Saksi

Definisi

Menurut Bahasa

Dalam bahasa arab saksi disebut dengan الشاهد berasal dari kata الشهادة , semua kata bahasa arab yang tersusun oleh huruf “syiin, haa’ dan daal” (ش هـ  د ) tidak keluar dari makna al-hudur (menghadiri), al-ilmu (mengetahui), dan al-i’lam (memberitahukan) dari 3 huruf inilah kata الشهادة atau الشاهد terbentuk, sehingga maknanya adalah orang yang menghadiri/menyaksikan suatu persitiwa, mengetahui peristiwa itu dan memberitahukannya/mempersaksikannya kepada orang lain. [1]

Menurut Istilah

Menurut istilah saksi atau persaksian adalah orang jujur yang memberitakan apa yang dia ketahui untuk menetapkan suatu hak di pengadilan dengan kata/lafadz tertentu, baik berkaitan dengan hak Allah atau hak makhluk selama saksi memberikan persaksiannya dengan yakin. [2]

Syarat-syarat Saksi

Dalam hukum Islam, seorang bisa dijadikan saksi di pengadilan (qadha’) jika memenuhi syarat-syarat tertentu sebagaimana disebutkan dalam berbagai literatur fiqih:

Islam

Seorang yang akan bersaksi harus muslim, oleh sebab itu tidak diperbolehkan kesaksian orang kafir atas orang muslim, kecuali dalam hal wasiat di tengah perjalanan, yang demikian itu diperbolehkan berdasarkan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ

“Wahai orang-orang yang beriman, persaksian di antara kalian jika salah seorang di antara kalian di ambang kematian/sekarat ketika akan berwasiat (maka saksinya) adalah dua orang yang adil dari kalian (kaum muslimin) atau dau orang dari kalangan selain kalian (non muslim) yaitu ketika kalian melakukan perjalanan di atas muka bumi dan kalian tertimpa musibah kematian.” [3]

Laki-laki

Pada dasarnya seorang yang bersaksi adalah laki-laki, namun dalam beberapa kondisi, perempuan juga bisa dijadikan saksi dengan perincian sebagai berikut:

  • Jika berkaitan dengan perkara atau hal-hal yang hanya disaksikan oleh wanita maka kesaksian wanita pada masalah-masalah tersebut adalah maqbul (diterima) walaupun yang bersaksi adalah satu orang wanita, seperti masalah persusuan (Ar-Radha’), hal yang berhubungan dengan kelahiran anak dan lain sebagainya. [4] [5] Salah satu dalil yang dijadikan hujjah dalam hal ini adalah hadits Uqbah bin Harits dalam Shahih Bukhari [6] bahwa Uqbah menikahi salah seorang perempuan putri dari Abu Ihab bin Aziz, lalu datanglah seorang perempuan lantas berkata: “Aku telah menyusui Uqbah dan perempuan yang ia nikahi itu, Uqbah kemudian berkata: “Aku sama sekali tidak mengetahui bahwa engkau pernah menyusuiku, dan dahulupun engkau tidak pernah memberi tahuku (kecuali hari ini).” Kemudian Uqbah mengirim seseorang untuk bertanya kepada keluarga Abu Ihab menanyakan tentang kebenaran ucapan perempuan tersebut (bahwa perempuan itu pernah menyusui dirinya dan juga wanita yang akan dia nikahi), keluarga Abu Ihab lantas mengatakan : “Kami tidak pernah mengetahui bahwa ia (perempuan tersebut) pernah menyusui calon istrimu itu, lantas Uqbah pun datang ke Madinah untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan tentang hal itu, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bagaimana lagi, sedangkan perempuan itu sudah mengatakan demikian (bahwa ia telah menyusui dirimu dan juga calon istrimu).” Maka Uqbahpun menceraikan istrinya itu dan menikahi perempuan yang lain.”
  • Persaksian wanita dalam masalah hudud dan qishas tidak diterima berdasarkan ijmak para ulama.
  • Persaksian perempuan disertai dengan laki-laki diterima dalam hal-hal yang berkaitan dengan harta benda, seperti dalam masalah jual beli, Al-Dhaman (penjaminan) dan lain sebagainya.
  • Adapun dalam masalah yang biasa disaksikan oleh laki-laki dan tidak berkaitan dengan harta benda seperti dalam masalah pernikahan, perceraian dan masalah yang sejenis, maka para ahli fiqih berbeda pendapat. Mayoritas ulama menolak persaksian perempuan dalam masalah-masalah ini dengan alasan bahwa khitab (tunjukan) pada dalil-dalil yang ada dalam hal ini, semuanya memakai lafadz mudzakkar (laki-laki), seperti dalam firman Allah:

وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ

“Dan persaksikanlah dua orang laki-laki di antara kalian.” [7]

Begitu juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tentang perintah mendatangkan saksi pernikahan juga memakai lafadz mudzakkar:

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ

“Nikah itu tidak sah tanpa ada wali dan dua orang saksi laki-laki.” [8]

