Rasul

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Tidak ada jalan untuk mencapai kebahagiaan dan keberuntungan di dunia maupun akhirat kecuali melalui tangan-tangan para Rasul. Tidak ada jalan untuk mengetahui yang baik dan yang buruk secara terperinci kecuali dari sisi mereka. Dan tidak akan bisa diraih keridhaan Allah sama sekali kecuali melalui tangan-tangan mereka.

Maka amalan, perkataan dan akhlak yang baik hanya ada pada petunjuk mereka dan ajaran mereka. Merekalah timbangan untuk menimbang berbagai perkataan, akhlak dan amalan. Dengan mengikuti mereka, orang-orang yang mendapatkan petunjuk akan terbedakan dari orang-orang yang sesat.

Maka kebutuhan (manusia) kepada mereka jauh lebih besar dari kebutuhan badan kepada ruhnya, atau kebutuhan mata kepada cahaya, atau kebutuhan ruh kepada kehidupannya. Maka kebutuhan dan hajat apa saja yang ada, masih jauh lebih tinggi kebutuhan dan hajat hamba terhadap para Rasul.” ((Zaadul Ma’aad, 1/69.)) ((Mausu’ah Al-Aqidah wal Adyan, 3/1387.))

Definisi Rasul

Secara bahasa

Kata “Rasul” (رَسول) mengikuti wazan “fa’uul” yang bermakna “maf’uul”. Maka Rasul maknanya adalah “mursal” (مُرْسَل).

Dan secara bahasa, makna kata Rasul berkisar pada makna “diutus untuk menyampaikan sesuatu”. ((Al-Mabahits Al-Aqadiyah Al-Muta’alliqah bil Iman bir Rusul, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Shadiq an-Najar, hlm. 9.))

Menurut syariat

Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan Rasul menurut syariat. Pendapat yang terpilih adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Rasul adalah orang yang diutus oleh Allah kepada kaum kafir yang mendustakan dan menyelisihi, baik diutus dengan membawa syariat dan risalah yang baru atau diutus dengan membawa syariat dan risalah Rasul yang sebelumnya. ((An-Nubuwat, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 184.)) ((Mausu’ah Al-Aqidah wal Adyan, 3/1384.))

Perbedaan Antara Rasul dan Nabi

Dalam definisi Nabi secara umum, dijelaskan bahwa Nabi adalah orang yang diberikan kabar wahyu oleh Allah berupa berita, perintah dan larangan. Berdasarkan definisi umum ini, maka para Rasul termasuk bagian dari para Nabi. Karena Rasul memiliki kesamaan dengan Nabi, yaitu sama-sama mendapatkan wahyu dari Allah. ((Mausu’ah Al-Aqidah wal Adyan, 3/1395.))

Allah berfirman,

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya.” ((QS. An-Nisa: 163.))

Hanya saja berdasarkan dalil-dalil yang ada, bisa kita pahami bahwa ada Nabi yang menjadi Rasul dan ada Nabi yang tidak menjadi Rasul. Sehingga setiap Rasul adalah Nabi namun tidak setiap Nabi menjadi Rasul. Dengan demikian, maka tentu ada perbedaan antara Rasul dengan Nabi yang tidak menjadi Rasul.

Di antara dalil-dalil yang mengisyaratkan perbedaan antara Rasul dengan Nabi, adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan jumlah Nabi sebanyak seratus dua puluh empat Nabi sedangkan jumlah Rasul sebanyak tiga ratus sekian belas. ((HR. Ahmad dalam Musnadnya.))

 Demikian pula firman Allah,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” ((QS. Al-Hajj: 52.)) 

Dalam ayat ini Allah menyebutkan Rasul dan Nabi secara bergandengan. Yang ini mengisyaratkan adanya perbedaan antara Rasul dan Nabi. ((Ar-Rusul war Risalat, Syaikh Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar, hlm. 14.)) 

