Imam Muslim

Beliau adalah Abul Husain, Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim bin Ward Al-Qusyairiy An-Naisaburiy [1], seorang imam yang terkenal, pakar ahli hadits, yang terpercaya lagi kuat hafalannya, dan penulis kitab Shahih Muslim yang terkenal.

Tempat dan Waktu Lahir

Beliau dilahirkan pada abad ketiga tepatnya tahun 204 H di kota Naisabur, sebuah kota yang telah melahirkan banyak ulama pakar hadits. Beliau terlahir dari keluarga yang mulia, ayahnya juga merupakan seorang guru [2]. Tidak diragukan lagi bahwa kebaikan seorang ayah membuat seluruh keluarga menjadi baik. Oleh karena itulah, beliau terdidik dengan baik sejak kecilnya. Beliau sangat mencintai ilmu hadits, bahkan beliau sudah memulai menimba ilmu hadits pada umur yang ke 14 tahun. Guru beliau pertama kali adalah Yahya bin Yahya At-Tamimiy. Lalu beliau pergi haji pada tahun 220 H dan kesempatan tersebut tidak beliau lewatkan untuk tetap belajar kepada salah seorang ulama besar Makkah, yaitu Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi [3]. Dan beliau banyak sekali melakukan perjalanan untuk mencari hadits.

Pekerjaan Imam Muslim

Imam Muslim –rahimahullah– merupakan seorang yang Allah berikan keluasan rezeki. Beliau menjadi seorang wirausaha, tepatnya beliau berdagang. Barang-barang yang beliau jual adalah semisal kain dan/atau pakaian. Sebagaimana dikatakan oleh guru beliau Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Farra’: “Profesi beliau adalah seorang Bazzaz (Pedagang kain/pakaian).” [2]. Dengan keluasan rezeki tersebut, Allah mudahkan untuk beliau untuk berkeliling dunia mencari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak melalaikan dari belajar ilmu agama.

Sifat Imam Muslim

Imam Al-Hakim –rahimahullah– berkata: “Aku melihat Imam Muslim mengajarkan hadits di sebuah tempat yang bernama Khan Mahmisy, beliau memiliki tinggi tubuh yang sempurna, rambut dan jenggotnya telah memutih, dan menjulurkan imamahnya diantara kedua pundaknya.” [4] Beliau juga memiliki wajah yang tampan dan memakai pakaian yang indah. [5]

Beliau juga merupakan seorang yang dermawan dan banyak berbuat baik di kotanya, yaitu Naisabur. Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata: “Beliau merupakan seorang wirausahawan (pedagang) dan dijuluki ‘Muhsin Naisabur’ (Orang dermawannya Naisabur). Beliau adalah seorang yang kaya raya.” [6]

Perjalanan Mencari Hadits

Imam Muslim merupakan seorang yang Allah mudahkan untuk berkeliling dunia untuk mencari hadits-hadits Nabi, sebagaimana dikatakan oleh Imam An-Nawawi [7]. Diantara guru-guru beliau yang terkenal: Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari.

Dari Negeri Khurasan, beliau berguru kepada Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahuyah. dan yang lainnya. Kemudian dari Negeri Rai, beliau beguru kepada Muhammad bin Mihran, Abu Ghassan, dan yang lainnya. Dari Negeri Irak, beliau berguru kepada Ahmad bin Hanbal, Abullah bin Maslamah, dan yang lainnya. Dari Negeri Hijaz, beliau berguru kepada Sa’id bin Manshur, Abu Mush’ab dan yang lainnya. Dari Mesir, beliau berguru kepada ‘Amr bin Sawwad, Harmalah bin Yahya, dan yang lainnya. [7]

Imam Adz-Dzahabi berkata: “Dalam shahih muslim ada 220 guru yang beliau meriwayatkan darinya.” [8]

Pujian Ulama

Ahmad bin Salamah rahimahullah berkata: “Aku melihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim lebih memilih pendapat Imam Muslim dari pada ulama lain yang semasa dengannya dalam permasalahan keshahihan hadits.” [9]

Muhammad bin Al-Akhram rahimahullah berkata: “Kota Naisabur melahirkan tiga orang hebat:  Muhammad bin Yahya, Muslim bin Al-Hajjaj, dan Ibrahim bin Abi Thalib.” [10]

Muhammad bin Basyar rahimahullah berkata: “Pemimpin para huffadz (penghafal) di dunia ini ada empat orang: Abu Zur’an di kota Ar-Rai, Muslim di Naisabur, Abdullah Ad-Darimiy di Samarkand, dan Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari.” [11]

Wafat

Imam Muslim rahimahullah wafat saat berumur kurang lebih 55 tahun pada malam Ahad bertepatan dengan tanggal 25 Rajab 261 H dan dimakamkan di kota Naisabur.

Sebab Wafat

Beliau –rahimahullah– wafat dengan sebab yang tidak umum. Disebutkan oleh beberapa ulama sejarah, bahwa Imam Muslim mengikuti majelis mudzakarah (disebutkan hadits-hadits dalam majelis tersebut). Suatu ketika, disebutkanlah sebuah hadits yang belum pernah beliau ketahui, beliaupun langsung pulang ke rumahnya, dan mengatakan kepada seluruh yang tinggal di rumahnya: “Jangan ada satu orangpun yang masuk menemuiku.” Saat beliau mengatakan hal tersebut, keluarganya mengatakan: “Kita diberi hadiah satu keranjang kurma.” Beliaupun meminta agar satu keranjang kurma tersebut dimasukkan ke ruangannya.

Beliaupun bersemangat mencari hadits yang tidak ia ketahui tersebut, sambil makan satu persatu satu kurma tadi hingga habis sampai shubuh dan akhirnya beliau mendapatkan haditsnya. Dan kata imam Al-Hakim mengatakan: “Telah menceritakan orang yang terpercaya, bahwa dengan sebab itulah beliau meninggal.” [11]

Karya Ilmiah

Imam Muslim –rahimahullah– merupakan ulama yang produktif memiliki banyak karya tulis, diantaranya adalah:

  1. Shahih Muslim (merupakan kitab tershahih kedua),
  2. Al-Kuna wa Al-Asma’ (Kitab tentang nama dan kunyah para perawi hadits),
  3. Kitab Tamyiz (Kitab yang menjelaskan penyakit (kelemahan) dalam beberapa hadits),
  4. Al-Munfaridat dan Al-Wuhdan (tentang rawi yang hanya memiliki satu hadits),
  5. Kitab Ath-Thabaqat (Tentang nama-nama perawi berdasarkan tingkatannya atau thabaqat dan kota asalnya),
  6. Dan masih banyak lagi kitab-kitab beliau, akan tetapi hilang dan belum ditemukan hingga sekarang. Wallahu a’lam.

Referensi

  1. Siyar A’lam An-Nubala, 12/557.
  2. Tahdzib At-Tahdzib, 10/127.
  3. Siyar A’lam An-Nubala, 12/558
  4. Siyar A’lam An-Nubala, 12/570.
  5. Siyar A’lam An-Nubala, 12/566.
  6. Al-‘Ibar, 1/375.
  7. Tahdzib Al-Asma wa Al-lughat, 2/91.
  8. Siyar A’lam An-Nubala, 12/561.
  9. Siyar A’lam An-Nubala, 12/563.
  10. Siyar A’lam An-Nubala, 12/565.
  11. Siyar A’lam An-Nubala, 12/564.