Ta’thil

Ta’thil (تعطيل) artinya mengosongkan dan meninggalkan.
Istilah ini digunakan dalam pembahasan nama dan sifat Allah. Maksudnya adalah mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya, baik mengingkari keseluruhan maupun sebagian, baik dengan men-tahrif (mengubah maknanya) maknanya maupun menolak maknanya.

Perbedaan Ta’thil dengan Tahrif

Walaupun nampak sama, terdapat perbedaan antara tahrif dan ta’thil. Tahrif artinya mengubah makna yang benar yang terdapat dalam nash dan menggantinya dengan makna yang tidak benar. Adapun ta’thil menolak makna yang benar namun tidak mengganti dengan makna lain, seperti perbuatan orang-orang yang memiliki paham mufawwidhah.

Dengan demikian dapat disimpulkan  setiap muharrif (orang yang melakukan tahrif) adalah mu’atthil, namun tidak setiap mu’atthil adalah muharrif [1]

Kelompok yang Melakukan Ta’thil

Orang yang melakukan perbuatan ta’thil disebut ahlu ta’thil atau disebut juga muaththilah. Yang termasuk kelompok ini adalah ahlu ta’thil dan ahlu tahrif. Mereka mengingkari nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah, baik seluruhnya maupun hanya sebagian. Ahlu ta’thil ada beberapa kelompok :

1.  Al Asyaa’irah. Kelompok ini menetapkan nama bagi Allah dan sebagian sifat Allah, namun mereka menolak sebagian besar sifat-sifat Allah. Mereka hanya menetapkan tujuh sifat : al-hayat, al-‘ilmu, al-qudrah, al-iradah, al-kalam, as-sam’u, al-bashar. Dalam menetapkan ketujuh sifat ini pun berbeda dengan keyakinan ahlus sunnah.

2. Al Mu’tazilah. Kelompok ini menetapkan nama bagi Allah namun tidak menetapkan sifat. Mereka mentapkan nama hanya sekedar nama bagi Allah tanpa mengandung sifat.

3. Jahmiyyah. Kelompok ini tidak menetapkan nama dan sifat bagi Allah. Mereka tidak menyifati Allah kecuali dengan peniadaan tanpa adanya penetapan sifat. Mereka mengatakan bahwa keberadaan Allah itu ada secara mutlak, tidak dikatakan Allah itu ada, Allah itu hidup, Allah itu berilmu, Allah itu memiliki kemampuan. Semua nama yang ada itu adalah untuk makhluknya atau hanya sekedar majas (kiasan).

4.  Jahmiyyah ekstrim. Kelompok ini menolak adanya penetapan dan sekaligus peniadaan bagi sifat Allah. Mereka meniadakan sifat maujud dan ‘adam, sifat hidup dan mati, sifat ilmu dan bodoh. Mereka mengatakan bahwa Allah itu tidak ada dan juga tidak tiada, tidak hidup dan tidak mati, tidak berilmu dan tidak bodoh, dan seterusnya [2].

Hukum Perbuatan Ta’thil

Seluruh perbuatan ta’thil di atas terlarang dalam memahami nama dan sifat Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Termasuk keimanan kepada Allah adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya dan Rasulullah tetapkan untuk Allah tanpa melakukan tahrifta’thiltamtsil, dan takyif “ (Al-‘Aqidah Al-Wasitiyyah). Dalam menetapkan sifat Allah kita tidak boleh melakukan tahrifta’thiltamtsil, dan takyif. 

Referensi

  1. Lihat Syarh AlAqidah AlWasithiyyah li Syaikh Fauzan dan  Syarh AlAqidah AlWasithiyyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
  2. Lihat  Taqriib Tadmuriyah 24-37, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin