Tashawwuf

Definisi Tashawwuf

 Kata Tashawwuf ( shufiyyah) diambil dari akar kata Yunani yaitu shopia  artinya adalah hikmah. Adapula yang mengatakan bahwa kata itu dinisbatkan kepada pakaian shuuf  (wol) dan inilah makna yang paling dekat dengan kebenaran- dan pendapat inilah yang dianggap kuat oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sebab beliau melihat langsung orang-orang shufi memakai pakian dari dari shuuf (wol) dengan anggapan bahwa pakaian itu melambangkan kezuhudan.[1] Yang jelas, kata shufi (shufiyyah)  bukan berasal dari kata shofa (bersih) sebagaimana yang mereka (ahli tashawwuf) dakwahkan.[2] Sebab kalau berasal dari shofa (الصفاء) tidak mungkin menjadi shufi  (صوفي) tetapi (صفائي).[3]

Penamaan Tashawwuf

 Penamaan Tashawwuf dan shufi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan ini terkenal (ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran agama dan keyakinan selain Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa awal munculnya shufiyyah adalah dari Bashrah di Irak. Di Bashrah terjadi sikap berlebih lebihan dalam kezuhudan dan Ibadah yang tidak pernah terjadi di seluruh negeri.[4] Ajarannya dinamakan Tashawwuf , sedang orang yang menganut dan memeluknya dinamakan shufi.[5]

Dr. Shabir Thaimah memberi komentar[6], Jelas bahwa Tashawwuf  dipengaruhi oleh kehidupan para pendeta Nasrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba dan berdiam di biara-biara, dan ini banyak sekali. Islam memutuskan kebiasaan ini ketika ia membebaskan negeri dengan tauhid. Islam memberikan pengaruh yang baik terhadap kehidupan dan memperbaiki tatacara ibadah yang salah dari orang-orang sebelum Islam.[7]

Haqiqat Tashawwuf dan Perbedaannya dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah

 Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir ( wafat th.1407) berkata di dalam bukunya at-Tashawwuf al-Mansya wal mashadir , Apabila kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran shufi yang pertama dan terakhir (belakangan) serta pendapat-pendapat yang dinukil dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab shufi, baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas Perbedaan yang jauh antar shufi dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah, Begitu juga kita tidak pernah melihat adanya bibit shufi  di dalam perjalanan hidup Nabi dan para sahabat beliau, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah Taala dari para hamba-Nya (setelah para Nabi dan para Rasul). Sebaliknya kita bisa melihat ajaran Tashawwuf diambil dari para pendeta Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi, serta Kezuhudan Budha, konsep asy-syuubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi, Ghanusiyah, Yunani, dan pemikiran Neo-Platoisme, yang dilakukan oleh orang-orang Shufi belakangan.[8]

Berbagai sekte (aliran) Tashawwuf

 Orang-orang shufi telah berpecah belah sedemikian hebat. Semakin lama dunia pershufian (tashawwuf), semakin banyak melakukan penyimpangan dan dan amalan-amalan ibadah yang mengada-ada dalam agama yang jauh lebih dahsyat dari pendahulunya. Dan hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah dalam haditsnya,

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَ السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ، وَ إِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْددِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وِ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, selalu mendengar dan taat, meski yang memerintahkan kalian adalah seorang budak . Barangsiapa hidup sepeninggalku, pasti akan melihat adanya banyak perselisihan. Hendaknya kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para alkhulafa arrasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ajaran mereka dengan ajaran kalian. Hendaknya kalian menjauhi ibadah yang dibuat-buat, sesungguhnya ibadah yang dibuat-buat itu adalah bidah dan segala bidah itu sesat.[9]

