Nabi Nuh

Nabi Nuh [1]

Kelahiran Nabi Nuh

Nabi Nuh lahir sepeninggal Nabi Adam, yang berjarak sepuluh abad. Dari Abu Umamah, bahwasanya ada seseorang berkata: “Ya Rasulullah, apakah Nabi adam itu seorang Nabi?” “Ya” jawab beliau.” Berapa lama jarak antara dirinya dengan Nabi Nuh?” tanyanya lebih lanjut. Beliau menjawab: “Sepuluh Abad”. [2]

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia mengatakan : “Jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh adalah sepuluh abad, semua orang yang hidup pada masa itu memeluk Islam.” Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam kitab Jaami’il bayaan (II/194), al-Hakim (II/546) dengan sanad sesuai dengan syarat al-Bukhari, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi serta Syaikh al-Albani  [3]

Jika yang dimaksud dengan satu abad itu seratus tahun, berarti jarak antara keduanya adalah seribu tahun, tetapi tidak menutup kemungkinan jarak antara keduanya lebih dari itu, berdasarkan pada batasan masa Islam dalam kehidupan mereka  yang diberikan oleh Ibnu Abbas, yaitu diantara keduanya terdapat abad yang lain yang mereka tidak memeluk Islam. Namun demikian, hadits dari Abu Umamah menunjukkan masa antara keduanya hanya sepuluh abad. Ibnu Abbas menambahkan bahwa mereka semua dalam keadaan memeluk Islam. [4]

Secara umum dapat dikatakan nabi Nuh diutus Allah Ta’ala ketika manusia menyembah berhala dan thagut, serta tenggelam dalam kesesatan dan kekafiran. Kemudian Allah Ta’ala mengutusnya sebagai rahmat bagi ummat manusia. Ia adalah Rasul pertama yang diutus Allah ke muka bumi. Sebagaimana yang dikatakan manusia kelak pada hari kiamat. [5]

Kisah Nabi Nuh di dalam Al-Quran al-Karim

Allah Ta’ala menceritakan  di dalam Al-Quran kisah Nabi Nuh dalam banyak surat Al-Quran.  Al-Quran mengisahkan kisah Nabi nuh dan kaumnya serta adzab berupa angin topan yang diturunkan –Nya kepada mereka yang kafir, juga kisah selamatnya Nabi Nuh beserta orang-orang yang berada di dalam perahu bersamanya. Dia menceritakan hal tersebut di beberapa tempat pada kitab-Nya.

Adapun surat-surat  yang menjelaskan tentang kisah Nabi Nuh dalam Al-Quran diantaranya: surat Al-A’raf ayat 59-64, surat Yunus ayat 71-73, surat Hud ayat 25-49, surat Al-Anbiya’ ayat 76-77, Surat Al-Mu’minuun ayat 23-30, Surat Asy-Syu’araa ayat 105-122, Surat Al-Ankabut ayat 14-15, Surat Ash-Shaaffat ayat 75-82, Surat al-Qomar ayat 9-17, Surat Nuh ayat 1-28. Lihat pula  Surat An-Nisa’ ayat 163-165, Surat Al-An’am ayat 73-87, Surat At-Taubah ayat 70, Surat Ibrahim ayat 9, Surat Al-Isra’ ayat 3 dan ayat 17, Surat Al-Ahdzab ayat 12-14, Surat Shaad ayat 12-14, Surat Al-Mu’minunn ayat 5-6, Surat Asy-Syurura ayat 13, Surat Qaaf ayat 12-14, Surat Adz-Dzariat ayat 46, Surat An-Najm ayat 52, Surat Al-Hadiid ayat 26, Surat At-Tahrim ayat 10. [6]

Untuk memperluas pembahasan tentang kisah Nabi Nuh berdasarkan surat yang kami kemukakan diatas maka bisa merujuk kepada kitab tafsir para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Karena didalamnya telah dijelaskan secara terperinci dan pembahasan yang luas,dan komprehensif.

Penyimpangan anak keturunan Nabi Adam sebelum Nabi Nuh diutus

Sebagaimana telah kami jelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwasanya jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh adalah sepuluh abad. Semua orang pada masa itu memeluk islam. Masa-masa ketika islam sedang jaya dan tidak terjadi banyak penyimpangan dalam beragama. Dan kita juga telah sebutkan bahwa yang dimaksud dengan satu qurun di sini adalah satu generasi atau masa yang sama dengan seratus tahun atau satu abad.

