Musa

Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam termasuk kisah yang paling banyak disebutkan di dalam Al-Quran. Nama Nabi Musa disebut dalam Al-Quran sebanyak 136 kali dalam 30 surat Al-Quran. Surat yang paling banyak memuat nama Nabi Musa ‘alaihis salam adalah surat Al-A’raf dengan jumlah penyebutan Nabi Musa ‘alaihis salam sebanyak 21 kali. Hal ini menunjukkan begitu banyaknya faedah dan hikmah yang bisa diambil dari kisah dakwah Nabi Musa ‘alaihis salam kepada kaumnya.

Nama dan Nasab

Nama beliau adalah Musa bin Imran bin Qahits bin Aazar bin Laawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihimus salam. ((Qashash Al-Anbiya’, Ibnu Katsir, 2/272.)) Dikatakan bahwa kata Musa (موسى) terambil dari dua kata yaitu kata muu (مو) yang artinya air dalam bahasa mesir kuno, dan kata syaa (شا) yang artinya pohon. Beliau dinamakan demikian karena ditemukan di tempat itu (tempat yang ada air dan pohonnya) saat dilepas oleh ibunda beliau, namun ada pula yang mengatakan kata Musa terambil dari kata mus (مس) dalam bahasa mesir kuno yang artinya adalah anak kecil. ((Ma’al Anbiya’ fil Quranil Karim, Afif Abdul Fattah Thabaeah, hlm.219.))

Nama ayahanda Nabi Musa tidak disebutkan secara khusus di dalam Al-Qur’an, namun terdapat riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang memberikan isyarat bahwa nama ayahanda beliau adalah Imran:

مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى مُوْسَى بْنِ عِمْرَانَ…

“Saya lewat di malam saat saya isra’ di depan Musa bin Imran…” ((HR. Muslim no.267.))

Adapun terkait nama ibunda Nabi Musa ‘alaihis salam maka tidak ada ayat Al-Quran maupun riwayat shahih yang menyebutkan nama ibunda beliau begitu pula halnya terkait dengan tahun lahir beliau, tidak ada dalil atau nash shahih yang bisa dijadikan sandaran yang menyebutkan secara rinci, kecuali hanya riwayat-riwayat isra’iliyyat yang tak bisa dijadikan sandaran pasti terkait dengan hal ini.

Kelahiran Nabi Musa

Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan keadaan dan kondisi sulit yang dialami oleh Bani Isra’il saat raja zalim Fir’aun menjadi penguasa Mesir, terutama menjelang lahirnya Nabi Musa ‘alaihis salam, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

نَتْلُو عَلَيْكَ مِن نَّبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴿٣ إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ ﴿٤

“Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan sebnarnya bagi orang-orang yang beriman. Sunggu Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan membuat penduduknya berpecah-belah, dia menindas golongan dari mereka (Bani Isra’il) dengan menyembelih mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka, sungguh dia (Fir’aun) termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” ((QS. Al-Qashash : 3-4.))

Secara detail Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan rentetan peristiwa-peristiwa genting nan menakjubkan yang menunjukkan kemahakuasaan Allah subhanahu wa ta’ala menjelang dan pasca lahirnya Kalimullah Musa ‘alaihis salam. Pada surat Al-Qashash disebutkan bagaimana ibunda Nabi Musa ‘alaihis salam diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala agar sang bayi (Nabi Musa) dihanyutkan di sungai Nil jika sang bunda merasa khawatir dan takut terhadap keselamatan sang bayi dari kejaran tentara Fir’aun yang memburu anak laki-laki Bani Isra’il untuk dibunuh:

فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ

“Apabila engkau khawatir terhadap (keselamatnnya) maka hanyutkanlah dia ke sungai.” ((QS. Al-Qashash : 7.))

Lantas sang bunda yang sedang khawatir dengan keadaan dan kondisi saat itu dengan penuh kesedihan dan kekhawatiran melepas sang bayi ke sungai Nil, kesedihan dan kekhawatiran itupun dibalas oleh Allah subhanahu dengan kabar gembira untuk sang bunda bahwa kelak sang bayi akan dikembalikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke pangkuan sang bunda:

وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Janganlah engkau takut dan bersedih hati, sungguh kami akan kembalikan bayi itu kepadamu dan kami akan menjadikannya salah seorang rasul.” ((QS. Al-Qashash : 7.))

Disebutkan juga di dalam Al-Qur’an bagaimana sang bunda diperintah untuk meletakkan sang bayi ke sebuah peti untuk dihanyutkan di sungai Nil:

أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ 

“Taruhlah ia (Musa) di peti itu dan hanyutkanlah ia di sungai.” ((QS. Thaha : 39.))

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan juga bagaimana peran saudari Nabi Musa yang diperintah oleh sang ibunda untuk mengikuti Musa yang sedang dihanyutkan oleh air sungai Nil untuk memastikan keselamatnnya:

وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“Dan (ibunda Musa) berkata kepada saudari Musa: “Ikutilah dia (Musa).” Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedangkan mereka tidak menyadari.” ((QS. Al-Qashash : 11.))

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bagaimana keluarga Fir’aun yang justru memungut sang bayi dan lantas Al-Qur’an menyebutkan peran sang istri Fir’aun yang dijadikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai sebab selamatnya Nabi Musa dari ancaman pembunuhan yang akan dilakukan oleh Firaun dan tentaranya terhadap setiap anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Isra’il:

وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“Dan istri Fir’aun berkata: “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah engkau membunuhnya, mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil dia jadi anak (kita) sedangkan mereka tidak menyadari.” ((QS. Al-Qashash : 9.))

Lantas Al-Qur’an menyebutkan bagaimana sang bayi menolak dan enggan menyusu kepada para perempuan-perempuan yang dipanggil Firaun untuk menyusui sang bayi, ketika itulah saudari Nabi Musa kembali memainkan perannya dalam menyempurnakan keselamatan sang bayi:

فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ

“Dia (saudarinya Nabi Musa) berkata: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian keluarga yang akan memeliharanya untuk kalian dan mereka bisa berlaku baik kepadanya.” ((QS. Al-Qashash : 12.))

Maka sempurnalah penyelamatan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap Musa ‘alaihis salam dengan dikembalikannya sang bayi (Musa) kepada sang ibunda sebagai orang yang ditugaskan untuk menyusui Musa dan memeliharanya di istana Fir’aun:

فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ

“Maka Kami mengemebalikannya (Musa) kepada ibunya agar agar ia senang hatinya dan tidak bersedih dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah itu pasti benar.” ((QS. Al-Qashash : 13.))

Masa Muda Nabi Musa

Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang tumbuh besarnya Nabi Musa ‘alaihis salam secara singkat dan tidak menyebutkan secara detail dan tafsil tentang kondisi serta di mana Nabi Musa yang masih muda beliau tinggal, apakah di istana Fir’aun atau di tempat lain? Allah subhanahu wa ta’ala hanya menyebutkan Nabi Musa yang tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan diberikan ilmu oleh-Nya:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami memberikannya hikmah dan ilmu, dan begitulah Kami membalas orang-orang yang berbuat baik.” ((QS. Al-Qashash : 14.))

Ada dua kejadian penting yang terjadi di masa muda Nabi Musa ‘alaihis salam. Dua kejadian ini mempunyai pengaruh penting terhadap perjalanan dakwah beliau hingga diangkat sebagai utusan dan rasul oleh Allah ‘azza wa jalla.

