Yaumul Hisab (Hari Perhitungan Amal)

Mengimani adanya yaumul hisab (hari perhitungan amal) pada hari kiamat merupakan inti dari keimanan terhadap hari akhir. Karena iman kepada hari kebangkitan maknanya adalah mengimani satu hari dimana manusia dikembalikan kepada Allah dan dihisab (diperhitungkan) amal mereka. Tidak ada satu pun amalan hamba melainkan akan diperhitungkan oleh Allah. Maka orang yang mengingkari adanya hisab berarti mengingkari hari kebangkitan atau hari akhir. [1]

Definisi Yaumul Hisab

Secara bahasa, kata “hisab” (الحساب) bermakna menghitung.

Ibnu Faris berkata, “Huruf haa (ح), siin (س) dan baa (ب), memiliki empat makna dasar. Makna yang pertama adalah menghitung…” [2]

Adapun dalam istilah syar’i, terutama dalam bidang akidah, maka yang dimaksud dengan hisab adalah pemberitahuan Allah kepada hamba-hamba Nya atas amal perbuatan yang telah dilakukannya di dunia, Allah mengabarkan kepada mereka dan mengingatkan mereka akan amalan-amalan yang telah mereka lakukan di dunia dan telah mereka lupakan. [3]

Allah berfirman,

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” [4]

Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqar berkata, “Yang dimaksud dengan hisab dan pembalasan adalah: Allah memberhentikan hamba-hamba Nya di hadapan Nya. Dia mengingatkan hamba tentang amalan yang dahulu mereka lakukan dan perkataan yang dahulu mereka ucapkan dan segala sesuatu yang mereka lalui di kehidupan dunia mereka, baik berupa keimanan, kekafiran, keistiqamahan (kelurusan), penyimpangan, ketaatan, maupun kemaksiatan. Allah juga menyampaikan kepada mereka tentang apa yang berhak mereka peroleh dari pahala maupun hukuman atas apa yang telah mereka lakukan. Allah juga memberikan kepada hamba-hamba kitab catatan amal mereka; dengan tangan kanan mereka apabila mereka orang yang shalih dan dengan tangan kiri mereka apabila mereka orang yang tidak shalih. Hisab juga mencakup apa yang Allah ucapkan kepada hamba-Nya dan apa yang diucapkan hamba kepada Allah, beserta berbagai hujah dan argumentasi dan juga persaksian para saksi serta penimbangan amalan-amalan.[5]

Dalil Adanya Hisab

Adanya hisab telah ditetapkan secara tegas baik dalam Al-Quran maupun Hadits, dan telah terjadi ijmak kaum muslimin atas adanya hisab.

Di antara dalil dari Al-Quran, Allah berfirman,

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ ۝ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُم ۝

“Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” [6]

Allah juga berfirman,

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” [7]

Allah juga berfirman,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya: 47)

Adapun dari hadits, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلاَ يَرَى إِلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Setiap orang dari kalian pasti akan diajak bicara oleh Rabbnya (pada hari kiamat). Tidak ada seorang penerjemah pun antara Allah dengannya. Kemudian dia melihat sebelah kanannya, yang dia lihat hanyalah amalannya. Dia melihat ke sebelah kiri, yang dia lihat hanyalah amalannya. Dan dia melihat ke arah depan maka dia hanya melihat neraka ada di hadapannya. Maka jauhilah neraka meski hanya dengan separuh kurma.” [8] [9]

Tiga Golongan Manusia pada Yaumul Hisab

Pada hari kiamat nanti, ada tiga golongan manusia dalam hisab.

Orang-orang yang tidak dihisab

Mereka adalah orang-orang yang memiliki keutamaan berupa kesempurnaan tauhid dan tawakal kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ ، هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Dari umatku, ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk ke dalam surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta ruqyah, tidak bertathayyur (beranggapan sial karena suatu hal), dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka. [10] [11]

Orang-orang yang dihisab dengan mudah

Allah berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ ۝ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا۝

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa (dihisab) dengan pemeriksaan yang mudah.” [12] 

Dan yang dimaksud dengan hisab yang mudah, adalah dengan ditampakkan saja amalan-amalan dan dosa hamba yang beriman, kemudian ketika dia telah mengakuinya Allah pun mengampuni amalan-amalan tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ هَلَكَ

“Tidak ada seorang pun yang dihisab melainkan pasti binasa.”

Lalu Aisyah bertanya, “Bukankah Allah telah berfirman, (yang artinya) Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa (dihisab) dengan pemeriksaan yang mudah.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,

إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ ، وَلَيْسَ أَحَدٌ يُنَاقَشُ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ عُذِّبَ

“Sesungguhnya (hisab yang mudah) itu adalah ‘ardh (sekadar ditampakkan amalan). Tidak ada seorang pun yang dihisab dengan teliti pada hari kiamat melainkan akan disiksa.[13] [14] 

Orang yang dihisab dengan hisab yang susah

Merekalah orang-orang yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ هَلَكَ

“Tidak ada seorang pun yang dihisab melainkan pasti binasa.”