Namun setelah abad-abad kejayaan islam itu keadaan berubah menjadi sebaliknya, ketika orang-orang beralih kepada penyembahan berhala. Penyebab perubahan tersebut adalah seperti yang dikisahkan dalam riwayat Imam al-Bukhari, [7] dari Ibnu Abbas tentang penafsiran Firman Allah Ta’ala:

وَ قَالُوْا لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَ لاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَ لاَ سُوَاعًا وَ لاَ يَغُوْثَ وَ يَعُوْقَ وَ نَسْرًا (23)

“Dan mereka berkata: “ Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” [8]

Ibnu Abbas mengatakan : “ nama-nama tersebut adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, Syaithan membisikkan kepada kaumnya agar mereka membuat patung orang-orang shalih diantara mereka dan memberinya nama dengan nama-nama mereka. Lalu mereka mengerjakan hal itu. Mulanya berhala-berhala itu tidak disembah. Setelah mereka meninggal dunia dan ilmupun musnah, maka patung-patung itu akhirnya disembah. [9]

Ibnu Abbas mengatakan: “ berhala-berhala yang ada dikalangan kaum Nuh inilah yang akhirnya muncul ditengah-tengah bangsa arab.” Dalam penyembahan ini, mereka mempunyai cara yang sangat banyak dan beraneka ragam. [10]

Di dalam kitab ash-Shahihain ditegaskan, dari rasulullah ﷺ , bahwasanya ketika Ummu Salamah dan Ummu Habibah menceritakan kepada Nabi ﷺ tentang gereja yang mereka lihat di daerah Habasyah yang diberi nama Mariyah, seraya menyebutkan keindahan dan gambar-gambar yang ada di dalamnya, beliau ﷺ bersabda :

أُولٰئِكَ إِذَا مَاتَ فِيْهِمُ الرَّجُلَ الصَّالِحِ ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا،ثُمَّ صَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوْرَةَ،
أُلٰئِكَ شِرَرُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللّٰهِ

“Mereka itulah orang-orang yang jika ada orang shalih diantara mereka yang meninggal dunia, maka mereka membangun masjid di makamnya itu, lalu mereka melukiskan gambar-gambar di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” [11]

Diutusunya Nabi Nuh sebagai Rasul yang pertama

Setelah terjadi kerusakan dan malapetaka menyebarluas luas di bumi akibat penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum nabi Nuh, Allah Ta’ala mengutus hamba sekaligus Rasul-Nya, Nabi Nuh untuk menyeru ummat manusia agar menyembah Allah semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, serta melarang mereka menyembah kepada selain Dia.

Nabi Nuh adalah Rasul yang pertama kali diutus Allah ke muka bumi, sebagaimana yang ditegaskan di dalam kitab as-shahihain, hadits panjang mengenai syafa’at. Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ , beliau bercerita:
“ . . . . Kemudian merekapun mendatangi Nabi Nuh seraya berkata : “ Wahai Nabi Nuh, engkau adalah Rasul yang pertama kali diutus kepada penduduk bumi, Allah telah menyebutmu sebagai ‘abdan syakuura (hamba yang senantiasa bersyukur), tidakkah engkau melihat apa yang kami alami, tidakkah engkau mengetahui apa yang telah menimpa kami? Maukah engkau memberikan syafa’at kepada kami untuk sampai kepada Allah ? Maka Nabi Nuh pun menjawab: ‘ Rabbku pada hari ini benar-benar sedang murka, belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan sesudahnya. Tinggalkan aku sendiri. [12]

Setelah Allah ta’ala mengutus Nabi Nuh, maka Nabi Nuh pun segera menyeru kaumnya supaya mengesakan Allah dalam beribadah dan tidak menyekutukan-Nya. Dia juga mengajak kaumnya agar tidak menyembah patung, berhala, juga thagut serta mengakui keesaan-Nya, yang mana tidak ada ilah yang berhak diibadahi melainkan hanya Dia. Sebagaimana Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada Rasul setelahnya, yang mereka semua tidak lain adalah anak keturunannya. [13]