Dan para ulama berbeda-beda pendapat dalam menjelaskan titik perbedaan antara Rasul dengan Nabi yang tidak menjadi Rasul sesuai dengan perbedaan definisi yang mereka berikan kepada keduanya. 

Pendapat yang masyhur di kalangan ulama menerangkan bahwa Rasul adalah orang yang diberi wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya. Sedangkan Nabi adalah orang yang diberi wahyu namun tidak diperintah untuk menyampaikannya. 

Pendapat lain mengatakan, Rasul adalah yang diberi wahyu berupa syariat yang baru. Sedangkan Nabi adalah orang yang diutus untuk menetapkan syariat sebelumnya. ((Ar-Rusul war Risalat, Syaikh Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar, hlm. 14.)) 

Adapun berdasarkan definisi Rasul menurut pendapat terpilih di atas, maka Rasul adalah yang diutus kepada kaum kafir yang mendustakan dan menyelisihi, baik dengan syariat dan risalah baru ataupun dengan syariat Rasul sebelumnya. Sedangkan Nabi adalah orang yang diutus kepada kaum yang telah beriman, dan dia diutus dengan syariat Rasul sebelumnya. Maka tugas Nabi pada kaumnya bagaikan para ulama yang menyampaikan syariat dari Rasul yang diutus. ((Mausu’ah Al-Aqidah wal Adyan, 3/1395-1396.))

Kewajiban Beriman Kepada Para Rasul

Iman kepada para Rasul adalah salah satu dari rukun iman yang enam. Maka iman kepada para Nabi dan Rasul merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Iman tidak akan terwujud dan tidak akan sah kecuali dengan mengimani para Rasul. Sehingga ketiadaan iman kepada para Rasul akan menyebabkan seseorang menjadi kafir. 

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh Jibril ‘alaihis salam tentang Iman, maka beliau menjawabnya dengan menyampaikan rukun-rukunnya. Beliau bersabda,

أنْ تُؤمِنَ باللهِ ، وَمَلائِكَتِهِ ، وَكُتُبهِ ، وَرُسُلِهِ ، وَاليَوْمِ الآخِر ، وتُؤْمِنَ بالقَدَرِ خَيرِهِ وَشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun buruk.” ((HR. Muslim, no. 8.)) 

Dan Allah telah beriman,

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.” ((QS. Al-Baqarah: 285.))

Wajib mengimani seluruh Rasul

Dan beriman kepada Rasul, harus menyeluruh terhadap seluruh Rasul yang Allah utus. Tidak boleh seseorang beriman kepada sebagian Rasul namun kafir kepada sebagiannya. Sikap seperti ini, yaitu membeda-bedakan para Rasul dalam hal keimanan, dengan mengimani sebagian dan kafir kepada yang lain; pada hakikatnya sama dengan tidak beriman kepada seluruh para Rasul. Dan merekalah orang-orang yang benar-benar telah kafir. 

Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا * أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.” ((QS. An-Nisa: 150-151.)) 

Sebaliknya, Allah menyebutkan tentang sifat orang-orang yang beriman dengan firman-Nya,

وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ أُولَٰئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ((QS. An-Nisa: 152.)) 

Maka Allah menyebutkan bahwa mereka beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya seluruhnya tanpa membeda-bedakan antara para Rasul dalam hal keimanan. Dan mereka meyakini bahwa para Rasul seluruhnya diutus oleh Allah. ((Ushul Al-Iman fii Dhau’il Kitab was Sunnah, hlm. 153-154.))

Kebutuhan Manusia Kepada Rasul

Manusia diciptakan oleh Allah dengan satu tujuan; untuk beribadah kepada Allah saja. Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” ((QS. Adz-Dzariyat: 56.))

Dengan melaksanakan tujuan inilah manusia akan mendapatkan kehidupan yang baik dan tenang, dan dia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, apabila mereka tidak melaksanakan tujuan ini, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang sempit dan penuh dengan kesengsaraan.

