Rububiyyah

Definisi

Kata rububiyyah merupakan sebuah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata ar-Rabb (الرَّبُّ). [1]
Adapun dalam bahasa Indonesia, kata rububiyyah bisa kita artikan dengan “ketuhanan” atau “sifat ketuhanan”.
Ar-Rabb sendiri adalah nama yang sangat agung bagi Allah jalla wa ‘ala. Penyebutan kata ar-Rabb di dalam al-Qur’an sering sekali diulang-ulang pada ayat-ayat yang berbeda-beda dan dalam konteks yang bermacam-macam sebanyak lebih dari 500 kali. [2]
Makna Rabb adalah Dzat yang memiliki hak rububiyyah atas seluruh makhluk-Nya, baik berupa penciptaan, kekuasaan, maupun pengaturan. Dan ar-Rabb termasuk nama yang memiliki banyak makna, tidak hanya satu.” [3]
Ibnul Atsir rahimahullah berkata: “Ar-Rabb secara bahasa dimutlakkan kepada arti yang memiliki, yang memimpin, yang mengatur, yang mendidik, yang mengurusi, atau yang memberi nikmat. Jika kata ini tidak disandarkan kepada kata yang lain maka tidak dimutlakkan kecuali hanya untuk Allah ta’ala. Adapun jika digunakan untuk selain Allah, maka harus disandarkan kepada kata yang lain, seperti: rabb ini.” [4]
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam al-Qur’an:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” [5]

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” [6]

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ

“Katakanlah: Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu.” [7]

Rububiyyah Allah

Tentang sifat-sifat ketuhanan Allah, kita bisa menemukan ada banyak di dalam al-Qur’an. Semuanya harus kita yakini bahwa hanya Allah sajalah yang bisa melakukannya. Berikut ini di antaranya:

Menciptakan

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Adakah pencipta selain Allah ayng dapat memberi rizki kepadamu dari langti dan bumi?” [8]

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ

“Itulah Allah Tuhan kalian, tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembalah Dia.” [9]

Memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta mengatur alam semesta,

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?” [10]

Mendatangkan musibah dan menolak bencana

Allah ta’ala berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’ Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku.’ Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” [11]

Allah ta’ala juga berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” [12]

Mengampuni dosa

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ

“Dan siapa pula yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?” [13]

Menyembuhkan segala macam penyakit

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِين

“Dan apabila aku sakit; maka Dialah yang menyembuhkan aku.” [14]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Dia-lah Allah ta’ala satu-satunya yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu, yang tidak ada satu nikmatpun yang dirasakan oleh seorang hamba kecuali berasal dari-Nya. Juga tidak ada yang mendatangkan satu kebaikan pun kecuali Dia, tidak ada yang menolak satu keburukan pun kecuali Dia. Dia yang memiliki nama-nama yang indah (asma’ul husna) dan sifat-sifat yang sempurna lagi agung, agung lagi mulia.” [15]

Tauhid Rububiyyah

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafidzahullah berkata: Tauhid Rububiyyah adalah mengesakan Allah ta’ala dan menjadikan Dialah satu-satunya dalam perbuatan-Nya, seperti menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam semesta. Maka tidak ada Rabb selain Dia subhanahu wa ta’ala, Dia-lah Rabb semesta alam.” [16]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Kita meyakini ke-Esa-an Allah dalam masalah tauhid ini. Yaitu bahwasanya Allah tak memiliki sekutu dalam perbuatan-Nya (rububiyyah), tidak dalam peribadahan kepada-Nya (uluhiyyah), tidak pula dalam nama-nama dan sifat-sifatNya (asma wa shifat).”

Kemudian beliau menyebutkan Firman Allah ta’ala:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh-hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam [19]: 65). [17]

Syirik Dalam Rububiyyah

Syirik yaitu menjadikan tandingan bagi Allah dalam Rububiyyah-Nya (kekhususan perbuatan-Nya) dan dalam ilahiyyah-Nya (peribadahan kepada-Nya). [18]
Dari pengertian di atas maka kita harus meyakini bahwa Allah melakukan perbuatan-perbuatan khusus yang hanya Dia saja yang bisa melakukannya, adapun selain Allah maka tidak ada satupun yang bisa. Sehingga apabila ada orang yang meyakini atau menganggap bahwa selain Allah ada yang bisa berbuat seperti Allah, semisal menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, mengatur alam semesta, mengampuni dosa, atau menyembuhkan penyakit, berarti dia telah berbuat syirik dalam rububiyyah Allah. Karena berarti dia telah menganggap selain Allah itu seperti Allah, maka dia telah menjadikan tandingan bagi Allah.
Sehingga dengan demikian, contoh-contoh syirik dalam rububiyyah adalah:

Meyakini jimat-jimat atau rajah-rajah bisa melancarkan rizki, mendatangkan keselamatan, ataupun menolak bahaya.