Di dalam Al-Quran surat Nuh ayat 2 sampai 16 diceritakan bahwa Nabi Nuh telah menyeru kaumnya kepada Allah Ta’ala dengan berbagai macam cara dakwah, pada siang dan malam hari, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Namun semua cara yang ditempuhnya itu tidak membuahkan hasil, bahkan kebanyakan dari mereka masih tetap berada dalam kesesatan, kesewenang-wenangan, penyembahan patung dan berhala. Selain itu, mereka terus-menerus memusuhi Nabi Nuh, kapan dimana saja, bahkan mereka menakut-nakuti dan meneror para pengikutnya dengan memberikan ancaman kepada mereka berupa pelemparan, pengusiran, dan mereka benar-benar bertindak sewenang-wenang. [14]

Kaum Nabi Nuh adalah kaum yang sangat ingkar bahkan mereka telah menuduh Nabi Nuh dengan tuduhan bahwa Nabi Nuh adalah orang sesat. Sebagaimana tudahan yang dikemukakan oleh orang-orang musyrik mekah dahulu kepada Rasulullah ﷺ. Allah menceritakan tuduhan mereka dan jawaban Nabi Nuh kepada mereka tersebut dalam Al-Quran Surat Al-A’raf :

قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِيْ ضَلَٰلٍ مُبِيْنٍ(60) قَالَ يٰقَوْمِ لِيْسَ بِى ضَلٰلَةٌ وَلٰكِنِّى رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعَالَمِيْنَ (61)

“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandangmu berada dalam kesesatan nyata.’ Nuh menjawab:’ “Hai kaumku, tidak ada padaku kesesatan sedikitpun, tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam.” [15]

Maksudnya, aku tidak seperti yang kalian duga bahwa aku adalah orang yang sesat. Justru sebaliknya, aku berada dalam petunjuk yang lurus dari Rabb semesta alam, yaitu Rabb yang jika menciptakan sesuatu hanya akan mengatakan : “ jadilah, maka jadilah dia,” [16]

Mereka (kaum Nuh) benar-benar heran, seorang manusia bisa menjadi utusan Allah. Mereka mengejek para pengikutnya dan menghinakan mereka. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa para pengikutnya itu adalah orang-orang yang paling bodoh dan lemah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Heraklius: “ Orang-orang bodoh dan lemah itu adalah pengikut para rasul.” [17]

Allah menceritakan ungkapan mereka (kaum Nuh) ketika mengejek pengikut Nabi Nuh didalam Al-Quran dengan ungkapan :

بَادِىَ الرَّأْىِ …..(27)

“….yang lekas percaya …..” [18]

Artinya, mereka ikut saja apa yang engkau (Nabi Nuh) serukan kepada mereka tanpa berpikir dan merenungkan. Apa yang mereka jadikan bahan ejekan itu justru menjadi pujian baginya, karena kebenaran itu tidak lagi memerlukan pemikiran dan renungan, tetapi hanya perlu diikuti dan ditaati kapan kebenaran itu tampak. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda sebagai salah satu bentuk pujian yang diberikan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Dan pembaiatan dirinya pada peristiwa Saqifah juga sangat singkat tanpa pemikiran dan renungan, karena keutamaan dirinya (Abu Bakar) atas sahabat lainnya sudah sangat tampak di kalangan para sahabat. [19]

Lamanya waktu Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk beriman

Sudah cukup lama waktu berjalan, namun perseteruan antara Nuh dan kaumnya terus berlangsung, sebagaimana yang difirmankan Allah:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيْهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلاَّ خَمْسِيْنَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ
وَ هُمْ ظَالِمُوْنَ (14)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal diantara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zhalim.” [20]

Artinya, meskipun perjalanan waktu yang cukup lama, tetapi hanya segelintir dari mereka yang mau beriman. Setiap pergantian generasi berlangsung, mereka senantiasa berpesan kepada generasi penerus mereka agar tidak beriman kepada Nabi Nuh dan supaya melawan serta melanggarnya. Setiap orang tua, ketika melihat anaknya tumbuh dewasa, maka dia akan segera menasehati anaknya tersebut supaya tidak beriman kepadanya untuk selamanya. Ciri khas mereka adalah senantiasa menolak iman dan enggan mengikuti kebenaran. [21]

Nabi Nuh membuat perahu

Setelah sekian lama Nabi Nuh mendakwahi kaumnya, sikap kaum Nuh semakin ingkar, kufur dan menentang serta menyakiti Nabi Nuh dan pengikutnya. Sementara orang-orang yang beriman yang mengikuti Nuh sangatlah sedikit.

