Nabi Isa

Kelahiran Nabi ‘Isa putra Maryam

Nabi ‘Isa dilahirkan dari rahim  seorang wanita yang suci lagi terhormat, Maryam. Maryam adalah wanita yang mulia dan terbaik dari seluruh wanita yang ada di dunia yang pernah ada pada masa-masa sebelumnya maupun sesudahnya. Hal ini berdasarkan keumuman ayat Al-Quran,

  و َ اصْطَفٰىكِ عَلَىٰ نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ (42)

“..Dan melebihkan dirimu atas semua wanita di dunia (yang semasa dengan-mu).” [1]

Nama Maryam ini pernah disebut bersamaan dengan Aisyah bintu Muzahim, Khadijah bintu khuwailid dan Fathimah bintu Muhammad ﷺ. Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’I telah meriwayatkan dari ‘Ali bin Abu Thalib, dia bercerita, Rasulullah ﷺ bersabda :

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ

“Sebaik-baik wanita pada masanya adalah Maryam binti ‘Imran dan sebaik-baik wanita pada masanya adalah Khadijah binti Khuwailid.” [2]

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia bercerita, Rasulullah ﷺ bersabda, “ Cukuplah bagimu empat wanita dunia, yaitu : Maryam binti ‘Imran, Aisyah istri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad.” [3]

Imam Ahmad [4] meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia pernah menyampaikan sebuah hadits bahwa Nabi ﷺ bersabda, “ Sebaik-baik wanita yang naik unta adalah wanita Quraisy yang paling shalih, yang paling sayang kepada anak ketika masih kecil dan yang paling amanah menjaga milik suaminya.”

Abu Hurairah mengatakan : “ Dan Maryam tidak pernah naik keledai sama sekali.” Hal itu juga diriwayatkan oleh Muslim dalam kitabnya, Shahih Muslim (2527) [5]

Kisah tentang kelahiran Nabi ‘Isa telah diceritakan di dalam banyak ayat di dalam Al-Quran. Diantaranya adalah di dalam Surat Maryam :16-37. Allah berfirman :

“ Dan ceritakanlah  (kisah) Maryam di dalam Al-Quran , yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.
Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.
Maryam berkata:” Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Rabb  Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.’
Dia (Jibril) berkata : ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabbmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.’
Maryam berkata:’ Bagaimana aka nada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang penzina.’
Jibril berkata: ‘ Demikianlah,’ Rabbmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan itu adalah  suatu perkara yang sudah diputuskan.’
Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata:’ Aduhai, alangkah  baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi suatu yang tidak berarti lagi dilupakan.’
Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah:’ Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak padamu.
Maka makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.’ Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya.
Kaumnya berkata: ‘ Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kalii bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang penzina.’
Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata:’ Bagaimana kami akan berbicara kepada anak kecil yang masih di dalam buaian?’
‘Isa berkata : ‘ Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dia juga menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) Sholat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Serta berbakti kepada Ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga senantiasa dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dunia, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.’
Itulah ‘Isa putra Maryam yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.
Tidak layak bagi Allah mempunyai akan, Maha Suci Dia. Dia telah menetapkan sesuatu, maka dia hanya berkata kepadanya: ‘ Jadilah,’ maka jadilah ia.
Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabbmu, maka ibadahilah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) diantara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.”
[6]

Ketika Maryam dilahirkan, ibundanya menjadikannya sebagai wanita yang memelihara Baitul Maqdis. Dia sendiri berada dibawah pemeliharaan suami saudara perempuannya atau bibinya, Nabi pada saat itu, Zakariya. Maka Zakariya memberikan Mihrab sebagai tempat yang mulia yang berada di dalam masjid, tidak ada seorangpun memasukinya selain dirinya sendiri. Setelah dewasa, Maryam benar-benar taat beribadah lagi bersungguh-sungguh. Bahkan, pada saat itu tidak ada yang manandinginya dalam hal ibadah. Dia seorang wanita

Yang pernah diajak bicara langsung oleh Malaikat ketika menyampaikan kabar gembira berupa keputusan Allah Ta’ala untuk memilih dirinya sekaligus melebihkannya. Diberitahukan kepadanya bahwa akan lahir seorang anak laki-laki yang suci dari rahimnya yang akan menjadi seorang Nabi Mulia, suci, lagi terhormat yang didukung dengan berbagai macam mukjizat. Maka diapun meresa terheran akan lahirnya seorang tanpa adanya bapak, karna memang dia tidak mempunyai suami. Lalu malaikat memberitahukan kepadanya bahwasanya Allah Ta’ala Mahakuasa atas segala sesuatu, yang jika menghendaki sesuatu Dia hanya mengatakan: “ Jadilah”, maka jadilah ia. Maryampun merasa tenang dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah Ta’ala. Dia mengetahui bahwa semuanya itu tidka lain adalah ujian yang besar baginya, yang karenanya banyak orang  membicarakanb dirinya, karna mereka tidak mengetahui hakikat yang sebenarnya. Mereka itu hanya melihat pada lahiriyahnya saja tanpa melakukan perenungan dan pendalaman serta pemikiran. [7]

Banyak ulama salaf menyebutkan bahwa Jibril meniupkan ruh ke dalam saku baju Maryam sehingga tiupan itu masuk ke kemaluannya dan akhirnya diapun hamil seketika, sebagaimana layaknya kehamilan akibat percampuran suami istri. Sedangkan pendapat yang menyatakan  bahwa Jibril meniupkannya melalui mulutnya atau bahwa ruh yang masuk ke dalam rahim itulah yang berbicara dengan Maryam, pendapat tersebut bertentangan dengan pemahaman yang ada pada siyaq (redaksi) ayat al-Quran. Dimana,  siyaq ayat al-Quran menunjukkan bahwa yang diutus kepada Maryam adalah salah satu Malaikat, Yaitu Jibril. Dan dialah yang meniupkan  ruh ke dalam rahim Maryam. Jadi, malaikat tidak secara langsung berhadapan  dengan kemaluannya dan akhirnya masuk ke dalamnya, sebagaimana firman Allah,

  فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُوْحِنَا . . .(12)

“ … Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami . ..” [8]

Banyak ulama salaf menyebutkan bahwa setelah terlihat pada diri Maryam tanda-tanda kehamilan, yang pertama kali mengetahuinya adalah seorang  ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang bernama Yusuf bin Ya’qub an-Najjar, yang dia tidak lain adalah anak pamannya sendiri. Yusuf pun benar-benar terkejut menyaksikan hal tersebut. Keterkejutan dan keheranan Yusuf itu memang beralasan, karna selama ini yang dia tahu Maryam adalah seorang yang sangat taat beribadah dan benar-benar menjaga kesuciannya, tetapi ternyata dia hamil sedang dia belum pernah menikah. Lalu pada suatu hari Yusuf An-Najjar mendatangi Maryam dan bertanya: “ Wahai Maryam, adakah tanaman yang tumbuh tanpa adanya benih?” Maryam menjawab: “ Ya, ada. Lalu siapakah yang menciptakan tanaman pertama kali?” Kemudian Yusuf berkata: “ Apakah tumbuh-tumbuhan itu bisa tumbuh tanpa air dan hujan?” Maryam menjawab: “ Ya, ada, lalu siapakah yang menciptakan pohon pertama kali ?” Yusuf bertanya lagi: “ Lalu adakah seorang anak itu bisa lahir tanpa adanya seorang suami?” “Ya, ada. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan Adam tanpa melalui proses pencampuran orang laki-laki dan perempuan,” papar Maryam. Lebih lanjut Yusuf bin Ya’qub an-Najjar berkata: “ Karenanya, beritahukanlah kepadaku berita sesungguhnya terjadi padamu.” Maryam menjawab: “ Sesungguhnya Allah telah memberikan berita gembira kepadaku:

