Ramadan

Ramadan adalah nama bulan ke sembilan dari dua belas bulan di tahun Hijriah.

Kata Ramadan (رَمَضَان) terbentuk dari tiga huruf pokok pembentuk kata, yaitu “ra” (ر), “miim” (م), dan “dhood” (ض). Tiga huruf ini menunjukkan kepada sesuatu yang sangat tajam dalam hal panas dan yang lain.

Panasnya batu karena terkena panas matahari yang sangat menyengat disebut dengan kata Ramadh (الرَّمَض).

Dikatakan bahwa ketika bangsa Arab mengubah nama-nama bulan dari bahasa kuno, mereka mengubahnya sesuai dengan waktu dan kondisi yang terjadi pada bulan tersebut. Maka, bulan ke sembilan ini jatuh pada musim yang sangat panas sehingga disebut sebagai Ramadan. [1]

Keutamaan Bulan Ramadan

Bulan Ramadan memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Oleh karena itu, bulan ini memiliki hukum-hukum khusus dan berbagai banyak keutamaan [2] . Di antaranya:

Al-Quran diturunkan di bulan Ramadan

Al-Quran diturunkan secara lengkap sekaligus dari Lauhul Mahfuzh kepada Baitul Izzah di langit dunia pada bulan Ramadan, tepatnya pada Lailatul Qadr. Kemudian, diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama dua puluh tiga tahun.

Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” [3]

Wajib berpuasa di bulan Ramadan

Puasa yang merupakan salah satu rukun Islam wajib dilaksanakan oleh kaum muslimin pada bulan Ramadan. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan (Ramadan) itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” [3]

Keutamaan sedekah di bulan Ramadan

Sedekah adalah amalan utama di setiap waktu. Namun di bulan Ramadan, keutamaan sedekah menjadi lebih besar lagi. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat dermawan pun menjadi lebih dermawan lagi di bulan ini. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau menjadi lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan..” [4]

Lailatul Qadr di bulan Ramadan

Lailatul Qadr adalah malam mulia yang lebih baik dari seribu bulan. Allah berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” [5]

Dan malam mulia ini (lailatul qadr) berada di bulan Ramadan, yaitu di salah satu malam-malam terakhir bulan Ramadan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan. Bulan penuh berkah yang Allah wajibkan atas kalian puasa padanya. Pada bulan ini dibuka pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka Jahim, dan setan-setan jahat dibelenggu. Pada bulan ini Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalang darinya, sungguh dia adalah orang yang benar-benar terhalang.” [6]

Disunahkan shalat malam berjamaah di bulan Ramadan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang shalat (malam) pada bulan Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni untuknya dosa-dosanya yang telah lalu.” [7]

Dan disunahkan untuk melaksanakan shalat malam ini secara berjamaah sebagaimana dahulu dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Disunnahkan i’tikaf di bulan Ramadan

Para ahli fikih berpendapat bahwa i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan merupakan sunnah yang sangat penting (sunnah muakkadah). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukan hal tersebut. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ ، حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ تَعَالَى ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa i’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadan, sampai Allah mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri beliau pun beri’tikaf sepeninggal beliau.” [8]

Disukai memperbanyak bacaan Al-Quran di bulan Ramadan

Membaca Al-Quran disukai untuk dilakukan secara mutlak pada setiap waktu. Akan tetapi di bulan Ramadan lebih ditekankan lagi, berdasarkan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengulang-ulang bacaan Al-Quran kepada Jibril di bulan Ramadan.

Dilipatgandakan pahala amal shalih di bulan Ramadan

Amalan manusia akan dilipatgandakan pahalanya ketika dilakukan di tempat atau waktu yang memiliki keutamaan dan diberkahi. Dan bulan Ramadan adalah salah satu waktu yang penuh berkah dan memiliki banyak keutamaan. Maka, pahala amal akan dilipatgandakan di bulan ini.

Disukai memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِماً ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أجْرِهِ ، غَيْرَ أنَّهُ لاَ يُنْقَصُ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

“Siapa yang memberi makan buka kepada orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan semisal pahalanya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa.” [9]

Umrah di bulan Ramadan lebih utama dari bulan lainnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُمْرَةٌ في رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً

Umrah di bulan Ramadan setara dengan ibadah haji.” [10]

 

Referensi

  1. Mu’jam Maqayis Al-Lughah, 2/440
  2. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 23 hlm. 143-156
  3. QS. Al-Baqarah : 185
  4. HR. Al-Bukhari no. 6
  5. QS. Al-Qadr : 3
  6. HR. An-Nasai no. 2106
  7. HR. Al-Bukhari no 37 dan Muslim no. 759
  8. HR. Al-Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172
  9. HR. At-Tirmidzi no. 807
  10. HR. Al-Bukhari no. 1863 dan Muslim no. 1256