Mandi

Pengertian Mandi

Mandi adalah mengguyur seluruh tubuh dengan air suci dengan cara tertentu [1]

Ketentuan Syariat Tentang Mandi

Mandi disyariatkan berdasarkan Al-Quran serta as-Sunnah. Allah berfirman,

 وَ إِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا

“Dan jika kamu junub, maka mandilah.” [2]

Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

 وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِى سَبِيْلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوْا

“(Dan jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” [3]

Rasulullah ﷺ bersabda,

 إِذَا تَجَاوَزَ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ

“Jika suatu kemaluan bersentuhan dengan kemaluan lain, maka mandi telah wajib atas keduanya.” [4]

Syarat Sah Mandi [5]

Syarat sah mandi adalah niat. Sebagaimana hadits dari Amiril Mu’minin, ‘Umar bin Khaththab, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

  إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وِ إِنَّمَا لِكُلِّ إِمْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang ia niatkan.” [6]

Rukun Mandi [7]

Rukun mandi adalah meratakan air ke seluruh badan dan menyampaikannya ke semua rambut dan kulit. Diantara dalil yang menunjukkan bahwa mengguyurkan air ke seluruh badan merupakan rukun mandi adalah hadits ummu salamah, ia berkata,

 يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ إِنِّيْ إِمْرَأَةٌ أَشَدُّ ضَفْرُ رَأْسِيْ فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ لاَ إِنَّمَا يَكْفِيْكَ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تَفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ

“ Wahai Rasulullah, aku adalah waanita yang suka mengepang rambutku. Apakah aku harus melepaskannya untuk mandi junub? Beliau menjawab, ‘Tidak, cukup bagimu menyiram air pada kepalamu sebanyak tuga kali siraman, kemudian engkau guyurkan air ke seluruh tubuhmu lantas membersihkannya.” [8]

Tata Cara Mandi

Adapun tata cara mandi adalah sebagai berikut:

Hendaklah seseorang yang mandi membaca basmalah seraya meniatkan mandinya untuk menghilangkan hadats besar, lalu membasuh kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, lalu beristinja’( membersihkan kotoran) dan membasuh kemaluannya, duburnya dan bagian anggota tubuh di sekitar keduanya dari kotoran, lalu berwudhu’ seraya berniat menghilangkan hadats kecil tanpa membasuh kedua kakinya, karna ia dibolehkan membasuh keduanya bersama wudhu’  atau menangguhkan membasuh keduanya hingga akhir mandinya, lalu membenamkan kedua telapak tangannya ke dalam air, lalu mengurai-ngurai pangkal rambut kepalanya dengan kedua telapak tangannya [9], lalu membasuh kepalanya dan kedua telinganya sebanyak tiga kali dengan tiga kali cidukan, lalu menyiramkan air ke bagian tubuhnya yang sebelah kanan dari atas ke bawah, lalu menyiramkan air ke bagian tubuhnya yang sebelah kiri. Pada saat menyiramkan air ke tubuh, maka yang perlu diperhatikan ialah bagian tubuh yang tersembunyi yang sulit tersiram air, seperti pusar, bagian tubuh yang ada di bawah kedua ketiak, bagian tubuh yang ada dibawah kedua lutut dan lain-lain. [10]

Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah,” Apabila Rasulullah ﷺ hendak mandi jinabah, beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya sebelum memasukkan keduanya ke dalam tempat air, kemudian membasuh kemaluannya dan berwudhu’  seperti wudhu untuk menunaikan sholat, kemudian membasahi rambutnya dan menyiram kepalanya sebanyak tiga kali, selanjutnya menyiramkan air ke seluruh tubuhnya. [11]

Hal-Hal yang Mewajibkan Mandi

Berikut adalah  hal-hal yang mewajibkan mandi yaitu:

1. Jinabah

Termasuk didalamnya jima’ (bersetubuh), yaitu bertemunya dua kemaluan meskipun tidak sampai keluar air mani (inzal); dan inzal, yaitu keluarnya air mani dalam keadaan terasa enak, baik saat tidur maupun terjaga, baik dari laki-laki maupun dari wanita, berdasarkan firman Allah,

