Jin

Jin benar-benar ada secara hakikat bukan khurafat

Salah satu pokok aqidah Islam adalah beriman kepada hal yang ghaib. Bahkan beriman kepada hal yang ghaib ini merupakan sifat yang pertamakali Allah sematkan bagi  orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran,

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلَوٰةَ وَ مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

 “Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugrahkan kepada mereka.”[1]

 Perkara ghaib maksudnya adalah sesuatu yang tidak bisa kita indra dan Allah serta Rasul-Nya telah memberitahukan perkara ghaib tersebut kepada kita sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud.[2]

Diantara hal ghaib yang harus kita imani adalah keberadaan Jin. Karna banyak ayat Al-Quran dan Hadits Nabi ﷺ yang mengabarkan kepada kita tentang keberadaanya. Berikut diantara  dalil-dalil dari Al-Quran dan Hadits yang mengabarkan kepada kita tentang keberadaan Jin secara haqiqat bukan sekedar khurafat:

Dalil dari Al-Quran,

Allah berfirman,

 وَ إِذْ صَرَفْنَاۤ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوْا أَنْصِتُوْا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُّنْذِرِيْنَ

 “Dan (ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaannya, lalu mereka berkata: “ Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) member peringatan.”[3]

Allah juga berfirman,

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَقُصُّوْنَ عَلَيْكُمْ ءَايٰتِيْ وَ يُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا قَالُوْا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنْفُسِنَا وَ غَرَّتْهُمُ الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَا وَ شَهِدُوْا عَلَىٰۤ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوْا كَافِرِيْنَ

 “ Hai golongan jin dan manusiaa, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan member peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini ? Mereka berkata, ‘ Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri, “ Kehidupan dunia telah menipu mereka dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang kafir.”[4]

Allah juga berfirman,

 يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ أَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الْأَرْضِ فَانْفُذُوْا لاَ تَنْفُذُوْنَ إِلاَّ بِسُلْطٰنٍ 

Hai segenap bangsa jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak akan dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”[5]

Allah juga berfirman,

 قُلْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْۤا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

Katakanlah (hai Muhammad), “ Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Quran), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan’.”[6]

Allah juga berfirman,

 وَ أَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”[7]

Dalil dari Hadits Nabi

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibnu Mas’ud, ia bercerita, “ Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ pada suatu malam, tiba-tiba kami kehilangan beliau. Maka kamipun bergegas mencari beliau di bukit, lembah dan pegunungan. Kami berkata, ‘ Apakah beliau diculik atau dibunuh?’. Sehingga malam itupun menjadi malam terburuk yang pernah kami lalui dalam hidup kami. Pada pagi harinya, tiba-tiba Beliau ﷺ datang dari arah gua Hira. Maka kami berkata,” Wahai Rasulullah ﷺ, kami kehilangan engkau, lalu kami bergegas mencarimu, tetapi kami tidak menemukan engkau, malam tadi merupakan malam yang terburuk yang pernah kami lalui.’ Kemudian beliau bersabda, ‘ Aku didatangi oleh seorang juru dakwah dari bangsa Jin, lalu aku pergi bersamanya, kemudian membacakan al-Quran kepada teman-temannya. Ibnu Mas’ud melanjutkan ceritanya, ‘Lalu Nabi ﷺ mengajak kami untuk memperlihatkan kepada kami bekas-bekas yang ditinggalkan mereka dan bekas cahaya mereka. Dan jin-jin tersebut juga menanyakan kepada Rasulullah ﷺ makanan apa yang harus mereka makan. Maka Beliau ﷺ bersabda, ‘Makanan kalian adalah setiap tulang binatang yang kalian temukan dan ketika menyembelihnya disebut nama Allah, dan itu merupakan makanan yang paling banyak dagingnya, serta kotoran binatang.’ Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, ‘ Janganlah kalian istinja’(cebok) dengan kedua benda ini, karna keduanya adalah makanan bagi saudara-saudara kalian (bangsa Jin).[8]

  1. Dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata, Rasulullah pernah bersabda kepadaku, ‘ Aku perhatikan kamu sangat menyukai kambing dan mengembalakannya ke lembah. Jika kamu berada di suatu lembah bersama kambingmu, lalu kamu ingin mengumandangkan suara adzan untuk sholat, maka keraskanlah suaramu. Karna setipa jin, manusia dan apa saja yang mendengar suara muadzin yang mengumandangkan adzan, kelak akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”[9]
  2. Dalam as-Shahihain (Imam Bukhari dan Muslim) meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “ Pada suatu hari Rasulullah bersama serombongan sahabat pergi menuju pasar Ukaz. Ketika itu Syaithan-Syaithan merasa terhalang (tidak bisa) untuk mendengarkan berita dari langit dan mereka juga dilempari bintang-bintang. Akhirnya para Syaithan itu kembali kepada kaum mereka. Maka kaum mereka bertanya, “Ada apa dengan kalian?”. Mereka menjawab, “ Sesungguhnya kita terhalang untuk mendapatkan berita langit dan bintang-bintang juga dilemparkan kepada kita.” Mereka berkata,” Berita langit tidak mungkin terhalangi dari kalian kecuali ada sesuatu yang terjadi. Oleh karna itu berpencarlah kalian menuju penjuru timur dan barat, lalu carilah apa sebenarnya yang membuat berita langit tidak bisa kalian dengar!” Maka sekelompok Syaithan yang pergi kea rah Tihamah mendapati Rasulullah yang hendak berangkat menuju pasar Ukaz sedang beristirahat di Nakhlah (nama sebuah tempat). Saat itu beliau bersama para sahabatnya sedang melakukan sholat Subuh. Ketika mereka mendengar bacaan Al-Quran Rasulullah, merekapun menyimaknya dengan seksama. Lalu diantara mereka berkata kepada yang lain, “ Demi Allah, inilah yang menghalangi kalian untuk mendengarkan berita langit.” Maka ketika kembali kepada kaum mereka, mereka berkata, “ Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan bacaan al-Quran yang sangat menakjubkan. Ia menunjukkan kepada jalan kebenaran, maka kamipun beriman kepadanya. Dan kami tidak akan menyekutukan Rabb kami dengan sesuatu apapun. Kemudian Allah menurunkan firmannya,

 قُلْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْۤا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

Katakanlah (hai Muhammad), “ Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Quran), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan’.”[10]

Yang diwahyukan kepada Rasulullah ini adalah perkataan Jin.[11]

Beberapa dalil diatas merupakan sebagian dalil yang menunjukkan bahwa keberadaan jin adalah secara haqiqat bukan sekedar kiasan atau khurafat.[12]

Asal mula penciptaan Jin

 Di dalam al-Quran disebutkan bahwa Jin diciptakan dari api. Hal ini sebagaimana firman Allah,

 وَ خَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍ

Dia menciptakan jin dari nyala api.”[13]

Ibnu Abbas mengatakan, maksud dari ayat مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍ  ( dari nyala api) adalah ‘ dari nyala api yang murni”. Dalam riwayat yang lain Ibnu Abbas mengatakan, maksudnya adalah dari ujung jilatannya.[14]

Allah juga berfirman,

وَ الْجَاۤنَّ خَلَقْنَٰهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَّارِ السَّمُوْمِ 

Dia kami telah menciptakan para jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”[15]

Di dalam ayat yang lain Al-Quran menceritakan perkataan iblis sebagaimana firmanNya,

 قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَ خَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ 

Allah berfirman, ‘ Apakah yang  menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) saat Aku menyuruhmu?’ Iblis berkata,’Aku lebih baik darinya (Adam), Engkau menciptakan aku dari api sementara Engkau menciptakannya dari tanah liat.”[16]

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad meriwayatkan dari Ummul MukmininAisyah, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “ Para malaikat diciptakan dari cahaya; bangsa jin diciptakan dari nyala api; dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah digambarkan kepada kalian (tanah liat).”[17]

Macam-macam Jin

Dari Tsa’labah Al-Khasyani, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

 الْجِنُّ ثَلاَثَةُ أَصْنَافٍ: صِنْفٌ لَهُمْ أَجْنِحَةٌ يَطِيْرُوْنَ فِيْ الْهَوَاۤءِ وَ صِنْفٌ حَيَّاتٌ وَ عَقَارِبُ، وَ صِنْفٌ يَحُلُّوْنَ وَ يَظْعَنُوْنَ 

Jin ada tiga macam, ‘ Pertama; jin yang mempunyai sayap, mereka bisa terbang di udara. Kedua, jin berupa ular-ular dan kalajengking. Dan ketiga, jin yang bertempat tinggal dan berpindah-pindah serta berpetualang.’”[18]

Tempat tinggal Jin

 Biasanya bangsa jin lebih memilih untuk tinggal ditempat-tempat yang tidak dihuni manusia, seperti padang pasir. Ada juga yang tinggal di tong-tong sampah dan tempat pembuangan kotoran. Dan diantara jin juga ada yang tinggal bersama manusia. Oleh karna itu Rasulullah pernah keluar menuju padang pasir kemudian mendakwahi mereka (bangsa jin) kepada Allah. Beliau membacakan Al-Quran kepada mereka dan mengajarkan syariat-syariat Islam kepada meraka. Hadits tentang kisah ini banyak periwayatannya, sebagaimana yang terdapat dalam kitab Bukhari dan Muslim dari jalur hadits Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud. Ada juga jin-jin yang tinggal di tong sampah dan tempat pembuangan kotoran, karna mereka memakan sisa-sisa makanan manusia. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam hadits riwayat Muslim dari hadits Ibnu Mas’ud.[19]

Ada juga Jin yang tinggal di WC, diriwayatkan dari zaid bin Arqam bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

Sesungguhnya tempat-tempat pembuangan kotoran ditempati oleh jin, jika salah seorang dari kalian masuk ke dalam jamban, maka hendaklah ia berdoa,

   اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَ الْخَبَائِثِ

  “ Ya, Allah, sesungguhnya hamba berlindung kepadaMu dari Jin laki-laki dan Jin perempuan.”[20]

Bangsa Jin juga biasa menghuni gedung dan liang-liang.  Imam Nasai meriwayatkan dengan sanadnya dari Qotadah dari Abdullah bin Sirjis, ia berkata, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

 لاَ يَبُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ فِيْ الْجحر

 “Janganlah salah seorang diantara kalian kencing pada liang-liang.”

