Ihsan

Syariat Islam senantiasa membimbing pemeluknya kepada perbuatan ihsan, dimana terdapat penjelasan hal ini didalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ihsan bukan semata mata hanya kalimat yang diucapkan akan tetapi ihsan adalah ucapan, amal, dan kesungguhan di dalam itu semua. Sehingga, ihsan menjadi puncak tertinggi didalam penghambaan seorang hamba kepada Rabbnya.

Makna Ihsan

Ihsan (الإحسان) terambil dari kata حَسُنَ yang berarti bagus dan merupakan lawan kata atas keburukan. Apabila dikatakan bahwa seseorang memiliki sifat muhsin maka maknanya adalah dia banyak melakukan kebaikan. [1]

Adapun makna ihsan secara istilah telah diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan akan engkau melihatnya dan andaikata engkau tidak melihatnya maka Dia melihat dirimu.” [2]

Seseorang tidak akan sampai kepada derajat ihsan kecuali menjadi muslim yang sebenarnya yang beriman kepada Allah dengan benar dan hatinya tenang di dalam keimanan tersebut. Seorang hamba yang telah sampai derajat ihsan maka akan senantiasa merasa diawasi oleh Allah Ta’ala, apabila dia hendak shalat maka shalatnya akan merasa diperhatikan oleh Allah Ta’ala sehingga dengan itu akan hadir kekhusyukan yang sempurna. [3]

Sebagian ulama ada yang menjelaskan bahwa ihsan adalah ibadahibadah dan amal-amal sunnah yang dikerjakan oleh seorang muslim setelah mengerjakan amal-amal wajib dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala . [4]

Cabang-cabang Ihsan

Ihsan memiliki dua cabang :

  1. Ihsan di dalam beribadah kepada Allah Ta’ala seakan akan engkau melihatNya dan andaikata engkau tidak melihat Allah Ta’ala maka Allah melihat dirimu. Ihsan dalam hal ini akan menimbulkan kesungguhan di dalam beribadah dan usaha yang kuat di dalam mencari wajah Allah Ta’ala.
  2. Ihsan di dalam menunaikan hak hal makhluk, dan di dalamnya ada yang hukumnya wajib dan sunnah. Diantara yang hukumnya wajib adalah berbakti kepada orang tua dan yang hukumnya sunnah diantaranya adalah memberikan bantuan atau tenaga yang diluar batas kewajiban seseorang. [5]

Ihsan di dalam Al-Quran

Didalam Al-Quran disebutkan ihsan dalam beberapa tempat, diantaranya Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. [6]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla bersama dengan orang orang yang bertaqwa dan yang berbuat kebaikan. Kata ‘bersama’ disini bermakna menguatkan, menolong, membantu, dan memberikan hidayah mereka, dan inilah kebersamaan yang khusus. Dan makna orang orang yang bertaqwa adalah yang meninggalkan hal yang diharamkan adapun makna dari yang berbuat baik adalah yang mengerjakan ketaatan. Maka Allah akan menjaga mereka, menolong, menguatkan dan memenangkan mereka dari musuh musuh dan orang yang menyelisihi mereka.” [7]

Allah Ta’ala berfirman tentang makna ihsan :

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ﴿٢١٧﴾ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ ﴿٢١٨﴾ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ﴿٢١٩﴾ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿٢٢٠

Dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. [8]

Allah melihat kepada hambaNya apakah mereka dalam keadaan bertawakal yang sempurna dan menegakkan peribadahan yang wajib serta menambah dengan yang sunat sunat untuk mencari keridhaanNya. [9]

Dan masih banyak ayat yang lain.

Ihsan pada Diri Seorang Muslim

Allah ‘Azza wa jalla menciptakan langit langit dan bumi serta yang ada diantaranya untuk tujuan yang mulia dan hikmah yang besar, menjadikan hidup dan mati untuk menguji seorang hamba siapa yang paling baik amalnya dan jujur didalam mendekatkan diri kepada Allah, sehingga dengan sebab ini maka seorang hamba akan terpacu untuk berbuat ihsan pada seluruh amalnya, karena dia mengetahui bahwa Allah pengetahuanNya sangat sempurna, dan dengan ini pula seorang hamba akan senantiasa merasa diawasi dalam setiap keadannya.

Dia meyakini bahwa Allah Ta’ala memperhatikannya, melihat kepadanya, dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu baik, tidak ada yang tersembunyi bagiNya walaupun hanya sebesar biji sawi apa yang terjadi di langit ataupun bumi. Maka dengan ini seorang hamba akan terus menerus memperbaiki amalnya karena dia mengetahui keagungan Allah yang sedang melihatnya yang dengan itu akan berusaha melakukan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya, menjauhi hal yang dapat mendatangkan kemurkaanNya baik berupa perbuatan dosa maupun maksiat. [10]

Referensi

  1. Al-Furuuq Al-Lughawiyyah, 1/193, Al Askariy
  2. HR. Al-Bukhari no. 50 dan Muslim no. 9
  3. Lisaanul ‘Arab, 13/117, Daarus Shadr Beirut cet 3, Ibnu Manzhuur
  4. Tafsir Ath Thabariy, 8/665, Ath Thabariy
  5. Bahjah Quluub Al Abraar, 204-206, As Sa’diy
  6. QS. An-Nahl : 128
  7. Tafsir Ibnu Katsir, 4/528, Ibnu Katsir
  8. QS. Asy-Syu’araa : 217–220
  9. Taisir Karim Ar Rahmaan, 599, As-Sa’diy
  10. Mukhtashar Fiqh Islam21, Muhammad bin Ibraahim At-Tuwaijiriy