Takyif

Takyif (تكييف) artinya menyebutkan tentang kaifiyyah (karakteristik) suatu sifat. Istilah ini digunakan dalam pembahasan nama dan sifat AllahTakyif merupakan jawaban dari pertanyaan “bagaimana?”.

Contoh perbuatan takyif adalah menggambarkan bagaimana bentuk tangan Allah, bagaimana model istiwa’-nya Allah, dan semisalnya.

Hukum Perbuatan Takyif

Ahlussnunnah wal jama’ah tidak men-takyif sifat Allah. Perbuatan ini terlarang dalam memahami nama dan sifat Allah. Terdapat dalil naqli dan dalil ‘aqli yang menunjukkan larang takyif.

Dalil naqli, yaitu firman Allah Ta’ala :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui
(Al-A’raf:33)

Jika ada seseorang yang berkata : “Sesungguhnya Allah istiwa’ di atas ‘Arsy dengan cara demikian dan demikian (menyebutkan tata cara tertentu)”, maka kita katakan orang tersebut telah berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu.

Apakah Allah menjelaskan bahwa Dia istiwa’ dengan cara yang disebutkan tadi?
Tidak. Allah memberitakan kepada kita bahwa Allah istiwa’ namun Allah tidak menjelaskan tentang tata cara istiwa’. Dengan demikian perbuatan orang tersebut termasuk takyif dan termasuk berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu.

Dalil yang lain yaitu firman Allah :

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya “
(Al-Isra’:36).

Dalam ayat ini Allah melarang untuk mengikuti sesuatu tanpa dasar ilmu, termasuk perbuatan takyif.

Takyif Terlarang Pula Secara Akal

Terdapat pula dalil ‘aqli (metode akal) yang menunjukkan larangan takyif. Untuk mengetahui karakteristik sesuatau, harus melalui salah satu di antara tiga cara berikut :

  1. Melihat langsung sesuatu tersebut
  2. Melihat yang semisal dengan sesuatu tersebut
  3. Ada pemberitaan yang benar tentang sesuatu tersebut.

Kita tidak mengetahui zat Allah, atau yang semisal dengan zat Allah, begitu pula tidak ada yang memberitakan kepada kita tentang karakteristik zat Allah, sehingga kita tidak mungkin untuk men-takyif sifat-sifat Allah [1].

Perbuatan takyif terlarang dalam memahami nama dan sifat Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Termasuk keimanan kepada Allah adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya dan Rasulullah tetapkan untuk Allah tanpa melakukan tahrif, ta’thil, tamtsil, dan takyif “ (Al-‘Aqidah Al-Wasitiyyah). Dalam menetapkan sifat Allah kita tidak boleh melakukan tahrif, ta’thil, tamtsil, dan takyif. 

Catatan Penting

Yang dimaksud dengan menolak takyif  bukan berarti meniadakan kaifiyyah dari sifat-sifat Allah. Kita tetap meyakini bahwa sifat-sifat Allah mempunyai kaifiyyah, namun kita tidak mengetahui kaifiyyah tersebut. Istiwa’ Allah di atas ‘Arsy tidak diragukan lagi pasti mempunyai kaifiyyah tertentu, akan tetapi kita tidak mengetahuinya.

Begitu pula sifat nuzul (turun) bagi Allah mempunyai kaifiyyah tertentu, akan tetapi kita tidak mengetahuinya. Segala sesuatu yang ada pasti mempunyai kaifiyyah, namun ada yang diketahui dan ada yang tidak diketahui [2].

Terdapat perkataan yang populer yang diucapkan oleh Imam Malik rahimahullah, ketika beliau ditanya tentang firman Allah : الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى   (Ar Rahman istiwa’ di atas ‘Arsy). Bagaimanakah cara Allah istiwa’?. Beliau rahimahullah menjawab :

الاسْتِواءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالإيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

Sifat istiwa’ maknanya sudah diketahui, kaifiyyahnya tidak diketahui, mengimaninya wajib, bertanya tentang kaifiyyahnya termasuk perbuatan bid’ah,“

Perkataan beliau  (الاسْتِواءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ) artinya makna isiwa’ maklum (diketahui), yakni diketahui dalam makna bahasa Arab.

Perkataan beliau (وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ) maksudnya bahwa kaifiyyah istiwa’ Allah tidak diketahui, karena tidak bisa dijangkau oleh akal. Jika dalil naqli dan akal meniadakan untuk mengetahui kaifiyyah, maka wajib bagi kita untuk tidak membicarakan kaifiyyah sifat istiwa’ Allah.

Perkataan beliau (وَالإيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ) maksudnya adalah wajib beriman dengan sifat tersebut. Karena Allah sendiri yang memberitakan, maka wajib untuk membenarkannya.

Perkataan beliau (وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ) maksudnya bertanya tentang kaifiyyah istiwa’ adalah termasuk perbuatan bid’ah. Hal ini karena para sahabat yang lebih bersemangat untuk mengenal Allah tidak pernah bertanya hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perkataan Imam Malik rahimahullah di atas merupakan kaidah penting yang berlaku bagi seluruh sifat-sifat Allah [2].

 

Referensi

 

  1. Lihat Syarh AlAqidah AlWasithiyyah li Syaikh Fauzan dan  Syarh AlAqidah AlWasithiyyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
  2. Lihat Syarh Al‘Aqidah AlWasithiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin