kita menemukan banyak kitab-kitab fenomenal karya beliau yang ditulis dalam perjalanan saat beliau musafir.

Kitab yang beliau susun saat safar

Diantara kitab-kitab yang beliau susun saat musafir itu adalah:

  • Miftah Dar As-Sa’adah [43]
  • Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin [44]
  • Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad [45]
  • Bada’i’ Al-Fawa’id [46]
  • Tahdzib Sunan Abi Dawud [47]

Dari segi konten dan isi kitab karya-karya Ibnul Qayyim, tidak perlu diragukan lagi. Cukuplah apa yang dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani membuktikan bagaimana istimewanya karya-karya yang dihasilkan oleh Ibnul Qayyim: “Semua kitab-kitab karangan Ibnul Qayyim disukai oleh orang bahkan diterima oleh semua kalangan dan golongan.” [48] As-Syaukani rahimahullah memberi pujian yang luar biasa terkait kemampuan dan kejelian Ibnul Qayyim dalam pemilihan kalimat saat menysun kitab-kitab karya beliau: “Beliau (Ibnul Qayyim) memiliki kemampuan menyusun tema bahasan yang luar biasa, disertai dengan untaian kata-kata yang indah dan enak dibaca. Hal yang jarang ditemukan dalam karya-karya ulama lain. Tatkala membaca satu kitab Ibnul Qayyim terasa mudah dipahami, sangat istimewa saat dicerna dan disukai oleh hati.” [49] Hal ini semua setelah karunia dan taufik dari Allah, juga karena bakat ta’lif (mengarang buku) yang dimiliki oleh sosok Ibnul Qayyim. Di samping itu juga ada faktor lain yang memiliki peran penting dalam menunjang bakat ta’lif beliau ini yaitu hobi Ibnul Qayyim untuk mengoleksi dan mengumpulkan kitab para ulama. Salah satu yang membuktikan hal ini adalah bagaimana beliau mampu mengumpulkan hampir semua karangan Imam Ahmad bin Hambal. Hal yang tentu sangat sulit dilakukan oleh seseorang apalagi di zaman dahulu, di mana mesin-mesin percetakan tidak semodern sekarang ini. Ibnul Qayyim sendiri menceritakan bagaimana beliau berhasil mengumpulkan karya Imam Ahmad: “Beliau (Imam Ahmad) dikenal sangat tidak suka mengarang kitab, sehingga beliau selalu berpesan agar kitab beliau hanya berisi hadits dan jangan dicampuri dengan ucapan beliau, ini sangat sering beliau tekankan. Lantas Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui keikhlasan sang imam hingga terkumpul dari ucapan dan fatwa-fatwa beliau itu menjadi 30 kitab besar bahkan lebih. Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi saya nikmat dengan mengumpulkan sebagian besar dari 30 kitab besar itu, yang terlewat hanya sedikit saja.” [50]

Kitab beliau lainnya

Kitab-kitab karya Ibnul Qayyim lainnya selain yang disebutkan di atas masih banyak, namun yang sempat tercetak dan bisa dimanfaatkan sekarang ini oleh para penuntut ilmu sangat sedikit dibanding yang hilang atau yang belum tercetak. Salah satu penyebab hilangnya sebagian karya-karya Ibnul Qayyim adalah perbuatan orang-orang yang benci dengan dakwah salafiyyah yang beliau bawa. Salah satu buktinya adalah apa yang disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam muqaddimah kitab Ibnul Qayyim Al-Kalim At-Thayyib, Al-Albani berkata: “Ada salah seorang penguasa yang berdomisili di Damaskus di zaman dahulu, orang ini memiliki kekuasaan dan harta benda. Dia berusaha mengumpulkan banyak kitab-kitab karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan murid beliau Ibnul Qayyim lalu membakarnya, jika ia tak kuasa memberikan hasutan kepada para pemilik kitab Ibnu Taimiyyah atau Ibnul Qayyim untuk membakarnya maka biasanya ia akan meminta kitab itu atau bahkan membelinya atau terkadang menggunakan cara-cara lainnya guna merealisasikan usaha untuk melenyapkan semua kitab-kitab Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim. Ini ia lakukan untuk melariskan aliran wihdatul wujud yang dia anut, di mana Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim kerap kali mengungkap kesesatan aliran ini dalam karya-karya mereka berdua.” [51] Syaikh Bakr Abu Zaid menyebutkan bahwa penguasa tersebut adalah Al-Amir Abdul Qadir Al-Jaza’iri, salah seorang penguasa yang sangat tertarik dengan pemikiran Ibnu Arabi yang merupakan pentolan paham wihdatul wujud. Biografinya disebutkan oleh Az-Zirikli dalam kitab Al-A’lam: 4/170. [52]

Diantara kitab Ibnul Qayyim lainnya sebagai berikut:

  • Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah ala Ghazwil Mu’attilah wal Jahmiyyah
  • Ahkam Ahli Az-Dzimmah
  • I’lam Al-Muwaqqi’in an Rabbil Alamin
  • Ighatsatul Lahfan min Mashaid As-Syaithan
  • At-Tibyan fi Aqsam Al-Quran
  • Ad-Da’ wa Ad-Dawa’
  • Tuhfatul Maudud fi Ahkam Al-Maulud
  • Jila’ul Afham fis Shalat was Salam ala Khairil Anam
  • Haadil Arwaah ila Bilaadil Afraah
  • Hukmu Tarik As-Shalat
  • Ar-Risalah At-Tabukiyyah
  • Ar-Ruuh
  • Syifa’ul Alil fi Masa’il Al-Qadha wal Qadar wal Himah wa at-Ta’lil
  • At-Thruq Al-Hukmiyyah fi As-Siyasah As-Syar’iyyah
  • Uddatus Shabirin wa Dzajhiratus Syakirin
  • Al-Fawa’id
  • Al-Kaafiyah As-Syafiyah fil Intishar lil Firqah An-Najiyah
  • Al-Kalimut Thayyib
  • Madarijus Salikin
  • Al-Manar Al-Munif
  • Dan kitab-kitab karya beliau lainnya.

Wafatnya Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim wafat pada malam Kamis tanggal 13 bulan Rajab saat azan Isya’ tahun 751H dalam umur 60 tahun.

Beliau lantas dishalatkan pada keesokan harinya setelah shalat zuhur. Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ramainya kerumunan manusia mengantarkan jenazah beliau: “Pengantaran jenazah beliau sangat ramai dengan manusia, hadir saat itu para qadhi (hakim), para tokoh-tokoh dan para kumpulan orang-orang shalih dari kalangan elit maupun kalangan awam manusia.” [16]

Beliau dimakamkan di kota Damaskus di pekuburan Al-Bab As-Shaghir, di samping kuburan ibunda beliau semoga Allah merahmati beliau dan seluruh ulama kaum muslimin.

Untaian Mutiara Hikmah Ibnul Qayyim

Sebagaimana dikatakan oleh Imam As-Syaukani rahimahullah bahwa Ibnul Qayyim telah diberikan oleh Allah kemampuan luar biasa dalam menyusun kalimat indah dan mudah dipahami saat mengarang berbagai karya beliau. As-Syaukani rahimahullah mengatakan: “Beliau (Ibnul Qayyim) memiliki kemampuan menyusun tema bahasan yang luar biasa, disertai dengan untaian kata-kata yang indah dan enak dibaca. Hal yang jarang ditemukan dalam karya-karya ulama lain, tatkala membaca satu kitab Ibnul Qayyim terasa mudah dipahami, sangat istimewa saat dicerna dan disukai oleh hati.” [49] Di akhir bahasan tentang biografi singkat Ibnul Qayyim ini akan disajikan beberapa kalimat yang penuh hikmah dari Ibnul Qayyim yang terambil dari karya tulis beliau.

Ibnul Qayyim mengatakan:

وأدب المرء عنوان سعادته وفلاحه. وقلة أدبه عنوان شقاوته وبواره. فما استجلب خير الدنيا والآخرة بمثل الأدب، ولا استجلب حرمانهما بمثل قلة الأدب

“Akhlak yang dimiliki oleh seseorang itu adalah tanda kebahagiaan dan keberuntungannya, sedangkan jeleknya akhlak seseorang merupakan tanda kebinasaan dan kerugiannya, maka tidaklah kebaikan dunia dan akhirat diperoleh kecuali dengan akhlak mulia, dan tidaklah kejekan dunia dan akhirat diperoleh melainkan dengan akhlak yang jelek.” [53]

Di tempat yang lain Ibnul Qayyim berkata:

وفي الصفح والعفو والحلم من الحلاوة والطمأنينة والسكينة، وشرف النفس وعزها ورفعتها عن تشفيها بالإنتقام

“Dalam pemberian maaf, mengampuni kesalahan dan kesantunan itu terdapat keindahan, ketengangan, ketentraman dan juga kebesaran, kemulian dan ketinggian jiwa yang luar biasa dari pada menuruti nafsu dengan membalas dendam.” [54]

Pada kesempatan yang lain beliau berkata:

أوثق غضبك بسلسة الحلم فإنه كلب إن أفلت تلف

“Ikatlah kemarahanmu itu dengan tali kelembutan dan kesantunan, karena marah itu laksana seekor anjing jika dilepas dia akan membinasakan.” [55]

Beliau juga mengatakan:

ومنشأ جميع الأخلاق السافلة وبناؤها على أربعة أركان: الجهل والظلم والشهوة والغضب

“Sumber dan pondasi segala macam akhlak yang rendah itu ada 4: kebodohan, kezaliman, menuruti syahwat dan hawa nafsu, dan marah.” [56]

