Khadijah

Nama dan Nasab

Beliau adalah Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qusay bin Kilab, nasabnya bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek yang kelima yaitu Qusay bin Kilab, sehingga Khadijah radhiyallahu ‘anha merupakan ummul mukminin yang paling dekat nasab (garis keturunannya) dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ayahanda Khadijah yaitu Khuwaild bin Asad merupakan salah seorang pembesar Quraisy dan orang terpandang di kalangan kaumnya, meninggal sebelum terjadi perang Fijaar yaitu perang besar dalam sejarah Arab Jahiliyyah yang terjadi antara suku Quraisy dengan suku Qais Ailan. [1] Ibunda Khadijah radhiyallahu ‘anha bernama Fathimah binti Za’idah bin Asham.

Khadijah adalah ummul mukminin yang sangat cerdas lagi terhormat, teguh beragama, terjaga dari sifat keji lagi mulia, termasuk penghuni surga. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam sering memujinya dan lebih mengutamakannya dari semua istri-istri beliau, sehingga beliau sangat mengaguminya, sampai-sampai Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: “Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap madu yang lainnya melebihi kecemburuanku pada Khadijah, dikarenakan saking seringnya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam menyebut-nyebutnya.” [2]

Menikah dengan Rasulullah

Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah sempat menikah dua kali, pernikahan pertama dengan Atiq bin A’idz Al-Makhzumi, setelah Atiq meninggal Khadijah lantas menikah dengan Abu Halah bin Nabbasy yang juga meninggal setelah beberapa tahun menikahi Khadijah, setelah itu Khadijah lama menjanda sampai akhirnya menikah dengan sayyidul anbiya’ wal mursalin Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak ada riwayat yang shahih yang menyebutkan secara detail proses tertariknya Khadijah menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hanya kutipan-kutipan ucapan ulama ahli sejarah dan sirah yang tertulis menujukkan bahwa tatkala Maisrah atas perintah tuannya (Khadijah) menemani Nabi berniaga dengan membawa harta dagangan milik Khadijah ke negeri Syam, dia melihat perkara-perkara luar biasa yang terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti adanya awan yang senantiasa menaungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di perjalanan hingga disebutkan bahwa Khadijah sendiri pernah melihat hal itu dengan mata kepalanya sendiri sehingga ia tambah tertarik untuk dipersunting oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tatkala Nabi pulang dari perjalanan dagang dengan membawa keuntungan yang sangat banyak, serta melihat kejujurannya dan perkara-perkara luar biasa yang diceritakan oleh budak yang menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Maisarah, maka Khadijah lantas terpikat dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Khadijah menawarkan supaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengannya, lalu Nabi pun menikahi Khadijah dengan mahar dua puluh unta betina. [3]

Keutamaan Khadijah

Khadijah radhiyallahu ‘anha merupakan ummul mukminin yang mulia, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama dan utama, membantu dan banyak berkorban untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban tugas dakwah yang berat di awal-awal kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah radhiyallahu ‘anha memiliki keutamaan dan kelebihan yang tak dimiliki oleh istri-istri beliau yang lain dan di antara keutamaan-keutamaan itu adalah:

Orang yang pertama beriman kepada Nabi

Dari Afif bin Amr dia berkata:

كنت امرءاً تاجراً، وكنت صديقاً للعباس بن عبد المطلب في الجاهلية فقدمت لتجارة فنزلت على العباس بن عبد المطلب بمنى فجاء رجل فنظر إلى الشمس حين مالت فقام يصلي ثم جاءت امرأة فقامت تصلي ثم جاء غلام حين راهق الحلم فقام يصلي.  فقلت للعباس من هذا؟ فقال: هذا محمد بن عبد الله بن عبد المطلب ابن أخي يزعم أنه نبي ولم يتابعه على أمره غير هذه المرأة وهذا الغلام، وهذا المرأة خديجة بنت خويلد امرأته وهذا الغلام ابن عمه علي بن أبي طالب. قال عفيف الكندي: وأسلم وحسن إسلامه لوددت أني كنت أسلمت يومئذ فيكون لي ربع الإسلام.

