Sahabat Nabi

“Jangan kalian cela sahabat-sahabat ku, seandainya kalian menginfaqkan emas satu Gunung Uhud, kalian tidak akan mampu menyamai infaq mereka yang sedikit, satu mud [1] ataupun setengahnya” [2]

Sahabat (الصحابة) dalam terminologi Islam seringkali yang dimaksudkan adalah Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Generasi pilihan yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memiliki keutamaan dibanding generasi lainnya.

Definisi

Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Sesungguhnya yang dimaksud sahabat Nabi adalah orang yang bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman dengan beliau dan wafat dalam keadaan muslim” [3]
Beliau juga berkata, “Definisi tersebut merupakan definisi yang paling tepat dari beragam pendapat yang dipilih oleh para ulama seperti Al Bukhari dan gurunya Ahmad bin Hambal dan yang berpendapat seperti mereka berdua” [4]

Pengertian Sahabat Nabi

Sahabat Nabi, dalam ilmu hadits disebut sebagai shahaabah (الصَحَابَة), dan dalam bahasa indonesia biasa disebut, “sahabat”.
Menurut istilah, sahabat adalah : orang yang bertemu nabi dalam keadaan muslim, dan mati dalam keadaan muslim juga, walaupun pernah murtad (menurut pendapat yang tepat).
Dari pengertian diatas, maka sahabat itu memiliki empat kriteria :

1. Bertemu nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

2. Beriman saat bertemu

3. Mati dalam keadaan muslim

4. Walaupun pernah murtad

Pengertian diatas, merupakan pengertian yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab beliau yang bernama “Nukhbatul Fikar”

Penjelasan Sahabat Nabi

1. Orang yang bertemu Nabi

Maksudnya adalah seorang pernah bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
adapun seorang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan dinamakan sahabat.
Dan kita ibaratkan dengan “orang yang temu nabi” bukan dengan “orang yang melihat nabi
” agar seorang yang buta tetap masuk dalam pengertian sahabat, seperti Ibnu Ummi Maktuum.

2. Dalam keadaan muslim

Maksudnya, seorang sahabat itu adalah yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan saat itu ia telah memeluk agama islam.
Adapun orang yang bertemu dengan nabi tapi saat itu dia belum memeluk agama islam, maka ia tidak dikatakan sebagai sahabat nabi.
Walaupun pada akhirnya ia memeluk islam dan tidak pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau wafat.

3. Mati dalam keadaan muslim juga

Maksudnya, seorang itu dikatakan sebagai sahabat nabi, selain ia sudah muslim saat bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia harus mati dalam keadaan muslim juga.
Seorang yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan muslim, namun ia mati dalam keadaan kafir atau musyrik atau munafik, maka tidak dikatakan sebagai sahabat nabi.
Contohnya adalah : Ubaidillah bin Jahsy dan Ibnu Khathal.

4. Bertemu nabi, Muslim dan Mati dalam keadaan muslim, walaupun pernah murtadz

Maksudnya adalah ada seorang yang bertemu nabi, muslim dan mati dalam keadaan muslim, namun pernah murtad, atau pernah keluar dari agama islam. (menurut pendapat yang tepat)
Apakah mereka masih dikatakan sahabat ?
Menurut pendapat Ibnu Hajar, maka mereka masih dikatakan sahabat.
Contohnya : Al-Asy’asy bin Qais

Inilah penjelasan tentang pengertian sahabat secara istilah, dan dapat kita simpulkan juga, bahwa seorang yang beriman, dan mati dalam keimanan, dan hidup pada zaman kenabian, namun belum pernah bertemu, maka ia belum mendapatkan gelas sebagai sahabat, seperti Uwais Al-Qarni.

Cara Mengetahui Sahabat

Cara untuk mengetahui apakah seorang itu adalah sahabat nabi ataukah bukan ada lima cara :

1. Sangat Tersohor dan Tidak Ada Yang Menyangkal Bahwa Ia Adalah Sahabat Nabi

Contohnya adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khaththab, dan 10 sahabat yang dijamin akan masuk surga.