Terbunuhnya Orang Qibti

Disebutkan di dalam Al-Qur’an saat Nabi Musa ‘alaihis salam melihat ada dua orang yang sedang berkelahi yaitu seorang dari suku qibti yang merupakan pengikut setia Fir’aun dan seorang lagi dari kalangan Bani Isra’il. Seorang dari kalangan Bani Isra’il lantas meminta pertolongan kepada Musa ‘alaihis salam, kemudian Nabi Musa memukul orang qibti tersebut dan orang qibti itupun meninggal, persitiwa ini disebutkan secara detail di dalam Al-Qur’an:

فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ

“Lalu Nabi Musa menemukan di kota itu dua orang yang sedang berkelahi, satu orang dari kalangannya (Bani Isra’il) dan satu orangnya lagi dari kalangan musuhnya (pengikut Fir’aun), maka orang yang dari kalangannya (Bani Isra’il) meminta tolong kepadanya (Musa) untuk mengalahkan orang yang berasal dari kalangan musuhnya itu, lantas Musa memukulnya dan membunhnya.” ((QS. Al-Qashash : 15.))

Kejadian berupa terbunuhnya orang qibti ini sebenarnya bukan perkara yang disengaja oleh Nabi Musa, terbukti bahwa pasca meninggalnya orang qibti tersebut Nabi Musa ‘alaihis salam menyesal, menisbatkan perbuatan itu kepada gangguan syaithan dan beliau segera minta ampunan kepada Allah ‘azza wa jalla:

قَالَ هَـٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِينٌ ﴿١٥ قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴿١٦

“…Musa berkata: “Ini adalah termasuk perbuatan syaithan sesungguhnya syaithan itu adalah musuh menyesatkan yang nyata. Wahai Rabbku sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri maka ampunilah aku dan Allahpun mengampuninya.” ((QS. Al-Qashash : 15-16.))

Pergi ke Madyan

Madyan adalah sebuah daerah yang berada laut qulzum, searah dengan daerah Tabuk. Di sanalah terdapat sumur yang dipakai Musa ‘alaihis salam untuk minum. ((Mu’jam Al-Buldan, Al-Hamawi, 5/77.))

Pasca terbunuhnya orang qibti dan berita itu sampai ke telinga Fir’aun, maka Fir’aun marah dan memerintahkan tentaranya untuk menangkap dan mengejar serta membunuh Nabi Musa ‘alaihis salam. Hal  itu membuat Nabi Musa keluar dari negeri Mesir untuk menyelamatkan diri dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya, Nabi Musa ‘alaihis salam berlari dari Mesir tanpa membawa perbekalan dan kebutuhan hidup yang cukup hingga beliau sampai di sebuah daerah yang bernama Madyan. Daerah ini tidak termasuk dalam wilayah kekuasaan Fir’aun dan ada juga yang mengatakan bahwa jarak Madyan dengan Mesir sejauh perjalanan 8 hari. ((Al-Jawahir Al-Hisan fi Tafsir Al-Quran, As-Tsa’alibi, 2/512.))

Al-Quran menyebutkan secara ringkas kisah Nabi Musa saat berada di Madyan, mulai dari awal mula beliau datang ke Madyan saat menemukan dua orang perempuan yang membawa binatang ternaknya untuk minum hingga Nabi Musa kembali ke Mesir bersama keluarga beliau setelah menyelesaikan syarat yang diberikan oleh laki-laki shalih itu. Kisahnya dimulai tatkala Nabi Musa melihat dua orang gadis yang ingin memberi minum kambing peliharaan mereka di sebuah sumur. Adanya penggembala-penggembala lain sedang memberi minum ternak mereka membuat dua gadis tadi menjauh dari sumur. Lantas Nabi Musa mendatangi dua gadis tadi dan bertanya apa gerangan yang terjadi dengan dua gadis tadi dengan hewan gembala mereka, dua gadis itupun menjawab bahwa mereka tidak akan membawa gembala mereka hingga para penggembala-penggembala yang berada di sumur itu pergi dan selesai memberi minum gembala mereka, kemudian Nabi Musapun merasa kasihan dan lantas menolong dua gadis tadi untuk membawakan kambing gembala mereka ke sumur itu dan diberi minum.

Setelah dua gadis tadi pulang, mereka menceritakan kepada ayah mereka apa yang mereka alami berupa pertolongan yang diberikan oleh seorang laki-laki untuk memberi minum kambing gembalaan mereka. Lantas sang ayah meminta salah seorang dari dua puterinya agar meminta Musa untuk datang ke rumah. Nabi Musapun lantas memenuhi permintaan itu dan terjadilah dialog antara Musa dengan ayah kedua gadis tadi, di mana Musa lantas menceritakan kesulitan hidup akibat kezaliman Fir’aun di negeri Mesir, kemudian ayah dua gadis tadi berkata sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran:

لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Jangan takut, engkau telah selamat dari kaum yang zalim.” ((QS. Al-Qashash : 25.))

Akhirnya ayah kedua gadis tadi menawarkan Musa untuk tinggal dan menikah dengan salah satu gadis itu dengan syarat siap untuk membantu untuk bekerja selama minimal 8 tahun, semua itu dikisahkan secara detail dan rinci dalam surat Al-Qashash dari ayat 23-28.

Mendakwahi Fir’aun

Setelah Nabi Musa menyelesaikan amanah untuk bekerja sebagai syarat yang diajukan oleh ayahanda kedua gadis yang kemudian salah satu dari gadis itu menjadi isterinya, Musa ‘alaihis salam lantas ingin kembali ke negeri Mesir bersama keluarganya melewati daerah Sina, di mana daerah Sina merupakan daerah yang didominasi padang pasir dengan cuaca yang sangat panas di siang hari dan cuaca yang sangat dingin di waktu malam. Tatkala Musa ‘alaihis salam bersama keluarga menelusuri jalan beliau melihat ada nyala api di sisi gunung Thur, di sisi gunung Thur sebelah kanan dan di lembah Thua yang suci, di sanalah Nabi Musa mendapatkan wahyu dan perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendakwahi Fir’aun, raja yang zalim dan melampaui batas:

اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ ﴿٢٤

“Berangkatlah menuju Fir’aun, sungguh dia telah melampau batas.” ((QS. Thaha : 24.))

Allah subhanahu wa ta’ala memberi penjelasan kepada Musa ‘alaihis salam mengenai landasan agama yang dengannya beliau diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala yaitu mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikhlaskan semua macam ibadah hanya kepada-Nya:

إِنَّنِي أَنَا اللَّـهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا أَنَا 

“Sungguh Aku ini adalah Allah, tiada tuhan yang berhak disembah selain Aku.” ((QS. Thaha : 14.))

Dalam lanjutan ayat ini juga ditegaskan lagi oleh Allah subhanahu wa ta’ala agar semua ibadah diikhlaskan hanya kepada-Nya:

فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي ﴿١٤

“Sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” ((QS. Thaha : 14.))

Allah subhanahu wa ta’ala juga memberikan mukjizat kepada Nabi Musa sebagai penguat kenabian beliau di hadapan Fir’aun, yaitu mukjizat berupa tongkat beliau yang bisa berubah menjadi ular. Musa ‘alaihis salam diperintah oleh Allah untuk coba melempar tongkatnya lalu tiba-tiba tongkat itu benar-benar berubah menjadi ular besar. Melihat hal itu, Nabi Musa lantas ketakutan dan berlari kemudian Allah memanggil Musa ‘alaihis salam, Allah berfirman:

قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ ﴿٢١

“Ambillah ia dan jangan takut Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” ((QS. Thaha : 21.))

Mukjizat lain yang diberikanlah Allah kepada Musa ‘alaihis salam adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah:

وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَىٰ ﴿٢٢

“Dan kepitlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia akan keluar menjadi putih bercahaya tanpa ada cacat.” ((QS. Thaha : 22.))

Maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam untuk menunaikan tugas mulia dan mengemban dakwah yang agung itu:

اذْهَبْ أَنتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي ﴿٤٢ اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ ﴿٤٣ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ ﴿٤٤ قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَن يَطْغَىٰ ﴿٤٥ قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ ﴿٤٦فَأْتِيَاهُ فَقُولَا إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا تُعَذِّبْهُمْ ۖ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكَ ۖ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ﴿٤٧ إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَىٰ مَن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ ﴿٤٨

“Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda kekuasaan-Ku dan janganlah kalian berdua lalai dari mengingatk-Ku. Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. Keduanya berkata: “Wahai Tuhan kami, sungguh kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas. Dia (Allah) berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kalian berdua, Aku mendengar dan melihat. Maka pergilah kalian berdua kepadanya (Firaun) dan katakanlah: “Sungguh kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Isra’il bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka, sungguh kami datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu, dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Sungguh telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) pada siapapun yang mendustakan (ajaran agama yang kami bawa) dan berpaling.” ((QS. Thaha : 42-48.))

Maka berangkatlah Nabi Musa dan Harun untuk mendakwahi Fir’aun dan kaumnya dengan penuh keberanian dan tekad yang kuat, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Musa ‘alaihis salam dengan membawa bukti kerasulan yang nyata kepada Fir’aun, raja yang melampuai batas yang bahkan mngaku dirinya sebagai tuhan. Musa ‘alaihis salam mendatangi Fir’aun dengan membawa risalah tauhid dan mengajaknya untuk beribadah kepadan Rabb yang maha agung. Lantas Fir’aun pun terheran-heran sembari mengingkari dakwah yang dibawa oleh Musa seraya berkata:

وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Apa itu Rabb semesta alam.” ((QS. As-Syu’ara : 23.))

Fir’aun mengingkari Rabb semesta alam yang maha mengatur dan maha kuasa atas segala sesuatu. Lantas Musa ‘alaihis salam menimpali Fir’aun dengan mengatakan:

قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ

Musa berkata: “Dialah Rabb langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya jika kalian termasuk orang yang yakin.” ((QS. As-Syu’ara : 23.))

Fir’aun lantas menimpali sembari mengejek dan meremehkan Nabi Musa ‘alaihis salam:

أَلَا تَسْتَمِعُونَ

“Maukah kalian mendengarkan.” ((QS. As-Syu’ara : 25.))

Kemudian Musa ‘alaihis salam mengingatkan Fir’aun akan asalnya dan akan kembali ke asalnya sebagaimana yang terjadi pada nenek moyangnya dahulu:

قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

“Musa berkata: “Dialah (Allah) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu dahulu.” ((QS. As-Syu’ara : 26.))

Lantas Fir’aunpun marah dan murka sembari mengatakan:

إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ

“Sesungguhnya rasul kalian yang diutus kepada kalian benar-benar orang gila.” ((QS. As-Syu’ara: 27.))

Selain itu Fir’aun mengancam akan memenjarakan Musa ‘alaihis salam jika terus menerus berdakwah mengajak manusia menyembah Allah ‘azza wa jalla:

لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ

“Sungguh jika engkau menjadikan selainku sebagai tuhan maka pasti aku menjadikanmu orang yang dipenjara.” ((QS. As-Syu’ara : 29.))

Begitulah seterusnya Nabi Musa terus mendatangkan berbagai hujjah dan bukti akan kenabian dan kerasulannya mengajak Fir’aun untuk sadar dan kembali kepada fitrahnya untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, namun ia tetap menolak dengan mendatangkan berbagai macam ucapan yang berisi tolakan dan ancaman terhadap Musa ‘alaihis salam. Termasuk tatkala Nabi Musa memperlihatkan kepada Fir’aun mukjizat berupa tongkat Musa yang bisa berubah menjadi ular dan tangan Nabi Musa yang keluar dalam keadaan bersinar terang. Fir’aun menanggapinya seraya memberitahukan para pengkut setianya:

قَالَ لِلْمَلَإِ حَوْلَهُ إِنَّ هَـٰذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ ﴿٣٤

Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada sekelilingnya: “Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai.” ((QS. As-Syu’ara : 35.))