“Dahulu saya adalah seorang saudagar, dan saya berteman dengan Al-Abbas bin Abdulmuttalib di masa jahiliyyah, lalu sayapun datang (ke Makkah) untuk berdagang dan sayapun singgah di (rumah) Al-Abbas di Mina, kemudian datanglah seorang laki-laki dan melihat ke matahari ketika telah tergelincir dan iapun berdiri untuk shalat, kemudian datanglah seorang perempuan dan berdiri untuk shalat, kemudian datanglah seorang bocah yang mendekati umur baligh berdiri untuk shalat, lantas akupun bertanya kepada Al-Abbas: “Siapakah ini? Dia lantas menjawab: “Ini adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib keponakan saya yang mengaku dirinya sebagai nabi dan tak ada seorangpun yang mengikutinya selain perempuan dan anak kecil ini, perempuan ini adalah Khadijah binti Khuwailid istrinya dan anak ini adalah keponakannya Ali bin Abi Thalib. Afif Al-Kindi berkata: “Dan dia (Ali bin Abi Thalib) masuk Islam dan keislamannya menjadi tambah bagus, seaindainya saya masuk Islam ketika itu niscaya saya akan menjadi satu dari empat orang Islam.” [4]

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan: “Khadijah Ummul Mukminin adalah orang yang pertama kali beriman pada (ajaran) Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenarkannya sebelum yang lainnya.” [5]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan: “Tidak diragukan lagi bahwa Khadijah adalah orang yang pertama beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada Khadijah dan menceritakan apa yang beliau lihat di gua Hira’ Khadijah mengatakan: “Tidak, Allah tidak akan menhinakanmu selamanya.” Lantas Khadijah beriman kepada beliau dan membawa beliau kepada Waraqah bin Naufal dan menceritakan apa yang dialami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Waraqah mengatakan: “Itulah Namus yang datang kepada Musa.” Namus artinya penjaga rahasia, kemudian Waraqahpun beriman.” [6]

Khadijah radhiyallahu ‘anha adalah perempuan pertama yang masuk Islam, maka Khadijah radhiyallahu ‘anha membuat sunnah hasanah (dalam hal masuk Islam) yang diikuti oleh setiap perempuan setelahnya, maka Khadijah mendapatkan pahala perempuan yang mengikutinya masuk Islam setelahnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

من سن سنة حسنة فعمل بها بعده كتب له مثل أجر من عمل بها لا ينقص من أجورهم شيء

“Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah lalu dikerjakan oleh orang setelahnya, maka ia mendapatkan pahala orang yang mengerjakannya dan pahala mereka (orang yang mengerjakan setelahnya) tidak dikurangi sedikitpun.” [7] Dalam hal ini Khadijah sama dengan Abu Bakr dari kalangan laki-laki dan tidak ada yang tahu seberapa banyak pahala mereka kecuali Allah ‘azza wa jalla.” [8]

Tidak pernah dimadu

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikah dengan perempuan lain semasa Khadijah radhiyallahu ‘anha masih hidup, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata:

لم يتزوج النبي صلى الله عليه وسلم على خديجة حتى ماتت

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikah dengan perempuan lain semasa Khadijah masih hidup hingga Khadijah meninggal.” [9]

Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Dan ini termasuk hal yang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan ini termasuk dalil tingginya kedudukan dan keutamaan Khadijah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Khadijah mencukupkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perempuan lain, Khadijah berbeda jika dibandingkan dengan istri-istri beliau yang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup setelah menikahi Khadijah radhiyallahu ‘anha selama 38 tahun dan Khadijah menjadi satu-satunya istri setia beliau selama 25 tahun, hampir sepertiga dari total umur beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berjumlah 38 tahun tadi, 25 tahun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Khadijah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjaga hati Khadijah dari kecemburuan dan tipu daya istri madu yang bisa saja terjadi, dan ini merupakan kelebihan yang tidak dimiliki oleh istri beliau yang lain.” [10]

Sering Nabi sebut dan puji

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menyebutkan Khadijah dan memujinya setelah Khadijah meninggal, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata:

ما غرت على أحد من نساء النبي صلى الله عليه وسلم ما غرت على خديجة وما رأيتها ولكن كان النبي صلى الله عليه وسلم يكثر ذكرها، وربما ذبح الشاة ثم يقطعها أعضاء ثم يبعثها في صدائق خديجة فربما قلت له: كأنه لم يكن في الدنيا امرأة إلا خديجة؟ فيقول: إنها كانت وكانت وكان لي منها ولد

“Aku tidak merasa cemburu kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain sebesar cemburuku kepada Kahdijah, padahal aku tidak pernah melihatnya namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering ekali menyebutnya, terkadang beliau menyembeli seekor kambing lalu memotong-motongnya dan membagikannya kepada teman-temannya Kahdijah, dan kadang aku mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seperti tak ada wanita lain di atas dunia ini selain Khadijah? lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh Khadijah dahulu begini dan begitu (memiliki jasa dan kebaikan yang banyak) dan aku mendapatkan keturunan darinya.” [11]

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah mengatakan: “Pendapatku, kecemburuan Aisyah yang demikian karena usianya yang masih belia dan baru baligh. Mungkin juga itu muncul ketika beliau radhiyallahu ‘anha belum baligh.” [12]

Dalam riwayat lain, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata:

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ  قَالَتْ : فَغِرْتُ يَوْماً فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْراً مِنْهَا. قَالَ : مَا أَبْدَلَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْراً مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِى إِذْ كَفَرَ بِى النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِى إِذْ كَذَّبَنِى النَّاسُ وَوَاسَتْنِى بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِى النَّاسُ وَرَزَقَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِى أَوْلاَدَ النِّسَاءِ.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menceritakan Khadijah pasti ia selalu menyanjungnya dengan sanjungan yang indah. Aisyah berkata, “Pada suatu hari aku cemburu.” Ia berkata, “Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Padahal Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyampaikan, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” [13]

Al-Qurtubi rahimahullah mengatakan: “Kecintaan luar biasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Khadijah disebabkan oleh hal-hal yang disebutkan dalam riwayat tadi, dan sebab-sebab itu sangatlah banyak, semua itu menjadi penyebab datangnya kecintaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [14]

Ibnul Arabi rahimahullah mengatakan: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memanfaatkan fikiran (pendapat) Khadijah, harta bendanya dan pembelaannya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingat jasa Kahdijah itu baik semasa hidup Khadijah maupun sepeninggalnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan apa yang membuat Khadijah senang seandainya beliau lakukan semasa hidupnya, sehingga disebutkan dalam hadits:

من البر أن يصل الرجل أهل ود أبيه

“Di antara bentuk berbakti adalah menyambung tali silaturrahim dengan teman dan kerabat ayah (semasa hidupnya). [15][16]

Pernah mendapat salam dari Allah dan Jibril

Khadijah pernah mendapatkan salam dari Allah ‘azza wa jalla dan Jibril ‘alaihis salam, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ.

“Pada suatu ketika Jibril pernah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata: “Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah. Ia datang kepada engkau dengan membawa wadah berisi lauk pauk, atau makanan atau minuman, apabila ia datang kepada engkau, maka sampaikanlah salam dari Allah dan dariku kepadanya. Selain itu, beritahukan pula kepadanya bahwa rumahnya di surga terbuat dari emas dan perak, yang di sana tidak ada kebisingan dan kepayahan di dalamnya.” [17] [18]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Allah subhanahu wa ta’ala dan Jibril mengirimkan salam kepada seorang perempuan dan menyampaikannya lewat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan keutamaan yang tidak dimiliki oleh semua perempuan kecuali Khadijah radhiyallahu ‘anha.” [19]

Wanita terbaik di zamannya

Khadijah adalah wanita terbaik di zamannya, dari sahabat Ali bin Abithalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ

“Wanita terbaik yang pernah ada ialah Maryam putri Imran dan Khadijah.” [20] [21]

Makna yang paling nampak antara terkait keutamaan Maryam dan Khadijah bahwa mereka berdua adalah wanita terbaik di masanya masing-masing. [22]

Dalam hadits shahih dari shabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ

“Wanita-wanita yang paling utama sebagai penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun) dan Maryam binti Imran.” [23]

Dalam riwayat yang lain dari Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma:

لقد فضلت خديجة على نساء أمتي كما فضلت مريم على نساء العالمين

“Keutamaan Khadijah atas wanita di kalangan ummatku adalah seperti keutamaan Maryam atas perempuan di dunia.” [24]

Mendapatkan rumah di surga

Khadijah akan mendapatkan rumah di surga, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah yang disebutkan sebelumnya:

أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ.

“Pada suatu ketika Jibril pernah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata: “Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah. Ia datang kepada engkau dengan membawa wadah berisi lauk pauk, atau makanan atau minuman, apabila ia datang kepada engkau, maka sampaikanlah salam dari Allah dan dariku kepadanya. Selain itu, beritahukan pula kepadanya bahwa rumahnya di surga terbuat dari emas dan perak, yang di sana tidak ada kebisingan dan kepayahan di dalamnya.” [25] [26]

