Nahwu

Ilmu Nahwu merupakan salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang terpenting. Dengannya, seorang dapat selamat dari kesalahan membaca dan memaknai sebuah teks dalam bahasa Arab. Bahasa Arab terdiri atas 12 (dua belas) cabang ilmu yang terkumpul dalam dua bait syair berikut:

ٌنَحْوٌ وَصَرْفٌ عَرُوْضٌ ثُمَّ قَافِيَةٌ   وَبَعْدَهَا لُغَةٌ قَرْضٌ وَإِنْشَاء

ٌخَطٌّ بَيَانٌ مَعَانٍ مَعَ مُحَاضَرَةٍ    وَالْاِشْتِقَاقُ لَهَا الْأَدَابُ أَسْمَاء

Definisi Nahwu

Secara bahasa, Nahwu memiliki banyak makna, diantaranya: maksud/arah, seperti ungkapan

نَحَوْتُ نَحْوَ الْمَسْجِدِ

juga bermakna kira-kira, seperti ungkapan

عِنْدِي نَحْوُ أَلْفِ دِيْنَارٍ

dan juga bisa bermakna seperti atau menyerupai, seperti ungkapan

سَعْدٌ نَحْوُ سَعِيْدٍ

Adapun secara istilah, para Ulama mengartikan Nahwu adalah kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan akhir kalimah yang terjadi karena kedudukannya dalam bahasa Arab meliputi i’rab, bina‘, dan segala hal yang terkait keduanya.

Ilmu Nahwu merupakan ilmu yang sangat penting. Yang dengannya lisan terjaga dari kesalahan dalam berucap dan pena terpelihara dari kekeliruan menulis dan mengedit naskah.

Sejarah Ilmu Nahwu

Orang-orang arab dahulu pada masa jahiliyah berbicara sesuai tabiatnya tanpa membutuhkan kaidah-kaidah khusus. Tatkala Islam datang dan mulai tersebar, mulailah orang arab bercampur-baur dengan orang ‘ajam (non arab) sehingga lisan orang arab mengalami lahn (salah baca) dan perlahan-lahan mengalami kerusakan disebabkan hal tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan perlunya standar-standar khusus yang disimpulkan dari lisan orang arab yang masih asli dan terjaga yang akan dijadikan rujukan dalam mengharakati lafadz-lafadz bahasa arab. Ilmu yang pertama kali dibuat (dalam rangka menyelamatkan bahasa arab dari kerusakan) adalah Ilmu Nahwu, dan penyusun pertama kali ilmu nahwu adalah Abul Aswad Ad-Du’ali atas perintah Khalifah Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Dikisahkan bahwasanya tatkala Abul Aswad Ad-Du’ali sedang bersama putrinya menikmati langit dan bintang-bintang. Terjadilah percakapan antara dia dan putrinya.
Putri: “Maa ahsanu as-sama’i (Apa bagian langit yang paling indah?).”
Padahal putrinya memaksudkan, alangkah indahnya langit disana.
Abul Aswad: “Bintang-bintang yang bertaburan, wahai Anakku.”
Putri: “Yang aku maksud adalah kekagumanku akan keindahan langit, Ayah.”
Abul Aswad: “Jika yang kamu kehendaki adalah kekaguman terhadap keindahan langit maka ucapkan “Maa ahsana as-sama’a” (Betapa indahnya langit), bukalah mulutmu! (yakni dengan memfathah nun pada ahsana dan hamzah pada as-sama’a).”

Dikisahkan juga, pada suatu hari Abul Aswad Ad-Du’ali mendengar seorang laki-laki membaca firman Allah ta’ala:

أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهِ

Padahal seharusnya dibaca

أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

Abul Aswad Ad-Du’ali merasa khawatir akan maraknya kesalahan pelafalan, semakin meluasnya wilayah kaum muslimin, dan lunturnya bahasa Arab yang benar karena adanya interaksi orang arab dan orang non-arab. Sehingga keesokan harinya Abul Aswad menemui Khalifah Ali bin Abu Thalib dan mengeluhkan perihal mulai banyaknya kesalahan dalam bahasa Arab. Kemudian Ali bin Abu Thalib berkata “Ketahuilah Abul Aswad semua itu terjadi karena percampuran antara bahasa arab dan bahasa asing (‘ajam).” Lalu beliau menyuruh Abul Aswad membeli kertas. Selang beberapa hari kemudian, beliau mendiktekan Abul Aswad tentang kaidah-kaidah bahasa arab, seperti pembagian kalimat (isim, fi’il, dan huruf), idhafah, imalah, istifhamshighah ta’ajjub, dan lain-lain. Kemudian beliau berkata kepada Abul Aswad:

أُنْحُ هَذَا النَّحْوَ

“Buatlah yang semisal dengan ini”

Kemudian Abul Aswad menambahkan beberapa bab yang lain sehingga lengkap dasar kaidah bahasa Arab. Dan dari redaksi perintah Ali bin Abu Thalib tersebut, nama Ilmu Nahwu diambil dan digunakan sebagai ilmu tersebut oleh para ulama. [1]

Pentingnya Ilmu Nahwu

 

Referensi

  1. Al-Qawa’idul Asasiyah lil Lughah Al-‘Arabiyyah, hal. 5-6