Nafkah

Pengertian Nafkah

Nafkah ialah harta yang berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal yang diberikan kepada orang yang  wajib diberinya.[1]

 Orang yang wajib menerima dan memberikan nafkah

Nafkah wajib diberikan kepada enam orang yakni:

Istri

Nafkah merupakan hal yang wajib diberikan kepada istri. Adapun yang wajib memberinya nafkah adalah suaminya, baik istri yang hakiki seperti istri yang masih berada dalam perlindungan suaminya ( tidak ditalak) atau istri secara hukum seperti wanita yang ditalak dengan talak raj’i sebelum masa iddahnya habis. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ :

ألا حقهن عليكم أن تحسنوا إليهن في كسوتهن و طعامهن

“ Ketahuilah bahwa hak-hak istri atas kalian (para suami) adalah hendaklah kalian berbuat baik kepada mereka dalam memberikan pakian serta makanan.”[2]

Orang tua

Adapun yang wajib menafkahi orang tua adalah anak-anaknya, berdasarkan Firman Allah :

Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak.” [3]

Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang sipa yang lebih berhak mendapatkan amal kebaikannya, maka Rasulullah ﷺ bersabda,

أمُّك (ثلاثا) ثُمّ أبُوْك

“ Ibumu- beliau menyebutkan sebanyak tiga kali- kemudian bapakmu.”[4] 

 Anak kecil

Adapun yang wajib memberikan nafkah kepada anak kecil tersebut adalah bapaknya. Hal ini berdasarkan Firman Allah :

“ Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” [5]

Juga sabda Rasulullah ﷺ ,

و يقول الولد : أطعمني إلى من تدعني؟

“Anak berkata,’Berilah aku makan, kepada siapakah kamu akan menyerahkanku?’”[6] 

 Budak

Adapun orang yang wajib menafkahi budak adalah majikannya, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ ,

للمملوك طعامه و كسوته بالمعروف ولا يكلف من العمل ما لا يطيق

“ Budak berhak mendapatkan makanan dan pakaiannya dengan cara yang baik, dan ia tidak boleh dibebani dengan pekerjaan yang tidak sanggup ia kerjakan.”[7]

Wanita yang ditalak ba’in sejak masa iddahnya jika hamil

Orang yang wajib memberinya nafkah adalah suami yang menalaknya. Hal ini berdasarkan firman Allah,

 “ Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka itu nafkahnya hingga mereka bersalin.”[8]

Hewan

Orang yang wajib memberinya nafkah adalah pemiliknya. Rasulullah ﷺ bersabda,

دخلت النار إمرأة في هرة حبستها حتى ماتت جوعا، فلا أطعمتها ولا أرسلتها تأكل من خشاش الأرض

“ Seorang wanita masuk neraka karna seekor kucing yang ditahannya hingga mati kelaparan, ia tidak memberinya makan dan tidak pula melepaskannya untuk memakan serangga tanah.”[9]

Besarnya nafkah yang diberikan

Nafkah yang ditujukan untuk mempertahankan hidup ialah makanan yang baik, minuman yang baik, pakaian yang dapat melindungi diri dari hawa panas dan hawa dingin, serta rumah untuk tempat tinggal dan istirahat. Dalam masalah ini, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Perbedaan pendapat diantara mereka terletak pada masalah banyak dan sedikitnya, atau baik dan buruknya nafkah yang diberikan, karna hal itu sangat bergantung kepada kaya dan tidaknya pemberi nafkah dan penerimanya, orang kota atau orang desa. Dalam masalah ini, bahwa tindakan yang terbaik adalah menyerahkan masalah tersebut sepenuhnya kepada kebijaksanaan para hakim kaum Muslimin. Biarlah mereka yang menentukan sesuai dengan kemampuan kaum muslimin yang beragam dan sesuai dengan adat istiadat di mana mereka tinggal.[10]

Penghentian Pemberian Nafkah

Nafkah dihentikan karna alasan-alasan dibawah ini:

  • Nafkah terhadap istri dihentikan, jika ia membangkang atau tidak mengizinkan suami menggaulinya. Hal itu, karna nafkah adalah kompensasi menikmatinya. Sehingga jika seorang suami tidak diizinkan menikmati istrinya, maka nafkahnya secara otomatis dihentikan
  • Nafkah terhadap wanita yang ditalak dengan talak raj’i dihentikan jika masa iddahnya telah habis, karna setelah habis masa iddahnya, maka ia menjadi orang lain bagi suaminya.
  • Nafkah terhadap wanita yang ditalak dalam keadaan hamil dihentikan jika ia melahirkan bayinya, tetapi jika ia menyusui anaknya, maka ia berhak mendapatkan upah atas penyusuannya. Allah berfirman:

 “ Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu, maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah diantara kamu (segala sesuatu) dengan baik.”[11]

  • Nafkah terhadap orang tua dihentikan, jika ia telah kaya, atau anak yang menafkahinya jatuh miskin, sehingga ia tidak mempunyai uang dari makanan sehari-harinya, karna Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan apa yang Allah karuniakan kepadanya
  • Nafkah terhadap anak laki-laki dihentikan jika ia telah baligh dan nafkah terhadap anak perempuan dihentikan jika ia telah menikah. Tetapi dikecualikan bagi anak laki-laki yang telah baligh, jika ia menderita sakit, atau gila, maka nafkahnya masih tetap menjadi tanggungan orang tuanya (bapaknya).[12]
  • Catatan yang mesti diperhatikan ketika memberi nafkah

Ada beberapa catatan yang mesti diperhatikan bagi seorang muslim yang memberikan nafkah kepada tanggungannya, diantaranya :

  • Seorang Muslim wajib menjaga silaturrahim dengan para kerabatnya; baik dari jalur bapaknya ataupun dari jalur ibunya. Jika salah seorang dari mereka membutuhkan makanan, pakaian atau tempat tinggal, maka ia wajib memberinya makanan dan rumah jika hartanya berlebih. Didalam pelaksanaannya, hendaklah ia memulainya dengan kerabatnya yang paling dekat dan seterusnya, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ,

يد المعطي العليا و ابدأْ بمن تعول: أمّك و أباك و أختك و أخاك، ثمّ أدناك فأدناك

“ Tangan pemberi itu  lebih tinggi (mulia) dan mulailah dari orang yang berada di dalam tanggunganmu; ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, lalu keluarga yang paling dekat dan seterusnya.”[13]

  • Jika pemilik hewan menolak mmeberi makanan kepada hewan-hewannya, hendaklah hewannya dijual atau disembelih supaya tidak tersiksa karna kelaparan, karna menyiksa binatang itu termasuk perbuatan yang diharamkan. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ,

دخلت النار إمرأة في هرة حبستها حتى ماتت جوعا، فلا أطعمتها ولا أرسلتها تأكل من خشاش الأرض

“ Seorang wanita masuk neraka karna seekor kucing yang ditahannya hingga mati kelaparan, ia tidak memberinya makan dan tidak pula melepaskannya untuk memakan serangga tanah.”[14]

Referensi

[1] Minhajul Muslim :807

[2] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 1204

[3] Al-Quran Surat Al-Baqarah: 83

[4] Muttafaq ‘alaih : al-Bukhari, no. 5971; Muslim, no. 2548

[5] Al-Quran Surat An-Nisa’: 5

[6] Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 10473 dengan sanad berbeda dan ad-Daraquthni, 3/296 dengan sanad yang shahih

[7] Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1662

[8] Al-Quran Surat Ath-Thalaq : 6

[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 1365

[10] Minhajul muslim:809

[11] Al-Quran Surat Ath-Thalaq : 6

[12] Minhajul muslim:809-810

[13] Diriwayatkan oleh an-Nasa’I, no. 2532 dan ad-Daraquthni, 3/44, beliau menshahihkannya

[14] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 1365