  بِكَلِمَةٍ مِّنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وِ جِيْهًا فِيْ الدُّنْيَا وَ الْأَخِرَةِ وَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ (45) وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِيْ الْمَهْدِ وَكَهْلاً وَ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ(46)

“ … Dengan kalimat (yang datang) dari-Nya, namanya al-Masih ‘Isa Putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa ia termasuk diantara orang-orang yang shalih.” [9]

Ada juga yang meriwayatkan hal senada tentang Zakariya, dimana dia pernah bertanya kepada Maryam mengenai hal tersebut, dan Maryam memberikan jawaban yang sama seperti itu. [10]

Maryam mengandung Puteranya (‘Isa) selama Sembilan bulan, sebagaimana layaknya wanita yang mengandung anaknya, dan melahirkan sesuai waktunya. Sebab, jika beritanya berbeda dengan hal itu, pasti akan diceritakan. Dari Ibnu ‘Abbas dan Ikrimah [11], disebutkan bahwasanya Maryam mengandung ‘Isa, puteranya selama delapan bulan. Sedangkan dari Ibnu ‘Abbas [12] disebutkan bahwa Maryam itu hamil dalam sekejap dan langsung melahirkan. Sebagian Ulama lainnya [13] mengemukakan bahwa Maryam bintu ‘Imran mengandung ‘Isa selama Sembilan Jam. Namun yang benar adalah menempatkan segala sesuatu sesuai dengan prosesnya. [14]

Sebagaimana diketahui bersama bahwa setiap antara dua tahap berlangsung selama empat puluh hari, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim. [15]

Setelah Maryam selesai menjalani masa nifasnya ia kemudian mendatangi kaumnya. Ibnu Abbas mengemukakan : “Kedatangan Maryam kepada kaumnya itu terjadi setelah dia selesai menjalani nifasnya selama empat puluh hari.” [16]

Ketika kaumnya melihatnya tengah menggendong  puteranya ‘Isa, mereka berkata,

“ … Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.” [17]

Selanjutnya mereka berkata kepada Maryam,

“ Hai saudara perempuan Harun. . .” [18]

Ayat diatas menunjukkan bahwa Maryam bintu ‘Imram mempunyai saudara laki-laki senasab yang bernama Harun, yang dikenal dengan ketaatannya dalam beragama, berbuat kebaikan dan kebajikan. Oleh karna itu, mereka berkata:

“ … Ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” [18]

Maksudnya, engkau bukan dari kalangan orang yang mempunyai sifat dan karakter mereka, tidak saudara laki-laki, ibu, maupun ayahmu. Dengan demikian, mereka telah menuduh Maryam melakukan perbuatan yang sangat keji dan melontarkan hal-hal yang tidak sepantasnya.  Setelah keadaan terasa semakin memburuk, tempat pun terasa semakin sempit, dan kata-kata pun sulit untuk diucapkan, maka tawakkal kepada Allah dalam dirinya pun semakin teguh dan kokoh, sehingga tidak ada yang tersisa dalam dirinya kecuali ketulusan dan tawakkal. [19]

“ Maka Maryam menunjuk kepada anaknya . ..” [20]

 Maksudnya, ajaklah anak itu bicara, karna jawaban yang kalian butuhkan dan cari itu ada padanya. Maka pada saat itu mereka (kaumnya) berkata,

“ … Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam buaian?” [20]

Artinya, bagaimana mungkin kamu menyerahkan jawaban itu pada seorang anak kecil yang belum dapat menggunakan akalnya. Pada saat itu ‘Isa masih berada dalam penyusuan. Yang demikian itu tidak lain sebagai penghinaan dan pencelaan terhadap mereka. Menurut mereka, mengapa kamu (Maryam) tidak menjawab langsung saja kepada kami dalam bentuk kata-kata, bahkan kamu menyerahkan jawaban itu kepada anak yang masih berada dalam buaian. Pada saat itu Nabi ‘Isa berkata,

“ Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah, Dia memberikan al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dia juga menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Serta berbakti kepada ibuku dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dunia dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” [21]

Inilah ucapan yang pertama kali keluar dari mulut ‘Isa putra Maryam. Kata-kata yang pertama kali terlontar dari mulutnya adalah :

 إِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ… (30)

“ … Sesungguhnya aku ini hamba Allah ..” [22]

Dengan demikian itu, ‘Isa telah mengakui sekaligus mengarahkan ‘ubudiyyah hanya kepada Allah, Rabb Yang Mahatinggi. Dan, bahwasanya Allah adalah Rabbnya. Dengan demikian, dia telah menyucikan Allah dari pernyataan orang-orang zhalim bahwa Allah mempunyai anak. Padahal, sebenarnya dia (‘Isa Putra Maryam) adalah hamba sekaligus Rasul Allah. Selanjutnya, terbebaslah ibunya dari apa yang dituduhkan oleh orang-orang bodoh. [23]

Pertumbuhan dan pendidikan Nabi ‘Isa pada masa kecil

 ‘Isa putra Maryam dilahirkan di Bethlehem, suatu tempat di Baitul Maqdis [24]. Kelahiran Nabi ‘Isa ini merupakan bukti yang nyata atas kekuasaan Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah,

  وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَ أُمَّهُ ءَايَةً وَءَاوَيْنٰهُمَاۤ إِلَىٰ رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَمَعِيْنٍ (50)

“ Dan telah kami jadikan ‘Isa putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi kekuasaan Kami, dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” [25]

Para ulama salaf dan ahli tafsir masih berbeda pendapat mengenai ma’na “ ar-rabwah” (tanah tinggi yang datar) yang oleh Allah disifati sebagai tempat yang banyak memiliki padang rumput dan sumber air yang bersih dan mengalir. Dan ini merupakan sifat yang sangat aneh sekali, dimana ia merupakan tempat yang berada di dataran tinggi, dan dengan ketinggian itu terdapat sumber air yang bersih dan mengaliri seluruh bagian bumi. Dikatakan bahwa yang dimaksudkan itu adalah tempat dimana Maryam melahirkan ‘Isa, yaitu Baitul Maqdis. Oleh karna itu Allah Ta’ala  berfirman:

  فَنَادَىٰهَا مِنْ تَحْتِهَاۤ أَلاَّ تَحْزَنِى قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيَّا(24)

“ Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah:’ Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.’” [26]

Yakni, sungai kecil. Demikian menurut jumhur ulama salaf. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dengan sanad jayyid, bahwa semua itu merupakan sungai-sungai Damaskus. Mungkin saja dia bermaksud menyerupakan sungai-sungai itu dengan sungai-sungai Damaskus. [27]

Sifat, kelebihan dan keutamaan Nabi ‘Isa

Allah ta’ala berfirman,

 مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيْقَةٌ (75)

“ Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, sedangkan ibunya adalah seorang yang sangat benar …” [28] 

Ada yang menyatakan bahwa diberikannya gelar al-Masih kepada ‘Isa karna sentuhan beliau ke bumi, yakni perjalanan yang dilakukan dan upayanya melarikan diri dengan membawa ajaran agamanya dari berbagai fitnah yang muncul pada saat itu; karna tingginya tingkat kedustaan orang-orang Yahudi dan tindakan mereka yang mengada-ada terhadap dirinya dan ibunya, Maryam. Ada juga yang berpendapat lain, yaitu karna kedua kakinya selalu dibasuh. [29]

Ketika Nabi ‘Isa dilahirkan, Syaithan tidak dapat menyentuh Nabi ‘Isa sebagaimana yang biasa terjadi kepada manusia lainnya. Di dalam sebuah hadits [30] Rasulullah bersabda,

“Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan ditikam syaithan pada bagian lambungnya pada saat dilahirkan, sehingga dia berteriak kencang, kecuali Maryam dan puteranya. Ketika Syaithan menikamnya, dia hanya menikam pembatasnya saja.” [31]

Sifat Nabi ‘Isa telah diberitakan  di dalam hadits-hadits Nabi ﷺ. Diantaranya di dalam hadits [32] dari Abu Hurairah, dia bercerita, Nabi bersabda (menceritakan tentang sifat Nabi ‘Isa):

“Pada malam aku diperjalankan ke langit, aku bertemu Musa,-lalu beliau menyifatinya. Ada seseorang yang berkata- aku kira Beliau bersabda: “ Orang yang berperawakan sedang dan berambut ikal; seakan –akan dia seorang dari suku syanuah. Dan aku juga bertemu dengan ‘Isa, lalu beliau menyifatinya, beliau bersabda: ‘ Dia seorang yang tidak terlalu tinggi dan tidak juga pendek serta berkulit merah, seakan-akan dia baru keluar dari tempat pemandian.’ Beliau juga bersabda:’ Dan aku melihat Ibrahim, dan aku lebih mirip dengannya.’” [33]

Kemudian al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, dia bercerita, Rasulullah ﷺ bersabda:

 رَأَيْتُ عِيْسَى وَ مُوْسَى وَ إِبْرَاهِيْمَ : فَأَمَّا عِيْسَى، فَأَحْمَرُ، جَعْدٌ عَرِيْضُ الصَّدْرِ. وَ أَمَّا مُوْسَى، فَآدَمُ، جَسِيْمٌ، سَبْطٌ، كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الزُّطِّ

“ Aku pernah bertemu dengan ‘Isa, Musa dan Ibrahim. Adapun ‘Isa itu berambut merah keriting dengan dada lebar, sedangkan Musa kecoklatan dan berambut ikal terurai, seakan-akan dia termasuk dari penduduk Zith.”  [34]

Abdullah bin Umar bercerita, pada suatu hari, Nabi ﷺ bercerita di hadapan orang-orang tentang keberadaan al-Masih Dajjal. Beliau bersabda: “ Sesungguhnya, Allah tidak buta sebelah, sedangkan Dajjal itu buta mata sebelah kanannya , yang seakan-akan matanya itu buah anggur yang menonjol keluar. Dan aku pernah bermimpi, ketika aku tertidur di dekat Ka’bah, ada seorang laki-laki yang tampan berkulit kecoklatan dan berambut ikal terurai dengan rambut memercikkan air seraya kedua tangannya diletakkan diatas bahu dua orang laki-laki dan dia sedang melakukan thawaf di Ka’bah. Lantas, aku bertanya: “ Siapakah laki-laki itu?” Mereka menjawab:” Dia itu al-Masih ‘Isa putra Maryam.” Kemudian aku melihat seorang lelaki di belakangnya yang berambut pendek kriting dan buta mata sebelah kanannya, seperti orang yang pernah aku lihat sebagai ibnu Qathan (anak budak dan hamba sahaya) sambil meletakkan satu tangannya di atas bahu seorang laki-laki yang sedang melakukan thawaf di Ka’bah. Aku bertanya:” siapakah lelaki itu?” Mereka menjawab: “Dia adalah al-Masih Dajjal.” [35]

Az-Zuhri mengemukakan:” Yang dimaksud dengan Ibnu Qathan adalah seorang lelaki yang berasal dari suku Khuza’ah yang telah punah pada masa jahiliyah.” Dengan demikian Rasulullah ﷺ telah menjelaskan kepada kita tentang sifat dua orang al- Masih; al-masih yang mendapat petunjuk dan al-Masih yang berada dalam kesesatan, agar dapat dikenali kelak ketika turun, sehingga orang-orang mukmin akan beriman kepadanya. Dan, jika yang lainnya (al-Masih Dajjal) yang turun, maka orang-orang yang bertauhid akan menghindarinya. [36]

Nabi ‘Isa memiliki tabi’at yang suci dan senantiasa beriman hanya kepada Allah semata. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

‘Isa putra Maryam melihat seseorang yang sedang mencuri. Maka diapun bertanya kepadanya:’ Apakah kamu telah mencuri?’ Lelaki itu menjawab: ‘Tidak, demi Allah tiada rabb selain diri-Nya.’ ‘Isa berkata:’ Aku beriman kepada Allah; dan aku dustakan pandangan mataku.”

Ini menunjukkan tabi’at beliau yang suci. Beliau mendahulukan sumpah lelaki itu-dengan anggapan bahwa sesungguhnya seseorang tidak akan bersumpah dengan menyebut Asma Allah untuk suatu perkara dusta, daripada apa yang beliau saksikan sendiri dengan mata kepala beliau. Beliau berkata:” Aku beriman kepada Allah.” Yakni aku mempercayai dan aku dustakan pandanganku karna sumpahmu. [37]

Imam Bukhari [38]meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia bercerita, Rasulullah ﷺ bersabda: “ Tidak ada seorangpun yang dapat berbicara ketika dalam buaian kecuali tiga orang: ‘Isa, seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang bernama Juraij. Ketika tengah mengerjakan sholat, tiba-tiba ibunya datang seraya memanggilnya, lalu dia berkata (dalam hati): ‘Aku jawab atau aku terus melanjutkan shalat?’ Kemudian ibunya berkata:’ Ya Allah, janganlah engkau mematikannya sehingga diperlihatkan kepadanya wajah-wajah para pelacur.’ Ketika ia tengah berada ditempat ibadahnya, datanglah seorang wanita menawari dan mengajaknya berbicara, tetapi Juraij menolaknya. Kemudian, wanita itu mendatangi seorang penggembala, lalu dia mempersilahkan penggembala itu untuk menyetubuhi dirinya, hingga akhirnya lahirlah seorang anak. Lalu, ditanyakan kepadanya: ‘ Hasil hubungan dengan siapa anak ini lahir? Dia menjawab: ‘ Dengan Juraij.’ Kemudian mereka mendatangi Juraij dan merusak tempat ibadahnya, lalu menyuruhnya keluar dan mencemoohnya. Selanjutnya, diapun berwudhu’ dan mengerjakan sholat. Setelah itu, dia mendatangi bayi tersebut seraya bertanya:’ Siapakah bapakmu, hai anak kecil?’ Bayi itu menjawab:’ Seorang penggembala, si fulan.’ Kemudian, orang-orang berkata:’ Apakah kami perlu membangun tempat ibadahmu itu dengan emas?’ Juraij menjawab:’ Tidak perlu, dari tanah saja.’ Dan , ketiga adalah seorang wanita yang tengah menyusui anak laki-lakinya di tengah-tengah Bani Israil, lalu ada seorang laki-laki berjalan melewatinya dengan menaiki kendaraan. Maka dia berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah anakku ini seperti dia.’ Maka bayi itu langsung melepaskan tetek ibunya dan menghadap ke pengendara binatang itu, maka diapun berkata: ‘ Wahai Allah, janganlah Engkau jadikan seperti dia. Dan, kemudian dia menetek lagi ke ibunya.” Abu Hurairah berkata:” Seakan-akan aku melihat Nabi menghisap jari beliau. Selanjutnya, ibunya itu melewati seorang budak perempuan, maka dia berkata:’ Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku sepertinya.’ Maka bayi itu melepaskan isapan tetek ibunya seraya berkata:’ Ya Allah, jadikanlah aku sepertinya.’ Kemudian ibunya itu bertanya’ mengapa demikian?’ Bayi itu menjawab, ‘Si pengendara binatang tadi adalah salah seorang yang sombong, sedangkan budak perempuan tersebut dituduh orang-orang telah mencuri dan berzina, padahal dia tidak melakukannya.”” [39]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:” Para nabi adalah saudara sebapak. Agama mereka satu dan ibu-ibu mereka banyak. Aku adalah orang yang paling dekat dengan ‘Isa, karna tidak ada seorang Nabi antara aku dengannya. Dia akan turun ke dunia kelak. Oleh karna itu, jika kalian melihatnya, maka kenalilah dia. Dia adalah orang yang tidak terlalu tinggi dan tidak juga pendek, cendrung berkulit putih kemerahan. Dia berambut lurus, seakan-akan kepalanya memercikkan air meski tidak terkena air, mengenakan dua pakaian dua pakaian yang berwarna kuning; dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah, dan menghapuskan semua agama sehingga semuanya akan binasa pada zamannya kecuali Islam. Dan, pada zamannya, Allah juga membunuh Dajjal sang pendusta, sehingga tercipta rasa aman di bumi, unta akan bersahabat dengan singa, harimau akan berteman dengan kambing, serigala akan  berkumpul dengan domba, anak-anak kecil akan bermain-main dengan ular yang berbisa, yang sebagian tidak membahayakan sebagian lainnya. Kemudian, berlangsung beberapa saat seperti yang dikehendaki oleh Allah sampai akhirnya Allah mewafatkannya, lalu kaum Muslimin menyalatkan dan menguburkannya.” [40]

Perjalanan dakwah Nabi ‘Isa

Nabi ‘Isa, putra Maryam diutus (oleh Allah)  pada zaman orang-orang yang ahli di bidang pengobatan (tabib). Allah Ta’ala mengutusnya dengan dibekali dengan berbagai macam mukjizat yang tidak dapat mereka lakukan. Orang pintar atau tabib mana yang dapat menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibunya, sementara keadaannya itu lebih parah dari orang yang buta, atau orang yang berpenyakit kusta atau orang yang menderita penyakit kronis? Bagaimana mungkin seseorang dapat membangkitkan kembali orang yang telah mati dari dalam kuburnya?” Yang demikian itu – sudah menjadi pengetahuan setiap orang – dan merupakan mukjizat yang menunjukkan kebenaran orang yang mengembannya sekaligus sebagai bukti kekuasaan dzat yang telah mengutusnya. [41]

Ketika ‘Isa memperlihatkan berbagai dalil dan bukti kenabian kepada kaumnya, sebagian besar dari mereka tetap pada kekufuran, kesesatan, keingkaran, dan kesewenangannya. Ada diantara mereka satu kelompok yang shalih. Mereka siap menjadi penolong dan pendukung baginya yang bersedia mengikuti, menolong, dan memberikan masukan padanya. Hal itu dapat dilihat ketika bani Israil berniat untuk memfitnah dan menjelek-jelekkan Nabi ‘Isa di mata beberapa raja pada masa itu. Mereka bermaksud untuk membunuh dan menyalibnya di muka umum. Namun, Allah menyelamatkannya dari  upaya mereka itu dan mengangkatnya ke langit serta menyerupakan wajah salah seorang dari mereka dengan wajahnya. Akhirnya orang yang diserupakan wajahnya dengan wajah ‘Isa itu ditangkap dan dibunuh serta disalib. Mereka meyakini bahwa yang mereka salib itu adalah ‘Isa, padahal sebenarnya mereka telah melakukan kesalahan dan terlalu menyimpang dari kebenaran. Dan, kebanyakan dari Nasrani itu menyerahkan masalah tersebut. Masing-masing dari kedua kelompok tersebut salah dan sesat. [42]

Allah Ta’ala berfirman:

 وَ مَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُ وَ اللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ (54)

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” [43]

Ketika ‘Isa mengajak Bani Israil dan kaum yang lain untuk beriman kepada Allah Ta’ala, ada diantara mereka yang beriman dan ada pula yang tetap dalam kekufuran. Diantara kaum yang beriman kepada seruan Nabi ‘Isa itu adalah penduduk Antiokia secara keseluruhan, sebagaimana yang disebutkan oleh beberapa pakar sejarah dan tafsir dalam sejarah. Ada tiga orang utusan Nabi ‘Isa yang dikirim kepada mereka, yang salah satunya adalah Sam’an Ash-Shafa, dan merekapun beriman. Mereka bukanlah orang-orang yang disebutkan dalam surat Yasin, sebagaimana telah diterangkan dalam kisah Ashabul Qaryah. Adapula diantara kaum Bani Israil yang kufur dan tidak percaya kepada seruan tersebut, yaitu sebagian besara orang-orang Yahudi. Lalu Allah Ta’ala menolong orang-orang yang beriman kepada-Nya atas orang-orang yang kafir dan tidak beriman kepada-Nya, hingga akhirnya mereka dapat mengalahkan orang-orang kafir tersebut, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala:

“Ingatlah ketika Allah berfirman: ‘Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat.” [44]

Pengangkatan Nabi ‘Isa ke langit

Kisah pengangkatan Nabi ‘Isa ke langit di sebutkan dalam beberapa ayat al-Quran, diantaranya Allah berfirman:

 وَ مَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُ وَ اللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ (54) إِذْ قَالَ اللّٰهُ  يٰعِيْسَىٰۤ إِنِّي مُتَوَفِّيْكَ وَ رَافِعُكَ إِلَيَّ وَ مُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَ جَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا إِلۤىٰ يَوْمِ الْقِيٰمَةِ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ (55)

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘ Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu diatas orang-orang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah tempat kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu selisihkan padanya.” [45]

Allah juga berfirman dalam ayat yang lain:

 فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيْثٰقَهُمْ وَ كُفْرِهِمْ بِئَايٰتِ اللّٰهِ وَ قَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَ قَوْلِهِمْ قُلُوْبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللّٰهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُوْنَ إِلاَّ قَلِيْلاً (155) وَ بِكُفْرِهِمْ وَ قَوْلِهِمْ عَلَىٰ مَرْيَمَ بُهْتٰنًا عَظِيْمًا (156) وَ قَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ اللّٰهِ وَ مَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَ إِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِى شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَ مَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًا (157) بَل رَّفَعَهُ اللّٰهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا (158) وَ إِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتٰبِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكُوْنُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا (159)

“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu dan kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh Nabi-Nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: ‘ Hati kami telah tertutup.’ Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karna kekafirannya, karna itu mereka tidak beriman, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan karna kekafiran mereka (terhadap ‘Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan yang besar (zina), dan karna ucapan mereka:’sesungguhnya kami telah membunuh al-masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keraguan tentang  yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti perasangka belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab,kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan hari kiamat nanti,’Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” [46] 

Allah Ta’ala menjelaskan  bahwa Dia telah mengangkat ‘Isa, setelah membuatnya terlelap dalam tidur. Demikian menurut pendapat yang benar. Dan, menyelamatkannya dari orang-orang Yahudi yang bermaksud untuk menyakitinya dan telah menjelek-jelekkan namanya dihadapan raja-raja kafir pada masa itu. Sehingga keluar perintah agar ‘Isa dibunuh dan disalib. Maka merekapun mengepungnya di sebuah rumah di Baitul Maqdis. Pada saat mereka masuk ke rumahnya itu, Allah menyerupakan wajah salah seorang dari pengepung itu dengan wajah ‘Isa, sedangkan ‘Isa sendiri diangkat ke langit. Selanjutnya merekapun masuk ke dalam rumah itu dan melihat pemuda yang wajahnya telah diserupakan dengan wajah ‘Isa. Mereka menduga bahwa orang itu adalah ‘Isa. Kemudian mereka menyalibnya dengan meletakkan duri-duri di kepalanya sebagai penghinaan terhadap dirinya. Lalu orang Nasrani secara keseluruhan –yang tidak menyaksikan peristiwa yang menimpa ‘Isa- percaya sepenuhnya kepada orang-orang Yahudi bahwa ‘Isa telah disalib. Dan karenanya, mereka benar-benar sesat dan menyimpang sejauh-jauhnya. [47]

Sedangkan di dalam atsar tentang sifat pengangkatan ‘Isa ke langit, Ibnu Abu Hatim [48] meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia bercerita:” ketika Allah hendak mengangkat ‘’Isa ke langit, dia keluar untuk menemui para sahabatnya, sedang di dalam rumah itu terdapat dua belas orang, yang diantaranya berasal dari para pengikut setia. Kemudian dia menemui mereka sedang pada kepalanya terdapat percikan air, lalu dia berkata:’Sesungguhnya diantara kalian ada yang akan kufur kepadaku dua belas kali setelah sebelumnya dia telah beriman kepadaku.’Lebih lanjut, dia bertanya: ‘Siapakah diantara kalian yang bersedia wajahnya diserupakan dengan wajahku, lalu menempati posisiku terbunuh, sehingga dia akan sederajat denganku?’ Kemudian ada seorang pemuda yang paling muda diantara mereka berdiri dan berkata:’ Aku bersedia.’ Maka ‘Isa berkata: ‘Duduklah.’ Selanjutnya ‘Isa mengulangi pertanyaannya itu sekali lagi kepada mereka, maka pemuda itu berdiri lagi. Maka ‘Isa berkata: ‘Duduklah.’ Lebih lanjut,’Isa mengulangi pertanyaan itu lagi. Dan pemuda itupun berdiri lagi seraya berkata:’Aku.’ Maka ‘Isa berkata: ‘Engkau inilah orangnya.’Kemudian pemuda tersebut diserupakan wajahnya dengan wajah ‘Isa, sementara dirinya diangkat ke langit melalui lubang angin di rumah tersebut.” Ibnu Abi Hatim melanjutkan ceritanya: “ Kemudian orang-orang Yahudi melakukan pencarian dan menangkap pemuda yang diserupakan wajahnya tersebut, lalu membunuh dan kemudian menyalibnya. Lalu sebagian dari mereka kafir kepadanya sebanyak dua belas kali setelah sebelumnya beriman kepadanya, dan mereka terpecah menjadi tiga kelompok. Satu kelompok diantaranya mengatakan: ‘ Dulul Allah (‘Isa) bersama kami, kemudian dia naik ke atas langit.’ Mereka inilah kelompok Ya’qubiyyah. Kelompok yang ke dua mengemukakan:’ Dulu anak Allah (‘Isa) bersama kami, kemudian Allah mengangkatnya ke langit.’ Mereka itulah kelompok Nasthuriyyah. Kelompok yang ke tiga mengatakan :’ Dulu hamba sekaligus Rasul Allah bersama kami, lalu Allah mengangkatnya keatas langit.’ Mereka itulah kaum Muslimin (Mereka inilah yang paling benar).  Setelah itu, kedua kelompok kafir, yaitu  Ya’qubiyyah dan Nasthuriyyah , menyerang kelompok kaum Muslimin  dan berhasil membunuh mereka. Dan Islam tidak lagi muncul hingga pada akhirnya Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad ﷺ. [49]

Al-Hasan al-Bashri berkata:” Umur ‘Isa pada saat diangkat oleh Allah ke langit adalah tiga puluh empat tahun.” [50] 

Perbedaan pendapat para pengikut Nabi ‘Isa

Para pengikut Nabi ‘Isa telah berbeda pendapat tentang posisi ‘Isa setelah diangkat ke atas langit. Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas dan para ulama salaf lainnya seperti yang telah disebutkan dalam firman Allah,

  فَأَيَّدْنَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا عَلَىٰ عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوْا ظٰهِرِيْنَ (14) 

“ …Maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, hingga akhirnya mereka menjadi orang-orang yang menang.” [51] 

Ibnu ‘Abbas dan beberapa orang ulama lainnya, berpendapat: “Ditengah-tengah kami, “Isa adalah hamba sekaligus Rasul Allah, kemudian dia diangkat ke langit.” Ada yang mengatakan: “ ‘Isa itu adalah Tuhan.” Sebagian pengikutnya yang lain berkata:” ‘Isa itu adalah anak Tuhan.” Dan pendapat pertama (yang menyatakan ‘Isa adalah hamba sekaligus Rasul Allah) adalah yang paling benar, sedangkan dua pendapat terakhir adalah kekufuran yang sangat parah, sebagaimana yang difirmankan-Nya:

 فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِن مَّشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيْمٍ (37)

“ …Maka berselisihlah golongan-golongan yang ada diantara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.” [52]

Para ulama juga telah berbeda pendapat tentang penukilan injil, hingga memunculkan pendapat yang mengatakan bahwa kitab itu telah mengalami pengurangan, penambahan, penyelewengan, dan pengubahan. Tiga ratus tahun setelah diangkatnya ‘Isa ke langit, terjadi bencana besar dan malapetaka yang dahsyat, yakni; empat patrika, seluruh uskup, pemimpin gereja, dan pendeta berselisih pendapat tentang ‘Isa al-Masih hingga memunculkan bermacam-macam pendapat yang hampir tidak dapat dihitung. Kemudian mereka bersatu dan mengajukan permasalahan mereka kepada Raja Konstantin, pendiri kota Konstantinopel. Akhirnya, Konstantin cendrung kepada pendapat kelompok yang paling banyak yang sepakat pada salah satu dari beberapa pendapat yang muncul.  Lalu mereka menyebutnya almulkiyah. Dan orang yang memusuhi mereka melawan dan menjauhkan mereka. Hanya ada satu kelompok saja yang tunduk di bawah kepemimpinan ‘Abdullah bin Arius yang tetap menegaskan bahwa ‘Isa al-Masih adalah salah satu dari hamba Allah dan salah seorang dari rasul-rasul-Nya. Mereka tinggal di gurun-gurun dan perkampungan. Mereka mendirikan biara dan tempat ibadah. Mereka merasa puas dengan pola kehidupan zuhud dan tidak mau berbaur dengan orang-orang yang memeluk berbagai macam agama dan ajaran. Kemudian mulkiyah ini membangun gereja-gereja yang besar dengan meniru bangunan-bangunan yunani, lalu mereka mengubah mihrabnya ke timur, dan sebelumnya ke utara, ke arah bintang jiddi. [53]

Penyimpangan aqidah mengenai Nabi ‘Isa

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran:

 فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِن مَّشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيْمٍ (37)

“ …Maka berselisihlah golongan-golongan yang ada diantara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.”[54]

Maksudnya, orang-orang pada saat itu dan setelahnya berselisih pendapat mengenai dirinya (Nabi ‘Isa). Diantaranya mereka adalah orang Yahudi yang mengatakan bahwa ‘Isa adalah anak zina, sehingga komunitas Yahudi tetap dan bahkan terus mengingkari kenabiannya. Pendapat orang Yahudi itu di sanggah oleh orang-orang Nasrani yang mengatakan bahwa ‘Isa adalah Allah. Sebagian dari mereka ini ada juga yang menyatakan bahwa dia adalah anak Allah. Sedangkan orang-orang Mukmin memandang ‘Isa putra Maryam sebagai seorang hamba sekaligus Rasul Allah, dan anak dari seorang hamba-Nya. Dan kalimat-Nya kepada Maryam dan ruh dari-Nya.  Mereka itulah orang-orang yang selamat yang dilimpahkan kepada mereka aneka pahala, didukung, serta diberikan pertolongan. [55]

