Masjid

Definisi

Menurut bahasa, kata masjid (مسجد) diambil dari akar kata sajada (سجد), yang artinya bersujud, lalu di antara kata turunannya adalah kata masjid (مسجد) yang arti sebenarnya adalah tempat sujud.

Sedangkan menurut istilah masjid adalah tempat yang sengaja disiapkan sebagai tempat melakukan shalat secara terus menerus. ((Mu’jam Lughah Al-Fuqaha’, Dr. Muhammad Rawas, hlm. 397.)) Lantas penggunaan masjid dalam syariat lebih luas lagi dengan menamakan segala bagian dari bumi yang digunakan untuk sujud kepada Allah di atasnya dinamakan sebagai masjid, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

جُعِلَت لي الأرض مسجداً وطهوراً، فأيُّما رجل من أمّتي أدركته الصلاة، فليصلِّ

“Telah dijadikan tanah (bumi) ini bagiku sebagai masjdi dan alat bersuci, maka dimanapun seseorang itu mendapatkan waktu shalat hendaknya dia shalat di sana.” ((HR. Al-Bukhari no. 335 dan Muslim no. 521))

Az-Zarkasyi berkata: “Mengingat sujud adalah gerakan yang paling mulia dalam shalat, karena kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya (adalah ketika sujud), maka nama tempat shalat terambil dari kata ini, sehingga orang menyebutnya masjid, dan mereka tidak menyebutnya marka’ (مركع:tempat rukuk), kemudian urf (adat kebiasaan) kemudian mengkhususkan kata masjid digunakan untuk menyebut tempat yang sudah disiapkan untuk dijadikan tempat shalat 5 waktu, sehingga mushalla (lapangan) yang dipakai sebagai tempat berkumpul guna melakukan shalat ied tidak masuk dalam pengertian masjid, maka hukum masjid tidak berlaku padanya.” ((I’lam As-Sajid bi Ahkamil Masajid, Az-Zarkasyi, hlm. 27))

Keutamaan Masjid

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan kata masjid di dalam Al-Quran pada 18 tempat, jika hal ini menunjukkan kepada sesuatu, maka ini menunjukkan bahwa masjid sebagai tempat ibadah kaum muslimin memiliki kedudukan yang begitu tinggi dalam Islam.

Bahkan dalam beberapa ayat, Allah subhanahu wa ta’ala menyandarkan kata masjid kepada nama-Nya yang mulia sebagai bentuk idhafah tasyrif (penyandaran yang menunjukkan penghormatan dan memuliakan), semisal pada ayat:

ومن أظلم ممن منع مساجد الله أن يذكر فيها اسمه

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjd Allah untuk menyebut nama-Nya.” ((QS. Al-Baqarah : 114))

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” ((QS. At-Taubah : 18))

Begitu pula dalam ayat:

وَأَنَّ ٱلْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah, maka janganlah kalian menyembah selain Allah.” ((QS. Al-Jin : 18))

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah (masjid Allah), mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya.” ((HR. Muslim no. 2699))

Dalam hadits shahih lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أحب البلاد إلى الله مساجدها وأبغض البلاد إلى الله أسواقها

“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasar.” ((HR. Muslim no. 671))

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid, karena di tempat ini dilakukannya ketaatan dan tempat ini dibangun atas dasar ketakwaan kepada Allah, sedangkan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar karena tempat ini merupakan tempat terjadinya penipuan, riba, sumpah palsu, mengingkari janji, berpalingnya manusia dari berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan perkara-perkara sejenis lainnya.” ((Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi, 5/177.))

Masjid yang Paling Utama

Ada 3 masjid yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki keutamaan dan kelebihan dibandingkan dengan masjid-masjid lainnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ ؛ مَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الأَقْصَى ولفظ البخاري : لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ : المسجد الحرام ومسجد الرسول -صلى الله عليه وسلم- ومسجد الأقصى.

Tidak ada keutamaan bepergian (ke suatu masjid) kecuali bepergian mengunjungi 3 masjid, (yaitu) masjidku ini (masjid Nabawwi di Madinah), Majidil Haram (Makkah), dan Masjidil Aqsha (Palestina).” Dalam redaksi Imam Al-Bukhari : “Tidak ada keutamaan bepergian (ke suatu masjid) kecuali bepergian mengunjungi 3 masjid, (yaitu): Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjdil Aqsha.” ((HR. Al-Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397))

Maka secara berurutan dari segi keutamaan adalah Masjidil Haram, Masjid Nabawi kemudian Masjidil Aqsha, dalam hadits shahih lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ، وَصَلاَةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ.

“Shalat di masjid saya ini (Masjid Nabawi) lebih afdhal dari seribu shalat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram, karena shalat di Masjidil Haram lebih afdhal dari seratus ribu shalat di tempat (masjid) lainnya.” ((HR. Ibnu Majah dan Ahmad, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibn Majah : 1/236.))

Dalam riwayat lain disebutkan:

والصلاة في بيت المقدس بخمسمائة صلاة

“Dan shalat di Baitul Maqdis (lebih afdhal) lima ratus shalat (dibanding shalat di masjid lainnya).” ((HR. Al-Bazzar dihasankan oleh beliau, adapun Al-Albani tawaqquf terhadap riwayat ini, Irwa’ Al-Ghalil : 4/342.))

Dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ أَوَّلَ؟ قَالَ: الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى. قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: أَرْبَعُونَ، ثُمَّ قَالَ: حَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ وَالْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ

“Wahai Rasulullah masjid apa yang pertama kali dibangun ?” Beliau menjawab : “Masjidil Haram”. Saya bertanya lagi : “Lalu setelah itu ?” Beliau menjawab : “Masjidil Aqsa”. Saya tanyakan lagi : “Berapa lama antara keduanya ?” Beliaupun menjawab : “Empat puluh tahun, dan dimana saja kalian mendapati waktu shalat, shalatlah ditempat itu, seluruh bumi ini bagimu adalah masjid (tempat shalat).” ((HR. Al-Bukhari no. 425 dan Muslim no. 520))

Keutamaan Membangun Masjid

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ

“(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebutkan nama-Nya.” ((QS. An-Nur: 36))

Banyak para ulama tafsir yang menyebutkan bahwa makna (أن ترفع) pada ayat di atas adalah bahwa Allah memerintahkan agar masjid itu dibangun,  ((Tafsir Al-Quran Al-Azhiim, Ibnu Katsir, hlm. 943.)) Imam At-Thabari mengatakan bahwa pendapat yang paling mendekati kebenaran bahwa makna (أن ترفع) pada ayat 36 surat An-Nur tersebut adalah sebagaimana pendapat Mujahid, beliau (Mujahid rahimahullah)  menyebutkan maknanya adalah Allah memerintahkan agar masjid itu dibangun, hal ini sebagaimana dalam ayat yang semisal dan mirip dengan ayat yang barusan yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail.” ((QS. Al-Baqarah : 127))

Dan makna “membangun atau meninggikan” merupakan makna yang biasanya diartikan kata (الرفع – يرفع) dalam bahasa arab tatkala disandingkan dengan kata bangunan atau rumah.” ((Jami’ Al-Bayan an Ta’wiil Ayil Qur’an, Imam At-Thabari, 19/190.))

Dalam hadits yang shahih dengan lafadz dan redaksi yang banyak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ ولو قدر مَفْحَصِ قَطَاةٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur maka Allah bangunkan baginya rumah di surga.” ((HR. Al-Bazzar, At-Thabrani dalam Al-Mu’jam As-Shagir dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targib 8/109.))

Dalam riwayat lainnya:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.”  ((HR. Al-Bukhari no. 450 dan Muslim no. 533))

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ : عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ ، أَوْ بَيْتًا لابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

“Di antara amalan dan kebaikan yang menyertai seorang mukmin setelah ia meninggal adalah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak shalih yang ia tinggalkan, mushaf yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah untuk ibnu sabil yang ia bangun, sungai yang ia lancarkan aliran airnya atau shadaqah yang ia keluarkan dari harta bendanya saat ia sehat dan masih hidup, semua itu akan mengalir pahalanya setelah ia meninggal.” ((HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib 1/111.))

Keutamaan Berjalan Menuju ke Masjid untuk Melakukan Shalat

Mengangkat derajat, menghapus dosa, dan mendapatkan pahala

Berjalan ke masjid mengangkat derajat, menghapus dosa dan menghasilkan imbalan pahala kebaikan. Dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما من رجل يتطهّر فيُحسن الطهور ثم يعمد إلى مسجد من هذه المساجد إلا كتب الله له بكل خطوة يخطوها حسنة ، ويرفعه بها درجة ، ويحط عنه بها سيّئة

“Tidaklah seorang berwudhu dengan bagus, lalu dia berangkat menuju sebuah masjid melainkan untuk satu langkah yang ia lakukan dituliskan oleh Allah satu pahala kebaikan, diangkat derajatnya dan dihapus satu dosa darinya.” ((HR. Muslim no. 654))

Syaikh Bin Baz rahimahullah mengatakan: “Maka untuk satu langkah saat berjalannya seorang muslim menghasilkan tiga keutamaan: pengangkatan derajat, penghapusan dosa dan pemberian pahala kebaikan.” ((Al-Masaajid, Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, hlm. 30.))

Pahala pada setiap langkah kaki ketika pulang

Dituliskan pahala untuk setiap langkah saat ia pulang ke rumahnya. Dalam hadits yang shahih dari sahabat Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

كان رجل لا أعلم رجلا أبعد من المسجد منه وكان لا تخطئه صلاة. فقيل له أو فقلت له: لو اشتريت حمارا تركبه في الظلماء وفي الرمضاء ؟ فقال: ما يسرني أن منزلي إلى جنب المسجد إني أريد أن يكتب لي ممشاي إلى المسجد ورجوعي إذا رجعت إلى أهلي. فقال: رسول الله صلى الله عليه وسلم قد جمع الله لك ذلك كله وفي لفظ : إن لك مااحتسبت.

“Ada seorang laki-laki yang rumahnya paling jauh dari masjid dan satu shalatpun tidak pernah terlewat darinya, lantas ada orang yang berkata kepadanya atau saya sendiri yang berkata kepadanya : “Seandainya kamu membeli keledai yang bias engkau kendarai (untuk dating shalat ke masjid) di saat malam yang gelap atau di saat terik matahari di sian hari? Dia lantas berkata: “Saya tidak berkenan jika rumah saya dekat masjid, saya ingin agar ditulsikan pahala saat saya berjalan ke masjid dan saat saya pulang dari masjid menuju rumah saya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah subhanahu wa ta’ala telah mengumpulkan untukmu semua yang engkau sebutkan.” Dalam redaksi yang lain: “Sesungguhnya engaku mendapatkan apa yan engkau harapkan pahalanya.” ((HR. Muslim no. 663))

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa seseorang akan mendapatkan pahala saat pulang dari masjid sebagaimana dia juga mendapat pahala saat pergi.” ((Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi, 5/174.))

Menghapuskan dosa dan kesalahan

Berjalan menuju masjid menghapuskan dosa dan kesalahan. Hal ini berdasarkan hadits yang shahih dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات؟، قالوا بلى يا رسول الله، قال إسباغ الوضوء على المكاره، وكثرة الخطى إلى المساجد، وانتظار الصلاة بعد الصلاة، فذلكم الرباط

“Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat kalian? Para sahabat menjawab: “Mau wahai Rasulullah.” Beliau lantas bersabda: “Menyempurnakan wudhu walaupun terdapat kesusahan, memperbanyak langkah menuju ke masjid dan menunggu shalat yan lain setelah selesai melakukan atu shalat, maka itulah Ribaath (jihad fi sabilillah) bagi kalian.” ((HR. Muslim no. 251))

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Memperbanyak langkah ke masjid bisa jadi dengan jauhnya rumah seseorang dari masjid dan seringnya lalu lalang ke masjid itu.” ((Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi, 3/143.))

