Khobar

Definisi Khobar

Khobar adalah segala yang menyempurnakan makna mubtada’ (bagian yang ketika bersama mubtada’ maka kalimat tersebut menjadi sempurna).(( Mulakhos Qowa’id Allughoh Al-‘Arabiyyah hal. 30)) Maka khobar adalah penyempurna makna mubtada’.(( mukhtarot qowa’id allughoh al-‘arabiyyah hal.63))

Contoh 1:
الْمُدَرِّسُ حَاضِرٌ
Guru itu hadir
Pada kalimat diatas, kata حَاضِرٌ adalah khobar marfu’ dengan tanda dhommah karna dalam bentuk isim mufrad

Contoh 2:
الْعَيْنَانِ مُبْصِرَتَانِ
Dua mata ini melihat
Pada kalimat diatas, kata مُبْصِرَتَانِ adalah khobar marfu’ dengan tanda Alif karna dalam bentuk isim Mutsanna

Contoh 3:
الْفَلاَّحُوْنَ مُجِدُّوْنَ
Para petani itu rajin
Pada kalimat diatas, kata مُجِدُّوْنَ adalah khobar marfu’ dengan tanda al-wawu karna dalam bentuk jama’ mudzakkar salim

Contoh 4:
الْمُهَنْدِسَاتُ مَاهِرَاتٌ
Para insinyur itu adalah orang-orang yang ahli
Pada kalimat diatas, kata مَاهِرَاتٌ adalah khobar marfu’ dengan tanda dhommah karna dalam bentuk jama’ muannats salim

Macam- macam khobar ((Mulakhos Qowa’id Allughoh Al-‘Arabiyyah hal. 30-32)) ((mukhtarot qowa’idil lughotil ‘arabiyyah hal. 63-64)):

Khobar memiliki bermacam-macam bentuk diantaranya:

Isim Dzohir (mu’rab atau mabni)

Semua contoh pada contoh diatas adalah khobar dalam bentuk isim dzohir. Isim dzhohir memiliki dua bentuk yakni:

Isim Mu’rab

Isim mu’rab terdiri dari dua macam:

a. Isim jamid
Yakni isim yang lafadz dan maknanya tidak diambil dari fi’il
Contoh: أَسَدٌ (singa), نَهْرٌ (sungai), غُسْنٌ (dahan), تُفَّاحٌ (apel)

b. Isim musytaq
Yakni isim yang diambil dari fi’il dan menunjukkan kepada sifat
Contoh: حَاضِرٌ (hadir), مُبْصِرٌ (melihat), مَاهِرٌ (ahli), شُجَاعٌ (berani)
حُلْوٌ (manis), أَحْمَرُ (merah)

Isim Mabni.

Adapun contoh khobar dalam bentuk isim mabni seperti:
وَ أُوْلَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

(dan mereka adalah orang-orang yang beruntung)
Kata هُمْ pada kata diatas adalah khobar dalam bentuk isim mabni

Jumlah Ismiyah

Jumlah ismiyah adalah kalimat dalam bahasa arab yang diawali dengan isim
Contoh khobar dalam bentuk jumlah ismiyah adalah:
التِّلْمِيْذُ اُمُّهُ مَرِيْضٌ

(murid itu ibunya sakit)
Kata اُمُّهُ مَرِيْضٌ adalah khobar dari mubtada’ dalam bentuk jumlah isimiyah

Jumlah fi’liyah

Jumlah fi’liyah adalah kalimat dalam bahasa arab yang diawali dengan fi’il
Contoh : رَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ

(Rabbmu menciptakan segala sesuatu)
Kata يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ adalah khobar dalam bentuk jumlah fi’liyah

Syibhul jumlah (yang serupa dengan jumlah/kalimat ).

Khobar dalam bentuk Syibhul jumlah dapat berupa kalimat dari :
a. Huruf jar bersama isimnya;
contoh:

الْقلَمُ فِي الْحِقِيْبَةِ

(Polpen itu di dalam tas)
Kata فِيْ الْحَقِيْبَةِ adalah khobar dalam bentuk syibhul jumlah dari huruf jar bersama isimnya

b. Dzorof bersama isimnya;
Contoh:

السَيّارَةُ أمَامَ الأِدارَةِ

(Mobil itu di depan kantor)
Kata أمَامَ الأِدارَةِ adalah khobar dalam bentuk syibhul jumlah dari dzorof bersama isimnya. Adapun أَمَامَ dihukumi mansub karna ada kata yang dihapus (mahdzuf) tersiratnya : مُسْتَقِرٌّ/اِسْتَقَرَّ

Beberapa kaidah – kaidah khobar ((kitab Mulakhos Qowa’id Allughoh Al-‘Arabiyyah hal. 30 dengan beberapa penjelasan tambahan)):

Khobar harus sesuai dengan mubtada’ dari sisi jumlah dan jenisnya.