Firaun mengatakan hal ini kepada para menteri dan pemimpin pasukannya yang saat itu berkumpul di sampingnya bahwa laki-laki ini hanya tukang sihir yang pandai mempraktekkan sihir. ((At-Tafsiir Al-Muniir, Az-Zuhaili, 19/144.)) Fir’aun juga mengatakan:

يُرِيدُ أَن يُخْرِجَكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ ﴿٣٥

“Dia (Musa) ingin mengusir kalian dari tanah kalian, maka apa pendapat kalian.” ((QS. As-Syu’ara : 35.))

Fir’aun merupakan objek utama dakwah Nabi Musa yang secara khusus disebut oleh Allah agar didakwahi secara lembut oleh Nabi Musa dan Nabi Harun, namun berbagai hujjah dan bukti kenabian yang dihadirkan oleh Nabi Musa tak mempan untuk menarik Fir’aun kepada jalan kebenaran. Bahkan, tatkala Nabi Musa memperlihatkan mukjizatnya di hadapan Fir’aun, ia lantas menuduh Musa ‘alaihis salam sebagai tukang sihir dan menantang Musa ‘alaihis salam untuk beradu sihir dengan tukang sihir yang akan dihadirkan oleh Fir’aun:

قَالُوا أَرْجِهْ وَأَخَاهُ وَابْعَثْ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ ﴿٣٦ يَأْتُوكَ بِكُلِّ سَحَّارٍ عَلِيمٍ ﴿٣٧

“Mereka (para pengikut Fir’aun) berkata: Thahanlah (untuk sementara) dia dan saudaranya, dan utuslah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (tukang sihir). Niscaya mereka akan mendatangkan semua tukang sihir yang pandai kepadamu.” ((QS. As-Syu’ara : 36-37.))

Fir’aun lantas menyuruh Musa untuk menentukan waktu dan tempat untuk melakukan adu sihir. Nabi Musa mengetahui bahwa sihir yang dimiliki oleh tukang sihir Fir’aun tak akan mampu mengalahkan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla, sehingga Nabi Musa menuruti permintaan Fir’aun untuk melakukan adu sihir pada hari Az-Zinah (salah satu hari raya mereka) saat manusia banyak yang berkumpul menyaksikan hal itu dan harapannya banyak orang akan beriman tatkala melihat kalahnya tukang sihir Fir’aun. ((Qashash Al-Anbiya’, Ibnu Katsiir, hlm.308.))

Datanglah waktu yang disepakati dan berkumpullah tukang sihir Fir’aun untuk beradu sihir dengan Nabi Musa. Namun, justru tukang sihir Fir’aun di akhir cerita beriman kepada Musa tatkala melihat sihir mereka dikalahkan oleh apa yang dibawa oleh Musa ‘alaihis salam. Fir’aun justru bertambah marah dan menuduh Musa ‘alaihis salam bersekongkol dengan para tukang sihir serta mengancam tukang sihir dengan ancaman mengerikan berupa potong tangan dan kaki secara berlawanan dan hukum berupa disalib di pangkal pohon kurma, karena pohon kurma merupakan salah satu jenis pohon yang paling kuat dan kasar. ((Mahaasin At-Ta’wiil, Jamaluddin Al-Qasimi, 11/177.))

إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الذي عَلَّمَكُمُ السحر فَلأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلاَفٍ وَلأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النخل

“Sungguh dia itu (Musa) pemimpin kalian yang mengajarkan kalian sihir, sungguh akan kupotong tangan dan kaki kalian secara bersilang, dan sungguh aku akan salib kalian pada pangkal pohon kurma.” ((QS. Thaha : 71.))

Tak sampai di situ, Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan Fir’aun peringatan berupa kesulitan, azab, dan cobaan agar mengakui kesalahan dan beriman kepada Rabb semesta alam:

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Dan sungguh Kami telah menghukum keluarga Fir’aun dengan (mendatangkan musim kemarau) bertahun-tahun dan kekurangan buah-buahan agar mereka mengambil pelajaran.” ((QS. Al-A’raf : 130.))