Dan manusia tidak bisa mengetahui hakikat ibadah, tidak mengetahui apa saja yang Allah cintai dan Allah ridhai, dan tidak mengetahui apa saja yang Allah benci Allah murkai; kecuali dari jalan para Rasul yang Allah pilih dan Allah muliakan dari makhluk yang lain. ((Muqaddimah Muhaqqiq (Dr. Abdulaziz bin Shali Thawyan) terhadap Kitab An-Nubuwat, 1/23.))

Demikian pula, bahwa akal manusia sangat terbatas tidak bisa mengetahui banyak dari perkara ghaib. Seperti tentang nama dan sifat Allah, tentang para malaikat, jin, setan, dan juga tentang kenikmatan akhirat yang Allah siapkan bagi orang yang taat, atau hukuman akhirat yang Allah adakan untuk orang-orang yang durhaka. Semua ini tidak bisa diketahui kecuali dengan pengabaran yang disampaikan oleh para Rasul.

Sehingga kebutuhan manusia kepada Rasul yang mengajarkan perkara-perkara ini, sangatlah mendesak. ((Muqaddimah Muhaqqiq (Dr. Abdulaziz bin Shali Thawyan) terhadap Kitab An-Nubuwat, 1/24.))

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Maka Risalah adalah sesuatu kebutuhan yang sangat mendesak bagi para hamba. Dan mereka harus mendapatkan Risalah. Kebutuhan mereka terhadap risalah jauh lebih besar dari kebutuhan mereka kepada segala sesuatu yang lain. Risalah adalah ruhnya alam semesta, cahaya dan kehidupannya. Maka alam semesta ini tidak akan menjadi baik apabila tidak memiliki ruh, kehidupan dan cahaya. Dunia akan menjadi gelap dan terlaknat, kecuali jika diterangi oleh cahaya Risalah. Demikian pula seorang hamba. Apabila hatinya tidak diterangi oleh cahaya Risalah, dan tidak mendapatkan kehidupannya dan ruhnya; maka hati ini akan berada dalam kegelapan dan dia tidak beda dengan orang-orang yang mati. Allah berfirman,

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?” ((QS. Al-An’am: 122.))

Inilah gambaran orang yang beriman. Sebelumnya dalam keadaan mati dan berada dalam gelapnya kebodohan. Lalu Allah menghidupkannya dengan ruh Risalah dan cahaya iman. Dan Allah memberikan kepadanya cahaya untuk berjalan di tengah-tengah manusia. Adapun orang yang kafir, maka dia mati hatinya dan berada dalam kegelapan.” ((Muqaddimah Muhaqqiq (Dr. Abdulaziz bin Shali Thawyan) terhadap Kitab An-Nubuwat, 1/25.)) 

Tugas Para Rasul

Al-Quran dan As-Sunnah telah gamblang menjelaskan kepada kita tentang tugas-tugas para Rasul. Tugas-tugas tersebut adalah sebagai berikut: ((Ar-Rusul war Risalat, Syaikh Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar, hlm. 43-…))

Menyampaikan wahyu Allah kepada umat manusia

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” ((QS. Al-Maidah: 67.))

Dan termasuk bagian dari tugas menyampaikan wahyu ini adalah membacakannya kepada umat manusia tanpa mengurangi dan tanpa menambahi. Demikian juga menjelaskan wahyu yang disampaikan tersebut kepada umat manusia. Allah berfirman,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” ((QS. An-Nahl: 44.))

Berdakwah mengajak manusia kepada Allah

Tidak hanya menyampaikan wahyu dan menjelaskan saja, para Rasul juga bertugas untuk mengajak manusia agar beribadah kepada Allah saja dengan menaati dan mengikuti para Rasul tersebut. Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” ((QS. An-Nahl: 36.))

Maka setiap Rasul menyeru kaumnya agar bertakwa kepada Allah dan menaati Rasul, mereka berkata kepada kaumnya,

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

“Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” ((QS. Asy-Syu’ara: 108, 110, 126, 131, 144, 150, 163, 179.))