Berjalan ke masjid setelah menyempurnakan wudhu akan menghapuskan dosa. Dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من توضأ للصلاة فأسبغ الوضوء، ثم مشى إلى الصلاة المكتوبة، فصلاها مع الناس، أو مع الجماعة، أو في المسجد، غفر الله له ذنوبه

“Barangsiapa yang berwudhu untuk shalat dan ia menyempurnakan wudhunya, lantas ia berjalan (ke masjid) untuk menunaikan shalat fardhu, lalu ia melakukan shalat fardhu itu bersama orang-orang atau bersama jama’ah di masjid maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” ((HR. Muslim no. 232))

Disambut di dalam surga

Disiapkan baginya penyambutan di surga. Dalam hadits yang shahih dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

منْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا وَرَاحَ

“Barang siapa yang pergi ke Masjid atau pulang (darinya), maka Allah akan menyiapkan baginya penyambutan di surga setiap kali ia pergi atau pulang. ((HR. Al-Bukhari no. 662 dan Muslim no. 669))

Kata “Nuzul” pada hadits di atas maknanya adalah apa yang disiapkan bagi tamu berupa penghormatan tatkala ia datang, hal itu didapatkan setiap kali orang tersebut datang dan pergi ke masjid. ((Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 5/176.)) ((Al-Mufhim lima Asykala min Talkhis Kitab Muslim, Al-Qurtubi, 2/294.))

Terhitung sebagai shalat

Barangsiapa yang berwudhu dan keluar untuk shalat berjamaah ke masjid maka ia dianggap dalam keadaan shalat hingga ia pulang ke rumahnya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا توضأ أحدكم في بيته ثم أتى المسجد كان في صلاة حتى يرجع فلا يقل هكذا وشبك بين أصابعه

“Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu di rumahnya kemudian ia mendatangi masjid, maka ia dianggap dalam keadaan shalat sampai dia pulang, maka janganlah dia melakukan hal seperti ini.” Lantas beliau melakukan tasybiq (menggabungkan jari-jemari) beliau.” ((HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, 1/118.))

Memperoleh pahala haji dan berihram

Pahala orang yang pergi shalat jama’ah di masjid dalam keadaan berwudhu seperti pahala orang yang haji dan berihram. Dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من خرج من بيته متطهرا إلى صلاة مكتوبة فأجره كأجر الحاج المحرم

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci (berwudhu) guna menunaikan shalat fardhu maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dan ihram.” ((HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, 1/111.))

Mendapat jaminan dari Allah

Orang yang keluar untuk shalat jama’ah di masjid mendapat jaminan dari Allah. Hal ini berdasarkan hadits shahih dari sahabat Abu Umamah Al-Bahili dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

ثَلاثَةٌ كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ ، رَجُلٌ خَرَجَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُ فَيُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ ، أَوْ يَرُدَّهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ ، وَرَجُلٌ رَاحَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُ فَيُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ ، أَوْ يَرُدَّهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ ، وَرَجُلٌ دَخَلَ بَيْتَهُ بِسَلامٍ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ

“Ada tiga orang yang semuanya mendapatkan jaminan dari Allah subhanahu wa ta’ala : seseorang yang keluar untuk berperan di jalan Allah, maka ia mendapat jaminan dari Allah hingga Allah mewafatkannya lalu Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau menembalikannya dengan mendapatkan pahala atau ghanimah. Kemudian seorang laki-laki yang keluar menuju ke masjid maka ia mendapatkan jaminan dari Allah sampai Allah mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam surga atau Allah mengembalikannya dengan mendapatkan pahala dan ghanimah. Kemudian seseorang yang masuk rumahnya dengan mengucap salam maka ia juga mendapatkan jaminan dari Allah.” ((HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, 2/361.))