Ketika Nabi Nuh sudah merasa putus asa untuk menyeru kaumnya dan melihat tidak adanya kebaikan pada diri mereka. Lebih dari itu mereka sudah berbuat diluar batas kewajaran, menentang dan mendustakannya dengan berbagai macam cara, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Maka Nabi Nuh mendo’akan keburukan bagi mereka, yaitu do’a yang dipanjatkan karena kemarahan, sehingga Allah pun mengabulkan do’a dan permintaannya. Sebagai firman Allah dalam Al-Quran Surat As-Shaaffat ayat 75-76. [22]

Maka kesalahan akibat kekufuran, kejahatan, dan kutukan Nabi atas merekapun menyatu dan menimpa mereka. Pada saat itu, Allah ta’ala memerinyahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu dalam ukuran besar yang belum pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah ada sesudahnya perahu sebesar ukuran perahu yang dibuat Nabi Nuh tersebut. Allah memberitahu Nabi Nuh, jika telah datang perintah-Nya dan adzab-Nya pun telah menimpa kaumnya, maka sekali-kali Dia tidak akan menarik atau mengembalikannya. Barangkali akan terbesit dalam diri Nabi Nuh rasa kasihan terhadap kaumnya akibat penderitaan yang mereka rasakan dari adzab tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman:

…وَ لاَ تُخَاطِبْنِى فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا إِنَّهُمْ مُغْرَقُوْنَ (37)

“…Dan janganlah kamu bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zhalim itu. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” [23]

Allah juga berfirman :

وَ يَصْنَعُ الْفُلْكَ وَ كُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِّنْ قَوْمِهِ سَخِرُوْا مِنْهُ. . . (38)

“Maka mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melawati Nuh, mereka mengejeknya …” [24]

Mereka (kaum Nuh) mencela apa yang dilakukan Nuh, karena mereka menyangkal datangnya adzab yang telah dijanjikan bagi mereka. [25] Ciri khas mereka adalah kekufuran dan keingkaran yang sangat dahsyat di dunia, demikian juga di akhirat kelak, di mana mereka masih tetap ingkar terhadap datangnya para Rasul Allah ta’ala kepada mereka. Sebagaimana yang diriwatkan oleh imam bukhari no. 3339 [26]

Sebagian ulama salaf mengatakan : “Setelah Allah mengabulkan permintaan Nabi Nuh , Dia memerintahkan agar dia menanam sebatang pohon untuk selanjutnya dia buat sebuah perahu. Maka diapun menanamnya dan setelah itu memotongnya.” Secara keseluruhan mereka mengatakan : “ Tinggi perahu tersebut adalah tiga puluh hasta, bertingkat tiga lantai, yang masing-masing tingkat berketinggian sepuluh hasta. Lantai dasar untuk tempat binatang, lantai tengah diperuntukkan bagi penampungan manusia, sedangkan lantai tiga (yang paling atas) untuk burung-burung. Pintunya terdapat di bagian samping, dan memiliki penutup pada bagian atas dari setiap lantai.” [27]

Adzab Allah kepada kaum Nabi Nuh yang tidak beriman kepada Allah

Allah berfirman dalam Al-Quran:

…. فَإِذَا جَاۤءَ أَمْرُنَا وَ فَارَ التَّنُّوْرُ فَاسْلُكْ فِيْهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَ أَهْلَكَ إِلاَّ مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ وَ لاَ تُخَاطِبْنِى فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا إِنَّهُمْ مُغْرَقُوْنَ (27)

“…. Maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memanacarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis) dan (juga) keluargamua, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa adzab) diantara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zhalim karena sesungguhnya mereka itu akan di tenggelamkan.” [28]

Maka Allah Ta’ala telah memberikan perintah yang sangat agung lagi tinggi. Artinya, apabila telah datang perintah-Nya dan adzab-Nya. Hendaklah nabi Nuh mengangkut dengan perahu tersebut binatang dan semua makhluk hidup dengan pasangan masing-masing, serta membawa pula makanan untuk kelanjutan hidup bagi anak keturunannya. Selain itu, Nabi Nuh juga diperintahkan supaya mengajak keluarganya, kecuali yang sudah di dakwahi tetapi kafir, karena dia memang berhak mendapat adzab yang tidak dapat di tolak. Dia juga diperintahkan agar tidak meminta penangguhan lagi bagi kaumnya jika mereka telah tertimpa oleh adzab yang sangat dahsyat yang memang telah ditetapkan oleh Allah, Yang Mahakuasa berbuat apa saja yang Dia kehendaki. [29]

Yang dimaksud dengan at-tannur itu –menurut kebanyakan ulama- adalah permukaan bumi. Maksudnya, bumi mengeluarkan air dari seluruh penjuru, sampai-sampai tannur-tannur pun mengeluarkan air yang mana ia merupakan sumber api. [30]

Allah memerintahkan Nabi Nuh agar memuji Rabbnya atas perahu yang Dia sediakan untuknya [31] sehingga dengan perahu tersebut Allah menyelamatkannya dan juga kaumnya, serta membukakan pintu kebaikan antara dirinya dengan kaumnya, dan membuatnya tenang dari tindakan orang-orang yang menentang dan mendustakannya. [32]

Allah Ta’ala mengirimkan hujan dari langit yang belum pernah sama sekali terjadi sebelumnya dan sesudahnya, hingga gerakan air seperti gelombang yang menjulang tinggi. Selain itu, Dia juga memerintahkan bumi supaya mengeluarkan air dari seluruh penjuru dan sisinya, sebagaimana firman-Nya ini:

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّى مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْ (10) فَفَتَحْنَاۤ أَبْوَابَ السَّمَاۤءِ بِمَاۤءٍ مُّنْهَمِرْ (11) وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُوْنًا فَالْتَقَى الْمَاۤءُ عَلَىۤ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ(12) وَ حَمَلْنٰهُ عَلىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَ دُسُرٍ(13)

“Maka dia mengadu kepada Rabbnya: ‘ Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan. Oleh karena itu, tolonglah (aku).’ Maka kami bukakan pintu-pintu langit (menurunkan) air yang tercurah. Dan kami jadikan bumi memancarkan beberapa mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh-sungguh telah ditetapkan. Dan kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” [33]

Sebagian ahli tafsir mengatakan: “ dari permukaan bumi, air itu naik ke puncak gunung-gunung di bumi, sehingga menggenangi seluruh permukaan, dataran rendah maupun dataran tinggi, pegunungan maupun padang sahara, sehingga tidak ada satupun makhluk hidup yang hidup di atas tanah meski hanya sekejap, baik kecil maupun besar. [34]

Setelah semua penghuni bumi binasa dan tidak ada seorangpun yang tersisa kecuali yang beriman kepada Allah, maka Allah pun memerintahkan kepada bumi agar menelan kembali air yang telah ditumpahkannya itu. Dan Dia perintahkan pula langit agar menghentikan hujan. [35]

Kemudian setelah air surut Allah memerintahkan Nabi Nuh dan orang-orang yang bersamanya agar turun dari perahu dengan selamat sejahtera penuh dengan keberkahan. Allah berfirman dalam Al-Quran:

قِيْلَ يٰنُوْحُ اهْبِطْ بِسَلٰمٍ مِّنَّا وَ بَرَكٰتٍ عَلَيْكَ وَ عَلَىٰ أُمَمٍ مِّمَّنْ مَّعَكَ وَ أُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيْمٌ (48)

“Dia berfirman: ‘ Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas ummat-ummat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) ummat-ummat yang Kami beri kesenangan kepada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa adzab yang pedih pada hari kiamat.” [36]

Ini merupakan perintah yang disampaikan kepada Nuh ketika air sudah surut dari permukaan bumi, hingga memungkinkan untuk berusaha dan bertempat tinggal disana. Dia diperintahkan turun dari perahu setelah sebelumnya mengarungi luapan air bah ke bukit Judi, yaitu sebuah bukit di suatu pulau yang sangat terkenal. [37]

Tenggelamnya Putra Nabi Nuh dan pertanyaan Nabi Nuh kepada Rabbnya

Allah berfirman di dalam Al-Quran menceritakan tentang keadaan anaknya Nabi Nuh yang tidak beriman kepada Allah:

وَ هِيَ تَجْرِى بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَ نَادَىٰ نُوْحٌ ابْنَهُ وَ كَانَ فِى مَعْزِلٍ يٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَ لاَ تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ (42) قَالَ سَئَاوِىۤ إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِى مِنَ الْمَاۤءِ قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّٰهِ إِلاَّ مَنْ رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ (43)

