Al-Quran

Al-Quran adalah kitab suci Allah yang paling sempurna. Allah menurunkan kitab suci ini kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia yang hidup di akhir zaman.

Mengimani Al-Quran merupakan pokok penting dalam iman terhadap kitab suci Allah. Sedangkan beriman kepada kitab suci Allah adalah salah satu rukun iman.

Definisi Al-Quran

Secara bahasa

Secara bahasa, kata Al-Quran (القرآن) merupakan bentuk mashdar dari kata kerja qara’a (قَرَأَ). Dan kata kerja qara’a merupakan akar kata yang menunjukkan pada makna (الجَمْع) yang berarti mengumpulkan, menghimpun dan menggabungkan.

Maka kitab suci Al-Quran dinamai Al-Quran karena dia menghimpun berbagai hukum, kisah, dan lain sebagainya yang terkandung di dalamnya. ((Mu’jam Maqayis Al-Lughah, 5/79.))

Abu Ishaq an-Nahwi berkata, “Kalam Allah yang Dia turunkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dinamakan Kitab, Quran, dan Furqan. Dan makan Al-Quran adalah Al-Jama’ (kumpulan). Dinamakan Quran karena dia mengumpulkan surAt-surat dan menghimpunnya.” ((Lisanul Arab, 1/128.))

Dan sebagian ulama menyebutkan bahwa penamaan kitab suci ini dengan Al-Quran, karena dia menghimpun isi kandungan dari kitab-kitab suci terdahulu, bahkan menghimpun berbagai bidang ilmu. Sebagaimana yang Allah isyaratkan pada firman-Nya,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu.” ((QS. An-Nahl: 89.))

Dan dalam firman-Nya,

مَّا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَيْءٍ

“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab.” ((QS. Al-An’am: 38.)) ((Mabahits fii Ulumil Quran, Manna’ Qathan, hlm. 15.))

Kata kerja qara’a (قرأ) juga bisa berarti membaca, karena dalam membaca terdapat makna menghimpun dan mengumpulkan huruf dan kata-kata dalam bacaannya. Allah berfirman,

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ * فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

“Sesungguhnya atas tanggungan Kami lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” ((QS. Al-Qiyamah: 17-18.))

Dan Al-Quran dinamakan Al-Quran (dengan tinjauan makna ini) karena dia adalah sesuatu yang dibaca. ((Mabahits fii Ulumil Quran, hlm. 14-15.))

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata, “Al-Quran Al-Karim secara bahasa adalah mashdar dari kata qara’a (قرأ) yang bermakna membaca atau menghimpun… Berdasar makna pertama (membaca) maka mashdar ini bermakna isim maf’ul, yaitu sesuatu yang dibaca. Dan berdasarkan makan kedua (menghimpun), maka mashdar ini bermakna isim fa’il, sehingga bermakna yang menghimpun kabar berita dan hukum-hukum.” ((Ushul fit Tafsir, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hlm. 6.))

Secara istilah

Secara istilah, Al-Quran didefinisikan dengan: “Kalam (perkataan) Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai mukjizat, dan membacanya merupakan ibadah.” ((Ma’alim Ushul Al-Fiqhi ‘inda Ahlissunnah wal Jama’ah, karya Muhammad bin Husain Al-Jizani, hlm. 106.))

Dari pengertian ini bisa dijelaskan sebagai berikut:

Al-Quran adalah kalam Allah

Kalam Allah adalah sifat Allah, dan sifat Allah bukan makhluk. Maka al quran bukan makhluk.

Dalil bahwa Al-Quran kalam Allah, adalah firman Allah,

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman (kalam) Allah.” ((QS. At-Taubah: 6.))

Abu Utsman ash-Shabuni berkata, “Ahlul hadits (ahlussunnah) bersaksi dan berkeyakinan bahwa Al-Quran adalah kalam Allah, kitab-Nya, wahyu-Nya, yang Dia turunkan. Al-Quran bukan makhluk. Barangsiapa berpendapat dan berkeyakinan Al-Quran makhluk maka dia kafir menurut mereka.” ((Aqidatus Salaf wa Ash-habil Hadits, Abu Utsman Ismail bin Abdirrahman ash-Shabuni, hlm. 165.))

