Miqat

Miqat

Miqat (ميقات) adalah batasan seseorang mengerjakan ibadah haji atau umrah. Ada 2 jenis miqat:

  1. Miqat Makani (Tempat)
  2. Miqat Zamani (Waktu)

Ketika melewati miqat ini, seorang yang hendak berhaji atau umrah mulai berihram dan berniat untuk mengerjakan ibadah haji atau umrah.

Miqat Makani

Miqat makani (ميقات مكاني) yaitu tempat-tempat yang wajib untuk memulai ihram bagi orang-orang yang menginginkan haji atau umrah. Ada 5 miqat makani:

  1. Zul Hulaifah, miqat bagi penduduk Madinah dan orang-orang yang melewatinya. Miqat ini adalah miqat yang terjauh dari Makkah, berjarak sekitar 420 km dari Makkah dan 13 km dari Masjid Nabawi. Sekarang tempat ini lebih dikenal dengan Bi’r Ali. Jamaah haji atau umrah Indonesia yang mengawali safarnya ke Madinah mengambil miqat dari sini.
  2. Juhfah, miqat bagi penduduk Syam (Yordania, Suriah, Libanon), Mesir dan yang melewatinya. Berjarak sekitar 186 km dari Makkah.
  3. Yalamlam, adalah miqat bagi penduduk Yaman dan yang melewatinya. Berjarak kurang lebih 120 km dari Makkah. Jamaah haji atau umrah Indonesia yang langsung mendarat di Jeddah mengambil miqat dari sini dan biasanya dilakukan di dalam pesawat.
  4. Qarnul Manazil, miqat bagi penduduk Nejed (Riyadh), Thaif dan yang melewatinya. Berjarak kira-kira 75 km dari Makkah. Sekarang dikenal dengan Sailul Kabir.
  5. Zatu Irq, miqat bagi penduduk Iraq atau yang melewatinya. Berjarak 100 km dari Makkah, sekarang dikenal dengan Sa’diyah. [1]

Zul Hulaifah, Juhfah, Yalamlam, dan Qarnul Manazil ditunjukkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits:

إِنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ لأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ ، وَلأَهْلِ الشَّأْمِ الْجُحْفَةَ ، وَلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ ، وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ ، هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ ، مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ ، وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan zul hulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah, al Juhfah bagi penduduk Syam, Qarnul Manazil bagi penduduk Nejed dan Yalamlam bagi penduduk Yaman. “Itulah miqat bagi penduduk negeri tersebut dan bagi yang bukan penduduk negeri tersebut yang datang dari arah negeri tersebut bagi yang ingin menunaikan haji atau umrah. Bagi yang berada di dalam miqat tersebut, maka tempat dia mulai dari kediamannya. Untuk penduduk Makkah maka dimulai dari Makkah.” [2]

Adapun Zatu Irq disebutkan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ لأَهْلِ الْعِرَاقِ ذَاتَ عِرْقٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan untuk penduduk Irak Dzatu ‘Irqin.” [3]

Miqat Zamani

Miqat Zamani (ميقات زماني) adalah bulan-bulan di mana seorang yang hendak berhaji dan umrah memulai niatnya. Bagi orang yang ingin umrah miqat zamani nya adalah seluruh bulan dalam setahun karena tidak ada dalil khusus yang menyebutkan bulan-bulan tertentu untuk umrah. Adapun bagi yang ingin berhaji, miqat zamaninya adalah bulan-bulan Syawal, Dzul Qa’dah dan 10 hari pertama Dzul Hijjah. [4]

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. [5]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang yang ingin berhaji tidak boleh berihram kecuali pada bulan-bulan haji. Termasuk Sunnah dalam ibadah haji ketika Anda berihram di bulan-bulan haji.” [6]

Lihat pula

Referensi

  1. Ensiklopedi Islam Kaffah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, Penerbit Yassir.
  2. HR. Al-Bukhari no. 1524 dan Muslim no. 2803
  3. HR. Abu Daud no. 1739 dan An-Nasai no. 2654. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.
  4. Tabshiirun Naasik Bi Ahkamil Manasik, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad.
  5. QS. Al-Baqarah : 197
  6. HR. Ibnu Khuzaimah no. 2596 dengan sanad yang shahih