 وَ إِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا

“Dan jika kamu junub, maka mandilah.” [12]

Dan juga sabda Rasulullah ﷺ,

 إِذَا الْتىَقَى الْخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ

“Apabila dua kemaluan bertemu, maka mandi telah wajib atas keduanya.” [13]

2. Berhentinya darah haid atau nifas

Hal ini berdasarkan firman Allah,

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah,’Haid itu ialah suatu kotoran.’ Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” [14]

Dan juga sabda Rasulullah ﷺ,

 أُمْكُثِيْ قَدْرَ مَا كَانَتْ تَحْبِسُكِ حَيْضَتُكِ ثُمَّ اغْتَسِلِيْ

“Berdiam dirilah selama (darah) haidhmu menahanmu, kemudian mandilah” [15]

3. Masuk Islam

Orang kafir yang masuk islam diwajibkan mandi, karna Rasulullah pernah memerintahkan Tsumamah al-Hanafi untuk mandi ketika ia masuk Islam [16]. Dan juga  diriwayatkan dari Qais bin Ashim, ia berkata,

 أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أُرِيْدُ الْإِسْلاَمَ، فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Aku mendatangi Nabi (karna) aku ingin masuk islam. Maka beliau memerintahkan untuk mandi dengan air dan daun bidara.” [17]

4. Kematian

Jika seorang muslim meninggal, maka wajib dimandikan, berdasarkan perintah Rasulullah mengenai hal tersebut, diamana beliau memerintahkan memandikan jenazah Zaenab putrinya sebagaimana telah dijelaskan di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, no.1255. [18]

Hal-Hal yang Difardhukan Dalam Mandi

Adapun hal-hal yang difardhukan dalam mandi adalah:

1. Niat, yaitu berketetapan hati untuk menghilangkan hadats besar dengan cara mandi, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

  إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وِ إِنَّمَا لِكُلِّ إِمْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang ia niatkan.” [6]

2. Menyiramkan air ke seluruh tubuh secara merata dengan menggosok-gosok bagian anggota tubuh yang mungkin digosok, serta menyiramkan air ke bagian anggota tubuh yang tidak mungkin digosok, sehingga diyakini bahwa air tersiram secara merata ke seluruh tubuh

3. Menggosok sela-sela jari dan mengurai-urai rambut kepala dan rambut yang lainnya serta memperhatikan bagian-bagian anggota tubuh yang sulit tersiram air seperti pusar dan yang lainnya. [19]

Hal-Hal yang Disunnahkan Dalam Mandi

Diantara hal-hal yang disunnahkan dalam mandi adalah:

  1. Membaca bismillah, karna hal itu disyariatkan di dalam melaksanakan setiap amal yang baik
  2. Membasuh kedua telapak tangan sebagai permulaan sebelum keduanya dimasukkan ke dalam tempat air sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits yang lalu
  3. Dimulai dengan menghilangkan kotoran
  4. Mendahulukan anggota wudhu’ sebelum membasuh tubuh
  5. Berkumur, menghirup air serta membasuh lubang kedua telinga; yakni bagian dalamnya. [20]

Hal-Hal yang Dimakruhkan Dalam Mandi

Berikut adalah hal-hal yang dimakruhkan dalam mandi:

  1. Berlebih-lebihan dalam menggunakan air, karna Nabi ﷺmandi cukup dengan air satu sha’, yaitu 4 mud (2,75 Liter [21] ) [22]
  2. Mandi di tempat yang bernajis, karna dikhawatirkan akan terkena najis
  3. Mandi dengan air lebihan dari air yang dipakai bersuci oleh istri, karna Rasulullah ﷺmelarang bersuci dengan air lebihan dari air yang dipakai bersuci oleh istri sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya
  4. Mandi tanpa penutup, berupa dinding atau benda lainnya, berdasarkan sebuah keterangan yang dituturkan oleh Maimunah,