Mereka dihisab secara detil dan teliti, ditegakkan hujah-hujah dan bukti-bukti atas amalan mereka.

Allah berfirman,

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” [15] 

Anas bin Malik pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau tiba-tiba tertawa, dan beliau berkata, “Tahukah kamu kenapa aku tertawa?” Maka para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مِنْ مُخَاطَبَةِ الْعَبْدِ رَبَّهُ يَقُولُ يَا رَبِّ أَلَمْ تُجِرْنِى مِنَ الظُّلْمِ قَالَ يَقُولُ بَلَى. قَالَ فَيَقُولُ فَإِنِّى لاَ أُجِيزُ عَلَى نَفْسِى إِلاَّ شَاهِدًا مِنِّى قَالَ فَيَقُولُ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ شَهِيدًا وَبِالْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ شُهُودًا – قَالَ – فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ فَيُقَالُ لأَرْكَانِهِ انْطِقِى. قَالَ فَتَنْطِقُ بِأَعْمَالِهِ – قَالَ – ثُمَّ يُخَلَّى بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَلاَمِ – قَالَ – فَيَقُولُ بُعْدًا لَكُنَّ وَسُحْقًا. فَعَنْكُنَّ كُنْتُ أُنَاضِلُ

“(Aku tertawa) karena perbincangan seorang hamba kepada Rabbnya. Dia berkata, “Wahai Rabbku, bukankah Engkau tidak akan menzalimiku?” Allah berfirman, “Tentu saja”. Dia kembali berkata, “Aku tidak membolehkan ada yang menjadi saksi atas diriku kecuali dari diriku sendiri.” Maka Allah berfirman, “Cukuplah dirimu pada hari ini sebagai saksi, dan cukuplah para malaikat pencatat amal sebagai saki.” Lalu dikuncilah mulutnya, dan dikatakan kepada anggota tubuhnya, “Berbicaralah”, maka anggota tubuhnya pun berbicara menyampaikan amalan-amalan yang telah dilakukannya. Kemudian orang itu dibiarkan sendirian bersama dengan ucapannya. Maka dia berkata, celaka kamu (wahai anggata tubuh), sungguh aku berusaha untuk membela dirimu. [16] 

Umat Yang Pertama Kali Dihisab

Umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umat yang terakhir muncul di dunia. Meski demikian, mereka adalah umat pertama yang akan dihisab oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَحْنُ الآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kita adalah orang-orang yang belakangan, namun terdahulu pada hari kiamat. [17] [18]

Dalam hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan Ibnu Majah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَحْنُ آخِرُ الأُمَمِ وَأَوَّلُ مَنْ يُحَاسَبُ

“Kita adalah umat terakhir, dan yang pertama kali dihisab. [19] [20]

Amalan Yang Pertama Dihisab

Adapun amalan hamba yang pertama kali dihisab, maka diperinci:

Shalat

Amalan yang berkaitan dengan hak Allah, maka yang pertama kali dihisab adalah shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

“Sesungguhnya amalan hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka dia pasti beruntung. Namun jika rusak shalatnya maka dia pasti merugi. [21]

Masalah darah

Sedangkan amalan yang berkaitan dengan hak sesama manusia, maka yang pertama kali dihisab adalah tentang masalah darah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِى الدِّمَاءِ

“Yang pertama kali diadili di antara manusia pada hari kiamat adalah tentang urusan darah. [22] [23]

Referensi

  1. Al-La’ali’u Al-Bahiyyah fi Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, 2/242.
  2. Mu’jam Maqayis Al-Lughah, 2/59.
  3. Mausu’ah Al-Aqidah Wal Adyan Wal Firaq Wal Madzahib Al-Mu’ashirah, 2/944.
  4. QS. Al-Mujadilah: 6.
  5. Al-Qiyamah Al-Kubra, hlm. 193.
  6. QS. Al-Ghasyiyah: 25-26.
  7. QS. Al-Hijr: 92.
  8. HR. Al-Bukhari no. 6539.
  9. HR. Muslim no. 1016.
  10. HR. Al-Bukhari no. 6472.
  11. HR. Muslim no. 220.
  12. QS. Al-Insyiqaq: 7-8.
  13. HR. Al-Bukhari no. 6537.
  14. HR. Muslim no. 2876.
  15. QS. Yasin: 65.
  16. HR. Muslim no. 2969.
  17. HR. Al-Bukhari no. 876.
  18. HR. Muslim no. 855.
  19. HR. Ibnu Majah no. 4290.
  20. Ash-Shahihah, no. 2374
  21. HR. At-Tirmidzi no. 413.
  22. HR. Al-Bukhari no. 6864.
  23. HR. Muslim no. 1678.