Beliau juga berkata, “(Al-Quran ini) adalah yang dihafal dalam dada, dibaca oleh lisan, ditulis pada mushaf, bagaimanapun (Al-Quran ini) dibaca, dilafalkan, dihafal, dan di mana pun dibaca, atau ditulis di mushaf kaum muslimin atau di papan tulis anak-anak mereka, dan lain sebagainya; semuanya adalah kalam Allah -Jalla Jalaaluhu- bukan makhluk. Barangsiapa menyangka Al-Quran makhluk, maka dia kafir kepada Allah yang maha agung.” ((Aqidatus Salaf wa Ash-habil Hadits, Abu Utsman Ismail bin Abdirrahman ash-Shabuni, hlm. 166.))

Maka Al-Quran adalah kalam Allah secara hakiki; (mencakup) huruf-huruf dan makna-maknanya. Kalam Allah bukan hanya huruf-huruf tanpa makna, dan bukan pula makna-makna tanpa huruf… Maka pendengaran (manusia) adalah makhluk, sedangkan (perkataan) yang didengar (dari bacaan Al-Quran) bukan makhluk. Suara orang yang membaca adalah makhluk, akan tetapi bacaan yang dibaca bukanlah makhluk. Tulisannya (pada mushaf) adalah makhluk, sedangkan (perkataan) yang tertulis bukanlah makhluk. ((Mukhtashar Ma’arijul Qabul, Abu Ashim Hisyam bin Abdulqadir bin Muhammad Alu Uqdah, hlm. 56-57.))

Dan Allah berbicara menyampaikan Al-Quran ini dengan suara-Nya sendiri. Namun jika hamba-hamba membacanya, maka mereka membaca dengan suara mereka sendiri. Jika seseorang membaca (الحمد لله رب العالمين) misalnya, maka perkataan (kalam) yang didengar darinya adalah kalam Allah bukan perkataan orang itu, namun dia membacanya dengan suara dia sendiri bukan dengan suara Allah. ((Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Muhammad Khalil Harras, hlm. 154.))

Al-Quran diturunkan dari sisi Allah kepada Nabi Muhammad

Allah berfirman,

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ * عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ

“dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,” ((QS. Asy-Syu’ara: 193.))

Maka Al-Quran diturunkan dari sisi Allah dan disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika menjelaskan ayAt-ayat tentang kalam Allah yang dibawakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Syaikh Muhammad Khalil Harras berkata, “AyAt-ayat ini menunjukkan juga bahwa Al-Quran diturunkan dari sisi Allah. Artinya, Allah berbicara menyampaikan Al-Quran ini dengan suara yang didengar oleh Jibril -‘alaihissalam- lali Jibril membawanya turun dan menyampaikannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam persis sebagaimana dia dengar dari Allah.” ((Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Muhammad Khalil Harras, hlm. 154.))

Al-Quran sebagai mukjizat

Maksudnya, Allah menjadikan Al-Quran ini sebagai mukjizat yang menguatkan kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah. Allah menjadikan Al-Quran sebagai kitab yang paling sempurna sehingga manusia tidak akan mampu untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran, bahkan tidak mampu untuk mendatangkan yang semisal dengan surat yang ada pada Al-Quran.

Allah berfirman,

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” ((QS. Al-Isra: 88.))

Allah juga berfirman,

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ * فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا وَلَن تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), maka peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” ((QS. Al-Baqarah: 23-24.))

Dengan Al-Quran ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menantang orang-orang Arab (untuk membuat yang semisal dengannya). Al-Quran turun dengan bahasa mereka, sedangkan mereka adalah orang-orang yang memiliki kefasihan dan kemampuan tinggi dalam menjelaskan. Namun mereka lemah dan tidak mampu untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran, atau sepuluh surat yang semisal dengannya, atau bahkan satu surat yang semisalnya. Maka Al-Quran ini benar-benar menjadi mukjizat (memiliki kekuatan yang bisa melemahkan manusia). Dan dengan mukjizat ini menjadi lebih pasti kebenaran risalah ini. ((Mabahits fii Ulumil Quran, hlm. 13.))

Maka dengan mukjizat Al-Quran ini, banyak manusia yang beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِىٌّ إِلاَّ أُعْطِىَ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِى أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَىَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidak ada seorang Nabi pun melainkan dia telah diberi sesuatu (mukjizat) yang menjadikan orang-orang akan beriman. Dan yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Maka aku berharap aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat. ((HR. Al-Bukhari no. 4981.)) ((HR. Muslim no. 152.))