Dewasa (baligh) dan berakal

Anak kecil tidak boleh menjadi saksi, walaupun dia bersaksi atas anak kecil lain, sebab mereka kurang mengerti kemaslahatan untuk dirinya, lebih-lebih untuk orang lain. Allah berfirman:

وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِن رِّجَالِكُمْ ۖ 

“Dan persaksikanlah dua orang laki-laki di antara kalian.” [9]

Sedangkan anak-anak yang belum baligh tidak termasuk dalam lafadz رجالكم pada ayat di atas, begitu juga firman Allah:

مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ

“…dari saksi-saksi yang kalian ridhai.” [10]

Sedangkan persaksian anak kecil yang belum baligh tidak bisa diterima/diridhai karena belum bisa menunaikan persaksiannya dengan benar. Begitu juga halnya dengan firman Allah:

وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ ۗ

“Barangsiapa yang menyembunyikan (persaksian itu) maka hatinya kotor (berdosa).” [11]

Sedangkan anak kecil yang belum baligh belum mukallaf sehingga belum dibebankan dosa atasnya.

Begitu pula tidak diterima kesaksian orang gila dan orang yang tidak waras, sebab kesaksian mereka ini tidak membawa kepada keyakinan yang berdasarkan kepadanya suatu perkara dihukumi. [12]

Al-Adalah

Kaum muslim telah sepakat bahwa Al-Adalah menjadi syarat dalam penerimaan kesaksian, berdasarkan firman Allah:

مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ

“Dari saksi-saksi yang kamu ridhai.” [13]

Oleh sebab itu, maka kesaksian orang fasik (yang merupakan lawan dari kata adil) tidak diterima dan orang-orang yang terkenal kedustaan atau keburukan dan kerusakan akhlaknya.

Bisa berbicara dan tidak bisu

Seseorang dikatakan layak untuk bersaksi jika ia bisa bicara dan tidak bisu karena persaksian merupakan hal yang sangat urgen sehingga dibutuhkan pernyataan dari saksi yang meyakinkan, sedangkan seorang yang bisu akan memberikan kesaksian dengan isyarat, dan isyarat tidaklah meyakinkan karena terdapat berbagai kemungkinan interpretasi dari persaksian yang diberikan dengan isyarat, sebagai tindakan kehati-hatian maka dihindarkan menghadirkan saksi yang bisu jika ada saksi yang bisa berbicara dengan normal dan tidak bisu. [14] [15]

Sebagian ulama membolehkan persaksian dari seorang yang bisu dengan syarat agar isyarat yang diberikan oleh saksi yang bisu itu benar-benar bisa dipahami [16] atau persaksian orang yang bisu itu dilakukan dengan memakai tulisan bukan lisan. [17]

Para ulama yang membolehkan persaksian orang yang bisu mengatakan bahwa talak yang dijatuhkan oleh seorang yang bisu itu sah padahal ia memakai isyarat, sedangkan tidak ada perbedaan antara thalq dan persaksian. [18]

Bisa melihat dan tidak buta

Jika para saksi dalam keadaan buta, maka hendaklah mereka bisa mendengarkan suara dan mengenal betul bahwa suara tersebut adalah suara orang yang berakal. Al-Qurtuby mengatakan: “Firman Allah ( من رجالكم) dalam ayat ( واستشهدوا شهيدين من رجالكم ) menjadi dalil tentang bolehnya persaksian orang yang buta dengan syarat dia mengetahui dengan yakin apa yang dia persaksikan, seperti yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ditanya tentang persaksian, lantas beliau bersabda : “Apakah engkau melihat matahari ini? Maka berikanlah persaksian pada suatu yang jeles engkau lihat sebagaimana engkau melihat matahari atau jika kamu mau maka tinggalkanlah persaksian itu.” [19]

Tidak pernah dihukum karena qadzaf

Qadzaf adalah menuduh seseorang melakukan zina tanpa mendatangkan 4 saksi, qadzaf termasuk dosa besar yang pelakunya mendapatkan ancaman khusus. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh (berzina) perempuan-perempuan terhormat, tidak bersalah dan mukminah dilaknat di dunia dan akhirat dan untuk mereka adalah azab yang besar.” [20]

Selain ancaman di dunia Al-Quran juga menyebutkan balasan dan ancaman bagi mereka yang melakukan qadhaf dan tidak mendatangkan 4 saksi, Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَداً‏

“Dan orang-orang yang menuduh (berzina) perempuan-perempuan yang suci kemudian tidak mendatangkan empat saksi maka cambuklah mereka sebanyak 80 kali cambukan dan janganlah kalian menerima persaksian mereka selama-lamanya.” [21]

Penghalang-penghalang Menjadi Saksi

Syarat-syarat untuk menjadi saksi adakalanya terwujud pada seseorang, namun terdapat pula penghalang-penghalang yang bisa menjadi peyebab seseorang tak bisa menjadi saksi dalam suatu kasus di qada’, berikut adalah hal-hal yang bisa menjadi penghalang seseorang menjadi saksi:

Persaksian bapak terhadap anak atau sebaliknya

Allah berfirman:

ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللَّـهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ 

“Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.” [9]

