Arsy

Muqaddimah

Allāh tabāraka wa ta’āla menyebutkan di dalam al-Qur’an bahwa Dia memiliki makhluk yang disebut Arsy, dan Dia berfirman:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Allāh, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, Rabb yang mempunyai Arsy yang agung.” (QS. an-Naml [27]: 26)

Juga Firman-Nya:

ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ

Yang memiliki Arsy lagi Maha Mulia.” (QS. al-Buruj [85]: 15)

 

Definisi Arsy

Arsy secara bahasa adalah ungkapan dari singgasana raja, sebagaimana firman Allāh ta’āla tentang Balqis:

وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ

“Dan ia memiliki singgasana yang besar.” (QS. an-Naml [27]: 23) [1]

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Arsy adalah singgasana tempat beristiwa Allāh ta’āla, sebagaimana Firman-Nya:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Allah yang Maha Pengasih beristiwa di atas Arsy.” [2]

Tentang Arsy ini, Imam Ibnu Katsir rahīmahullāhu mengatakan:

فَهُوَ سَرِيْرٌ ذُوْ قَوَائِمَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ كَالْقُبَّةِ عَلَى الْعَالَمِ وَهُوَ سَقْفُ الْمَخْلُوْقَاتِ

Arsy adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang yang dipikul oleh para malaikat, dan ia seperti kubah bagi alam semesta, serta atapnya para makhluk.” [3]

 

Sifat Sifat Arsy

Makhluk yang Paling Besar

عَنْ سَعِيدِ بن جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى: “وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ” [البقرة آية 255] أَنَّهُ قَالَ: الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ، وَالْعَرْشُ لَا يَقْدُرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللهُ تَعَالَى

Dari Sa’id bin Jubair rahīmahullāhu , dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang Firman Allāh: “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” (QS. al-Baqarah [2]: 255) Beliau berkata: “Kursi adalah tempat meletakkan kedua kaki Allāh, sedangkan Arsy tidak ada yang dapat mengetahui ukurannya kecuali Allāh ta’āla.” Diriwayatkan oleh al-Hakim 2/282, ath-Thabari 5792, ath-Thabrani [4], dan dinilai shahih secara mauquf oleh Syaikh al-Albani rahīmahullāhu dalam tahqiq beliau [5]

Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِيْ الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضٍ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ

“Tidaklah langit yang tujuh dibanding dengan Kursi kecuali seperti sebuah cincin yang dilemparkan ke padang pasir, dan keunggulan Arsy dibanding dengan Kursi adalah seperti keunggulan padang pasir tadi atas cincin tersebut.” HR. Ibnu Abi Syaibah 1/114 di [6], dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahīmahullāhu. [7]

 

Memiliki Tiang-tiang

Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

النَّاسُ يَصْعَقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُفِيقُ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنْ قَوَائِمِ الْعَرْشِ، فَلَا أَدْرِي أَفَاقَ قَبْلِي أَمْ جُوزِيَ بِصَعْقَةِ الطُّورِ

“Manusia pingsan di hari Kiamat, maka aku adalah orang yang pertama kali sadar, tapi tiba-tiba aku mendapati Nabi Musa sedang memegang salah satu tiang dari tiang-tiang Arsy, sehingga aku tidak tahu apakah beliau sadar sebelumku atau beliau tidak pingsan karena telah pingsan di bukit Thur.” [8]

 

Dipikul oleh Malaikat

Allāh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

Dan pada hari itu, delapan malaikat menjunjung Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” [9]

Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُذِنَ لِيْ أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ

“Aku diizinkan untuk menceritakan tentang sosok malaikat di antara para malaikat Allāh yang memikul Arsy, sesungguhnya jarak antara daun telinganya sampai ke bahunya adalah sejauh jarak perjalanan selama tujuh ratus tahun.” (HR. Abu Dawud 4727) [10]

 

Makhluk yang Paling Tinggi dan Terletak di atas Surga

Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرَ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Apabila kalian meminta kepada Allāh , maka mintalah kepada-Nya al-Firdaus, sesungguhnya ia adalah surga yang paling tengah dan yang paling tinggi. Diperlihatkan kepadaku bahwa di atasnya adalah Arsy Allāh ar-Rahman, dan darinya memancar sungai-sungai surga.” [11]

Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullah berkata: “Arsy adalah makhluk yang tertinggi, dan Allāh subhānahu wa ta’āla tinggi di atas Arsy-Nya di atas makhluk-makhlukNya.” [12]

 

Terletak di atas Air

Allāh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

Dan Arsy-Nya di atas air.” [13]

Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَنْقُصْ مَا فِي يَمِينِهِ، وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“Bagaimana menurut kalian tentang apa yang telah Allāh subhānahu wa ta’āla berikan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya sama sekali tidak berkurang apa yang ada di Tangan-Nya, dan Arsy-Nya berada di atas air.” [14]

 

Arsy Adalah Makhluk Allah dan Allah Tidak Butuh kepada Makhluk-Nya

Imam ath-Thahawi rahīmahullāhu berkata: “Dia (Allāh) tidak membuatuhkan Arsy dan apa saja yang ada di bawahnya, Allāh menguasai segala sesuatu dan juga apa yang ada di atasnya, dan sungguh Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.”

Imam Ibnu Abil Izz rahīmahullāhu menyebutkan dalil tentang hal ini, Allāh ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Sungguh Allāh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. al-Ankabut [29]: 6)

Kemudian beliau berkata: “(Perkataan Imam ath-Thahawi di atas) adalah untuk menjelaskan bahwa Allāh menciptakan Arsy untuk menunjukkan ketinggian Allāh subhānahu wa ta’āla di atasnya, bukan karena Allāh butuh kepada Arsy, bahkan karena Allāh memiliki hikmah tersendiri yang terkandung di balik itu.” [15]

 

Referensi

  1. Syarhul Aqidah ath-Thahawiyah karya Imam Ibnu Abil Izz al-Hanafi rahīmahullāhu hal. 259
  2. QS. Thaha [20]: 5
  3. Al-Bidayah wan Nihayah 1/12
  4. Al-Mu’jamul Kabir 12404
  5. Al-Aqidah ath-Thahawiyah, Syarhul Aqidah ath-Thahawiyah karya Imam Ibnu Abil Izz al-Hanafi rahīmahullāhu hal. 260
  6. Kitabul Arsy
  7. Silsilatul Ahadits ash-Shahihah no. 109
  8. HR. Bukhari 3398
  9. QS. al-Haqqah [69]: 17
  10. Silsilatul Ahadits ash-Shahihah no. 151
  11. HR. Bukhari 2790
  12. Syarhul Aqidah ath-Thahawiyah Lil Imam Ibnu Abil Izz al-Hanafi rahīmahullāhu hal. 258
  13. QS. Hud [11]: 7
  14. HR. Bukhari 7419 dan Muslim 993
  15. Syarhul Aqidah ath-Thahawiyah Lil Imam Ibnu Abil Izz al-Hanafi rahīmahullāhu hal. 261-262