“Aku meletakkan air untuk Nabi dan aku menutupi beliau lalu beliau mandi.” [23]

Jika mandi tanpa penutup itu tidak dimakruhkan, niscaya Rasulullah ﷺ tidak akan memakai penutup ketika mandi. Hal ini juga berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ,

“Sesungguhnya Allah maha pemalu lagi Maha Tertutup, yang mencintai orang-orang yang pemalu. Karna itu, jika salah seorang diantara kamu mandi, hendaklah ia memakai penutup.” [24]

  1. Mandi di air yang tergenang, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

“Hendaklah salah seorang diantara kamu tidak mandi di air yang tergenang, sedangkan ia dalam keadaan junub.” [25]

Mandi-Mandi yang Disunnahkan

Mandi-mandi yang disunnahkan diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Mandi Jum’at

Mandi Jum’at adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan) bagi mereka yang hendak menghadiri sholat jum’at. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas, serta pendapat jumhur Ulama’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ,

 مَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمْعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ

“Barangsiapa yang mendatangi sholat Jum’at, maka hendaklah ia mandi (terlebih dahulu).” [26]

Tetapi hal itu menjadi wajib bagi orang yang memiliki bau badan tidak sedap yang menganggu para Malaikat dan Jama’ah lainnya, yang tidak dihilangkan kecuali dengan mandi. Demikian pemaparan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan pendapat ini yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,

 الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

“Mandi pada hari jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.” [27]

2. Mandi untuk dua hari raya

‘Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang mandi besar, lalu ia menjawab,

Ketika hari jum’at, hari Arafah, hari ‘idul Adh-ha dan hari ‘idul Fitri.[28]

Diriwayatkan dari (Imam para tabi’in) Sa’id bin Musayyab, ia berkata, “Amalan sunnah pada hari ‘idul fitri ada tiga, yaitu: berjalan kaki menuju tempat sholat (tanah lapang), makan sebelum berangkat, dan mandi sebelum berangkat.[29]

3. Mandi karena Ihram haji

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, dari bapaknya, “seseungguhnya ia melihat Nabi menanggalkan (pakaian) karna Ihram dan beliau mandi (terlebih dahulu).[30]

4. Mandi karna memasuki kota Makkah

Sebagaimana disebutkan dalam hadits nafi’, “Sesungguhnya beliau (Ibnu Umar) tidak datang ke Makkah melainkan bermalam ke Dzi Thuwa sampai subuh dan mandi, kemudian ia masuk Makkah siang hari, dan beliau menceritakan dari Nabi bahwa beliau melakukannya.” [31]

5. Mandi Hari Arafah

Bagi para jamaah haji yang hendak wukuf di Arafah disunnahkan mandi terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan hadits ‘Ali bin Abi Thalib yang pernah ditanya tentang mandi besar, beliau menjawab,“Ketika hari jum’at, hari Arafah, hari ‘idul Adh-ha dan hari ‘idul Fitri.” [28]

6. Mandi setiap kali jima’

Hal ini berdasarkan hadits Abu Rafi’, “ Sesungguhnya Nabiﷺ pada suatu malam mengelilingi istri-istrinya, beliau mandi setiap (selesai mendatangi) seorang dari mereka. Ditanyakan kepada beliau,’ Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menjadikannya hanya dengan sekali mandi?, Beliau menjawab,”Ini lebih suci, lebih baik, dan lebih bersih.” [32]

Namun jika hal itu tidak memungkinkan, maka hendaklah ia berwudhu’ karna hal tersebut dapat membuat bugar kembali. Diperbolehkan pula seseorang yang jima’ dua kali atau lebih, baik dengan satu orang istri maupun lebih, cukup melakukan mandu satu kali. Hal ini berdasarkan hadits dari Anas, “ Sesungguhnya Nabi mengelilingi istri-istrinya dengan sekali mandi.” [33]