Diantara beberapa sekte tarekat shufi yang terkenal, diantaranya: Rifaiyyah, Syadziliyah, Qaqiriyah, at-Tijaniyah,[10] Naqsabandiyah[11] dan lainnya. Mereka masing-masing mengklaim bahwa kamilah yang paling benar, golongan selain kami salah. Padahal Islam sangat melarang untuk berpecah belah dan bergolong-golongan[12] sebagaimana Firman Allah,

وَ لاَتَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ (31) مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَ كَانُوْا شِيَعًا ، كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ (32) 

Janganlah kalian menjadi orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang berpecah belah dalam agamanya dan mereka bergolong-golongan. Setiap golongan bangga dengan golongan mereka masing-masing.[13]

Tokoh-tokoh Tashawwuf dan berbagai pendapatnya yang menyimpang dari Al-Quran dan Sunnah

 Banyak sekali pendapat dari tokoh-tokoh tashawwuf yang menyimpang dari al-Quran dan as-Sunnah serta jauh dari apa yang diamalkan oleh para sahabat Nabi . Semoga Allah melindungi kita dari berbagai macam  keyakinan yang menyimpang. Diantara pendapat tersebut adalah:

Ibnu Arobi

Ia adalah salah seorang tokoh shufi yang terkenal, dimakamkan di Damaskus. Di dalam kitabnya berjudul Futuhat Al Makkiyah, dia berkata, Bisa saja sebuah hadits yang sebelumnya dihukumi shahih (oleh ahlul hadits) berdasarkan jalan periwayatannya, kemudian dihukumi tidak shahih oleh orang yang memiliki ilmu kasyaf (ilmu menyingkap rahasia), dengan alasan telah menanyakan langsung kepada Rasulullah (baik lewat mimpi atau bukan-pen.-) dan Rasulullah mengingkari hadits shahih tersebut dan menegaskan bahwa beliau belum pernah mengatakan hadits itu dan belum pernah menetapkan satu hukum dari hadits tersebut. Sehingga hadits shahih tersebut berubah menjadi hadits dhaif, harus ditinggalkan serta tidak boleh diamalkan berdasarkan keterangan langsung dari Rasulullah melalui Allah. Walaupun hadits itu telah diamalkan oleh ahli riwayat (ahlul hadits) karna riwayatnya shahih, tetapi pada hakikatnya hadits tersebut tidak boleh diamalkan.

Pendapat aneh ini juga dapat ditemukan pada muqaddimah buku Al-Hadits Al-Musytahirah . Pendapat ini jelas-jelas berbahaya dan merupakan ancaman terhadap hadits-hadits Nabi . Selain itu pendapat ini juga mencela dan merendahkan ulama-ulama ahli hadits seperti Imam Bukhari, Imam Muslim dan lain-lain.[14]

Ibnu Arabi mengajak kepada persatuan agama-agama yaitu Yahudi, Nasrani, Penyembah berhala dan Islam. Dia berkata: Dulu aku mengingkari teman yang berbeda agama denganku. Tetapi hari ini hatiku telah lapang menerima perbedaan. Karena itu biarkanlah padang rumput untuk kumpulan rusa, biara untuk para rahib, candi untuk berhala, Kabah untuk orang thawaf, batu tulis untuk Taurat dan Mushaf untuk Al-Quran.[15] Pendapat ini dibantah dengan Firman Allah,

وَ مَنْ يَبْتَغِيْ غَيْرَ الْإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَ هُوَ فِيْ الْآخِرَةِ مِنَ الْخَٰسِرِيْنَ (85) 

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.[16]

Ibnu Arabi juga berkeyakinan bahwa Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah. Keduanya saling menyembah satu dengan yang lain. Hal ini tersirat dalam syairnya,

 Dia memujiku dan akupun memujiNya

Dia menyembahku  dan akupun menyembahNya ?[17]

Dalam bukunya Al-Fushush (haqiqat) Ibnu Arabi juga pernah berkata, Sesungguhnya seorang laki-laki ketika meniduri istrinya, sebenarnya sedang meniduri Al-Haq.[18]

Kita berlindung kepada Allah dari perkataan yang rusak ini.

An-Naabalusi

Dia menerangkan kata-kata Ibnu Arabi diatas dengan kalimat, sesungguhnya dia sedang menyetubuhi Al-Haq. [19]

Abu Yazid Al-Bustami

Di saat bermunajat kepada Allah, dia berkata, Ya Allah! Hiasilah diriku dengan ke-Maha EsaanMu. Kenakanlah kepadaku pakaian keRabbaniyahanMu. Dan angkatlah aku sampai ke derajat Mahatunggal seperti DiriMu. Sehingga jika orang-orang melihat diriku, mereka akan mengatakan, Oh, kami telah melihat Allah. Abu Yazid berkata, Mahasuci aku, mahasuci aku, betapa agung keadaanku, surga bagiku tak lain hanyalah mainan anak-anak saja!![20

Jalaludin Rumi

 Dia pernah berkata, Saya seorang muslim. Tapi saya juga seorang Nasrani, penganut Budha dan Zoroaster. Tempat ibadahku bukan satu. Bisa di masjid, gereja, ataupun candi.[21]

Ibnu Faridh

 Dia pernah berkata, Sesungguhnya Allah pernah menampakkan diri kepada Qais dengan bentuk rupa Laila, pernah menampakkan diri kepada kutsair dengan bentuk rupa Azah, pernah menampakkan diri kepada Jamil bentuk rupa Butsainah. Kalimat ini terdapat dalam Qasidah (kumpulan syair-syair) nya dengan judul At-Taiyah Al-Marufal. Dala qasidah ini dia mengakui bahwa peristiwa itu adalah Tajliyat Al-Haq (penampakan Allah)[22]

Rabiah Al-Adawiyah

 Ketika ditanya oleh seseorang, Apakah anda benci kepada setan? Dia menjawab, sesungguhnya hatiku yang telah terpenuhi oleh kecintaan kepada Allah, tidak menyisakan sedikitpun kebencian kepada siapa saja. Dalam munajatnya, dia pernah berdoa, Ya Allah, jika aku menyembahMu karna takut neraka, maka bakarlah aku dengan neraka-Mu. Padahal Allah berfirman,

يٰۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْلِيْكُمْ نَارًا. . .  

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …”[23]

 Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat dari tokoh-tokoh dan aqidah tashawwuf yang bertentangan dengan Al-Quran dan as-Sunnah.[24]

Penyimpangan aqidah Tashawwuf dari Al-Quran dan Sunnah

 Penyimpangan  tashawwuf  dalam masalah aqidah banyak sekali. Berikut diantaranya:

  1. Mereka membangun ibadah-ibadah mereka dengan rasa cinta saja dan tidak mempedulikan rasa takut dan harap, sebagaimana dikatakan oleh sebagian mereka, Saya beribadah kepada Allah bukan karna menginginkan Surga tidak pula takut dengan Nereka.[25]
  2. Mereka menjadikan kubur-kubur para wali, orang shalih atau yang lainnya sebagai tempat ibadah. Mereka mengajak manusia untuk menyembah kubur, beribadah di sisi kubur, bertawassul kepada penghuni kubur, bertabarruk kepada mereka, minta syafaat kepada mereka dan yang lainnya dari perbuatan syirik.[26]
  3. Secara umum, dalam beragama dan beribadah mereka tidak merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah dan tidak mencontoh Nabi . Yang menjadi rujukan mereka adalah perasaan mereka, ajaran guru-guru mereka berupa tarekat-tarekat yang bidah, berbagai dzikir dan wirid yang bidah, bahkan mereka juga berdalil dengan cerita-cerita, mimpi-mimpi dan hadits-hadits palsu untuk membenarkan ajarannya. Itu semua sebagai ganti dari berdalil dengan Al-Quran dan As-Sunnah.[27]
  4. Mereka melazimi (terus-terus mengamalkan) dzikir dan wirid yang dibuat oleh guru mereka sehingga menjadi terikat dengannya, beribadah dengan membacanya, bahkan bisa jadi mereka lebih mengutamakan dzikir dan wirid itu daripada membaca Al-Quranul Karim. Dan mereka menamakannya dengan dzikir khusus. Adapun dzikir yang berasal dari Al-Quran dan As-Sunnah mereka namakan dengan dzikir umum. Maka kalimat laa ilaaha illallah menurut mereka adalah dzikir umum. Adapun dzikir khusus adalah bentuk kata tunggal yaitu Allah, sedang dzikir lebih khusus lagi (khashshatul khashashah) ialah kata Huwa (Dia).[28]
  5. Mereka berlebih-lebihan terhadap para wali dan guru-guru mereka. Ini bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama[29] Sebagian mereka mengatakan, Maqam (kedudukan/derajat) kenabian di alam barzakh berada sedikit di atas rasul dan berada di bawah wali.[30]
  6. Mereka bertaqarrub kepada Allah melalui nyanyian, tarian, memukul rebana, dan tepuk tangan. Mereka mengganggap hal ini sebagai bentuk ibadah kepada Allah.[31]
  7. Membagi manusia menjadi empat tingkatan: syariat, tarekat, hakikat, dan ma Menurut mereka, apabila seseorang telah mencapai derajat marifat maka orang itu bebas dari kewajiban syariat dan tidak perlu lagi shalat, puasa, dan lainnya atau tidak perlu lagi menjauhi larangan seperti zina, minum khamr, dan lain-lain??!!.[32]
  8. Membuat-buat dan menetapkan berbagai macam ibadah bidah seperti shalat, dzikir, dan lainnya yang tidak ada asal-usulnya dalam agama Islam.[33]
  9. Berdzikir berjamaah dengan suara keras dan dengan satu suara.[34]
  10. Berdzikir dengan lafadz Allah, Allah, Allah, …” atau Huwa, Huwa, Huwa …” atau Hu, Hu, Hu ..[35]
  11. Adanya ajaran bi[36]
  12. Ghuluw kepada guru-guru mereka sampai mereka sujud dan menyembah guru-guru mereka yang telah mati.[37]
  13. Mereka mengatakan adanya ilmu batin dan ilmu lahir.[38] Dan menurut mereka ilmu yang mereka dapatkan itu terkadang langsung dari Allah, terkadang melalui Malaikat, terkadang mengambil dari Nabi Khidir, terkadang dari mimpi, bahkan terkadang mereka menyangka bahwa mereka mengambil ilmu dari lauhul Mahfudz???!!.[39]
  14. Kalangan yang ekstrim dari mereka mengatakan bahwa Allah menitis ke makhlukNya, dan meyakini bahwa Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah??!!.[40]
  15. Dan berbagai macam aqidah menyimpang lainnya.[41]

Referensi

[1] Majmuu fataawa (XI/6-7) dan Haqiiqatush shuufiyyah (hlm.13) ( Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.522-523 )

[2] Para ahli Tashawuf mengalami banyak kerancuan dan perbedaan yang membingungkan mereka dalam menisbatkan istilah sufi sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Imam Ibnul Jauzi dalam kitabnya Talbis Iblis ( Lihat Bab Kerancuan mereka (ahli Tashawwuf) dalam menjelaskan penisbatan istilah sufi  dalam kitab Talbis iblis oleh Ibnul Jauzi yang ditahqiq oleh syaikh Ali Hasan al-Halabi, Edisi Bahasa Indonesia, Penerbit: Pustaka Imam SyafiI, hal. 220-223)

[3] Lihat Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 12

[4] Majmuu fataawa (XI/16) (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.523)

[5] Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.524

[6] Dalam kitabnya ash-shufiyyah mutaqadan wa maslakan

[7] Ash-shufiyyah mutaqadan wa maslakan (hlm.17), dikutip dari Haqiiqatut Tashawwuf karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan (halm.18-19) (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.523)