Membaca Al-Quran merupakan ibadah

Al-Quran dan Sunnah, keduanya sama-sama wahyu yang turun dari Allah. Namun Al-Quran berbeda dengan Sunnah karena membaca lafal-lafal dalam Al-Quran merupakan ibadah dan setiap hurufnya akan mendatangkan pahala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم َرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka dia akan mendapatkan satu kebaikan. Dan setiap kebaikan dilipatkan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan “alif laam miim” satu huruf, akan tetapi “alif” satu huruf, “laam” satu huruf, dan “miim” satu huruf.” ((HR. At-Tirmidzi no. 2912.)) ((Shahih Al-Jami, Al-Albani, no. 6345.))

Bahkan membaca Al-Quran menjadi satu ibadah yang wajib dilakukan dalam shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak (sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (surat Al-Fatihah).” ((HR. Al-Bukhari no. 756.)) ((HR. Muslim no. 394.))

Nama-nama dan Sifat-sifat Al-Quran

Al-Quran memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sangat banyak, di antaranya: ((Mabahits fii Ulumil Quran, hlm. 16-18.)) ((Al-Itqan fii Ulumil Quran, 2/336-345.))

Al-Quran

Dalilnya adalah firman Allah,

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” ((QS. Al-Isra: 9.))

Al-Kitab

Dalilnya adalah firman Allah,

حم * وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ

“Haa miim. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan.” ((QS. Ad-Dukhan: 1-2.))

Al-Quran dinamakan Al-Kitab karena Al-Quran mengumpulkan berbagai macam ilmu, kisah, kabar secara sempurna. Dan kata “Al-kitab” secara bahasa memiliki makna “Al-jama’” yaitu mengumpulkan.

Al-Furqan

Dalilnya adalah firman Allah,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” ((QS. Al-Furqan: 1.))

Al-Quran dinamakan Al-Furqan karena Al-Quran membedakan antara Al-Haq dan Al-Bathil.

Adz-Dzikr

Dalilnya adalah firman Allah,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” ((QS. Al-Hijr: 9.))

Dinamakan adz-Dzikr, karena di dalam Al-Quran terdapat berbagai nasihat, peringatan dan kabar tentang umAt-umat terdahulu. Dan kata Ad-Dzikr juga bisa bermakna kemuliaan.

Huda, Syifa, Rahmat, Mau’izhah

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran (mau’izhah) dari Tuhanmu dan penyembuh (syifa) bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk (huda) serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” ((QS. Yunus: 57.))

Disebut “huda” karena Al-Quran mengandung petunjuk kepada kebenaran.

Disebut “syifa” karena Al-Quran menjadi obat bagi penyakit-penyakit hati seperti kekafiran, kebodohan, dan kedengkian. Juga menjadi obat bagi penyakit-penyakit badan.

Disebut “mau’izhah” karena di dalam Al-Quran terdapat pelajaran, nasihat, dan peringatan dari amalan-amalan yang menyebabkan kemurkaan Allah.

Disebut “rahmat” karena dengan mengikuti petunjuk Al-Quran, akan diperoleh kebaikan dan balasan pahala di dunia maupun akhirat. ((Taisirul Karimir Rahman, Abdurrahman as-Sa’di, hlm. 367.))

An-Nuur (cahaya)

Allah berfirman,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا

“Dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya (Nuur) yang terang benderang (Al Quran).” ((QS. An-Nisa: 174.))

Al-Quran disebut “an-Nur” atau cahaya, karena dengan Al-Quran akan diketahui perkara-perkara yang samar dari yang halal dan haram.

Mubaarak

Allah berfirman,

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati (mubaarak), maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” ((QS. Al-An’am: 155.))

Disebut “mubaarak”, karena di dalam Al-Quran terdapat kebaikan yang sangat banyak dan ilmu yang melimpah. Tidak ada kebaikan melainkan diserukan dan dianjurkan oleh Al-Quran. Dan tidak ada keburukan melainkan dilarang dan diperingatkan oleh Al-Quran. ((Taisirul Karimir Rahman, hlm. 281.))

Ar-Ruuh

Allah berfirman,

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruuh (wahyu Al Quran) dengan perintah Kami.” ((QS. Asy-Syura: 52.))

Disebut “ar-Ruuh”, karena dengan Al-Quran hati-hati dan jiwa manusia akan menjadi hidup.

Muhaimin

Allah berfirman,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu;” ((QS. Al-Maidah: 48.))