7. Mandi setelah memandikan jenazah

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

 مَنْ غَسَلَ مَيِّتًا فَلْيَغْتَسِلْ

“Barangsiapa yang memandikan jenazah, maka hendaklah ia mandi.” [34]

8. Mandinya wanita mustahadhah setiap akan melakukan sholat

Wanita yang mengalami istihadhah dianjurkan untuk melakukan mandi setiap akan melakukan sholat. Hal ini berdasarkan kisah Ummu Habibah ketika ia istihadhah, sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah (istri Nabi) ia berkata,

Ummu Habibah mengalami istihadhah selama tujuh tahun, ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ akan hal itu, lalu Rasulullah ﷺ menyuruh untuk mandi, seraya bersabda,”ini bukan darah haidh,” maka Ummu Habibah mandi setiap kali akan melakukan shalat.[35]

Berkata Imam Syafi’i:

Rasulullah hanyalah memerintahkannya untuk mandi kemudian sholat. Tidak disebutkan didalamnya bahwa beliau memerintahkannya untuk mandi setiap kali shalat. Dan aku tidak ragu –insyaAllah- bahwa mandi baginya (setiap kali shalat) adalah anjuran saja, selain yang diperintahkan kepadanya, dan itu keluasan untuknya.” [36]

9. Mandi setelah pingsan

Hal ini berdasarkan hadits Aisyah yang menceritakan tentang sakit kerasnya Rasulullah ﷺ, ia berkata, ‘ Rasulullah bersabda,

Apakah orang-orang sudah sholat? Kami berkata, ‘belum, mereka menunggu anda’ Beliau bersabda,’Letakkan air bejana untukku.’ Kamipun melakukannya. Lalu beliau mandi dan hendak bangkit, namun beliau pingsan. Lalu sadar dan bersabda,”Apakah orang-orang sudah sholat?’ Kami berkata,’Belum, mereka menunggu Anda, Wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda,’Letakkan air bejana untukku.’ Kemudian beliau duduk dan mandi, beliau hendak bangkit, namun beliau pingsan lagi.[37]

Beberapa ketentuan Hukum terkait dengan mandi [38]

Adapun beberapa ketentuan hukum yang berkaitan dengan masalah mandi diantaranya adalah:

  1. Apabila mani yang keluar bukan karna syahwat, seperti karna sakit atau karna dingin, maka tidak wajib mandi sebagaimana pendapatnya Imam Malik, Abu hanifah, Ahmad. Dan pendapat ini yang juga  dipilih oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin. Diantara dalilnya adalah hadits Nabi ﷺ,

Jika engkau mengeluarkan air dengan memancar, maka engkau wajib mandi.[39]

Berkata Imam Syaukani,

Memancar adalah menyembur, dan tidaklah akan demikian jika tidak disertai syahwat.[40]

Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi,

“Di dalam hadits ini terdapat peringatan tentang mani yang keluar karna bukan syahwat, baik dikarnakan sakit ataupun dingin, maka tidak wajib mandi.” [41]

2. Diperbolehkan bagi seorang yang junub untuk mencukur rambut, menggunting kuku, keluar ke pasar atau hal-hal yang semisalnya. Ini adalah pendapat Syaikh Abu Malik Kamal. Dan hadits yang menerangkan tentang ancaman bagi seorang yang meninggalkan tempat pada tubuh yang tidak dibasuh ketika mandi, haditsnya lemah, tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Hadits tersebut berbunyi,

مَنْ تَرَكَ مَوْضِعَ شَعْرَةٍ مِنْ جَنَابَةٍ لَمْ يَغْسِلْهَا فُعِلَ بِهِ كَذَا وَ كَذَا مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang meninggalkan tempat sehelai rambut pada tubuhnya yang tidak dibasuhnya, maka ia akan disiksa seperti ini dan ini di neraka.” [42]

3. Disunnahkan mandi dengan air satu sha’ hingga 5 mud. Jika kurang atau perlu tambahan hingga 3 sha’ dan seterusnya, maka hal tersebut boleh dilakukan. Namun secara prinsip, tidak diperbolehkan berlebih-lebihan dalam mengunakan air untuk wudhu’ maupun mandi. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata,

