Nabi Idris

Nabi Idris ‘alaihissalam adalah seorang nabi yang memiliki nama asli Khanukh (خَنُوخُ) [1] bin Yard (يَرْدُ) bin Mahlail (مَهْلَائِيلَ) bin Qainan (قَيْنَانُ) bin Anusy (أَنُوشُ)  bin Syits (شِيثُ) bin Adam (آدَم) .

Dari nasab beliau ini beliau merupakan keturunan keenam dari Nabi Adam ‘alaihissalam. Menurut Ibnu Katsir rahimahullahu Nabi Idris merupakan ayah dari kakek nabi Nuhalaihissalam, dengan kata lain, beliau adalah ayah tingkat ketiga dari nabi Nuh [2].

Kenapa Dijuluki Idris

Telah berlalu penyebutan nasab Nabiyullah Idris ‘alaihissalam, dan ternyata nama asli beliau adalah Khanukh (خَنُوخُ) atau Akhnukh (أَخْنُوخُ), sehingga sebagian orang bertanya-tanya, kenapa beliau dipanggil dengan Idris ?

Jawabannya: beliau dipanggil dengan idris karena beliau yang pertama kali belajar wahyu yang tertulis. Pendapat yang lain mengatakan, bahwa beliau diberi nama idris karena beliau banyak belajar kitab suci[3].

Para ulama yang berpendapat demikian, disebabkan anggapan mereka bahwa nama idris berasal dari kata darasa – yadrusu  yang berarti belajar. Para ulama berpendapat, telah diturunkan kepadanya 30 shahifah[4]. Banyak ulama ahli tafsir mensinyalir bahwa beliaulah yang paling pertama menulis dengan pena [5].

Beliaulah yang pertama kali menjahit dan memakai pakaian berjahit, setelah sebelumnya mereka hanya memakai kulit binatang[6]. 

Kenabian Nabi Idris

Tentang kenabian Nabi Idris sudah ditetapkan Allah didalam Al-Qur’an, sebagaimana yang tercantum dalam salah satu ayatnya:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.[7].

Dari pernyataan Allah yang sangat tegas dalam ayatnya ini, kita dapat memastikan bahwa beliau adalah seorang nabi. Bahkan sebagian ulama berpendapat, bahwa beliaulah nabi pertama dari keturunan Nabi Adam.

Kitab Nabi Idris 

Terkait kitab Nabi Idris, ada sebuah hadits dhaif yang diriwayatkan dari sahabat Abu Dzar h bahwa Nabi g mengatakan kepadanya : “Wahai Abu Dzar, ada empat rasul dari suryani: Adam, Syits, Nuh dan Akhnukh. Dialah (Akhnukh) yang pertama kali menulis dengan pena, dan Allah turunkan kepadanya 30 shahifah”[8].

Sehingga sebagian ulama mengatakan: Karena kedhaifan hadits tersebut, maka kita tidak dapat memastikan kebenaran isi hadits tersebut, sampai ada hadits shahih yang sangat jelas maknanya berkaitan dengan hal ini. [9].

Nabi Muhammad Bertemu dengan Nabi Idris di Langit

Telah datang sebuah hadits yang shahih bahwa Nabi bertemu dengan Nabi Idris dilangit. Nabi bersabda:

فَأَتَيْنَا السَّمَاءَ الرَّابِعَةَ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ، قِيلَ: مَنْ مَعَكَ؟ قِيلَ مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قِيلَ: نَعَمْ، قِيلَ: مَرْحَبًا بِهِ وَلَنِعْمَ المَجِيءُ جَاءَ، فَأَتَيْتُ عَلَى إِدْرِيسَ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَقَالَ: مَرْحَبًا بِكَ مِنْ أَخٍ وَنَبِيٍّ

Kemudian kami naik ke langit keempat lalu ditanyakan; “Siapakah ini”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?”. Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?”. Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui Idris Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi”.[10]

Dari hadits riwayat imam Al-Bukhari ini menjadi sandaran dalil yang sangat kuat untuk menyatakan bahwa Nabi Idris berada di langit keempat.

Wafatnya Nabi Idris

Para ulama berselisih pendapat tentang dimana beliau diwafatkan, apakah beliau diwafatkan di dunia atau di langit.

Sebagian mengatakan, bahwa beliau diwafatkan di dunia, baru kemudian diangkat ke langit keempat, sebagian lagi berpendapat bahwa beliau diangkat ke langit keenam menurut sebagian pendapat lalu diwafatkan disana.

Ada juga yang berpendapat bahwa beliau diwafatkan setelah diangkat ke langit keempat.

Sebagian lagi berpendapat bahwa beliau diangkat kelangit dalam keadaan hidup hingga sekarang sebagaimana nabi Isa. Akan tetapi pendapat terakhir ini sangat asing dan tidak wajar. Dan Yang benar adalah beliau telah diwafatkan dengan sebenar-benarnya, entah di bumi ataupun di langit. Dan yang lebih tampak benar adalah pendapat pertama dikarenakan Allah berfirman:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain[11]

  1. Sebagian ulama mengatakan nama beliau adalah Akhnukh (أَخْنُوخُ), sebagaimana dalam Husain bin Ma’ud Al-Baghawi, “Ma’alimu At-Tanzil fii Tafsir Al-Qur’an”, (Riyadh: Dar Ath-Tahyyibah, 1997), Juz 5, Hlm. 237.
  2. Ibnu Katsir, “Bidayah wa An-Nihayah”, (Dar Al-Fikr, 1986), Juz 1, Hal. 100.
  3. Sa’ud bin Salman (Musyrif), “Mausu’ah Al-A’idah wa Al-Adyan wa Al-Firaq wa Al-Madzahib Al-Mu’ashirah”, (Riyadh: Dar A-Tauhid li An-Nasyr, 2018), Juz 1, Hal. 116.
  4. Abdullah bin Umar Al-Baidhawi, “Anwar At-Tanzil wa Asrooru At-Takwil”, (Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘arabi, 1986), Juz, 4, Hlm. 13.
  5. Isma’il bin Umar bin Katsir, “Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim”, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Alamiyyah, 1987), Juz 3, Hlm. 387.
  6. Husain bin Ma’ud Al-Baghawi, “Ma’alimu At-Tanzil fii Tafsir Al-Qur’an”, (Riyadh: Dar Ath-Tahyyibah, 1997), Juz 5, Hlm. 237.
  7. QS. Maryam (19) : 56.
  8. Muhammad bin Hibban, “Al-Ihsan fii Taqrib Shahih Ibnu Hibban”, (Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1988), Juz 2, Hlm. 77, No. 361. Dan Syaikh Al-Albani berkomentar tentang hadits ini dengan mengatakan: “Dhaif Jiddan” dalam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, “At-Ta’liqat Al-Hisan ala Shahih Ibnu Hibban”, (Jeddah: Dar Bawazir, 2003), Juz 1, Hlm. 384.
  9. Sa’ud bin Salman (Musyrif), “Mausu’ah Al-A’idah wa Al-Adyan wa Al-Firaq wa Al-Madzahib Al-Mu’ashirah”, (Riyadh: Dar A-Tauhid li An-Nasyr, 2018), Juz 1, Hal. 117.
  10. HR Al-Bukhari no. 3207.
  11. QS. Thaha (20) : 55.