I’rab

Definisi

I’rab adalah pengaruh yang ditimbulkan oleh amil pada huruf terakhir sebuah kata dalam kalimat, maka huruf akhir kata bisa marfu’, manshub, majrur atau majzum. [1]

I’rab dibagi menjadi dua bagian, ada i’rab yang zahir (terlihat) dan ada yang muqaddar (tidak terlihat), contoh i’rab zahir adalah perubahan pada huruf terakhir yang terjadi pada kata زيد. Pada kalimat

 مَرَرْتُ بِزَيْدٍ

Kata زيد i’rabnya adalah jar (majrur) karena didahului oleh salah satu amil yang membuat suatu isim menjadi majrur yaitu huruf jar berupa ba’ (الباء) pada kata  زيدada tanda jar yaitu kasrah yang zahir (terlihat).

Contoh i’rab yang muqaddar adalah pada kata الفتى pada kalimat

 مَرَرْتُ بِالْفَتَى

Kata الفتى, i’rabnya adalah jar (majrur) karena didahului oleh huruf jar yaitu ba’, tanda jar pada kata ini adalah kasrah namun kasrahnya tidak nampak (muqaddar) karena kata al-fata adalah termasuk isim maqsur. [2] Lawan kata dari i’rab adalah bina’. Bina’ adalah tetapnya (tidak adanya perubahan harakat) pada huruf akhir suatu kata. [3]

Macam-macam I’rab

I’rab dalam ilmu kaidah bahasa arab (nahwu) dibagi menjadi empat macam : rafa’, nashab, jar dan jazam.

Empat macam i’rab ini terbagi menjadi tiga bagian. Pertama: i’rab yang hanya memasuki isim saja yaitu jar. Kedua: i’rab yang hanya memasuki fi’il saja yaitu jazam. Ketiga: i’rab yang bisa masuk pada isim dan fi’il yaitu rafa’ dan nashab.

Tanda-tanda I’rab

Empat macam i’rab tersebut mempunyai tanda-tanda, yaitu : tanda-tanda asli (pokok) dan tanda-tanda cabang, tanda asli rafa’ adalah dhammah, tanda asli nashab adalah fathah, tanda asli jazam adalah sukun dan tanda asli jar adalah kasrah. Sedangkan tanda-tanda cabang berlaku pada empat 7 bab pokok, yaitu pada al-asma’ul khamsah, mutsanna, jama’ mudzakkar salim, jama’ mu’annats salim ketika dalam keadaan manshub, isim ghairu munsharif ketika dalam keadaan jar, al-af’alul khamsah dan fi’il mudhari’ yang diakhiri oleh huruf illat saat dalam keadaan jazam. [4]

Referensi

  1. Jami’ud Duruus al-Aarabiyyah, Mustafa Al-Gulayini, 1/14.
  2. Syarh Qathrun Nada wa Ballus Shada, Ibnu Hisyam, 58.
  3. Al-Mumti’ fi Syarhil Ajurrumiyyah, Malik bin Salim Al-Mahdzari, 25.
  4. Syarh Qatrun Nada wa Ballus Shada, Ibnu Hisyam, 59.