Allah yang Mahatinggi, Mahaagung, Mahabijaksana, lagi Maha Mengetahui telah mengancam mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) melalui firman-Nya:

 …فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِن مَّشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيْمٍ (37)

… Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.” [52]

Allah Ta’ala melarang Ahlul Kitab dan orang-orang yang serupa dengan mereka untuk berlebih-lebihan dalam menjalankan agama, yakni melampaui batas yang ditetapkan. Kaum Nasrani telah melampaui batas dan bertindak secara berlebihan terhadap ‘Isa hingga mereka mengangkat ‘Isa melebihi derajat yang diberikan Allah. Yang wajib atas mereka adalah meyakini bahwa ‘Isa adalah hamba sekaligus Rasul-Nya dan juga anak dari hamba-Nya yang masih gadis, yang menjaga kemaluannya. Karenanya, Allah mengutus Malaikat kepadanya (Maryam), lalu dia meniupkan perintah Allah sekali tiup sehingga Maryam pun hamil dan akhirnya melahirkan ‘Isa. Yang ditiupkan oleh Malaikat Jibril kepadanya itu adalah ruh dari Allah yang diiringi dengan pemuliaan dan penghormatan, sehingga dengan demikian, Maryam itu tidak lain adalah makhluk ciptaan Allah, sebagaimana Dia mengatakan: “Baitullah (rumah Allah), naaqatullah (unta Allah), ‘Abdullah (hamba Allah), maka demikian itu juga dengan istilah, Ruhullah (ruh Allah). Dinisbatkannya hal itu kepada-Nya adalah sebagai pemuliaan dan penghormatan kepadanya. Dan diberi nama ‘Isa karna dia lahir tanpa seorang bapak, sebgaimana yang difirmankan Allah Ta’ala :

 إِنَّ مَثَلَ عِيْسَىٰ عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ (59)

“Sesungguhnya perumpamaan penciptaan ‘Isa dalam pandangan Allah adalah seperti penciptaan Adam, Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah ia.” [56]

Allah tidak beranak

Di dalam Al-Quran, Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwasanya tidak layak bagi-Nya memiliki anak, karna Dia adalah pencipta dan penguasa segala sesuatu, sedangkan selain Dia senantiasa membutuhkan-Nya, hina dan tunduk kepda-Nya, serta seluruh penghuni langit dan bumi adalah hamba-Nya. Dialah Rabb mereka, yang tidak ada Ilah selain Dia, dan tiada Rabb selain diri-Nya. Oleh karnanya perkataan orang-orang zhalim yang mengatakan bahwa Allah memiliki anak merupakan suatu hal yang sangat munkar, sebagaimana firman Allah,

وَ قَالُوْا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ  جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89)

“Dan mereka berkata:’ Rabb Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.’ Sesungguhnya kamu telah mendatangkan suatu perkara yang sangat munkar.” [57] 

Allah juga berfirman:

 تَكَادُ السَّمٰوٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَ تَخِرُّ الْجِبَالُ هدًّا  (90) أَن دَعَوْا لِلرَّحْمٰنِ وَلَدًا (91) وَ مَا يَنْبَغِى لِلرَّحْمٰنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَ الْأَرْضِ إِلَّاۤ ءَاتِى الرَّحْمٰنِ عَبْدًا (93) لَقَدْ أَحْصَىٰهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا (94) وَكُلُّهُمْ ءَاتِيْهِ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فَرْدًا (95)

“Hampir-hampir langit pecah karna ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karna mereka mendakwa Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Rabb yang Maha pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Rabb Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [58]

Allah Ta’ala juga berfirman:

 وَ جَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ الْجِنَّ وَ خَلَقَهُمْ وَخَرَقُوْا لَهُ بَنِيْنَ وَبَنٰتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ سُبْحٰنَهُ وَتَعٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُوْنَ  (100) بَدِيْعُ السَّمَىٰوٰتِ وَ الْأَرْضِ أَنَّىٰ يَكُوْنُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَّهُ صٰحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ(101)ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ لَاۤإِلٰهَ إِلاَّ هُوَ خَــــٰلِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وِكِيْلٌ (102) لاَ تُدْرِكُهُ الْأَبْصَــٰرُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَــٰرَ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ(103)

“Dan mereka (orang-orang) musyrik menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah menciptakan jin-jin itu, dan  mereka berbohong (dengan mengatakan): ‘Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,’ tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang mempunyai sifat-sifat yang) demikian itu hanyalah Allah, Rabb kalian, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka ibadahilah Dia, dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” [59]

Demikian pula dalam ayat al-Quran yang lainnya, Allah telah mensucikan Dirinya dari memiliki anak. Diantaranya di dalam surat al-Ikhlas:1-4, Surat An-Nisa’:171-173, Surat Al-Baqarah:116-117, Surat Az-Zukhruf:19, Surat Ash-Shaffat:149-160, Surat Al-Kahfi:1-5,  Surat Yunus: 68-70.

Ayat-ayat Al-Quran diatas mencakup bantahan terhadap seluruh kelompok kafir baik dari kalangan kaum filosuf, orang-orang musyrik arab, orang-orang Yahudi, maupun orang-orang Nasrani yang mengaku dan mengklaim tanpa landasan ilmu bahwa Allah mempunyai anak. Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim dan orang-orang yang melampaui batas. [60]

Berita gembira yang diterima Nabi ‘Isa mengenai kedatangan Nabi Muhammad

Di dalam Al-Quran, Allah telah memberitakan bahwa Nabi ‘Isa menerima berita gembira akan kedatangan Nabi Muhammad setelahnya. Allah berfirman:

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata:
‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan member kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).’
Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nayata.’
Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.
Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahanya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.
Dialah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya diatas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘And.
Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya).
Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: ‘Kamilah penolong-penolong agama Allah.’
Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadapa musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.”
[61]

Dengan demikian, ‘Isa adalah penutup Nabi-Nabi Bani Israil. Dia pernah berdiri memberitahu mereka mengenai datangnya penutup para Nabi yang datang setelahnya. Dia menyebutkan nama Nabi tersebut sekaligus sifatnya kepada mereka agar mereka mengenalnya dan mengikutinya jika kelak mereka menjumpainya, sebagai upaya menegakkan hujjah atas mereka sekaligus sebagai kebaikan dari Allah kepada mereka. [47]

Muhammad bin Ishaq bercerita, dari beberapa sahabat Rasulullah ﷺ, bahwasanya mereka berkata: “ Ya Rasulullah, ceritakan kepada kami tentang dirimu.” Beliau menjawab: “ Do’a bapakku Ibrahim, dan kabar gembira ‘Isa, dan mimpi ibuku ketika sedang mengandungku, dimana seakan-akan ada seberkas cahaya yang menerangi istana-istana para raja negeri Syam.” [62]

Ketika masa kenabian telah berakhir di kalangan Bani Israil kepada ‘Isa putra Maryam, diapun berdiri di hadapan kaumnya untuk memberitahu bahwa masa kenabian di kalangan Bani Israil telah berakhir. Lalu dia menerangkan bahwa sepeninggalnya nanti yang akan menjadi Rasul terakhir adalah seorang lelaki yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) berasal dari bangsa Arab, penutup para Nabi secara keseluruhan, yang bernama Ahmad, yaitu Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththallib bin Hasyim yang berasal dari keturunan Isma’il bin Ibrahim al-Khalil. [63]

