Ilmu Bayan

Pengertian Ilmu Bayan

Asal kata al-Bayan dalam penggunaannya menunjuk pada arti al-Inkisyaf (membuka atau menyatakan), serta al-Wudhuh (jelas), dikatakan :

“بان الشيء يبين بيانا فهو بين و أبان الشيء فهو مبين”

Sedangkan kata التبيين berarti al-Idhah, berdasar pada firman Allah Ta’ala QS. Ibrahim ayat 4

وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه ليبين لهم

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” [1]

Secara bahasa kata al-Bayan adalah fashahah, mereka berkata

“فلان أبين من فلان أي أفصح منه و أوضح”

“orang itu lebih jelas dari orang yang lain, yaitu dia lebih tashih darinya dan lebih jelas (ucapannya)”.

Istilah Bayan juga ditemukan dalam hadits Nabi

“إن من البيان لسحر”

“Sesungguhnya di antara penjelasan yang fasih itu benar-benar bagaikan sihir.”

Secara istilah ilmu Balaghah al-Bayan adalah :

أصول و قواعد يعرف بها إيراد المعنى الواحد بطرق مختلفة بعضها من بعض فالمعنى الواحد هو يستطاع أداؤه بأساليب مختلفة

“Kaidah-kaidah untuk mengetahui cara menyampaikan sebuah pikiran dengan cara yang bermacam-macam, yang dimaksud dengan al-makna al-Wahid adalah satu pemikiran namun dapat disampaikan dengan beberapa gaya bahasa.”

Pembahasan Ilmu Bayan

Para penulis balagah sepakat bahwa bahasan ilmu Bayan mencakup tiga hal;

  1. التشبيه(at-Tasybih)
  2. المجاز(al-Majaz)
  3. الكناية(al-Kinayah) 

Pencetus Ilmu Bayan

Ilmu Bayan pertama kali dikembangkan oleh Abu Ubaidah Bin al-Matsani (211 H). Sebagai dasar pengembangan ilmu ini, ia menulis sebuah kitab dengan judul Majaz Qur’an. Dalam perkembangan berikutnya muncul pula seorang tokoh terkemuka dalam ilmu ini, yaitu Abdul Qahir al-Jurjani (471 M). Ilmu ini terus berkembang dan disempurnakan oleh para ulama berikutnya, seperti al-Jahizh bin Mu’taz, Quddamah, dan Abu Hilal al-Askari.

Manfaat Mempelajari Ilmu Bayan

Objek kajian ilmu Bayan adalah Tasybih, Majaz, dan Kinayah, melalui ketiga bidang ini kita akan mengetahui ungkapan-ungkapan bahasa Arab yang fasih baik dan benar, serta mengetahui ungkapan-ungkapan yang tidak fasih dan tidak cocok untuk diucapkan. Ilmu ini dapat membantu kita juga untuk mengungkapkan suatu ide atau perasaan melalui bentuk kalimat dan uslub yang bervariasi sesuai dengan muqtadha al-hal.

Dengan pengetahuan di atas, seseorang bahkan akan mampu menangkap kemukjizatan al-Qur’an dari aspek bahasanya. Dengan kata lain, lewat kemampuan yang memadai pada ilmu ini seseorang akan mampu menangkap keindahan, ketepatan, dan kehebatan ayat al-Qur’an, baik pada tataran jumlah, kalimat, sampai kepada huruf-hurufnya.

Referensi

Al-Hasyimi, As-Sayyid Ahmad, Jawahirul Balaghah fii Al-Ma’any wa Al-Bayan wa Al-Badi’, Beirut: Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah.

Idris, Mardjoko, Ilmu Bayan Kajian Retorika Berbahasa Arab, Yogyakarta: Penerbit Karya Media, 2017

Zaenuddin, Mamat dan Yayan Nurbayan, Pengantar Ilmu Balaghah, Bandung: PT. Rafika Aditama, 2007

  1. QS Ibrahim : 4

Tinggalkan komentar