Takdir

Definisi

Iman kepada Takdir

Iman kepada takdir yaitu keimanan seorang hamba kepada ilmu Allah yang ‘azali, kepada penulisan Allah terhadap sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat di Lauhul Mahfuzh, kepada kehendak Allah dan keapada penciptaan Allah atas segala sesuatu.

Dalil Al-Quran

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir. [1]

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى ﴿١﴾ الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ ﴿٢﴾ وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ ﴿٣

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan takdir (masing-masing) dan memberi petunjuk. [2]

وَكَانَ أَمْرُ اللَّـهِ قَدَرًا مَّقْدُورًا

Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku. [3]

Dalil Sunnah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits ketika datang Malaikat Jibril menyerupai wujud manusia dan bertanya kepada beliau tentang apa itu iman? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِالله،وَمَلائِكَتِه،وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِر،وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasulrasul-Nya, kepada hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. [4]

Perkataan Sahabat

Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu pernah mengatakan,

القدر قدرة اللهو فمن كذّب بالقدر فقد جحد قدرة الله

“Takdir itu adalah kekuasaan Allah, barang siapa ingkar kepada takdir maka dia mendustakan kekuasaan Allah.” [5]

Komponen Iman Kepada Takdir

Al-‘Ilmu (Allah mengilmui segala sesuatu)

Yaitu mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini telah telah diilmui dan diketahui oleh Allah. Ilmu Allah bersifat azali (tidak didahului oleh kebodohan atau ketidaktahuan) dan abadi (tidak diakhiri oleh ketidaktahuan). Ilmu Allah sangat luas mengingat firman Allah Ta’ala

وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا

Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. [6]

Keluasan ilmu Allah meliputi:

  1. Ilmu mengenai segala sesuatu yang telah terjadi
  2. Ilmu mengenai segala sesuatu yang sedang terjadi
  3. Ilmu mengenai segala sesuatu yang akan terjadi
  4. Ilmu mengenai segala sesuatu yang akan terjadi apabila yang tidak terjadi menjadi kenyataan.

Al-Kitabah (Allah menulis segala sesuatu)

Allah menuliskan di Lauhul Mahfuzh takdir segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta ini, sampai hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ﴿٥٢﴾ وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُّسْتَطَرٌ ﴿٥٣

Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan, dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. [7]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam sebuah hadits mengenai penulisan takdir ini, Nabi bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ : اكْتُبْ ، قَالَ : رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ ؟ قَالَ : اكْتُبْ القدر ما كان و ما هو كاءن الي الابد

Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah Al-Qalam (pena). Allah berkata kepadanya, “Tulislah!” Dia pun bertanya, “Wahai Rabbku, apa yang mesti kutulis?”. Allah menjawab, “Tulislah tentang takdir, tentang apa yang akan terjadi sampai hari kiamat.” (HR Tirmidzi 3319, dishahihkan oleh al Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda

كتب الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة

Sesungguhnya Allah menetapkan takdir seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. [8]

Al-Masyi’ah (Allah menghendaki segala sesuatu)

Semua yang terjadi adalah karena kehendak Allah Ta’ala, semua makhluk adalah makhluk-Nya, semua kerajaan adalah kerajaan-Nya dan tidak ada satu pun yang terjadi pada kerajaan-Nya melainkan karena kehendak Allah.

Allah Ta’ala berfirman mengenai kehendak-Nya ini:

لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ ﴿٢٨﴾ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّـهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ ﴿٢٩

(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. [9]

Al-Khalq (Allah menciptakan segala sesuatu)

Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di alam ini, maka semua yang ada di alam semesta ini adalah makhluk Allah termasuk manusia dan apa yang diperbuat manusia. [10]

Allah Ta’ala berfirman:

اللَّـهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allahlah pencipta segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. [11]

Allah Ta’ala juga berfirman

وَاللَّـهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. [12]

Referensi

  1. QS. Al-Qamar : 49
  2. QS. Al-A’laa : 1-3
  3. QS. Al-Ahzab : 38
  4. HR. Muslim no. 8
  5. HR. Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra, 4/131
  6. QS. Al-An’am : 80
  7. QS. Al-Qamar : 52-53
  8. HR. Muslim no. 2653
  9. QS. At-Takwir : 28-29
  10. Ta’liq al Syarhis Sunnah lil Imam Al Muzani, Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.
  11. QS. Az-Zumar : 62
  12. QS. Ash-Shaffat : 96