“Nabi berwudhu dengan satu mud dan beliau mandi dengan satu mud dengan satu sha’ (empat mud) sampai lima mud.” [43]

4. Tidak wajib mengurai (membuka kepang) rambut ketika mandi junub. Namun wajib dilakukan ketika haidh, dan ini adalah pendapat jumhur ulama’. Diantaranya adalah madzhab Hambali, Azh-Zhahiriyah dan sebagian ulama’ Malikiyah. Ini juga pendapat yang dipilih oleh Al-Hasan Al-Bashri, Thawus dan AN-Nakha’I sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata:

“Wahai Rasulullah ﷺ, aku adalah wanita yang suka mengepang rambutku. Apakah aku harus melepaskannya untuk mandi junub?’ Beliau menjawab,’Tidak, cukup bagimu menyiram air pada kepalamu sebanyak tiga kali siraman, kemudian engkau guyurkan air keseluruh tubuhmu lantas membersihkannya.” [44]

Dan dalam riwayat dari ‘Aisyah,” sesungguhnya Nabi berkata kepadanya ketika ia sedang haidh, lepaskan ikatan rambutmu dan mandilah.” [45]

5. Suami istri diperbolehkan mandi bersama dari satu wadah, meskipun masing-masing meliaht aurat yang lain. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah ia berkata,

“Aku pernah mandi (janabah) bersama Rasulullah dengan satu tempat air tangan kami selalu bergantian (mengambil air).” [46]

6. Diperbolehkan menggunakan shampoo ketika mandi. Sebagaimana fatwa Syaikh bin Baz

7. Tidak makruh mengeringkan badan dengan kain, handuk, sapu tangan, tissue, atau yang semisalnya. Diantara salafus shalih yang membolehkan menyeka badan sesudah mandi dan wudhu adalah: Utsman bin Affan, Hasan bin ‘Ali, Anas bin Malik, Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Al-qamah, Asy-Sya’bi, Sufyan Atas-Tsauri dan Ishaq bin Rahawah, pendapat ini yang dipegang oleh Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan satu riwayat dari Madzhab Syafi’iyah. Serta ini pendapat yang dipilih oleh Syaikh Abu Malik Kamal. [47]

8. Seseorang yang mandi janabah diperbolehkan langsung shalat tanpa berwudhu’, selama wudhu’nya ketika mandi tidak batal. Sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah ia berkata,

“Rasulullah mandi janabah dan shalat dua rakaat, kemudian shalat subuh dan aku tidak melihatnya berwudhu’ lagi setelah mandi.” [48]

Diriwayatkan pula dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar, “ Bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Umar mandi kemudian berwudhu’, maka saya berkata kepadanya,’wahai bapakku, bukankah cukup bagimu mandi dan wudhu’?’ Ibnu ‘Umar menjawab, ‘Iya, akan tetapi saya kadang-kadang memegang kemaluanku, maka aku berwudhu.” [49]

  1. Cukup sekali mandi untuk haidh dan janabah, atau janabah dan jum’at dan sebagainya dengan dua niat bersamaan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama’ dan pendapat ini yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri. Hal ini juga sebagaimana fatwa dari Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’,

“Barangsiapa yang diwajibkan baginya untuk melaksanakan satu mandi wajib atau lebih, maka cukup baginya melaksanakan satu kali mandi wajib yang merangkap mandi-mandi wajib lainnya, dengan syarat dalam mandi itu ia meniatkan untuk menghapuskan kewajiban-kewajiban mandi lainnya.” [50]