Memberikan kabar gembira dan peringatan

Dakwah para Rasul senantiasa diiringi dengan pemberian kabar gembira dan peringatan. Bahkan Al-Quran pada sebagian ayat membatasi tugas para Rasul pada dua hal ini. Allah berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan.” ((QS. Al-An’am: 48.))

Dan kabar gembira serta peringatan yang disampaikan para Rasul berkaitan dengan kehidupan dunia maupun akhirat. Kepada orang-orang yang taat mereka memberikan kabar gembira berupa kehidupan yang baik di dunia maupun di akhirat. Dan kepada orang-orang yang durhaka dan maksiat, para Rasul memberikan peringatan berupa siksaan dan kesengsaraan hidup di dunia maupun akhirat.

Kabar gembira ini bertujuan untuk memotivasi dan mendorong agar umat manusia mau taat kepada Allah. Sedangkan peringatan bertujuan untuk menakut-nakuti umat manusia agar mereka mau meninggalkan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah.

Memperbaiki hati dan menyucikan jiwa

Allah berfirman,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah.” ((QS. Ali Imran: 164.))

Meluruskan pemikiran dan akidah yang menyimpang

Dahulu, manusia pada mulanya berada di atas fitrah yang selamat. Mereka beribadah kepada Allah saja, tidak menyekutukan sesuatu pun kepada Allah. Lalu tatkala mereka telah menyimpang dan berselisih dalam hal ini, Allah pun mengutus para Rasul untuk mengembalikan mereka kepada jalan yang benar. Allah berfirman,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ

“Manusia (dahulu) itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan,” ((QS. Al-Baqarah: 213.))

Menegakkan hujah

Allah berfirman,

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ((QS. An-Nisa: 165.))

Dengan diutusnya para Rasul, maka hujah Allah telah tegak atas umat manusia. Sehingga di hari kiamat nanti tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk menghindari hukuman Allah apabila mereka kafir dan tidak mau mengikuti para Rasul Allah ketika masih di dunia. Allah berfirman,

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ

“Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?” ((QS. Thaha: 134.))

Yakni, apabila mereka disiksa dan dihukum oleh Allah atas kekafiran mereka sebelum diutusnya seorang Rasul kepada mereka, niscaya mereka bisa mengatakan, “Mengapa Engkau tidak mengutus Rasul kepada kami agar kami mengetahui apa yang Engkau kehendaki dan agar kami mengikuti ayat-ayat-Mu?”

Mengatur dan mengurusi kemaslahatan umat manusia

Manusia yang hidup dalam suatu kelompok, jamaah atau suatu umat pasti memerlukan orang yang mengatur dan mengurusi kemaslahatan mereka. Maka para Rasul lah yang melaksanakan tugas ini. Mereka menjadi pemimpin yang mengatur urusan umat manusia dengan hukum Allah. Allah berfirman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan.” ((QS. Al-Maidah: 48.))

Allah juga berfirman kepada Nabi Daud,

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil.” ((QS. Shad: 26.))

Dan ketika tugas para Rasul adalah mengatur dan mengurusi kemaslahatan umat manusia, maka sebaliknya kewajiban umat manusia adalah taat dan patuh kepada para Rasul. Sehingga kemaslahatan benar-benar terwujud, dan mereka bisa meraih keridhaan Allah.

Perbedaan Tingkatan Para Rasul

Allah berfirman,

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus.” ((QS. Al-Baqarah: 253.))

Maka para Nabi berbeda-beda tingkat keutamaan mereka di sisi Allah. Di antara para Nabi, maka yang mendapatkan keutamaan lebih besar adalah para Rasul. Dan di antara para Rasul, yang paling tinggi kedudukannya dan paling utama di antara mereka adalah lima orang Rasul yang terkenal dengan sebutan Ulul Azmi. Mereka adalah; Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ‘alaihimus salam. Dan yang paling mulia dari Ulul Azmi adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Ibrahim, kemudian Musa, kemudian Isa, kemudian Nuh. ((Mausu’ah Al-Aqidah wal Adyan, 3/1387-1388.))