Mereka bertanya kepada Qatadah, “ Mengapa kita dimakruhkan untuk kencing pada liang-liang?”. Dia menjawab, “ Karna liang-liang merupakan tempat tinggal jin.”[21]

 Bangsa Jin juga biasa menghuni kandang-kandang unta, karna dalam hadits dikatakan bahwa kandang-kandang unta merupakan tempat tinggal Syaithan sebagaimana yang terdapat dalam shahih Muslim dan yang lainnya.[22]

Jin membutuhkan makanan dan minuman

 Banyak sekali hadits yang shahih yang menerangkan bahwa jin makan dan minum. Dalam shahih Bukhari dari Abu Hurairah Rdhiyallahu’anhu pernah membawa kantong air untuk berwudhu’ dan memenuhi keperluan Rasulullah ﷺ. Kemudian beliau bertanya, “Siapa?”. Abu Hurairah menjawab, “ Abu Hurairah”. Beliau berkata, “ Tolong carikan aku batu untuk bersuci, dan jangan kamu mengambil tulang dan kotoran hewan.” Lalu saya membawakan beberapa batu yang saya bawa di atas pakaian saya, kemudian saya meletakkannya di samping Rasulullah ﷺ, setelah itu saya beranjak pergi.  Sampai setelah beliau selesai dari keperluannya, saya berjalan bersama beliau. Lalu saya bertanya, “ Ada apa dengan tulang dan kotoran hewan?” Beliau berkata, “ keduanya adalah makanan jin. Aku pernah didatangi oleh utusan jin Nashibin – jenis jin paling baik-. Mereka bertanya kepadaku tentang makanan mereka. Maka, aku berdoa kepada Allah agar Dia menjadikan makanan pada setiap tulang dan kotoran hewan yang dijumpai oleh bangsa Jin.”[23]

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits ‘Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

 إِذَ أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِيْنِهِ وَ إِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِيْنِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَ يَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“ Apabila salah seorang diantara kalian makan, hendaklah ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila dia minum hendaklah dia minum dengan tangan kanannya. Karna Syaithan makan dan minum dengan tangan kirinya.”[24]

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Hudzaifah, dia berkata, “ Setiap kali kami menghadapi makanan bersama Rasulullah, kami tidak berani mendahului beliau untuk mengambil makanan sampai beliau memulai dan mengambil dengan tangannya. Pada suatu kali, kami menghadiri jamuan makan bersama Rasulullah ﷺ. Kemudian datanglah seorang budak perempuan kecil yang kelihatan sangat berselera ketika melihat hidangan tersebut, maka diapun bergegas mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan. Tetapi Rasulullah ﷺ segera memegang tangannya. Kemudian datang lagi seorang Arab badui dan kelihatan juga sangat berselera untuk menikmati hidangan itu. Beliau menahan dan memegang tangannya lalu bersabda, “ Sesungguhnya syaithan ikut memakan makanan yang tidak disebutkan nama Allah. Dia datang bersama hamba sahaya ini untuk memakan makanan ini, maka akupun memegang tangannya. Lalu dia juga datang bersama Arab badui ini untuk ikut makan makanan ini, maka akupun memegang tangannya. Demi Allah yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya tangan syaithan itu berada pada tanganku bersama tangan hamba sahaya ini.”[25] Pada riwayat lain, Imam Muslim menambahkan, “Kemudian beliau menyebut nama Allah dan makan.”[26]

Di dalam shahih muslim juga, dari Jabir bin Abdillah bahwasanya ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda : “ Apabila seorang lelaki memasuki rumahnya, lalu dia menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika makan, setan akan berkata kepada teman-temannya, ‘ Tidak ada tempat penginapan dan makan malam untuk kalian. Jika dia memasuki rumahnya tanpa menyebut nama Allah, maka syaithan akan berkata kepada teman-temannya,’ kalian mendapatkan tempat menginap. Dan jika dia makan tanpa menyebut nama Allah. Syaithan berkata,’ Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam.”[27]

Jin memiliki jenis kelamin

 Jin juga memiliki jenis kelamin sebagaimana manusia. Hal ini berdasarkan Hadits Nabi ﷺ

Di dalam ash-Shahihain dari Anas radhiyallahu’anhu ,ia berkata, “ Apabila Nabi Muhammad ﷺ memasuki kamar mandi (toilet), beliau mengucapkan,

 اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَ الْخَبَائِثِ 

Ya, Allah, sesungguhnya hamba berlindung kepadaMu dari Jin kafir laki-laki dan perempuan.”[28]

Ibnu Atsir berkata, “ Kata Al-Khubutsi adalah bentuk jama’ dari AlKhabits dan kata AlKhabaits adalah bentuk jama’ dari al-Khabitsah. Maksudnya adalah Syaithan jenis laki-laki dan syaithan jenis perempuan.[29]

Demikian pula dalam Syarah Fathul baari[30], Ibnu Hajar membawakan riwayat yang menyebutkan bahwa Jin ada yang berjenis laki-laki (jantan) dan perempuan (betina).[31]