Meyakini bahwa sesaji bisa membuat hasil panen pertanian dan perkebunan melimpah.

Meyakini pawang atau semisalnya bisa menurunkan hujan.

Meyakini sapu lidi, bawang merah dan cabe bisa menolak turunnya hujan.

Meyakini bahwa hari-hari tertentu, bulan-bulan tertentu atau angka-angka tertentu bisa mendatangkan keberuntungan atau kesialan.

Meminta bantuan, keselamatan, atau kekuatan kepada jin.

Dan contoh-contoh lain yang semisalnya dengan meyakini selain Allah bisa berbuat seperti Allah, maka semuanya adalah kesyirikan dalam rububiyyah Allah.

Bahaya Kesyirikan

Para pelaku kesyirikan mendapatkan ancaman neraka dari Allah dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Sesungguhnya siapa saja yang berbuat kesyirikan, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka.” [19]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَقِىَ اللَّهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارِ

“Barangsiapa bertemu Allah (meninggal dunia) tanpa pernah berbuat kesyirikan sedikitpun maka ia masuk surga, dan barangsiapa bertemu Allah pernah berbuat kesyirikan (dan belum bertaubat hingga matinya –penj.) maka ia masuk neraka.” [20]

Tauhid Rububiyyah Saja Tidak Cukup Memasukkan Orang ke Dalam Agama Islam

Syaikh Abdurrahman bin Muhammad Musa Alu Nashr hafidzahullah berkata: “Orang-orang yang hanya mengakui bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Pengatur alam semesta, namun tidak mengesakan-Nya dalam beribadah, belum disebut sebagai muslim. Dia tidak termasuk orang yang selamat pada hari Kiamat kelak, sampai dia mengesakan Allah dalam beribadah. Orang-orang musyrikin (di zaman Nabi –penj.) telah mengakui bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Pemberi rizki, dan Pengatur alam semesta, tapi tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerangi mereka serta menghalalkan darah dan harta mereka. Dalilnya (bahwa mereka meyakini hal itu) adalah Firman Allah ta’ala:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

“Jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, Pastilah mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.’” [21]

Tauhid rububiyyah ini tidak bermanfaat bagi seseorang yang mengimaninya, kecuali dia diberi petunjuk untuk beriman kepada dua macam tauhid lainnya, yaitu tauhid uluhiyyah dan tauhid al-Asma wash Shifat. Karena Allah telah memberitakan kepada kita bahwa orang-orang musyrikin telah mengenal tauhid rububiyyah yang dimiliki Allah, namun demikian tidak memberikan manfaat kepada mereka, sebab mereka tidak mengesakan-Nya dalam beribadah. [22]

Semoga Allah menjaga keimanan kita dan menjauhkan kita dari segala macam bentuk kesyirikan, hingga mewafatkan kita di atas tauhid dan menjadikan akhir ucapan kita kalimat “Laa Ilaaha Illallaah”. Allahumma aamiin.

Referensi

  1. Al-Qamuusul Muhiith 1/111
  2. Fiqhul Asma`il Husna karya Syaikh Abdurrazzaq al-Abbad al-Badr hafidzahullah hal. 79
  3. Fiqhul Asma`il Husna hal. 79
  4. An-Nihayah fi Gharibil Hadits 1/179, lihat Fiqhul Asma`il Husna hal. 79
  5. QS. al-Fatihah [1]: 2
  6. QS. al-An’am [6]: 162
  7. QS. al-An’am [6]: 164
  8. QS. Fathir [35]: 3
  9. QS. al-An’am [6]: 102
  10. QS. Yunus [10]: 31
  11. QS. az-Zumar [39]: 38
  12. QS. Yunus [10]: 18
  13. QS. Ali Imran [3]: 135
  14. QS. asy-Syu’ara [26]: 80
  15. Taisirul Karimir Rahman hal. 340
  16. Syarhul Aqidah ath-Thahawiyah Ibnu Abil Izz hal. 26
  17. Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah hal. 9
  18. Kitabut Tauhid karya Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullah hal. 9
  19. QS. al-Maidah [5]: 72
  20. HR. Muslim 93
  21. QS. az-Zukhruf [43]: 9 Aqidatuka Ayyuhal Muslim hal. 21
  22. Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzahullah hal. 151

Tinggalkan komentar