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘ Hai anakku, naiklah ( ke kapal) bersama kami, dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.’ Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah.’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang dapat melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” [38]

Putra Nuh ini adalah seorang yang kafir dan tidak pernah berbuat amal shalih. Ia menentang agama dan pendapat ayahnya, sehingga dia pun binasa bersama orang-orang yang binasa. Namun demikian, banyak dari mereka yang bukan dari keluarga Nuh yang selamat, karena mereka sepaham dan seagama dengannya. [39]

Kemudian Allah Ta’ala menceritakan seruan Nuh kepada Rabbnya mengenai anaknya dan juga pertanyaan yang diajukan kepada-Nya tentang tenggelamnya anak tersebut dalam rangka mencari pengetahuan tentang hal itu. Bentuk pertanyaan yang diajukan Nuh adalah sebagai berikut: “Sesungguhnya Engkau telah berjanji kepadaku untuk menyelamatkan keluargaku bersamaku, dan anakku itu adalah salah satu dari keluargaku?”. Pertanyaan itu langsung dijawab bahwa itu bukan termasuk keluargamu yang Aku janjikan baginya keselamatan. Maksudnya, Kami telah katakan kepadamu:

… وَ أَهْلَكَ إِلاَّ مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ . . . (27)

“… Dan( juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa adzab) diantara mereka …” [28]

Anaknya itu adalah salah seorang dari mereka yang telah dahulu ditetapkan akan ditenggelamkan karena kekufurannya. Oleh karena itu, dia dikeluarkan dari lingkaran orang-orang yang beriman, dan dia tenggelam bersama kelompoknya dari kalangan kaum kafir dan sewenang-wenang. [40]

Sekilas tentang sifat Nabi Nuh yang luhur

Allah menceritakan tentang sifat Nabi Nuh dalam Al-Quran. Allah berfirman:

… إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا (3)

“… Sesungguhnya Nuh adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” [41]

Ada yang mengatakan bahwa Nabi Nuh selalu memuji Allah pada saat makan, minum, berpakaian, dan dalam semua aktivitasnya
Dari anas bin Malik, Dari rasulullah ﷺ , beliau bersabda :

إِنَّ اللّٰهَ لاَ يَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأَكُلَ الْأَكْلَةَ، فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرَبَةَ. فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah selalu meridhai seorang hamba yang memakan makanan, lalu dengan makanan itu ia memuji-Nya, atau meminum minuman, lalu ia memuju-Nya atasnya” [42]

Yang jelas, orang yang banyak bersyukur adalah yang berbuat dengan penuh ketaatan hati, ucapan, dan perbuatan. Dan rasa syukur itu bisa berwujud ini dan ini sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair:

أَفَادَتْكُمُ النَّعْمَاءُ مِنِّيْ ثَلاَثَةٌ يَدِي وَ لِسَانِى وَ الضَّمِيْرَ الْمُحَجَّبَا

“Ada tiga hal dariku yang memberitahu kalian: Tanganku, lisanku, dan hati nurani yang terhijab” [43]

Wasiat Nabi Nuh kepada anaknya

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia menceritakan: “Kami pernah berada di sisi Rasulullah ﷺ , tiba-tiba ada seseorang dari penduduk padang pasir datang mengenakan jubah yang dilapisi sutra bergaris. Lalu beliau bersabda: “Ketahuilah bahwa sahabat kalian ini telah merendahkan martabat setiap penunggang kuda atau mengatakan, ia ingin merendahkan martabat setiap penunggang kuda, dan mengangkat derajat setiap penggembala.”

Lebih lanjut dia menceritakan: “Kemudian Rasulullah mengambil jubahnya seraya bersabda: ‘ Maukah aku perlihatkan kepadamu pakaian yang tidak berakal?’ Selanjutnya beliau bersabda: ‘ Sesungguhnya Nabi Nuh ketika menghadapi kematian berpesan kepada anaknya: ‘ Sesungguhnya aku akan berwasiat kepadamu, yaitu: Aku perintahkan kepadamu untuk mengakui bahwasanya tidak ada Ilah yang haq selain Allah. Seandainya langit tujuh lapis dan bumi tujuh tingkat diletakkan di salah satu daun timbangan dan kalimat Laa Ilaaha Illallah di daun timbangan yang lain, niscaya timbangan kalimat tauhid itu akan lebih berat. Ku wasiatkan pula supaya engkau selalu menyucikan dan memuji-Nya, karena dengannya terjalin segala sesuatu, dan dengannya pula makhluk ini dikaruniai rizki. Dan aku melarangmu dari kemusyrikan dan kesombongan,”