[8] At-Tashawwuf al-Mansya wal mashadir hal.50, cet. I/Idaarah Turjumanis Sunnah, Lahore-Pakistan, th.1406 H (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.523-524)

[9] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab as-Sunnah, bab: mengikuti Jamaaah IV:201,no.4707. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi, dalam kitab al-Ilm bab: riwayat berpegang pada sunnah dan menjauhi Bidah V:44, no.2676. Beliau berkomentar: Hadits ini hasan shahih. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dalam Mukaddimah, bab: Mengikuti al-Khulafa ar-Rasyidun al-Mahdiyin I:15-16, no.42,43,44 dan Ahmad IV:46-47 (Lihat kitab Nurus Sunnah wa zhulumatul bidah fi Dhauil kitab was Sunnah yang ditulis oleh Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani yang diterjemahkan oleh Abu Umar Basyir, penerbit : Darul Haq, Hal. 54-55)

[10] Diraasaat fit Tashawwuf (hlm.215-280) (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.527)

[11] Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 13

[12] Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 13

[13] Al-Quran Surat ar-Rum:31-32

[14] Lihat Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 39-40

[15] Lihat Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 41

[16] Al-Quran Surat Ali Imran:85

[17] Lihat Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 42

[18] Lihat Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 42

[19] Lihat Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 42

[20] Lihat Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 42

[21] Lihat Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 43

[22] Lihat Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 43

[23] Al-Quran Surat at-Tahrim: 6

[24] Lihat penjelasan detail tentang penyimpangan aqidah tashawwuf dalam kitab Talbis iblis oleh Ibnul Jauzi yang ditahqiq oleh syaikh Ali Hasan al-Halabi, Edisi Bahasa Indonesia, Penerbit: Pustaka Imam Syafii, hal. 218-568), lihat pula Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 14-38

[25] Haqiiqatut Tashawwuf (hlm.22) karya Syaikh Shalih Fauzan  (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.524)

[26] Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.524-525

[27] Haqiiqatut Tashawwuf (hlm.25-26) karya Syaikh Shalih Fauzan  (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.525)

[28] Haqiiqatut Tashawwuf (hlm.28) karya Syaikh Shalih Fauzan  (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.525)

[29] Haqiiqatut Tashawwuf (hlm.31) karya Syaikh Shalih Fauzan  (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.525)

[30] Haqiiqatut Tashawwuf (hlm.33) karya Syaikh Shalih Fauzan  (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.526)

[31] Haqiiqatut Tashawwuf (hlm.38) karya Syaikh Shalih Fauzan  (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.526)

[32] At-Tashawwuf al-Mansya  wal mashadir (hal.260-275) dan Haqiiqatut Tashawwuf (hlm.43) karya Syaikh Shalih Fauzan  (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.526)

[33] Al-Fikrus Shuufi (hlm.61) (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.526)

[34] Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.526

[35] Haqiiqatut Tashawwuf (hlm.28-31) karya Syaikh Shalih Fauzan  (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.526)

[36] Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.526

[37] Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.526

[38] At-Tashawwuf al-Mansya  wal mashadir (hal.243-259) (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.526)

[39] Al-Fikrus Shuufi (hlm.634) (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal.526-527)

[40] Al-Fikrus Shuufi (hlm.58-59) (Lihat Mulia dengan manhaj salaf,  hal. 527)

[41] Lihat penjelasan detail tentang penyimpangan aqidah tashawwuf dalam kitab Talbis iblis oleh Ibnul Jauzi yang ditahqiq oleh syaikh Ali Hasan al-Halabi, Edisi Bahasa Indonesia, Penerbit: Pustaka Imam Syafii, hal. 218-568), lihat pula Kitab ashshufiyyah fii mizanil kitab wa as-sunnah, oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Edisi bahasa Indonesia, penerbit: Media Hidayah, hal. 14-38