Kisah tentang hidangan

Di dalam Al-Quran disebutkan sebuah kisah tentang pengikut Nabi ‘Isa yang meminta kepada Nabi ‘Isa agar berdo’a kepada Allah untuk menurunkan hidangan dari langit. Allah Ta’ala berfirman:

(ingatlah) ketika pengikut-pengikut ‘Isa berkata: ‘Hai ‘Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?’
‘Isa menjawab: ‘ Bertakwalah kepada Allah, jika betul-betul kamu orang yang beriman.’
Mereka berkata: ‘ Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tentram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.’
‘Isa putra Maryam berdo’a: ‘ Ya Rabb kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang  yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda kekuasaan Engkau; beri rizkilah kami, dan Engkaulah Pemberi Rizki Yang Paling Utama.’
Allah berfirman: ‘ sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir diantara kamu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyaksikannya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun diantara ummat manusia.’”
  [64]

Di dalam Tafsiir [65] telah disebutkan beberapa atsar yang menerangkan tentang turunnya hidangan itu, dari Ibnu ‘Abbas, Salman al-Farisi, ‘Ammar bin Yasir dan beberapa ulama Salaf lainnya. Diantara kandungan atsar tersebut adalah sebagai berikut: bahwa ‘Isa telah memerintahkan para pengikut setianya untuk mengerjakan puasa selama tiga puluh hari. Setelah selesai mengerjakannya, mereka meminta kepada Nabi ‘Isa agar menurunkan hidangan makanan dari langit untuk mereka santap, dan agar dengan demikian itu hati mereka bisa menjadi tenang dengan harapan Allah Ta’ala telah menerima amal ibadah puasa mereka dan juga mengabulkan permohonan mereka. Selain itu, menurut mereka, hidangan itu dapat menjadi pesta pada hari berbuka mereka sekaligus dapat mencukupi mereka semua; yang pertama sampai terakhir, kaya maupun miskin. Lalu ‘Isa memberikan nasehat kepada mereka dalam menyantap hidangan tersebut. Dan beliau khawatir mereka tidak mau mensyukuri anugrah tersebut dan tidak mau melaksanakan segala syarat-syaratnya. Namun mereka enggan dan tetap bersikeras agar ‘Isa memohon kepada Allah Ta’ala untuk menurunkan hidangan itu kepada mereka. Karna mereka tidak mau mengubah pendirian mereka itu, ‘Isa pun berangkat ke tempat sholatnya seraya mengenakan sorban di atas kepalanya, merapikan kedua kakinya, menundukkan kepalanya, dan membasahi kedua matanya dengan tangisan air mata seraya memohon kepada Allah agar Dia mengabulkan permintaan kaumnya.

Akhirnya Allah Ta’ala mengabulkan permintaan mereka dengan menurunkan hidangan dari langit. Sedang pada saat itu, orang-orang menyaksikan langsung turun dari sela-sela awan putih yang berjalan berarak. Hidangan itu mendekat sedikit demi sedikit. Setiap kali hidangan itu turun mendekat, ‘Isa terus memohon kepada Rabbnya agar menjadikannya sebagai rahmat dan bukan malapetaka, juga sebagai berkah sekaligus keselamatan. Dan hidangan itu terus turun mendekat, hingga akhirnya mendarat di hadapan ‘Isa dalam keadaan tertutup oleh kain. Kemudian ‘Isa menyingkap kain penutup hidangan itu seraya berkata: “ Dengan nama Allah, Rabb sebaik-baik pemberi rizki.” Ketika kain penutup hidangan itu tersingkap, ternyata diatasnya terdapat tujuh potong ikan besar dan tujuh buah roti besar. Ada yang berpendapat: “ Juga terdapat acar.” Ada pula pendapat yang menyatakan: “ Ada delima dan buah-buahan lainnya.” Hidangan itu mempunyai aroma yang luar biasa dan mengundang selera. Allah berkata kepada hidangan itu: “ Jadilah,” maka jadilah hidangan tersebut.

Selanjutnya ‘Isa memerintahkan mereka untuk menyantap hidangan itu, tetapi mereka berkata: “ Kami tidak akan makan sebelum kamu memakannya terlebih dahulu.” Lalu Nabi ‘Isa menjawab: “ Bukankah kamu yang merengek-rengek meminta hidangan itu.” Akhirnya mereka tetap menolak  untuk memulai menyantap hidangan tersebut. Kemudian ‘Isa menyuruh orang-orang faqir miskin, orang-orang yang membutuhkan, orang-orang sakit, dan orang-orang yang terkena penyakit kronis, yang jumlah mereka hampir mencapai seribu tiga ratus orang. Maka merekapun menikmati hidangan tersebut sehingga lenyaplah segala macam aib, bencana dan penyakit mereka. Dan orang-orangpun menyesal tidak ikut makan hidangan tersebut, karna mereka menyaksikan kebaikan yang ditimbulkan oleh hidangan itu. Kemudian yang menyatakan: “ Hidangan itu turun satu kali dalam satu hari, lalu orang-orang makan dari hidangan tersebut, dimana orang yang terakhir makan seperti yang dilakukan oleh orang yang pertama diantara mereka. Sehingga ada yang mengatakan, bahwa yang ikut makan hidangan itu mencapai tujuh ribu orang.

Hidangan itu turun hari demi hari, sebagaimana susu unta Nabi Shalih yang diminum hari demi hari. Selanjutnya Allah memrintahkan ‘Isa untuk mengkhususkan hidangan itu bagi orang-orang miskin atau orang-orang yang membutuhkan saja, dan tidak boleh untuk orang-orang kaya. Namun hal itu membuat banyak orang merasa keberatan, sehingga orang-orang munafik diantara mereka pun membicarakan hal tersebut. Hingga akhirnya hidangan terhenti total dan orang-orang munafik yang berbicara tentang hal tersebut diusap dan berubah menjadi babi.

Jumhur ulama berpendapat bahwa hidangan itu benar-benar turun, sebagaimana yang diterangkan oleh beberapa atsar, dan pemahaman yang terdapat pada lahiriah siyaq (redaksi) al-Quran, apalagi firmananya:

إِنِّى مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ …(115)

“… Sesungguhnya Aku (Allah) akan menurunkan hidangan itu kepada kalian…”  [66]

Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Ibnu Jarir [67]. Wallahu a’lam.