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Yaitu mereka diuji dan diberi cobaan oleh Allah dengan datangnya kemarau panjang dan cobaan berupa kelaparan disebabkan tumbuhan yang sedikit dan tak adanya buah-buahan.” ((Tafsir Al-Quran Al-Azhiim, Ibnu Katsir, 2/239.)) Dalam ayat yang lain:

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

“Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” ((QS. Al-A’raf: 133.))

Kesabaran Nabi Musa dalam Berdakwah

Nabi Musa ‘alaihis salam termasuk jajaran nabi yang memiliki kesabaran yang luar biasa dalam mengemban perintah Allah dalam mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah, baik saat mendakwahi Fir’aun dan kaumnya hingga tantangan tarbiyah dan dakwah kepada kaumnya Bani Isra’il setelah Allah menyelamatkan mereka dari kezaliman Fir’aun. Rasulullah bahkan pernah bersabda mengenai kesabaran Nabi Musa ‘alaihis salam:

رَحِمَ اللهُ مُوْسَى، قَدْ أُُوْذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

“Semoga Allah merahmati Nabi Musa, beliau telah disakiti lebih dari ini namun beliau sabar.” ((HR. Al-Bukhari no. 3150)) ((HR. Muslim no. 1062.))

Meninggalnya Nabi Musa

Tidak ada riwayat shahih yang bisa dijadikan sandaran terkait tahun meninggalnya Nabi Musa ‘alaihis salam. Adapun terkait dengan tempat dikuburkannya Nabi Musa ‘alaihis salam maka terdapat riwayat yang shahih menyebutkan bahwa tatkala Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan isra’, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Musa ‘alaihis salam sedang shalat di kuburnya yang berada di gundukan pasir merah. ((As-Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah, Syaikh Al-Albani, hadits no. 2627.)) Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُرْسِلَ مَلَكُ المَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ، فَلَمَّا جَاءَهُ صَكَّهُ، فَرَجَعَ إِلَى رَبِّهِ، فَقَالَ: أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لاَ يُرِيدُ المَوْتَ، فَرَدَّ اللَّهُ عَلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ، فَقُلْ لَهُ: يَضَعُ يَدَهُ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ فَلَهُ بِكُلِّ مَا غَطَّتْ بِهِ يَدُهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ سَنَةٌ، قَالَ: أَيْ رَبِّ، ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: ثُمَّ المَوْتُ، قَالَ: فَالْآنَ، فَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُدْنِيَهُ مِنَ الأَرْضِ المُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَلَوْ كُنْتُ ثَمَّ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ، إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، عِنْدَ الكَثِيبِ الأَحْمَرِ

“Malaikat Maut diutus mendatangi Musa ‘alaihis salam. Ketika malaikat itu datang kepadanya, maka Musa pun menempelengnya hingga buta matanya. Kemudian Malaikat Maut kembali kepada Rabbnya dan berkata: “Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menginginkan kematian.”

Lalu Allah mengembalikan penglihatan malaikat tersebut dan berfirman: “Kembalilah engkau dan katakan kepadanya agar ia meletakkan tangannya di punggung sapi jantan. Kemudian ia berhak (tetap hidup) sejumlah bulu (dari sapi jantan itu) yang tertutupi tangannya, dengan hitungan satu bulunya merupakan setahun kesempatan hidup.” Musa lalu berkata: “Wahai Rabbku, kemudian apa setelah hitungan itu?” Allah berfirman: “Kemudian kematian.” Musapun berkata: “Maka sekarang saja (kematianku tanpa diundur lagi).”  Selanjutnya Musa berdoa kepada Allah untuk mendekatkan dirinya kepada tanah suci sejarak lemparan batu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda: “Seandainya aku di sana, maka sungguh akan aku perlihatkan kepada kalian kuburan Musa, (yaitu) di sebelah jalan di gundukan pasir merah.” ((HR. Al-Bukhari no. 1339, 3407.)) ((HR. Muslim no. 2372.))

Referensi