Jin menikah dan memiliki keturunan

Allah berfirman dalam Al-Quran,

 وَ إِذْ قُلْنَا لِلْمَلَىٰۤئِكَةِ اسْجُدُوْا لِأَدَمَ فَسَجَدُوْۤا إِلاَّۤ إبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ، أَفَتَتَّخِذُوْنَهُ وَ ذُرِّيَتَهُ أَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِى وَ هُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِيْنَ بَدَلاً 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan Jin, maka dia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia dan turun-turunannya sebagai pemimpin selainn daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzhalim.”[32]

Al-Qadhi Badruddin Muhammad bin Abdullah Asy-Syibli berkata, “ Ayat ini menunjukkan bahwa bangsa Jin juga melakukan pernikahan untuk memperoleh keturunan.[33]

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Wahab bin Munabbih bahwa dia pernah ditanya mengenai hakikat jin; apakah mereka makan, minum, menemui ajal dan saling menikah? Dia menjawab, “ Mereka terdiri dari berbagai jenis. Jin yang paling murni (asli) adalah berupa angin, mereka tidak makan, tidak minum, tidak mati dan juga tidak memiliki keturunan.  Ada juga jenis jin yang makan, minum, mati dan melakukan perkawinan.”[34]

Jin memiliki kewajiban beribadah kepada Allah

Bangsa Jin juga terkena taklif syar’i ( kewajiban untuk beribadah kepada Allah) sama seperti manusia.  Ibnu Abdil Barr mengatakan, “ Menurut jumhur ulama, jin terkena taklif dan mendapatkan perintah untuk beribadah kepada Allah. Sebab Allah berfirman,

 يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَقُصُّوْنَ عَلَيْكُمْ ءَايٰتِيْ وَ يُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا قَالُوْا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنْفُسِنَا وَ غَرَّتْهُمُ الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَا وَ شَهِدُوْا عَلَىٰۤ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوْا كَافِرِيْنَ

 “Hai golongan jin dan manusiaa, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan member peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini ? Mereka berkata, ‘ Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri, “ Kehidupan dunia telah menipu mereka dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang kafir.”[35]

Dan juga karna Firman Allah,

  فَبِأَيِّ ءَالَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“ Maka nikamt Tuhan kamu (wahai jin dan manusia) yang manakah yang kamu dustakan.”[36]

Berkata Fakhruddin Ar-Razi rahimahullah, “ Semua ulama bersepakat bahwa semua bangsa jin juga dibebani taklif. Al-Qadhi Abdul Jabbar  rahimahullah berkata, “ Kami tidak mengetahui adanya khilaf  (perbedaan pendapat) di kalangan para ulama tentang dibebaninya jin dengan taklif.”[37]

Aqidah dan agama jin

Dalam maslah ini, bangsa jin persis seperti ummat manusia. Diantara mereka, ada yang beragama Islam, Nasrani dan Yahudi. Bahkan pemeluk Islam dari kalangan mereka sama seperti pemeluk islam dari kalangan manusia. Ada yang beraliran Qadariyah, Syi’ah, Ahlussunnah, Ahli Bid’ah dan yang lainnya. Disamping itu, dari mereka ada yang patuh dan ada yang durhaka, ada yang bertakwa dan adapula yang durjana.[38]

Allah memberitahukan prihal bangsa Jin  ketika mereka mengatakan,

 وَ أَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَ مِنَّ دُوْنَ ذٰلِكَ كُنَّا طَرَاۤئِقَ قِدَدًا

“  Dan sesungguhnya diantara kami ada orang-orang  yang shalih dan diantara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.”[39]

 Ibnu Abbas radhuyallahu’anhuma berkata, maksud dari lafadz “ kami menempuh jalan yang berbeda-beda “ adalah, diantara kami ada yang beriman dan ada juga yang kafir.[40]

Ibnu Taimiyah berkata, maksud dari “ kami menempuh jalan yang berbeda-beda “ adalah berbagai madzhab yang berbeda-beda. Ada yang muslim, ada yang kafir, ada aliran Ahlussunnah dan ada juga Ahli Bid’ah.[41]

Jin takut kepada manusia

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan bahwa Mujahid pernah berkata, “ Pada suatu malam, ketika saya sedang melakukan sholat, tiba-tiba sesosok makhluk yang mirip anak kecil berdiri di hadapan saya.” Dia berkata, “Saya pun mendekatinya untuk menangkapnya, tetapi dia segera meloncat ke belakang tembok, hingga saya mendengarkan suara loncatannya. Dan setelah itu dia tidak pernah datang lagi. Mujahid melanjutkan, “Sesungguhnya bangsa Jin merasa takut kepada kalian, sebagaimana kalian juga merasa takut kepada mereka.” Mujahid juga berkata,” Syaithan lebih takut kepada kalian daripada rasa takut kalian kepadanya. Jika dia muncul di hadapan kalian, janganlah kalian merasa takut kepadanya, karna jika kalian takut, dia akan mampu mengendarai (menguasai) kalian. Tetapi hampirilah dia, karna dia akan pergi.”[42]

Jin dapat mengubah dan menyerupakan diri dengan sesuatu

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “ Bangsa Jin dapat mengubah wujud mereka menjadi bentuk manusia dan binatang. Mereka dapat mengubah diri menjadi bentuk ular, kalajengking tau lainnya, termasuk dalam bentuk unta, lembu, kambing, kuda, bighal, keledai, burung serta bentuk manusia.”[43]