2. Dikenal Sebagai Sahabat Dengan Kemasyhuran

Contohnya adalah Ukkaasyah bin Mihshan

3. Pengabaran Sahabat Yang Lain

Seorang yang sudah dikenal sebagai sahabat mengabarkan bahwa orang A adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

4. Pengabaran seorang tabi’in yang terpercaya

Seorang tabi’in yang terpercaya mengabarkan bahwa seorang yang bernama A adalah seorang sahabat

5. Kabar Dirinya Sendiri

Selama orang tadi adalah orang yang terpercaya dan masih mungkin untuk dikatakan sahabat maka kita percaya. Dan kemungkinan ini berakhir pada tahun 110 H. Jika ada seorang yang mengaku sebagai sahabat nabi, namun ia hidup pada masa setelah tahun 110 H, bisa dipastikan bahwa ia telah berdusta, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengabarkan, yang intinya bahwa tahun 110 H, adalah akhir masa sahabat hidup. [5]

Keutamaan Sahabat Nabi

Sangat banyak sekali keutamaan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Di antaranya: [6]

Para sahabat diridhai oleh Allah

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّـهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [7]

Allah memuji amalan para sahabat

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّـهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖتَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّـهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. [8]

Para sahabat adalah generasi terbaik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah di zamanku, kemudian yang setelahnya , kemudian yang setelahnya. [9]

Jumlah Sahabat Nabi

Tidak ada penelitian yang sangat mendetail terkait jumlah lah sahabat nabi. Namun disana ada beberapa ucapan ulama yang menyatakan bahwa jumlahnya lebih dari 100.000 (seratus ribu).

Abu Zur’ah Ar-Razi berkata : “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, beliau memiliki 112.000 (seratus dua belas ribu) sahabat, yang mereka mendengar darinya dan meriwayatkan haditsnya” [10]

Sahabat Termulia

Sahabat yang paling mulia adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khaththab dengan kesepakatan ahlussunnah,
Kemudian Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, berdasarkan pendapat jumhur ulama,
Kemudian sisa dari 10 orang yang dijamin Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk surga,
Kemudian para sahabat yang ikut Perang Badr,
Kemudian sahabat yang mengikuti Perang Uhud,
Kemudian sahabat yang mengikuti Baiat Ridhwan

Sahabat Yang Pertama Masuk Islam

1. Dari kalangan laki-laki dewasa : Abu Bakr Ash-Shiddiq
2. Dari kalangan anak-anak : Ali Bin Abi Thalib
3. Dari kalangan wanita : Khadijah bintu Khuwailid
4. Dari kalangan budak yang sudah bebas : Zaid bin Haritsah
5. Dari kalangan budak : Bilal bin Rabah

Sahabat Yang Terakhir Wafat

Sahabat yang paling terakhir wafat, dan tidak ada sahabat yang masih hidup selain beliau setelahnya adalah:
Abu Thufail Amir bin WaTsilah Al-Laitsy, meninggal pada tahun 110 H

Referensi

  1. Satu mud setara dengan 682 gr
  2. HR. Al-Bukhari 3673 dan Muslim 2540
  3. Al-Ishabah fii Tamyiz As-Shahaabah, 1/10.
  4. Al-Ishabah fii Tamyiz As-Shahaabah, 1/12.
  5. Hadits Al-Bukhari no 116 dan Muslim 2537
  6. Qathful Janaa ad Daani Syarah Muqaddimah Risalah Ibnu Abi Zaid al Qoirawani, Abdul Muhsin Al-Abbad, hlm. 154-157
  7. QS. At-Taubah : 100
  8. QS. Al-Fath : 29
  9. HR. Al-Bukhari no. 2651 dan Muslim no. 2535
  10. At-Taqrib At-Tahdzib 2/240

Tinggalkan komentar