Referensi

  1. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Hayatuhu Atsaruhu wa Mawariduhu, Syaikh Bakr Abu Zaid, hlm.5.
  2. At-Taqrib li Fiqhi Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, Syaikh Bakr Abu Zaid, 1/19-20.
  3. Al-Waafi bil Wafayaat, As-Safadi, 2/195.
  4. Rijalul Fikri wa Ad-Dakwah fil Islam, Abul Hasan An-Nadawi, 2/263.
  5. At-Taqrib li Fiqhi Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, Syaikh Bakr Abu Zaid, 1/25-32
  6. Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir, 14/95.
  7. Ad-Durar Al-Kaminah, Ibnu Hajar Al-Asqalani, 2/43.
  8. Ibnul Qayyim Hayatuhu Atsaruhu wa Mawariduhu, Syaikh Bakr Abu Zaid, hlm. 38.
  9. Al-Imam Ibnul Qayyim Ad-Da’i Al-Mushlih, Shalih Ahmad As-Syami, hlm.36.
  10. Syadzarat Az-Dzahab, Ibnul Imad, 6/358.
  11. Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir, 14/202, 213, 218.
  12. Ad-Durar Al-Kaminah, Ibnu Hajar Al-Asqalani, 2/396.
  13. Syadzarat Az-Dzahab, As-Shafadi, 6/180.
  14. Ad-Durar Al-Kaminah, Ibnu Hajar, 1/60.
  15. Ibnul Qayyim Hayatuhu wa Atsaruhu wa Mawaariduhu, Bakr Abu Zaid, hlm.40.
  16. Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir, 14/202.
  17. Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim, 2/337.
  18. Dzail Thabaqat Al-Hanabilah, Ibnu Rajab Al-Hambali, 2/450.
  19. Ad-Durar Al-Kaaminah, Ibnu Hajar Al-Asqalani, 4/21-22.
  20. Al-Wafi bil Wafayaat, As-Safadi, 2/270.
  21. Al-Manhalus Shafi, Ibnu Tagri Bardi, 3/61.
  22. Dzail Thabaqat Al-Hanabilah, Ibnu Rajab Al-Hambali, 2/448.
  23. Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 3/31-32.
  24. Al-Waafi bil Wafayaat, As-Safadi, 2/270.
  25. Ad-Durar Al-Kaaminah, Ibnu Hajar, 4/21.
  26. I’lam Al-Muwaqi’in, Ibnul Qayyim, 4/114.
  27. As-Shawa’iq Al-Mursalah, Ibnu Taimiyyah, 1/37.
  28. Ibnul Qayyim Hayatuhu wa Atsaruhu wa Mawaariduhu, Bakr Abu Zaid, hlm.176.
  29. Ibnul Qayyim wa Mauqifuhu min At-Tafkiir Al-Islami, Iwadullah Hijazi, hlm. 43.
  30. Al-Waafi bil Wafayaat, As-Safadi, 2/270.
  31. Dzail Thabaqat Al-Hanabilah, 2/448.
  32. Thabaqaat Al-Mufassirin, Ad-Daudi, 2/91.
  33. Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 1/34.
  34. Dzail Thabaqaat Al-Hanabilah, Ibnu Rajab, 2/447.
  35. Syadzarat Az-Dzahab, Ibnul Imad, 6/208.
  36. Ad-Durar Al-Kaminah, Ibnu Hajar Al-Asqalani, 2/396.
  37. Ibnul Qayyim Hayatuhu wa Atsaruhu wa Mawaariduhu, Bakr Abu Zaid, hlm.181.
  38. Dzail Thabaqaat Al-Hanabilah, Ibnu Rajab, 2/450.
  39. Syadzarat Az-Dzahab, Ibnul Imad, 6/349.
  40. Al-Badru At-Thali’, As-Syaukani, 2/254.
  41. Al-Badru At-Thali’As-Syaukani, 2/280.
  42. Ad-Durar Al-Kaminah, Ibnu Hajar, 3/134.
  43. Miftah Dar As-Sa’adah, Ibnul Qayyim, hlm. 51.
  44. Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin, Ibnul Qayyim, hlm. 12.
  45. Zaad Al-Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad, Ibnul Qayyim, 1/22.
  46. Bada’i’ Al-Fawa’id, Ibnul Qayyim, 2/129.
  47. Tahdzib Sunan Abi Dawud, Ibnul Qayyim, 8/121.)
  48. Al-Furusiyyah ((Al-Furusiyyah, Ibnul Qayyim, hlm. 2.
  49. Ad-Durar Al-Kaminah, Ibnu Hajar, 4/22.
  50. Al-Badru At-Thali’, As-Syaukani, 1/141.
  51. Ibnul Qayyim Hayatuhu wa Atsaruhu wa Mawariduhu, Bakr Abu Zaid, hlm.63.
  52. Al-Kalim At-Thayyib, Ibnul Qayyim, hlm.4, tahqiq: Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani, cet. Al-Maktab Al-Islami Damaskus thn. 1385.
  53. Ibnul Qayyim Hayatuhu wa Atsaruhu wa Mawariduhu, Bakr Abu Zaid, hlm.310.
  54. Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim, 2/391.
  55. Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim, 2/319.
  56. Al-Fawa’id, Ibul Qayyim, hlm.50.
  57. Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim, 2/308.