Turunnya Nabi ‘Isa ke bumi pada akhir zaman

Di dalam hadits Nabi telah disebutkan bahwa pada akhir zaman nanti Nabi ‘Isa akan turun kembali ke dunia.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Para nabi adalah saudara sebapak. Agama mereka satu dan ibu-ibu mereka banyak. Aku adalah orang yang paling dekat dengan ‘Isa, karna tidak ada seorang Nabi antara aku dengannya. Dia akan turun ke dunia kelak. Oleh karna itu, jika kalian melihatnya, maka kenalilah dia. Dia adalah orang yang tidak terlalu tinggi dan tidak juga pendek, cendrung berkulit putih kemerahan. Dia berambut lurus, seakan-akan kepalanya memercikkan air meski tidak terkena air, mengenakan dua pakaian dua pakaian yang berwarna kuning; dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah, dan menghapuskan semua agama sehingga semuanya akan binasa pada zamannya kecuali Islam. Dan, pada zamannya, Allah juga membunuh Dajjal sang pendusta, sehingga tercipta rasa aman di bumi, unta akan bersahabat dengan singa, harimau akan berteman dengan kambing, serigala akan  berkumpul dengan domba, anak-anak kecil akan bermain-main dengan ular yang berbisa, yang sebagian tidak membahayakan sebagian lainnya. Kemudian, berlangsung beberapa saat seperti yang dikehendaki oleh Allah sampai akhirnya Allah mewafatkannya, lalu kaum Muslimin menyalatkan dan menguburkannya.” [40]

‘Isa akan turun di atas menara putih di kota Damaskus, pada saat shalat shubuh akan dilaksanakan. Imam masjid tersebut berkata kepadanya: “ Majulah ke depan, wahai Ruh Allah, untuk menjadi imam shalat shubuh pagi ini.” ‘Isa menjawab: “ Tidak, sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai pemuliaan bagi ummat ini oleh Allah.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan : “ Lalu ‘Isa berkata kepadanya: ‘ Sesungguhnya shalat ini didirikan untuk Anda imami.’ Kemudian ‘Isa ikut mengerjakan sholat di belakang imam. Selanjutnya, dia berangkat bersama kaum Muslimin untuk mencari al-Masih Dajjal, hingga akhirnya dia mendapatkannya berada di pintu gerbang lud, lalu dia membunuhnya dengan tangannya sendiri.” Telah diceritakan  bahwa ‘Isa itu mempunyai harapan yang besar ketika menara timur di Damaskus sedang dibangun dengan menggunakan batu putih. Dan, telah dibangun pula sebuah menara masjid dari dana kaum Nasrani ketika mereka membakar apa-apa yang telah hancur di sekitarnya. Kemudian, ‘Isa putra Maryam turun untuk membunuh babi, menghancurkan salib, dan  tidak menerima ajaran agama dari siapa pun selain agama Islam. Setelah itu, dia keluar dari Fajjur Rauha’ untuk menunaikan ibadah haji atau menunaikan umrah serta menetap di bumi selama empat puluh tahun, hingga akhirnya wafat dan kemudian dikuburkan. [68]

Imam al-Bukhari[69] meriwayatkan dari salman, dia mengatakan: “ Jarak antara ‘Isa dan Muhammad adalah enam ratus tahun.” Dan dari Qatadah: “ Jarak antara keduanya adalah  lima ratus enam puluh tahun.” Sementara itu ada pula yang berpendapat: “ Jarak antara keduanya adalah  lima ratus empat puluh tahun.” Dan dari adh-Dhahhak menyebutkan: “ Jarak antara keduanya adalah empat ratus tiga puluh tahun.”  Riwayat yang masyhur adalah enam ratus tahun. Tetapi, ada pula yang menyatakan bahwa jarak antara keduanya adalah enam ratus dua puluh tahun menurut hitungan tahun qamariyah (perhitungan bulan) enam ratus tahun menurut hitungan tahun Syamsiyah (perhitungan matahari) [70].

Wallahu a’lam

Referensi

Disarikan dari Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, penerbit: Pustaka Imam Syafi’I Jilid ke dua, dengan sistematika susunan dan penyesuaian dari penulis.

  1. Al-Quran Surat Ali Imran: 42
  2. Diriwayatkan oleh Ahmad (I/84, 166, 132,143), al-Bukhari (3432), Muslim (2430) at-Tirmidzi (3877), an-Nasa-I dalam al-Kubra  sebagaimana terdapat pada tuhfatul Asyraf (VII/394) (Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 517)
  3. Hadits Shahih diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam kitab al-Mushannaf (20919), Ahmad (III/135), at-Tirmidzi (3878), Ibnu Hibban (7003), al-Hakim (III/157) dan yang lainnya dengan sanad shahih. (Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 517)
  4. Dalam Musnadnya (II/269 dan 275) dan sanadnya shahih
  5. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 518
  6. Al-Quran Surat Maryam: 16-37
  7. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 527
  8. Al-Quran Surat At-Tahrim:12
  9. Al-Quran Surat Ali Imran: 45-46
  10. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 533
  11. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikhnya, sebagaimana yang disebutkan dalam ad-Durrul Mantsuur (V/498)
  12. Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Tafsirnya (II/VII), ath-Thabari dalam Jaami’ul Bayaan (XVI/50), al-Faryabi, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Abu Hatim, sebagimana yang terdapat dalam ad-Durrul Mantsuur (V/497)
  13. Yaitu, al-Hasan al-Bashri; diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Taarikhnya; sebagaimana yang disebutkan dalam ad-Durrul Mantsuur
  14. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 534
  15. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3208), Muslim (2643), dari hadits Ibnu Mas’ud
  16. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 540
  17. Al-Quran Surat Maryam:27
  18. Al-Quran Surat Maryam:28
  19. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 542
  20. Al-Quran Surat Maryam:29
  21. Al-Quran Surat Maryam: 30-33
  22. Al-Quran Surat Maryam: 30
  23. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 544
  24. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 576
  25. Al-Quran Surat Al-Mu’minun:50
  26. Al-Quran Surat Maryam:24
  27. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 577
  28. Al-Quran Surat Al-Maa-idah:75
  29. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 601
  30. Yang ditegaskan di dalam Shahihain
  31. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 602
  32. yang diriwayatkan oleh al-Bukhari
  33. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 604
  34. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 604-605
  35. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3439 dan 3440) dan Muslim (169)
  36. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 605
  37. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 606
  38. Dalam shahihnya (3445)
  39. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 607-608
  40. Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (II/437), Abu Dawud (4324), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (XV/no.6822), al-Hakim (II/595), dan lain-lainnya dengan sanad shahih. Dan telah dinilai shahih oelh al-Hakim, adz –Dzahabi, al-Hafidz Ibnu Hajar, dan Syaikh al-Albani.
  41. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 585-586
  42. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 586-587
  43. Al-Quran Surat Ali ‘Imran: 54
  44. Al-Quran Surat Ali ‘Imran: 55
  45. Al-Quran Surat Ali ‘Imran: 54-55
  46. Al-Quran Surat An-Nisaa’: 155-159
  47. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 589
  48. Dari al-Bidayah wan Nihayah (X/130 dan setelahnya)
  49. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 599-600
  50. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 600
  51. Al-Quran Surat Ash-Shaff:14
  52. Al-Quran Surat  Maryam : 37
  53. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 613-614
  54. Al-Quran Surat Maryam : 37
  55. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 550-551
  56. Al-Quran Surat  ‘Ali Imran : 59
  57. Al-Quran Surat  Maryam : 88-89
  58. Al-Quran Surat  Maryam : 90-95
  59. Al-Quran Surat  Al-An’am :100-103
  60. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 562
  61. Al-Quran Surat  Ash-Shaff:6-14
  62. Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam as-Siirah (I/175), yang diantara jalannya terdapat ath-Thabari dalam Jaami’ul Bayaan (I/no.2079), al-Hakim (II/600) dengan sanad hasan. Dan dinilai shahih oleh al-hakim dan Adz-Dzahabi, serta dinilai shahih oleh Ibnu Katsir dan Syaikh al-Albani dalam ash-Shahiihah (1545) (Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 590)
  63. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 590
  64. Al-Quran Surat  Al-Maa-idah:112-115
  65. Tafsiirul Qur-aanul ‘Azhim (III/307) dan setelahnya
  66. Al-Quran Surat  Al-Maa-idah:115
  67. Dalam Jaami’ul Bayaan (VII/87-88)( Lihat nukilan kisah ini dalah Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 594-596)
  68. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 610-611
  69. Dalam shahihnya (3948)
  70. Lihat Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Edisi Bahada Indonesia, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i :2/ 611