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa jin dapat menyerupakan dirinya dengan sesuatu adalah:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu ia berkata, Rasulullah menyuruh saya untuk menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Tiba-tiba datanglah sesosok makhluk, lalu ia mengambil makanan (tanpa meminta izin). Kemudia aku memegangnya dan bersumpah atas nama Allah bahwa aku akan menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ. Dia berkata, ‘Sesungguhnya saya sangat membutuhkan makanan ini, dan saya mempunyai keluarga, selain itu saat ini saya benar-benar sangat membutuhkan.’ Sayapun melepaskannya dan pada pagi harinya, Rasulullah berkata kepada saya, ‘ Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah ﷺ, ia mengadukan tentang kebutuhannya yang sangat mendesak, dan bahwa dia mempunyai keluarga. Karnanya saya merasa iba dan kasihan kepadanya, lalu kulepaskan ia. Beliau ﷺ bersabda, ‘ dia telah mendustaimu, dia akan kembali lagi. ‘ Sayapun mengetahui bahwa dia akan kembali, karna Rasulullah ﷺ telah mengatakan bahwa dia akan kembali. Maka pada malam harinya, saya mengintainya, diapun datang lagi dan mencuri makanan. Lalu saya tangkap ia dan kuancam lagi, bahwa saya akan menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ. Dia berkata, ‘Lepaskanlah saya, saya dalam keadaan membutuhkan, sedangkan saya mempunyai keluarga. Saya berjanji tidak akan kembali lagi.’ Sayapun merasa iba dan kasihan kepadanya hingga saya melepaskannya. Pada pagi harinya Rasulullah ﷺ berkata kepada saya, ‘Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, bahwa ia mengadukan kebutuhannya yang sangat mendesak, dan dia mempunyai keluarga. Karnany saya merasa iba dan kasihan kepadanya, sayapun kembali melepaskannya. Beliau berkata, ‘Sesungguhnya dia telah mendustaimu. Dia akan kembali lagi.’ Malam harinya, saya mengintainya untuk ketiga kalinya. Dia datang dan kembali mencuri makanan. Lalu saya menangkap dan mengancamnya, bahwa dia benar-benar akan saya serahkan kepada Rasulullah ﷺ. Saya bertekad bahwa ini yang terakhir baginya, karna kemarin dia berjanji tidak akan kembali, tapi ternyata dia kembali lagi. Kali ini dia berkata,’ Lepaskan saya, saya akan mengajarkan beberapa kalimat (doa) yang Allah akan memberikan manfaat untukkmu dengan kalimat tersebut. Akupun menanyakan tentang kalimat tersebut. Dia berkata, ‘ Jika kamu berbaring di tempat pembaringanmu, bacalah ayat kursi [44], sebab dengan begitu Allah akan senantiasa menjagamu dan Syaithan tidak akan mendekatimu hingga pagi harinya.” Maka sayapun melepaskannya. Pada pagi harinya, Rasulullah bertanya kepada saya, ‘Apa yang dilakukan tawananmu tadi malam wahai Abu Hurairah?’ Saya menjawab, bahwa dia telah mengajariku sebuah doa yang bisa mendatangkan manfaat bagi saya, maka kulepaskan ia’. Beliau bertanya, ‘Doa apa itu?’ Saya menjawab, bahwa ia mengatakan kepada saya,’Jika kamu hendak berbaring (tidur) di atas pembaringanmu, bacalah ayat kursi secara lengkap, dia juga mengatakan bahwa Allah akan memelihara saya dan Syaithan tidak akan mendekati saya hingga pagi harinya, sedangkan para sahabat adalah orang-orang yang antusias untuk melakukan amal kebaikan. Maka Nabi ﷺ bersabda,’Makhluk itu telah berkata benar kepadamu, padahal sebenarnya ia adalah si pendusta. Wahai Abu Hurairah, tahukah kamu siapa yang kamu ajak bicara sejak tiga hari yang lalu itu?’ Saya menjawab,’Tidak”. Beliau berkata,’Ia adalah Syaithan.”[45]

Nabi ﷺ pernah bersabda,

    الْحَيَّاتُ مَسْخُ الْجِنِّ كَمَا مُسِخَتِ الْقِرَدَةُ وَ الْخَنَازِيْرُ مِنْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ

“  Ular-ular adalah perubahan bentuk dari bangsa Jin, seperti halnya kera dan babi sebagai perubahan bentuk dari Bani Israil.”[46]

Dari Abu Qilabah dari Nabi Muhammad ﷺ dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

 لَوْ لاَ أَنَّ الْكِلاَبَ أُمَّةٌ لَأَمَرْتُ بِقَتْلِهَا، وَلٰكِنْ خِفْتُ أَنْ أَبِيْدَ أُمَّةً فَاقْتُلُوْا مِنْهَا كُلَّ أَسْوَدٍ بَهِيْمٍ فَإِنَّهُ جِنُّهَا أَوْ مِنْ جِنِّه

“  Kalau sekiranya anjing-anjing itu bukan termasuk makhluk Allah, niscaya aku perintahkan untuk membunuhnya. Tetapi aku khawatir kalau aku akan memusnahkan sebuah komunitas makhluk hidup. Oleh karna itu, bunuhlah setiap anjing hitam yang ganas (buas). Karna dia adalah jin atau dari bangsa Jin.”[47]