Baginya cahaya pada hari kiamat

Cahaya sempurna pada hari kiamat bagi orang yang berjalan ke masjid di tengah gelapnya malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بشر المشائين في الظلم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة

“Berilah kabar gembira bagi mereka yang berjalan ke masjid dalam kegelapan malam dengan cahaya sempurna baginya kelak di hari kiamat.” ((HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no.561.))

Beberapa Hukum  Berkaitan dengan Masjid

Membersihkan, menjaga, dan memelihara masjid

Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata:

أمر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ببناء المساجد في الدور وأن تنظف وأن تطيب.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk membangun masjid-masjid di pemukiman-pemukiman dan beliau menyuruh agar masjid itu dibersihkan dan diberi minyak wangi.” ((HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, 1/92.))

Tidak memasukinya dengan membawa bau tidak sedap

Hendaknya seseorang yang ingin ke masjid tidak memakan makanan yang berbau tidak sedap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من أكل ثوما أو بصلا فليعتزلنا أوليعتزل مسجدنا وليقعد في بيته. وفي لفظ مسلم : فإن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه بنوآدم.

“Barangsiapa yang memakan bawang putih atau bawang merah maka hendaknya ia menjauhi kami atau hendaknya ia menjauhi masjid dan hendaknya juga ia tinggal di rumahnya. Dalam redaksi riwayat Imam Muslim : “Karena sesungguhnya malaikat itu terganggu dari hal yang mengganggu manusia.” ((HR. Al-Bukhari no. 855 dan Muslim no. 564))

Larangan menjadikan kuburan sebagai masjid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

“Allah melaknat orang-oran Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.” ((HR. Al-Bukhari no. 436 dan Muslim no. 530))

Bolehnya orang kafir masuk ke masjid jika ada keperluan

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata:  “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pasukan ke arah Najd, lalu pasukan itu membawa tawanan dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal, lalu para sahabat mengikat tawanan tadi di salah satu tiang masjid, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui tawanan tadi dan bersabda: “Lepaskan dia.” Lalu orang itupun bergegas menuju ke sebuah pohon kurma dekat masjid lalu iapun mandi di sana kemudian iapun masuk masjid lalu ia bersyahadat seraya mengucapkan: “Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad rasulullah…” ((HR. Al-Bukhari no. 427 dan Muslim no. 528))

Larangan melakukan jual beli di dalam masjid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ

“Jika kalian melihat orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka ucapkanlah: Semoga Allah tidak memberikan laba dalam perdaganganmu.” ((HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, Ibnus Sunni dalam A’mal Al-Yaum wa Al-Lailah dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzy : 2/34 serta Irwa’ Al-Ghalil no.1495.))

Hadits ini menunjukkan larangan melakukan jual beli di masjid dan yang pantas untuk dikatakan orang yang melihat hal itu (jual beli di masjid) adalah “semoga Allah tidak memberikan keuntunan pada jual belimu” baik untuk penjual maupun pembeli. ((Subul As-Salam, As-San’ani, 2/189.))

Larangan menanyakan barang yang hilang di dalam masjid

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ

“Dan jika kalian melihat seseorang yang menanyakan (barang) yang hilang di dalamnya (masjid) maka ucapkanlah: semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang itu.”  ((HR. At-Tirmidzy, An-Nasa’i, Al-Hakim, Ibnus Sunni dalam A’mal Al-Yaum wa Al-Lailah dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzy 2/34 serta Irwa’ Al-Ghalil no.1495.))

Adapun alasan atau illat dilarangnya hal ini dilakukan di masjid adalah sebagaimana disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فإن المساجد لم تبن لهذا

“Karena masjid tidak dibangun untuk hal ini.” ((HR. Muslim no. 568))

Tidak boleh menegakkan hukum had di masjid

Tidak diperbolehkan melaksanakan hukum hudud di dalam masjid seperti potong tangan, hukum cambuk, atau hukum qishash,

لَا تُقَامُ الْحُدُودُ فِي الْمَسَاجِدِ

“Tidaklah ditegakkan hukum had di masjid.” ((HR. Abu Dawud, Ahmad, Al-Hakim, Ad-Daruqutni, Al-Baihaqi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 3/850.))

Tidak boleh menjadikan masjid sebagai jalan (hanya untuk lewat)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang shahih:

لاَ تَتَّخِذُوا الْمَسَاجِدَ طُرُقًا إِلاَّ لِذِكْرٍ أَوْ صَلاَةٍ

“Janganlah kalian menjadikan masjid-masjid sebagai jalan kecuali untuk berdzikir atau shalat.” ((HR. At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no.1001.))

Tidak boleh seseorang menjadikan masjid hanya sekedar numpang lewat. Masuk dari satu pintu kemudian langsung keluar dari pintu lain tanpa berhenti untuk shalat atau i’tikaf sejenak kecuali jika dalam keadaan darurat atau ada hajat yang mendesak atau dilakukan kadang-kadang. Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Anggapan bahwa boleh lewat dimasjid (menjadikan masjid sebagai tempat lewat/jalan) seharusnya dibawa kepada kemungkinan hal tersebut dilakukan karena adanya hajat dan dilakukan sesekali saja agar tidak bertentangan dengan larangan menjadikan masjid sebagai jalan, di mana perbuatan ini termasuk yang dilarang.” ((As-Tsamar Al-Mustathab, hlm. 727.))

Hukum makan, minum, dan tidur di masjid

Selama seseorang itu bisa menjaga kebersihan masjid diboleh untuk melakukan makan, minum atau tidur di masjid, salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Abdullah bin al-Harits bin Jaza’ Az-Zubaidy radhiyallahu ‘anhu berkata:

كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ الْخُبْزَ وَاللَّحْمَ

“Kami makan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid roti dan daging.” ((HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibn Majah : 2/230))

Dalam riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata:

كُنْتُ أَبِيتُ فِي الْمَسْجِدِ وَلَمْ يَكُنْ لِي أَهْلٌ

“Saya bermalam di masjid pada waktu itu saya belum berkeluarga.” ((HR. Al-Bukhari no. 440 dan Muslim no. 2479))

Dalam riwayat lain juga tatkala Sa’ad bin Mu’adz terluka setelah ikut serta dalam perang Khandaq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuatkan Sa’ad kemah di masjid (untuk dirawat) dan agar Sa’ad bisa beliau kunjungi setiap saat. ((HR. Al-Bukhari no. 463 dan Muslim no. 1769))

Keutamaan halaqah atau majelis ilmu di masjid

Majelis ilmu bisa dibuat di mana saja, tempat-tempat kebaikan seperti rumah, atau semisalnya. Namun, jika dilaksanakan di dalam masjid (rumah Allah) maka keutamaannya jauh lebih besar lagi, dalam hadits yang shahih dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.

“Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) membaca Kitab Allah dan saling mempelajari satu sama lain, kecuali turun kepada mereka ketenangan, rahmat meliputi mereka, dan dinaungi oleh para Malaikat, serta Allah menyebut mereka dengan kebaikan kepada mereka yang berada di sisi-Nya.” ((HR. Muslim no. 2699))

Shalat perempuan di masjid

Semakin tertutup tempat shalat seorang perempuan semakin baik dan semakin afdhal, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا

“Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdhal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Shalat wanita di kamar kecilnya (tempat simpanan barang berharganya) lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” ((HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib : 1/136.))

Namun jika wanita ingin melaksanakan shalat berjamaah di masjid selama memperhatikan aturan syariat seperti menutupi aurat dan tidak memakai harum-haruman (minyak wangi) serta meminta izin terlebih dahulu kepada sang suami, maka janganlah dilarang. Dari Salim bin Abdullah bin Umar bahwasanya Abdullah bin Umar berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا

“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.” ((HR. Muslim no.442))

Referensi