Ayat ini menunjukkan bahwa kehati-hatian dalam menerima persaksian, sedangkan antara ayah dan anak sudah merupakan suatu yang lumrah akan terdapat kecondongan anak akan membela bapak atau sebaliknya, hal inilah yang memunculkan keraguan dalam hal penerimaan terhadap persaksian bapak terhadap anak atau sebaliknya. [22]

Persaksian suami terhadap istri atau sebaliknya

Sebagian ulama menolak persaksian suami terhadap isteri atau sebaliknya dengan alasan:

  • Pernikahan merupakan sebab datangnya kecintaan dan kasih sayang antara suami dan isteri. Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, yaitu Dia menjadikan untuk diri-diri kalian isteri-isteri yang kalian tenang kepadanya dan Allah menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kalian.” [23]

Rasa cinta dan kasih yang terbentuk antara suami dan isteri tentu akan membuat salah satu dari mereka berdua condong kepada yang lain yang tentu akan membuat keadilan dan objektifitas menjadi berkurang sebagaimana persaksian seorang anak terhadap bapaknya bahkan kecondongan seorang suami kepada isterinya atau sebaliknya lebih besar dibandingkan dengan kecondongan anak kepada bapaknya. [24]

  • Pernikahan antara suami dan isteri merupakan asal muasal adanya anak, jika persaksian anak terhadap bapak atau bapak terhadap anak tertolak maka yang menjadi asalnya, yaitu pernikahan lebih pantas untuk tertolak. [25]

Adanya Permusuhan

Permusuhan yang dimaksud di sini, yaitu antara saksi dengan orang yang berperkara, permusuhan di sini dibagi menjadi 2 macam:

  • Permusuhan karena agama

Maksudnya adalah permusuhan yang disebabkan perbedaan agama, oleh karena itu dalam syariat Islam persaksian seorang nonmuslim tertolak terhadap seorang yang muslim kecuali dalam hal persaksian seorang nonmuslim dalam hal wasiat dalam perjalanan. [26]

  • Permusuhan dengan sebab perkara dunia

Maksudnya adalah permusuhan yang terjadi antara saksi dengan pihak yang berperkara disebabkan oleh perkara duniawi, di kalangan para ulama ada perbedaan pendapat terkait diterima atau tidaknya persaksian antara dua orang bermusuhan karena perkara duniaw,  mayoritas ulama menolak persaksian dari seseorang yang memiliki permusuhan antara saksi yang pihak yag berperkara di pengadilan, mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala dalam:

ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللَّـهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ 

“Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak menimbulkan keraguan.” [27]

Permusuhan merupakan penyebab utama terjadinya keraguan dan adanya subjektifitas pada saksi. [28] [29]

Referensi

  1. Mukhtar As-Sihah, Ar-Razi, bab “As-Syiin” : 349.
  2. Al-Mughni, Ibnu Qudamah  Al-Maqdisi, 10/42.
  3. QS. Al-Ma’idah : 106
  4. Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 14/135.
  5. Al-Wadhih fi Syarah Mukhtashar Al-Kharqi, Abdurrahman bin Umar bin Abil Qasim bin Ali bin Utsman Al-Basri Ad-Dharir, 5/246.
  6. Al-Bukhari no. 2640
  7. QS. At-Thalaq : 2
  8. HR. Al-Baihaqi dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7557.
  9. QS. Al-Baqarah : 282
  10. QS. Al-Baqarah : 282
  11. QS. Al-Baqarah : 283
  12. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq, 3/253.
  13. QS. Al-Baqarah : 282
  14. Al-Hawi, Ali bin Muhammad bin Habib Abul Hasan , 21/47
  15. Al-Mabsuth, Syamsul A’immah Al-Sarakhsy, 16/130.
  16. Al-Israf ‘Ala Nukat Masa’ilil Khilaf, Abdul Wahhab bin Ali bin Nasr Al-Baghdadi, 2/972.
  17. Ar-Raudhul Murbi’, Al-Bahuti, 1/474.
  18. Al-Israf ‘Ala Nukat Masa’ilil Khilaf, Abdul Wahhab bin Ali bin Nasr Al-Baghdadi, 2/972.
  19. Al-Jamil li Ahkam Al-Quran, Muhammad Al-Qurtuby, 2/291.
  20. QS. An-Nur : 23
  21. QS. An-Nur : 4
  22. Al-Hawi, Ali bin Muhammad bin Habib, 21/286.
  23. QS. Ar-Rum : 21
  24. Al-Israf ‘Ala Nukat Masailil Khilaf, Abdul Wahhab bin Ali bin Nasr Al-Baghdadi, 2/973.
  25. Al-Mabsuth, Syamsul A’immah As-Sarakhsy, 16/123.
  26. Al-Mabsuth, Syamsul A’immah As-Sarakhsy, 16/113.
  27. Q.S. Al-Baqarah : 282
  28. Al-Hawi, Ali bin Muhammad bin Habib, 21/274.
  29. Al-Muhazzab, Ibrahim bin Ali bin Yusuf Al-Sirazi, 5/261.