Dan banyak banyak hadits lainnya yang menunjukkan bahwa jin bisa berubah bentuk[48]

Namun seseorang tidak bisa melihat Jin dalam bentuk wujud aslinya. Jin hanya bisa dilihat oleh manusia ketika jin tersebut berupa rupa menjadi rupa yang lain yang bukan wujud aslinya, sebagaimana firman Allah,

 إِنَّهُ يَرَىٰكُمْ هُوَ وَ قَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ أَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ

“  Sesungguhnya dia (Syaithan) dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan syaithan-syaithan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”[49]

Oleh karna itu al-Hafidz Ibnu hajar mengatakan  di dalam kitab “ Manaqibusy Syafi’i”, Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Rabi’, dia berkata, “ Saya mendengar Imam Syafi’i berkata, “ Barangsiapa yang menyangka bisa malihat jin (dalam bentuk aslinya), kami anggap persaksiannya tidak diterima kecuali kalau dia seorang Nabi.” Ibnu Hajar berkomentar, “ Hal ini berlaku bagi orang yang mengaku melihat mereka (bangsa Jin) dalam bentuk aslinya. Sedangkan orang yang mengaku melihat salah satu dari mereka setelah berubah wujud menjadi hewan, hal ini tidaklah tercela. Sebab banyak sekali khabar yang menyatakan perubahan ragam bentuk mereka.”[50]

Martabat Jin lebih rendah dan lebih hina dari Manusia

Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “ Sesungguhnya derajat dan martabat Jin – meskipun dari kalangan jin yang shalih- lebih rendah dan lebih hina daripada manusia. Karna Allah Sang Pencipta telah menetapkan dan menyatakan kemuliaan manusia dalam Firmannya,

 وَ لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىۤ ءَادَمَ وَ حَمَلْنٰهُمْ فِيْ بَرِّ وَ الْبَحْرِ وَ رَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَ فَضَّلْنٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلاً

“  Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”[51]

Pemuliaan seperti ini belum pernah dinyatakan kepada bangsa Jin; baik di dalam salah satu dari kitab Allah, maupun melalui lisan salah seorang rasulNya. Dengan begitu, jelaslah bahwa derajat dan martabat manusia lebih tinggi daripada Jin. Yang menunjukkan hal itu adalah perasaan Jin bahwa mereka mempunyai kekurangan dan kelemahan dibandingkan manusia. Sedangkan ini semua diperkuat dengan adanya fakta bahwa para Jin merasa dihormati dan dimuliakan tatkala manusia meminta perlindungan kepada mereka, karna dengan hal tersebut berarti manusia mengagungkan dan meninggikan derajat para jin, padahal sebenarnya mereka tidaklah demikian. Akirnya jin-jin tersebut semakin menyesatkan dan membuat manusia ingkar kepada Allah.[52]

Bukti dari hal itu adalah jika ada manusia yang bertawassul (mengambil perantara untuk menyampaikan kebutuhan) kepada mereka atau kepada nama-nam para pembesar mereka atau bersumpah dengan para leluhur mereka, maka para jin itu akan mengabulkan permintaannya dan memenuhi kebutuhannya. Semua itu disebabkan karna jin-jin tersebut merasa lemah dan hina di hadapan manusia yang beriman kepada Allah dan beribadah kepadaNya dengan mentauhidkanNya; baik dalam RububiyahNya, UluhiyahNya, Nama-NamaNya dan sifat-sifatNya. Adapun jin-jin yang shalih, maka mereka lebih utama dan lebih mulia dibandingkan dengan manusia yang kafir  dan musyrik dari kalangan anak Adam[53]

Jin merasa dengki kepada manusia

 Ibnul Qayyim berkata, “ Ada dua jenis mata, mata manusia dan mata jin. Dalam sebuah hadits shahih[54] riwayat Ummu Salamah, bahwasanya Nabi ﷺ pernah melihat seorang budak perempuan yang wajahnya terdapat warna kuning (suf’ah) yang berada di rumahnya (Ummu Salamah). Maka beliau bersabda, “ Bacalah ruqyah untuk sarana perlindungan dari dirinya, karna dia memiliki pandangan.” Husein bin Mas’ud al-Fara’ berkata, “ Maksud dari suf’ah adalah pandangan yang datang dari jin.[55]

Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang dianggap hasan oleh Nasa’i dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ berlindung dari bangsa Jin dan pandangan manusia, sampai diturunkannya surat Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan an-Nas). Maka beliaupun meninggalkan bacaan yang lain.[56]

Hadits diatas menjelaskan kepada kita bahwa bangsa jin terkadang dengki kepada manusia.[57]

Menyembelih untuk jin diharamkan

Para ulama sepakat bahwa menyembelih untuk Jin adalah haram, bahkan hal tersebut adalah perbuatan syirik, karna hal tersebut adalah sembelihan yang diperuntukkan kepada selain Allah. Seorang muslim tidak boleh memakannya, apalagi melakukannya. Meskipun demikian, masih banyak orang-orang dungu dan bodoh  pada setiap masa dan tempat yang melakukan perbuatan kotor ini. Imam yahya bin Yahya berkata, “ Wahab berkata kepada saya,’Sebagian khalifah memerintahkan untuk menggali sebuah mata air untuk dialirkan bagi penduduknya, kemudian dia menyembelih bintang untuk para Jin, agar jin-jin itu tidak mengeruhkan airnya. Lalu dia memberi makan kepada orang-orang dengan daging sembelihan itu. Ketika hal itu terdengar oleh Ibnu Syihab, maka dia berkata, “ Sesungguhnya dia telah melakukan sembelihan yang tidak halal baginya, juga memberikan kepada orang-orang sesuatu yang tidak halal bagi mereka. Rasulullah melarang untuk memakan sembelihan yang diperuntukkan kepada Jin.[58] Ibnu Syihab adalah Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri, seorang imam yang Hafidz, ahli fiqih dan ulama besar. Dia adalah guru Imam Malik.[59]

Orang yang menyembelih untuk selain Allah adalah orang yang terlaknat. Di dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda,

 لَعَنَ اللّٰهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللّٰهِ

“  Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”[60]

Larangan meminta perlindungan kepada Jin

Allah berfirman menceritakan perihal jin,

 وَ أَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”[61]

Ibnu Katsir berkata, “ Maksudnya, kami beranggapan bahwa kami mempunyai kelebihan di atas manusia; karna ketika turun ke suatu lembah atau tempat angker atau yang sejenisnya, mereka meminta perlindungan kepada kami. Sebagaimana kebiasaan bangsa Arab di masa Jahiliyah, mereka meminta perlindungan kepada penguasa (dari kalangan jin) tempat itu supaya tidak berbuat jahat kepada mereka, sebagaimana halnya ketika salah seorang dari mereka memasuki negeri musuhnya dengan pengawalan ketat dari para serdadunya. Tatkala Jin melihat bahwa manusia meminta perlindungan kepada mereka dikarenakan takut, jin-jin tersebut  semakin membuat mereka merasa semakin takut, segan, ngeri, dan was-was, sehingga mereka menjadi manusia yang paling takut dan sering meminta perlindungan kepadanya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Qatadah, “ Maka jin-jin menambah dosa dan kesalahan bagi mereka, sehingga jin semakin berani kepada mereka.” Assudi berkata,” Seseorang bepergian dengan keluarganya, dia sampai pada suatu tempat dan dia mampir disitu, lalu dia berkata, ‘ Saya berlindung kepada penguasa lembah ini dari kalangan jin supaya saya, harta, anak atau binatang ternak saya tidak diganggu.’ Menanggapi hal ini Qatadah berkata,’Jika manusia meminta perlindungan  kepada selain Allah, niscaya jin akan menambah dosa dan kesalahan mereka.” Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ikrimah, dia berkata,”Sebenarnya bangsa jin takut kepada manusia, sebagaimana manusia takut-bahkan lebih takut-kepada mereka.” Apabila manusia berhenti pada sebuah lembah, sebenarnya para jin kabur. Tetapi kemudian pemimpin mereka (manusia) berkata,” Kami berlindung kepada penguasa lembah ini.” Maka jin mendengarnya dan berkata, “ Sepertinya mereka takut kepada kita, sebagaimana kita takut kepada mereka.” Akhirnya, jin-jin itu mendekati mereka dan menimpakan kegilaan dan kedunguan kepada mereka (kesurupan).”[62]

Meminta perlindungan kepada Jin termasuk perbuatan syirik dan Allah telah memberi ganti yang lebih baik kepada kita. Diriwayatkan dari Khaulah binti Hakim, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda. ‘ Barangsiapa yang memasuki rumah dan berdoa,

 أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللّٰهِ التَّاۤمَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya’,

Niscaya dia tidak akan ditimpa mara bahaya hingga dia beranjak dari tempatnya itu.[63]

Imam al-Qurthubi berkata, “ Tidak diragukan lagi bahwa meminta perlindungan kepada Jin dan tidak meminta perlindungan kepada Allah adalah perbuatan kufur dan syirik.[64]

Meminta pertolongan kepada Jin adalah haram

Dasar terapi yang dilakukan para dukun dan tukang sihir adalah meminta pertolongan kepada jin dan syaithan, dan ini adalah perbuat syirik; karna hal ini termasuk meminta pertolongan kepada selain Allah. Sedangkan yang lebih parah dari itu, bahwa syaithan –syaithan itu tidak akan membantu seorang tukang sihir dan dukun, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, hingga dia kafir kepada Allah. Semakin seorang dekat dengan tukang sihir dan dukun, diapun semakin bertambah durhaka kepada Allah. Maka syaithan-syaithan pun semakin bertambah dekat dan patuh kepadanya.[65]

Referensi

[1] Al-Quran Surat Al-Baqarah: 3

[2] Tafsir Ibnu katsir (1/14) (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.21)

[3] Al-Quran Surat Al-Ahqaf: 29

[4] Al-Quran Surat Al-An’am: 130

[5] Al-Quran Surat Ar-Rahman: 33

[6] Al-Quran Surat Al-Jin: 1

[7] Al-Quran Surat Al-Jin: 6

[8] HR.Muslim (4/170 , Syarh an-Nawawi) (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.22)

[9] HR. Bukhari (6/343, Fathul Baari), Malik (1/68) an-Nasai (2/12) dan Ibnu Majah (1/239) (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.22)

[10] Al-Quran Surat Al-Jin: 1

[11] HR. Bukhari(2/253, Fathul baari) dan HR. Muslim (4/168, Syarh an-Nawawi) (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.23)

[12] Untuk memperluas pembahasan tentang dalil yang menunjukka adanya jin dan syaithan secara haqiqat, silahkan merujuk kepada Kitab Ash- Sharimul Battar Fit Tashaddi Lis Saharatil Asyrar oleh Syaikh Wahid bin Abdussalam Baali, Edisi bahasa Indonesia, Penerbit: Pustaka Imam Syafi’i, hal.23-31

[13] Al-Quran Surat ar-Rahman: 15

[14] Tafsir Ibnu Katsir (4/271) dalam  Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.23-24

[15] Al-Quran Surat Al-Hijr: 27

[16] Al-Quran Surat Al-A’raf: 12

[17] HR. Muslim (18/123, Syarh an-Nawawi) (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.24)

[18] HR. Thabrani dan al-Hakim dan al-Baihaqi dalam al-asma’ wa ash-Shifat  dengan sanad yang shahih. Dishahihkan oleh al-Albani dalam shahihul Jami’, no.3114 (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.25)

[19] Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.25-26

[20] HR. Abu Dawud dalam kitab ath-Thaharah, bab:3, an-Nasai dalam kitab ath-Thaharah bab:17, Ibnu Majah dalam ath-Thaharah bab:9 dan Imam Ahmad dalam musnadnya (4/369), Hadits ini Shahih (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.26)

[21] HR. Abu Dawud Kitab Ath-Thaharah bab:16,29. An-Nasai dalam ath-Thaharah bab:29 dan Al-Imam Ahmad dalam musnadnya (5/82). Hadits ini Shahih, Abu Zur’ah dan Abu Hatim telah mengatakan bahwa hadits ini dari jalur Qatadah dari Abdullah bin Sirjis (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.26)

[22] Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.27

[23] HR. bukhari (7/171, Fathul Baari) (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.27)

[24] HR. Muslim (13/191, Syarh an-Nawawi)  (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.27)

[25] HR.Muslim (13/190, Syarh an-Nawawi) 

[26] Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.27

[27] HR.Muslim (13/190, Syarh an-Nawawi) 

[28] HR. Al bukhari  (1/242, Fathul Baari) HR. Muslim (4/70, Syarh an-Nawawi)(Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.34)

[29] Lisanul ‘Arab (2/1088) )(Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.34)

[30] Fathul Baari (4/488)

[31] Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.34

[32] Al-Quran Surat Al-Kahfi: 50

[33] Aakaamul Marjan(33) dalam Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.39

[34] Luqathul Marjan (44) (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.39)

[35] Al-Quran Surat Al-An’am: 130

[36] Al-Quran Surat Ar-Rahman: 13

[37] Dinukil dari Luqathul Marjan (71) (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.35)

[38]  Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.35-36

[39] AL-Quran Surat Al-Jin:11

[40] Tafsir Ibnu Katsir (4/430) Surat al-Jin: 11 (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.36)

[41] Risalatul Jin (27) (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.36)

[42] Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.37

[43] Risalatul Jin (32) (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.32)

[44] Yakni Ayat Al-Quran Surat Al-Baqarah:255

[45] HR. Al-Bukhari (4/487), (6/335),(9/55, Fathul Bari) disertai dengan komentar yang sangat akurat terhadap hadits ini (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.29-30)

[46] HR. Ibnu Hibban dan Ath-Thabrani dalama “Al-Kabir” dan Ibnu Abi Hatim dalam “Al-‘ilal”. Dishahihkan oleh al-Albani dalam shahihnya (4/439),no.1824(Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.30)

[47] HR. Muslim dalam kitab “ Al-Musaqat” , hadits no.47 (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.31)

[48] Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.31-32

[49] Al-Quran Surat Al-A’raf:27

[50]  Fathul Baari (4/489) (Lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.30)

[51] Al-Quran Surat Al-Isra’ :70

[52] Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.53

[53] ‘Aqidatul Mukmin (228) (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.53-54)

[54] HR. Bukhari (10/199, Fathul Baari) HR. Muslim (14/185, Syarh an-Nawawi) (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.38)

[55] Ath-Thibbun Nabawi (129) (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.38)

[56]  HR. Tirmidzi (3/266) ,dia menghasankannya dan Nasai (8/271) (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.38)

[57] Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.38

[58] Aakaamul Marjan (78)  (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.46)

[59] Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.46

[60] Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.48

[61] Al-Quran Surat Al-Jin: 6

[62] Tafsir Ibnu Katsir (4/429) (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.48-49)

[63] HR. Muslim (15/31, Syarh an-Nawawi) (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.49)

[64] Tafsir Al-Qurthubi (19/10) (lihat Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.50)

[65] Wiqaayatul Insan Minal Jinn Wasy Syaithan hal.50 , lihat pula kitab Ash- Sharimul Battar Fit Tashaddi Lis Saharatil Asyrar oleh Syaikh Wahid bin Abdussalam Baali, Edisi bahasa Indonesia, Penerbit: Pustaka Imam Syafi’i, hal.66-75 tentang kesyirikan dan kekufuran yang dilakukan oleh tukang sihir karna meminta pertolongan kepada jin.