Sifat Para Rasul

Para Rasul adalah Manusia

Para Rasul ini diutus kepada umat manusia. Oleh karena itu Allah menghendaki dengan hikmah-Nya agar jenis Rasul yang diutus kepada mereka juga dari jenis manusia.

Allah berfirman,

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِن نَّحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” ((QS. Ibrahim: 11.))

Karena mereka adalah manusia seperti kita, maka mereka juga memiliki sifat sebagaimana umumnya manusia. Mereka membutuhkan makan, minum, istri dan anak. Mereka juga bisa menderita sakit, bisa merasakan sedih, senang, kesusahan, dan lain sebagainya sebagaimana umumnya manusia.

Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu maha Melihat.” ((QS. Al-Furqan: 20.))

Allah juga berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.”

Rasul tidak memiliki sifat ketuhanan

Karena mereka adalah manusia, maka mereka tidak memiliki sedikit pun sifat-sifat ketuhanan seperti mengetahui hal yang ghaib, atau sifat ketuhanan yang lain. Allah berfirman,

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” ((QS. Al-A’raf: 188.))

Dan sifat kemanusiaan para Rasul ini menuntut kita untuk tidak bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap mereka seperti yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani yang menjadikan rasul mereka sampai pada derajat tuhan yang disembah.

Para Rasul memiliki sifat akhlak yang paling mulia

Semua rasul yang Allah utus adalah orang-orang pilihan yang memiliki akhlak mulia. Mereka adalah orang-orang yang jujur, amanah, pemberani, penyabar, dan lain sebagainya dari akhlak-akhlak yang mulia.

Banyak pujian Allah kepada para Rasul-Nya dengan akhlak-akhlak terpuji mereka. Dan yang paling utama, adalah pujian Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” ((QS. Al-Qalam: 4.))

Dan Allah memberikan akhlak yang mulia kepada para Rasul ini tentunya dengan hikmah yang agung. Di antaranya agar manusia tidak lari dari kebenaran gara-gara akhlak dan sifat yang tercela. Allah berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” ((QS. Ali Imran: 159.))

Para Rasul adalah maksum

Para ulama sepakat, bahwa para Rasul terjaga dari kesalahan dalam menyampaikan risalah Allah. Maka mereka tidak akan lupa sedikit pun terhadap wahyu yang telah Allah sampaikan kepada mereka. Kecuali wahyu yang telah dihapus (dinasakh). Allah telah menjamin kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Dia akan membacakan Al-Quran kepada beliau dan beliau tidak akan melupakannya kecuali yang Allah kehendaki. Allah berfirman,

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰ * إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ

“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki.” ((QS. Al-A’la: 6.))

Maka para Rasul terjaga dari kesalahan dalam menyampaikan risalah. Dan mereka tidak akan pernah menutupi sedikit pun dari apa yang Allah wahyukan kepada mereka. Karena menutupi apa yang harus disampaikan adalah sifat khianat. Dan para Rasul tidak mungkin demikian.

Adapun kesalahan-kesalahan selain dalam penyampaian wahyu, maka jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa para Nabi dan Rasul adalah maksum (terjaga) dari melakukan dosa besar. Sedangkan dosa-dosa kecil, maka bisa saja terjadi. Hanya saja para Nabi dan Rasul tidak akan didiamkan dalam dosa kecil tersebut, mereka pasti mendapat teguran dari Allah, dan mereka pasti meninggalkan dosa tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya pendapat yang menyatakan bahwa para Nabi maksum dari dosa-dosa besar dan bukan dosa kecil, adalah pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama Islam… ini juga pendapatnya mayoritas ahli tafsir, ahli hadits, dan ahli fikih. Bahkan tidak ada nukilan dari para salaf, dari para imam, para sahabat, pada tabiin, dan tabi’ut tabiin, kecuali yang sesuai dengan pendapat ini.” ((Majmu’ Fatawa, 4/319.))

Referensi