Wudhu

Definisi Wudhu

Definisi Wudhu ( الوُضُوءُ ) secara bahasa  berasal dari kata wadha-ah الوَضَاءَةُ ), yang berarti baik dan bersih. ((Kitabut Ta’rifaat Li’ali Al jarjani, hal. 253))

Wudhu ( الوُضُوءُ ) adalah mashdar, yang berarti perbuatannya. Sedangkan Wadhu ( الوَضُوءُ ) adalah air yang digunakan untuk berwudhu.

Definisi Wudhu secara istilah adalah menggunakan air yang dapat mensucikan pada empat anggota tubuh (Wajah, tangan, kepala, kaki) dengan sifat yang khusus menurut syariat. ((Kasyaful Qina’ ‘an Matanil Iqna, 1/82))

Hukum Wudhu

Sepakat para ulama bahwa wudhu diwajibkan bagi seorang muslim, berakal, sudah baligh, dan ia dalam keadaan berhadats jika ia ingin mengerjakan shalat, thawaf, dan menyentuh Al Quran.

Dalil akan wajibnya wudhu

Firman Allah ‘azza wa jalla di dalam surat Al Ma’idah;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. ((QS. Al-Maidah 5:6))

Yang dimaksud oleh ayat di atas adalah, ketika hendak shalat maka kita diperintahkan untuk berwudhu.

Dan juga berdasarkan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

َلاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأ

Tidaklah Allah menerima shalat orang yang berhadats sampai ia berwudhu.” ((HR. Muslim no. 233))

Syarat Sah Wudhu

Wudhu kita dikatakan sah apabila telah terpenuhi beberapa syarat sebagai berikut:

  1. Islam, sehat dan mumayiz. Tidaklah sah wudhunya orang kafir, orang gila dan orang yang pingsan.
  2. Niat. Berdasarkan hadits,

ِإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّات

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya.” ((HR. Al-Bukhari no.1 dan Muslim no.1907)) 

Dan niat itu letaknya di hati, bukan di lisan. Jadi tidak perlu melafadzkan niat. Karena hal ini tidak ada contohnya dari Rasulullah maupun sahabat.

  1. Air yang suci dan dapat digunakan untuk menyucikan.
  2. Menghilangkan apa-apa yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit anggota tubuh yang hendak kita basuh ketika wudhu. Semisal cat, cat kuku, tinta dan semisalnya.
  3. Beristinja’
  4. Membasuh empat anggota wajib pada wudhu’, yaitu wajah, tangan, kepala dan kaki. Apabila ditinggal salah satu dari anggota tubuh tersebut, walaupun sedikit saja, maka wudhunya tidak sah. Seperti halnya seseorang yang membasuh tangan tapi tidak sampai pada sikunya, maka wudhu’nya tidaklah sah
  5. Berurutan sesuai dengan tata cara wudhu Nabi . Tidak sah wudhu’ seseorang yang dimulai dari mencuci kakinya terlebih dahulu, atau mengusap kepala dan telinganya.
  6. Muwalah, maksudnya adalah antara basuhan anggota tubuh yang satu dengan yang setelahnya tidak ada jeda waktu yang lama. Ukuran jarak yang lama tersebut apabila air di anggota tubuh sebelumnya sudah mengering, maka wajib baginya mengulang wudhu’nya.

Rukun Wudhu

Rukun wudhu terdiri atas 7 (tujuh) rukun, yaitu:

Membasuh keseluruhan wajah

Batasan wajah secara vertikal, sepakat ulama dari ujung kening, tempat awal tumbuhnya rambut (pen- bagi yang tidak gundul) ke bawah hingga ujung dagu  (bagi yang belum berjenggot)((Al-Mabsuth, 1/6; Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 1/405)) , sedangkan batasan lebarnya, jumhur berpendapat adalah dari telinga ke telinga ((Al-Mabsuth, 1/6; Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 1/405))

Diwajibkan (dianjurkan) juga untuk berkumur-kumur dan ber-istinsyaq sebelum membasuh wajah, karena mulut dan telinga termasuk bagian dari wajah.

Istinsyaq adalah memasukan air ke dalam hidung dengan menghirupnya bersama nafas sampai pangkal. Kemudian istinsyar, yaitu mengeluarkan air yang tadi dihisap.

Membasuh tangan sampai siku

Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki ((QS. Al-Maidah : 6)) 

Dan juga didasarkan pada tata cara wudhu yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, dan juga kesepakatan ulama akan hal ini.

Mengusap kepala

Hal ini didasarkan atas firman Allah Ta’ala di atas, dan juga Ijma’ para ulama. Hanya saja para  ulama berbeda pendapat tentang kadar bagian kepala yang wajib diusap. Dan pendapat Malik, Ahmad, Ibnu Mundir dan Ibnu Taimiyah adalah membasuh kepala semuanya, baik laki-laki  maupun wanita, dan inilah pendapat yang rajih, InsyaAllahu Ta’ala.

Dalilnya adalah:

Pada suatu hari Abdullah bin Zaid Radhiallahu ‘anhu pernah ditanya tentang bagaimana sifat wudhu Nabi Muhammad ﷺ, maka beliau pun menjawab,

فَدَعَا بِمَاءٍ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَ مَرَّتَيْنِ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاَثًا، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى المَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta air kemudian menuangkannya di telapak tangan lalu beliau cuci dua kali, lalu beliau berkumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali, lalu beliau membasuh wajahnya tiga kali, lalu beliau basuh kedua tanganya dua kali sampai dengan siku. Lalu beliau mengusap kepalanya dengan kedua tangan beliau, ke bagian depan dan kebelakang, dimulai dari bagian depan sampai ke tengkuknya lalu kembali lagi ke tempat awal kali beliau mulai mengusap, lalu beliau membasuh kedua kakinya.(9)

Mengusap kedua telinga

Wajib  mengusap kedua telinga bersama kepala, karena keduanya termasuk bagian dari kepala.

Dalilnya adalah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ِالْأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْس

Telinga itu (bagian) dari  kepala ((HR. At-Tirmidzi no. 37 dan Ibnu Majah no. 443 dishahihkan oleh Al Albani))

Membasuh kaki dari ujung jari sampai dengan dua mata kaki

Membasuh kaki hukumnya wajib menurut jumhur ulama. Dan sebagian kecil yang lain mengatakan yang wajib adalah diusap bukan dicuci. Akan tetapi pendapat yang rajah adalah dibasuh, berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla  ;

وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ

dan basuh kakimu sampai dengan kedua mata kaki. ((QS. Al-Maidah : 6))

Kata-kata Arjul (kaki) mansub karena mengikuti hukum membasuh tangan dan wajah.

Dan juga didukung oleh tata cara wudhu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di banyak hadits, bahwasanya beliau membasuh kakinya sebanyak tiga kali sampai dengan dua mata kaki.

Seseorang yang  tumitnya,  atau dua mata kakinya belum terbasuh air, maka wudhunya tidaklah sah.

Tartib (berurutan)

Seseorang yang berwudhu tidak berurutan, dari kaki dahulu lalu tangan, atau dari wajah lalu kaki, atau yang semisalnya, maka wudhunya tidak sah.

Muwalah

Sudah dijelaskan di atas.

Referensi