As-Suhaili mengatakan: “Penyebutan kata “rumah” dalam hadits ini memiliki makna yang indah yaiitu bahwa sebelum datangnya Islam Khadijah adalah ibu rumah tangga dan setelah datangnya Islam menjadi satu-satunya ibu rumah tangga muslim saat itu di atas muka bumi, dan ini adalah keutamaan yang tidak dimiliki oleh wanita selainnya, sehingga sebagai balasan di akhirat juga dengan yang semisal (rumah) walaupun tentu dengan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan yang ada di dunia, maka dalam hadits ini memakai lafadz “rumah” bukan istana.” [27]

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa menurut Khattabi dan selainnya rumah yang dimaksudkan adalah istana di surga. [28]

Perempuan surga terbaik

Sebagaimana dalam hadits shahih dari shabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ

“Wanita-wanita yang paling utama sebagai penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun) dan Maryam binti Imran.” [23]

Rizki bagi Nabi dari Allah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa kecintaan beliau kepada Khadijah merupakan sebuah rizki yang diberikan oleh Allah ‘azza wa jalla, hal ini sebagaimana dalam redaksi yang lain dari hadits Aisyah yang sudah disebutkan sebelumnya:

ما غرت على نساء النبي صلى الله عليه وسلم إلا على خديجة وإني لم أدركها قالت: وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا ذبح الشاة فيقول: أرسلوا بها إلى أصدقاء خديجة قالت: فأغضبته يوماً فقلت: خديجة فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إني قد رزقت حبها

“Aku tidak merasa cemburu kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain sebesar cemburuku kepada Kahdijah padahal aku tidak pernah melihatnya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menyembelih kambing beliau mengatakan: “Berikan kepada teman-temannya Khadijah. Aisyah berkata: “Suatu ahri saya pernah membuat beliau marah dengan mengatakan: “Khadijah.” Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh Allah subhanahu wata’ala telah memberi rizki kepadau dengan mencintainya.” [29]

Putra Putri Nabi dari Khadijah

Putera puteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semuanya terlahir dari Khadijah radhiyallahu ‘anha kecuali Ibarhim yang terlahir dari budak perempuan yang dihadiahi oleh raja Mesir Mukaukis, putera beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Khadijah adalah Qasim yang dengannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkunyah (sehingga dikatakan Abul Qasim), Qasim meninggal ketika masih kecil, namun ada yang mengatakan bahwa Qasim meninggal sudah tumbuh dewasa hingga bisa mengendarai unta, begitu pula putera beliau dari Khadijah yang bernama Abdullah meningg al dalam umur yang masih kecil, setelah itu lahirlah puteri pertama beliau yaitu Zainab kemudian Ruqayyah, Ummu Kultsum dan terakhir lahir puteri kesayangan beliau dari Khadijah yaitu Fatimah.

Semua putera dan puteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat kecuali puteri beliau yang terakhir Fathimah radhiyallahu ‘anha, meninggal 6 bulan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. [30]

Kenangan Nabi pada Khadijah

Jasa dan peran besar Khadijah radhiyallahu ‘anha dalam menopang dakwah dan menghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meniti jalan dakwah Islam meninggalkan kenangan tak terlupakan kepada Khadijah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

استأذنت هالة بنتُّ خويلد -أخت خديجة- على رسول الله صلى الله عليه وسلم، فعرف استئذان خديجة، فارتاح لذلك، فقال: اللهمَّ هالة. قالت: فَغِرْت. فقلت: ما تذكر من عجوز من عجائز قريش، حمراء الشِّدقين، هلكت في الدَّهر، قد أبدلك الله خيرًا منها

“Halah binti Khuwailid -saudarinya Aisyah-pernah meminta izin ke (rumah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas Rasulullah teringat bagaimana cara izinnya Khadijah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terbawa perasaan dan beliau bersabda: “Allahumma Halah.” Aisyah berkata: “Timbullah kecemburuan pada diri saya.” Sayapun berkata: “Masih saja engkau menyebut-nyebut perempuan tua dari Quraisy itu, orangnya sudah berumur, sudah lama meninggal dan Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik bagimu.” [31] [32]

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat dalil tentang anjuran mengingat jasa seseorang, menjaga kecintaan kepadanya, mengingat peran dan jasa teman baik di masa hidupnya atau setelah ia meninggal dan juga menghormati teman dan sahabat orang itu.” [33]

Wafatnya Khadijah

Sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sirah bahwasanya saat terjadi peritiwa muqatha’ah (boikot) yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang benci dengan perkembangan Islam yang ketika itu sudah mulai menunjukkan perkembangan dengan masuk Islamnya beberapa tokoh-tokoh Quraisy yang disegani seperti Hamzah bin Abdilmuttalib dan berhasilnya sebagain sahabat melakukan hijrah ke negri Habasyah dan mendapat perlindungan dari raja Najasyi, maka dilakukanlah aksi pemboikotan oleh orang-orang kafir Quraisy kepada Bani Hasyim dan Bani Abdilmuttalib keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemboikotan berlangsung selama 3 tahun, di mana saat itu ummat Islam yang berjumlah sangat sedikit itu mengalami kesulitan dan cobaan yang luar biasa, terjadi kelaparan di kalangan keluarga Rasulullah yang dihalangi untuk memperoleh bahan makanan dan dihalangi dari pergaulan sehingga banyak di antara mereka yang meninggal, di saat kondisi sulit seperti itu Khadijah radhiyallahu ‘anha tetap setia menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah genap 3 tahun lamanya akhirnya pemboikotan itupun berakhir, namun tak berselang lama setelah peristwa pemboikotan itu terjadi pada tahun itu apa yang disebut oleh para sejarawan dengan Amul Huzni (tahun sedih) bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana secara beruntun meninggal dua orang sosok yang berperan besar dalam membela dan menolong Rasulullah menunaikan beban dakwah yaitu paman beliau Abu Thalib yang meninggal dalam keadaan tidak masuk Islam dan meninggalnya ummul mukminin istri pertama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Para ahli sejarah menyebutkan bahwa berselang 2 bulan 5 hari dari wafatnya sanga paman Abu Thalib lalu diiringi dengan wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha, Khadijah meninggal pada tanggal 10 bulan Ramadhan dalam umur 65 tahun, meninggal pada tahun 10 setelah kenabian, dimakamkan di Al-Hajun. [34]

Referensi

  1. As-Sirah An-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, 1/168.
  2. Siar A’lam An-Nubala’, Imam Az-Dzahabi, 2/110.
  3. As-Sirah An-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, 2/26.
  4. HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak :3/201, Al-Hakim mengatakan hadits ini sanadnya shahih namun tidak dikeluarkan oleh mereka berdua (Al-Bukhari dan Muslim) dalam kitab shahih mereka berdua, Imam Az-Dzahabi juga setuju dengan pentashihan Al-Hakim.
  5. Siar A’lam An-Nubala’, Adz-Dzahabi, 2/109.
  6. Syarah Al-Aqidah Al-Washitiyyah, Syaikh Ibn Utsaimin, 2/279-280.
  7. HR. Muslim no. 1017.
  8. Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Asqalani, 7/137.
  9. HR. Muslim no.2436.
  10. Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Asqalani, 7/137.
  11. HR. Al-Bukhari no. 3818.
  12. Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi, 15/179.
  13. HR. Ahmad dalam Al-Musnad no.24908 (6/117), peneliti Al-Musnad yaitu Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan hadits ini adalah shahih.
  14. Dikutip dari Fathul Baari, Ibn Hajar Asqalani, 7/137.
  15. HR. Muslim no.2552.
  16. Aridhatul Ahwadzi bi Syarh At-Tirmidzi, Ibnul Arabi, 13/252.
  17. HR. Al-Bukhari no. 3820
  18. HR. Muslim no. 2432.
  19. Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 1/105.
  20. HR. Al-Bukhari no.3432.
  21. HR. Muslim no.2430
  22. Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 15/176.
  23. HR. Ahmad dalam Al-Musnad, 1/293. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan hadits ini shahih.
  24. HR. Al-Bazzar dalam Al-Bahruz Zakhkhar: 4/255, At-Thabrani sebagaimana disebutkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa’id : 9/226, beliau (Al-Haitsami) mengatakan: “Diriwayatkan oleh At-Thabrani dan Al-Bazzar dan pada sanadnya ada Abu Yazid Al-Himyari dan saya tidak mengetahui identitasnya adapun sandanya yang lain maka tsiqah. Sanadnya dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari: 7/168, As-Sayukani dalam kitab Dur As-Sahabah (hlm.249)  mengatakan: “Semua sandanya adalah tsiqah kecuali Abu Yazid Al-Himyari ia tidak diketahui identitasnya.
  25. HR. Al-Bukhari no.3820
  26. HR. Muslim no.2432.
  27. Fathul Baari, Ibnu Hajar, 7/138.
  28. Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi, 1/178.
  29. HR. Muslim no.2435.
  30. Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 1/100.
  31. HR. Al-Bukhari no.3821
  32. HR. Muslim no.2437.
  33. Fathul Baari, Ibnu Hajar, 7/137.
  34. Subulul Huda wa Ar-Rasyad fi Sirah Khairil Ibaad, Muhammad bin Yusuf As-Syami, 2/571.

Tinggalkan komentar