Contoh 1:
الْمُدَرِّسُ حَاضِرٌ

(Guru itu hadir)
Pada kalimat diatas, kata الْمُدَرِّسُ adalah mubtada’ mufrad (tunggal) dalam bentuk mudzakkar dan kata حَاضِرٌ adalah khobar mufrad dalam bentuk mudzakkar. Sehingga antara mubtada’ dan khobarnya sama dari sisi jumlah dan jenisnya. Jika kita melihatnya dari sisi i’rab, maka antara mubtada’ dan khobar juga harus memiliki i’rab yang sama. Kata الْمُدَرِّسُ adalah mubtada’marfu’ dengan tanda dhommah demikian pula حَاضِرٌ adalah khobar ’marfu’ dengan tanda dhommah.

Contoh 2:
الْمُدَرِّسَانِ حَاضِرَانِ

(Dua Guru itu hadir)
Pada kalimat diatas, kata الْمُدَرِّسَانِ adalah mubtada’ mutsanna dalam bentuk mudzakkar dan kata حَاضِرَانِ adalah khobar mutsanna dalam bentuk mudzakkar. Sehingga antara mubtada’ dan khobarnya sama dari sisi jumlah dan jenisnya. Jika kita melihatnya dari sisi i’rab, maka antara mubtada’ dan khobar juga harus memiliki i’rab yang sama. Kata الْمُدَرِّسَانِ adalah mubtada’marfu’ dengan tanda alif demikian pula حَاضِرَانِ adalah khobar ’marfu’ dengan tanda Alif.

Contoh 3:
الْمُدَرِّسُوْنَ حَاضِرُوْنَ

(Guru- Guru (lebih dari dua) itu hadir)
Pada kalimat diatas, kata الْمُدَرِّسُوْنَ adalah mubtada’ dalam bentuk jama’ mudzakkar salim dan kata حَاضِرُوْنَ adalah khobar dalam bentuk jama’ mudzakkar salim. Sehingga antara mubtada’ dan khobarnya sama dari sisi jumlah dan jenisnya. Jika kita melihatnya dari sisi i’rab, maka antara mubtada’ dan khobar juga harus memiliki i’rab yang sama. Kata الْمُدَرِّسُوْنَ adalah mubtada’marfu’ dengan tanda rofa’ al-wawu demikian pula حَاضِرُوْنَ adalah khobar ’marfu’ dengan tanda al-wawu.

Jika mubtada’ berupa jama’ tidak berakal

(misalnya: الْمَنَازِلُ،الْجِبَالُ، السَّيَّارَاتُ، الْأَشْجَارُ dan seterusnya), maka khobar boleh mufrad muannats atau jama’ muannats

Contoh 1:
الْجِبَالُ عَالِيَةٌ/ الْجِبَالُ عَالِيَاتٌ

(gunung-gunung itu tinggi)
Kata الْجِبَالُ adalah mubtada’ marfu’ dengan tanda dhommah dalam bentuk jama’ taktsir yang tidak berakal sedangkan kata عَالِيَةٌ adalah khobar marfu’ dengan tanda dhommah dalam bentuk isim mufrad muannats . Demikian pula pada kata عَالِيَاتٌ adalah khobar marfu’ dengan tanda dhommah dalam bentuk jama’ muannats salim.

Contoh 2:
السَّيَّارَاتُ مُسْرِعَةٌ/ السَّيَّارَاتُ مُسْرِعَاتٌ

(mobil-mobil itu melaju kencang)
Kata السَّيَّارَاتُ adalah mubtada’ marfu’ dengan tanda dhommah dalam bentuk jama’ muannats salim yang tidak berakal sedangkan kata مُسْرِعَةٌ adalah khobar marfu’ dengan tanda dhommah dalam bentuk isim mufrad muannats . Demikian pula pada kata مُسْرِعَاتٌ adalah khobar marfu’ dengan tanda dhommah dalam bentuk jama’ muannats salim.

Khobar yang hukumnya boleh di depan kalimat ((Mulakhos Qowa’id Allughoh Al-‘Arabiyyah hal. 33))

Khobar hukumnya boleh didahulukan dalam beberapa keadaan:

a. Apabila hendak menonjolkan makna khabar;
Contoh:

مَمْنُوْعٌ التَّدْخِيْنُ

(dilarang merokok)
Kata مَمْنُوْعٌ adalah khobar yang dikedepankan, marfu’ dengan tanda dhommah, sedangkan التَّدْخِيْنُ adalah mubtada’ yang diakhirkan, marfu’ dengan tanda dhommah

b. Apabila mubtada’ dan khobar didahului oleh huruf nafi atau istifham dan khobarnya berupa sifat.
Contoh:

أَ قَائِمٌ أَنْتَ ؟

(apakah engkau berdiri?)
Kata قَائِمٌ adalah khobar yang dikedepankan, marfu’ dengan tanda dhommah, sedangkan أَنْتَ adalah dhomir mabni yang menempati posisi rofa’ sebagai mubtada’ yang diakhirkan

c. Apabila khobar berupa syibhul jumlah dan mubtada’nya ma’rifat
Contoh:
فِيْ التَّعّنِّيْ السَّلاَمَةُ

(di dalam kehati hatian ada keselamatan )
Kata فِيْ التَّعّنِّيْ adalah khobar yang didahulukan (khobar muqoddam) berupa jar majrur dan السَّلاَمَةُ adalah mubtada’ yang diakhirkan, marfu’ dengan tanda dhommah

أَمَامَ الْقَاضِيْ قَائِلُ الْحَقِّ (di depan hakim ada pembicara kebenaran )
Kata أَمَامَ الْقَاضِيْ adalah khobar yang didahulukan (khobar muqoddam) berupa dzhorof dan السَّلاَمَةُ adalah mubtada’ yang diakhirkan, marfu’ dengan tanda dhommah

Khobar yang hukumnya wajib di dahulukan ((Mulakhos Qowa’id Allughoh Al-‘Arabiyyah hal. 33-34))

Khobar hukumnya wajib didahulukan dalam beberapa keadaan:

a. Apabila khobar berupa syibhul jumlah dan mubtada’nya nakirah tanpa disifati dan tanpa diidhofahkan
Contoh:
فِيْ بَيْتِنَا رَجُلٌ

(di dalam rumah kami ada seorang lelaki )
Kata فِيْ بَيْتِنَا adalah khobar yang didahulukan (khobar muqoddam) berupa jar dan majrur dan رَجُلٌ adalah mubtada’ yang diakhirkan, marfu’ dengan tanda dhommah

عِنْدِيْ دِيْنَارٌ (aku memiliki satu dirham )
Kata عِنْدِيْ adalah khobar yang didahulukan (khobar muqoddam) berupa syibhul jumlah dan دِيْنَارٌ adalah mubtada’ yang diakhirkan, marfu’ dengan tanda dhommah

b. Apabila khobar berupa lafadz yang harus di depan, misalnya isim istifham
Contoh:

مَتَى الْإِمْتِحَانُ ؟

(kapan ujian? )
Kata مَتَى adalah khobar yang didahulukan (khobar muqoddam) berupa isim istifham dan الْإِمْتِحَانُ adalah mubtada’ yang diakhirkan, marfu’ dengan tanda dhommah

c. Apabila mubtada’ bersambung dengan dhomir yang kembali kepada sebagian khabar
Contoh:

لِلسَّلاَمِ تَبَعَاتُهُ

(bagi keselamatan ada konsekuensi-konsekuensinya )
Kata لِلسَّلاَمِ adalah khobar yang didahulukan (khobar muqoddam) berupa jar dan majrur dan تَبَعَاتُ adalah mubtada’ yang diakhirkan, marfu’ dengan tanda dhommah dan ha adalah dhomir mubtada’ yang kembali ke khobar

Khobar yang hukumnya boleh di depan dan di belakang ((mukhtarot qowa’id allughoh al’arabiyyah hal.64))

Jika mubtada’nya ma’rifat maka khobar boleh di awalkan didepan mubtada’ dan boleh diakhirkan.
Contoh:

الرَّجُلُ فِيْ الْبَيْتِ

(seorang laki-laki di dalam rumah )
Boleh pula seseorang mengatakan :
فِيْ الْبَيْتِ الرَّجُلُ (seorang laki-laki di dalam rumah )

Khobar yang boleh di hapus ((Mulakhos Qowa’id Allughoh Al-‘Arabiyyah hal. 34-35))

Khobar boleh dihapus pada beberapa keadaan berikut:

a. Apabila mubtada’nya setelah kata لَوْ لاَ
Contoh:
لَوْ لاَ الطَّبِيْبُ مَا شُفِيَ الْمَرِيْضُ

(kalau tidak ada dokter niscaya pasien tidak sembuh )
Tersiratnya: لَوْ لاَ الطَّبِيْبُ مَوْجُوْدٌ مَا شُفِيَ الْمَرِيْضُ
khobar مَوْجُوْدٌdihapus

b. Apabila mubtada’nya menunjukkan sumpah secara jelas
Contoh:

لَعُمْرُكَ إِنَّ الْحَيَاةَ كِفَاحٌ

(demi umurmu, sesungguhnya hidup ini perjuangan )
tersiratnya : لَعُمْرُكَ قَسَمِيْ إِنَّ الْحَيَاةَ كِفَاحٌ
khobar قَسَمِيْ dihapus

c. Apabila mubtada’nya diathofkan dengan wawu yang menunjukkan makna mushahabah (kebersamaan)
Contoh :

كُلُّ جُنْدِيٍّ وَ سِلاَحُهُ

(setiap prajurit bersama senjatanya )
tersiratnya : كُلُّ جُنْدِيٍّ وَ سِلاَحُهُ مُقْتَرَنَانِ
khobar مُقْتَرَنَانِ dihapus