  1. Ensiklopedia Fiqih Islam : 57
  2. Al-Quran Surat Al-Ma’idah:6
  3. Al-Quran Surat An-Nisa’: 43
  4. Diriwayatkan oleh Muslim ( Lihat Minhajul Muslim:353)
  5. Lihat Ensiklopedia Fiqih Islam:60
  6. Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 1:1 dan Muslim juz 3:1907
  7. Lihat Ensiklopedia Fiqih Islam : 60
  8. Muslim Juz 1:330, lafadz ini miliknya, Tirmidzi juz 1: 105, Nasa’I Juz 1;241, Abu Dawud:251, dan Ibnu Majah:603
  9. Ketentuan tersebut ditunjukkan kepada orang laki-laki,  sedangkan bagi perempuan, maka ia cukup dengan menyiramkan air ke kepalanya sebanyak tiga kali, lalu mengurutnya dan tidak perlu melepaskan gulungan rambutnya. Hal ini berdasarkan keterangan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no.105 dari Ummu salamah (Lihat Minhajul Muslim :357 dalam catatan kaki)
  10. Minhajul Muslim:357
  11. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no.104 dan ia menshahihkannya
  12. Al-Quran Surat Al-Ma’idah:6
  13. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no.608
  14. Al-Quran Surat Al-Baqarah: 222
  15. Diriwayatkan oleh Muslim
  16. Diriwayatkan oleh al-Hafidz Abdurrazzaq, 6/9/9834. Asalnya dalam kitab ash-Shahihain, al-Bukhari, no.4372, Muslim, no.1764
  17. HR.Abu Dawud:355, Lafadz ini milinya, Tirmidzi juz 2:605, dan Nasa’I juz 1:188 . Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil:128
  18. Lihat Minhajul Muslim:354
  19. Lihat Minhajul Muslim:355
  20. Lihat Minhajul Muslim:355-356
  21. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Dr.Wahbah az-Zuhaili, 1/142
  22. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no.201
  23. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no.266
  24. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no.4012
  25. Diriwayatkan oleh Muslim, no.283
  26. HR.Bukhari Juz 1:877 dan Muslim juz 2:844
  27. Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 1: 820, dan Muslim juz 2: 846
  28. HR.Asy-Syafi’I :114 (Lihat Ensiklopedia fiqih Islam :66)
  29. Lihat Ensiklopedia fiqih Islam :67
  30. HR.Tirmidzi Juz 3:830. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul ghalil :1449
  31. HR.Bukhari Juz 2:1680 dan Muslim juz 2: 1259, lafadz ini miliknya
  32. Abu Dawud:219 dan Ibnu Majah:590, lafadz miliknya. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani
  33. HR.Muslim Juz 1:309
  34. HR.Tirmidzi Juz 3:993, Abu Dawud :3161 dan Ibnu Majah:1463, lafadz ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil:144
  35. HR.Bukhari juz 1:321, lafadz ini miliknya dan Muslim juz 1 :334
  36. Lihat Ensiklopedia Fiqih Islam:69
  37. Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari juz 1:655, lafadz ini miliknya dan Muslim juz 1:418
  38. Lihat Ensiklopedia Fiqih Islam: 59, 63-65
  39. HR. Ahmad, Abu Dawud: 206, dan Nasa’i: 193. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil:125.
  40. Lihat Ensiklopedia Fiqih Islam:59
  41. Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah (Lihat Ensiklopedia Fiqih Islam:59)
  42. HR.Abu Dawud:249 dan Ibnu Majah:599. Hadits ini didha’ifkan oleh Syaikh  Al-Albani dalam As-Silsilah Adh-Dha’ifah Juz 2:930
  43. Bukhari Juz 1:198 dan Muslim juz 1:325, lafadz ini miliknya
  44. HR.Muslim Juz 1:330, Lafadz ini miliknya, Tirmidzi Juz 1:105, Nasa’I Juz 1:241, Abu Dawud:251, dan Ibnu Majah:603
  45. HR.Ibnu Majah:641. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil :134
  46. Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 1:258 dan Muslim Juz 1:321, lafadz ini miliknya
  47. Llihat Ensiklopedia Fiqih Islam:65
  48. HR.Abu Dawud:250
  49. Malik dalam al-Muwaththa’ 1/43 dan dishahihkan sanadnya oleh Al-Arna’uth dalam ta’liqnya dalam Syarhus Sunnah 1/13
  50. Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah :5/328