‘Abdullah bin ‘Amr melanjutkan: “Lalu kukatakan”, atau ada yang bertanya : “Ya Rasulullah, mengenai syirik, kami telah mengetahuinya. Lalu apa yang dimaksud dengan kesombongan itu? Apakah maksudnya seseorang diantara kami mempunyai dua terompah dengan dua tali yang sangat bagus?” “Tidak,” jawab Beliau: ”Apakah karena pakaian yang dikenakan seseorang diantara kami?” tanyanya. “ Tidak juga,” sahut beliau. “ Apakah karena seseorang diantara kami mempunyai binatang yang ditungganginya?” Beliau menjawab: “ Juga tidak,”. Dia bertanya lagi : “ Apakah karena seseorang diantara kami mempunyai beberapa sahabat yang belajar kepadanya?” Beliau tetap menjawab sama: “ Tidak.” Ditanyakan: “ Lalu apa yang dimaksud dengan kesombongan tersebut, ya Rasulullah ? Beliau menjawab : “Menentang kebenaran dan menghinakan manusia.” [44]

 

Referensi

  1. Disarikan dari Shahih Qishashil Anbiya’ yang ditulis oleh Al-Imam Ibnu Katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’i Jilid pertama dengan susunan dan penyesuaian dari penulis
  2. Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no.6190), at-Thabari dalam kitab al jaami’il kabiir (no.7545) dan kitab al- ausath (no.405), al-Hakim ( II/262), Ibnu ‘Asakir dalam kitab Taariikh Dimasyqa (VII/445-446). Dan disahihkan oleh al-Hakim, adz-Dzahabi, al-Haitsami, serta Syaikh al-Albani rahimahullah (Lihat Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir  yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 89
  3. ibid
  4. ibid
  5. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir  yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 91
  6. ibid  hal: 91 -115
  7. Yakni, dalam kitab Shahihnya no.4920
  8. Al-Quran Surat Nuh : 23
  9. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 116
  10. ibid hal: 117
  11. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.427) dan Muslim (no.528) dari Hadits ‘Aisyah
  12. Diriwayatkan oleh Bukhari no.4712 dan Muslim No.194
  13. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 119
  14. ibid hal: 122
  15. Al-Quran Surat Al-A’raf ayat 60-61
  16. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 123
  17. diriwayatkan oleh Bukhari (no.7) dan Muslim (no.1773) dari hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas
  18. Al-Quran Surat Hud : 27
  19. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 124
  20. Al-Quran Surat Al-Ankabut : 14
  21. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 130
  22. ibid hal: 132
  23. Al-Quran Surat Hud : 37
  24. Al-Quran Surat Hud : 38
  25. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 134
  26. ibid hal: 135-136
  27. ibid hal: 138
  28. Al-Quran Surat Al-Mu’minuun : 27
  29. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 139
  30. ibid hal: 139
  31. Al-Quran Surat Al-Mu’minuun : 28-29
  32. Al-Quran Surat Az-Zukhruf : 12-14
  33. Al-Quran Surat Al-Qomar ayat 10-13
  34. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 144
  35. ibid hal: 145-146
  36. Al-Quran Surat Hud : 48
  37. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 152
  38. Al-Quran Surat Hud : 42-43
  39. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 145
  40. Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 151-152
  41. Al-Quran Surat Al-Israa’ : 3
  42. Diriwayatkan oleh Ahmad III/117, Muslim no.2734, at-Tirmidzi no.1816 dan an-Nasa-I dalam kitab al-kubraa IV/202/6899
  43. Lihat Shahih Qishashul anbiya’ oleh ibnu katsir yang ditahqiq oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali yang diterjemahkan oleh M. Abdul Ghoffar E.M, Pustaka Imam Syafi’I, jilid 1 halaman: 154
  44. Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad II/169 dan 225, al-Bukhari dalam kitab al-Adabul Mufrad no.548, al-baihaqi dalam kitab al-Asma’ wash shifat (hlm.128) dengan sanad shahih. Dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab as-Shahihain no.134

Tinggalkan komentar