Istiqamah

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka Istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” ((Qs Fushilat 30))

Pengertian Istiqamah

Dalam bahasa arab “Istiqamah” (الاستقامة) merupakan mashdar (kata benda) dari istaqaama (استقام) yastaqiimu (يستقيم) yang bermakna “menjadi lurus”

Adapun secara istilah, banyak ulama yang memberikan pengertian terhadapnya. Secara ringkas Istiqamah adalah perjuangan untuk terus berada diatas Agama Islam yang lurus, tidak condong ke kanan ataupun kekiri.

Dengan kata lain, selalu melaksanakan ketaatan baik yang lahir maupun batin dan menjauhi seluruh larangan baik yang larangan lahir maupun batin.

Ibnu Rajab Al-Hanbali –rahimahullah– menjelaskan, Istiqamah adalah : “Berjalan diatas Ash-Shiraat Al-Mustaqiim (jalan lurus), maksudnya adalah agama yang lurus, kemudian dia tidak berpaling kekanan ataupun kekiri, dan masuk dalam pengertian ini, mengerjakan seluruh ketaatan yang lahir dan batin, serta menjauhi seluruh larangan” ((Lihat Mukhtashar Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikaam hal 116))

Berikut ini beberapa komentar dan penjelasan para ulama tentang Istiqamah dalam ayat 30 Surat Fushshilat diatas :

Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata : “(Istiqamah) maksudnya adalah memurnikan amalan hanya untuk Allah semata, dan beramal ketaatan kepada Allah berdasarkan ketentuan yang Allah tetapkan” ((Lihat Tafsir Ibnu Katsir 7/176))

Masih dalam tafsir Ibnu Katsir, Abu Bakr Ash-Shiddiq -radhiallahu ‘ahu- mengartikan Istiqamah : “Mereka adalah orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun”

Umar bin Al-Khaththab -radhiallahu ‘anhu- berkata : “(maksudnya adalah) Istiqamah untuk terus taat kepada Allah, (bukan menjadi seorang munafik sebagaimana) kemunafikan musang” ((idem))

Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhuma- menelaskan arti Istiqamah disini : “(maksudnya adalah Istiqamah) diatas persaksian bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Allah” ((idem))

Utsman bin Affan -radhiallahu ‘anhu- berkata : “(Maksud Istiqamah adalah) Mengikhlaskan amalan untuk Allah saja.” Dan disana masih ada banyak perkataan para ulama tentang Istiqamah ini, dan kita tutup pengertian Istiqamah dengan perkataan Al-Hasan Al-Bashri -rahimahullah- : “(Istiqamah adalah) selalu melaksanakan perintah Allah, sehingga ia selalu mengerjakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan”((Lihat Madarij As-Saalikin (2/104)))

Mulia dan Pentingnya Istiqamah

Istiqamah sangatlah penting, terutama untuk tetap Istiqamah diatas tauhid, mengesakan Allah dan tidak mensekutukannya.

Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- : “Wahai Rasulullah, nasihatkan kepadaku, dengan suatu nasihat yang aku tidak akan pernah meminta nasihat pada orang lain lagi!”

Beliaupun berkata :

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakan ‘Aku beriman kepada Allah’ kemudian berIstiqamahlah (diatasnya)” ((HR. Muslim 38))

Beramal dengan Istiqamah

Istiqamah merupakan sesuatu yang sangat dicintai Allah, sampai-sampai suatu amalan yang dilakukan dengan Istiqamah lebih dicintai Allah walaupun amalan tersebut sedikit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا، وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling Istiqamah (yang selalu dilakukan) walaupun amalan tersebut sedikit” ((HR. Al-Bukhari 5861, 6464, Imam Muslim 782 dan 783))

Referensi