Shalat Jamaah

Shalat jamaah (صلاة الجماعة) adalah shalat yang dilakukan secara bersama dengan seorang pemimpin yaitu Imam dan lainnya mengikuti (Makmum). Shalat jamaah bisa dilakukan tidak hanya di masjid, namun juga bisa dilakukan di tempat yang lain, seperti mushola, surau, rumah, ataupun yang lain.

Keutamaan Shalat Jamaah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi umatnya untuk melakukan shalat secara berjamaah dengan bersabda,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Shalat jamaah lebih besar pahalanya dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian. [1]

Hukum Shalat Berjamaah

Berbicara mengenai hukum shalat, seharusnya kita ingat bahwa shalat adalah salah satu rukun Islam, maka sudah pasti shalat adalah kewajiban bagi setiap kaum muslimin. Shalat juga termasuk rukun Islam yang paling utama setelah dua kalimat syahadat dan telah disyariatkan sebagai sebaik-baiknya ibadah dan barangsiapa yang mengingkari (hukumnya) maka ia telah keluar dari agama Islam. Kewajiban shalat ini telah diwajibkan di malam Isra’ sebelum hijrah, yaitu shalat lima waktu dalam sehari semalam yang masing-masing dilaksanakan pada waktunya. Hal ini wajib atas setiap muslim mukallaf (yang terkena beban syariat). Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah wajib atas orang-orang yang beriman pada waktu yang telah ditentukan.” [2]

Shalat fardhu dilaksanakan pada waktu-waktu yang telah ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan dan perbuatannya. Adapun dalil-dalil diwajibkannya shalat jamaah diantaranya:

Dalil dari Al Qur’an

Allah ta’ala menceritakan dalam firman-Nya mengenai shalat khouf (shalat dalam keadaan perang),

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at) , maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, shalatlah mereka denganmu.[3]

Ibnul Qayyim menjelaskan mengenai wajibnya shalat jamaah dengan berkata: ”Allah memerintahkan untuk shalat dalam jamaah [dan hukum asal perintah adalah wajib yaitu Allah berfirman:

فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ

perintahkan segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu.”

Kemudian Allah mengulangi perintah-Nya lagi dalam ayat

وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ

dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat,perintahkan mereka shalat bersamamu.”

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa shalat jamaah hukumnya adalah fardhu ’ain karena dalam ayat ini Allah tidak menggugurkan perintah-Nya pada pasukan kedua setelah dilakukan oleh kelompok pertama. Dan seandainya shalat jamaah itu sunnah, maka shalat ini tentu gugur karena ada udzur yaitu dalam keadaan takut. Seandainya pula shalat jamaah itu fardhu kifayah maka sudah cukup dilakukan oleh kelompok pertama tadi. Maka dalam ayat ini, ada makna ketegasan bahwa shalat jama’ah hukumnya adalah fardhu ‘ain dilihat dari tiga sisi:

[1] Allah memerintahkan kepada kelompok pertama,

[2] Selanjutnya diperintahkan pula pada kelompok kedua,

[3] Tidak diberi keringanan untuk meninggalkannya meskipun dalam keadaan takut.” [4]

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala berfirman,

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ ۝ خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ۝

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera .” [5]

Dalam ayat ini pula Allah subhanahu wa ta’ala menghukumi orang-orang tersebut pada hari kiamat. Mereka tatkala itu tidak bisa sujud karena ketika di dunia mereka diajak untuk bersujud (yaitu shalat jama’ah), mereka pun enggan. Jika memang seperti ini, maka ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan mendatangi masjid yaitu dengan melaksanakan shalat jama’ah, bukan hanya melaksanakan shalat di rumah atau cuma shalat sendirian. Yang dimaksud dengan memenuhi panggilan adzan (dengan menghadiri shalat jama’ah di masjid), inilah yang ditafsirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits mengenai orang buta yang akan kami sebutkan nanti. [6]

Dalil dari As Sunnah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan keras terhadap pria yang meninggalkan shalat jama’ah yaitu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin membakar rumah mereka. Hal ini menunjukkan bahwa shalat jama’ah adalah wajib. Maka sepatutunya bagi seorang muslim untuk menjaga shalatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

والذي نفسي بيده لقد هممت أن آمر بحطب فيحطب ثم آمر بالصلاة فيؤذن لها ثم آمر رجلا فيؤم الناس ثم أخالف إلى رجال فأحرق عليهم بيوتهم

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka.[7]

Dalam hadits riwayat dari Abu Hurairah, seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُودُنِى إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّىَ فِى بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ فَقَالَ نَعَمْ. قَالَ  فَأَجِبْ

Wahai Rasulullah, saya  tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat berjama’ah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun  ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya,“Apakah kamu mendengar adzan?” Ia menjawab,”Ya”. Rasulullah bersabda,”Penuhilah seruan (adzan) itu.[8]

Orang buta tersebut tidak dibolehkan shalat di rumah apabila dia mendengar adzan. Hal ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan menghadiri shalat jama’ah. Hal ini ditegaskan kembali dalam hadits Ibnu Ummi Maktum. Dia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-: أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ

“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”. [9]

Jika lihat laki-laki tersebut memiliki beberapa udzur:

[1] dia adalah seorang yang buta,

[2] dia tidak punya teman sebagai penunjuk jalan untuk menemani,

[3] banyak sekali tanaman, dan

[4] banyak binatang buas.

Namun karena  dia mendengar adzan, dia tetap diwajibkan menghadiri shalat jama’ah. Walaupun punya berbagai macam udzur semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan dia untuk memenuhi panggilan adzan yaitu melaksanakan shalat jama’ah di masjid. Bagaimana dengan orang yang dalam keadaan tidak ada udzur sama sekali, masih diberi kenikmatan penglihatan dan sebagainya.

Kesimpulan

Para ulama telah sepakat bahwa shalat jama’ah adalah wajib (fardhu ‘ain) sebagaimana hal ini adalah pendapat ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Al Hasan Al Bashri, Abu ‘Amr Al Awza’i, Abu Tsaur, Al Imam Ahmad (yang nampak dari pendapatnya), dan pendapat Imam Asy Syafi’i dalam Mukhtashar Al Muzanni. Pendapat Imam Asy Syafi’i ini sangat berbeda dengan ulama-ulama Syafi’iyah. Imam Asy Syafi’i mengatakan:

Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.” [10]

Menurut Hanafiyyah –yang benar dari pendapat mereka-, pendapat mayoritas Malikiyah, dan pendapat Syafi’iyah bahwa shalat jamaah 5 waktu adalah sunnah mu’akkad. Namun sunnah mu’akkad menurut Hanafiyyah adalah hampir mirip dengan wajib yaitu nantinya akan mendapat dosa. Dan ada sebagian mereka (Hanafiyyah) yang menegaskan bahwa hukum shalat jama’ah adalah wajib.

Dan pendapat yang paling kuat dari Syafi’iyah, shalat jama’ah 5 waktu adalah fardhu kifayah. Pendapat ini juga adalah pendapat sebagian ulama Hanafiyah semacam Al Karkhi dan Ath Thahawi.

Sedangkan sebagian Malikiyah, mereka memberi rincian. Shalat jamaah menurut mereka adalah fardhu kifayah bagi suatu negeri. Jika di negeri tersebut tidak ada yang melaksanakan shalat jamaah, maka mereka harus diperangi. Namun menurut mereka, hukum shalat jamaah 5 waktu adalah sunnah di setiap masjid yang ada dan merupakan keutamaan bagi para pria.

Namun menurut Hanabilah, juga salah satu pendapat Hanafiyyah dan Syafi’iyyah bahwa shalat jama’ah adalah wajib. [11]

Meninggalkan shalat sambil meyakini bahwa shalat itu tidak wajib, maka pelakunya kafir. Ini berdasarkan kesepakatan Ulama. Sedangkan pendapat yang menyatakan bahwa kafirnya orang yang meninggalkan shalat adalah pendapat mayoritas Sahabat. Maka sudah sepantasnya kita semua untuk menjaga shalat kita.

Orang yang meninggalkan shalat itu kafir, maka berlaku padanya hukum-hukum orang murtad (keluar dari agama Islam). Sedangkan dari dalil-dalil yang ada tidak disebutkan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu Mukmin, atau masuk surga, atau selamat dari neraka, dan sebagainya, yang memalingkan kita dari vonis kafir terhadap orang yang meninggalkan shalat menjadi vonis kufur nikmat atau kufur yang tidak menyebabkan kekafiran.

Demikianlah pembahasan kali ini, semoga kita selalu memperhatikan shalat-shalat kita agar kita tidak termasuk orang-orang yang Allah ancam krena meningglkan shalat.

Referensi

  1. HR. Al-Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650
  2. QS. An-Nisaa`: 103
  3. QS. An Nisa’ [4] : 102
  4. Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, hal. 110,  cet. Dar Al Imam Ahmad.
  5. QS. Al-Qalam 68: 42-43
  6. Ash Shalah wa Hukmu Tarikihahal. 110.
  7. HR. Bukhari dan Muslim. [Bukhari: 15-Kitab Al Jama’ah wal Imamah, Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 43-Bab Keutamaan Shalat Jama’ah.]
  8. HR. Muslim [Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 44-Bab Wajib Mendatangi Masjid bagi Siapa Saja yang Mendengar Adzan]
  9. HR. Abu Daud [Abu Daud: 2-Kitab Ash Sholah, 47-Bab Peringatan Keras Karena Meninggalkan Shalat Jama’ah]. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
  10. Ash Sholah wa Hukmu Tarikihahal. 107
  11. Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/165-167, Wizaratul Awqaf wasy Syu’un Al Islamiyah-Al Kuwait