Disebut “muhaimin” karena Al-Quran menjadi saksi dan hakim atas kitab-kitab sebelumnya. Apa saja yang sesuai dengan Al-Quran maka itulah Al-haq, dan yang menyelisihinya adalah bathil. Hal itu karena Allah menjadikan Al-Quran sebagai kitab yang paling sempurna, paling agung, dan paling hikmah. Di mana Al-Quran mencakup semua kebaikan yang ada pada kitab-kitab sebelumnya, dan lebih dari itu dalam Al-Quran terdapat berbagai kesempurnaan dan kebaikan yang tidak ada pada kitab sebelumnya. ((Tafsir Al-Quran Al-Azhim, Ibnu Katsir, 3/128.))

Keistimewaan Al-Quran

Al-Quran sebagai kitab suci terakhir yang Allah turunkan kepada umat manusia memiliki keistimewaan dan kelebihan dibandingkan dengan kitab suci sebelumnya. Meskipun semuanya adalah kitab suci yang turun dari Allah dan pasti memiliki kemuliaan.

Berikut ini beberapa keistimewaan dan kelebihan kitab suci Al-Quran dibandingkan dengan kitab-kitab suci sebelumnya: ((Ushul Al-Iman fii Dhauil Kitab was Sunnah, hlm. 144-148.))

1- Risalah dan syariat yang terkandung dalam Al-Quran berlaku secara umum untuk manusia dan jin seluruhnya semenjak diturunkannya Al-Quran sampai hari kiamat, tidak ada seorang pun kecuali harus mengimaninya. Allah berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” ((QS. Al-Furqan: 1.))

Allah juga menyebutkan bahwa dahulu ketika bangsa jin mendengar tentang Al-Quran ini, mereka segera beriman kepadanya. Allah berfirman,

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا * يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

“Katakanlah (hai Muhammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorang pun dengan Tuhan kami,” ((QS. Al-Jin: 1-2.))

2- Al-Quran menasakh (menghapus hukum-hukum) kitab-kitab suci yang sebelumnya. Sehingga setelah turunnya Al-Quran ini tidak boleh bagi ahli kitab ataupun yang lain untuk beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang terkandung dalam Al-Quran. Maka tidak ada agama yang berlaku dan diterima Allah kecuali yang dibawa dalam Al-Quran. Tidak ada ibadah yang sah dan diterima kecuali ibadah yang disyariatkan Allah dalam Al-Quran. Tidak ada yang halal kecuali yang dihalalkan dalam Al-Quran. Tidak ada yang haram kecuali yang diharamkan dalam Al-Quran.

Allah berfirman,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” ((QS. Ali Imran: 85.))

3- Kemudahan syariat yang dibawa oleh Al-Quran. Berbeda dengan syariat yang dibawa oleh kitab-kitab suci sebelumnya yang mengandung banyak beban dan belenggu yang diwajibkan kepada umatnya.

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” ((QS. Al-A’raf: 157.))

4- Al-Quran adalah satu-satunya kitab yang dijamin penjagaannya oleh Allah, baik secara lafal maupun maknanya. Sehingga Al-Quran sama sekali tidak akan kemasukan perubahan baik dalam lafal maupun makna. Allah berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” ((QS. Al-Hijr: 9.))

5- Al-Quran mengandung inti sari dari ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab-kitab suci terdahulu. Allah berfirman,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu;” ((QS. Al-Maidah: 48.))

6- Al-Quran mengandung kabar berita tentang para Rasul dan umat terdahulu, dengan perincian yang tidak pernah ada pada kitab sebelumnya. Allah berfirman,

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” ((QS. Hud: 120.))

Hak-hak Al-Quran

Al-Quran memiliki hak-hak yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Di antara hak Al-Quran yang paling penting adalah:

Al-Quran wajib diimani

Beriman kepada Al-Quran merupakan hak pokok Al-Quran yang paling wajib untuk dipenuhi. Karena beriman kepada Al-Quran merupakan salah satu dari rukun iman yang enam. Maka seseorang tidak menjadi muslim apabila tidak beriman kepada Al-Quran.

Allah berfirman,

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ((QS. At-Taghabun: 8.))

Hak untuk dibaca

Allah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menunjukkan umat ini akan hak Al-Quran untuk dibaca dalam firman-Nya,

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ * وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ

“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan supaya aku membacakan Al-Quran.” ((QS. An-Naml: 91-92.))

Allah juga memerintah untuk membaca Al-Quran, dengan firman-Nya,

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” ((QS. Al-Muzzammil: 4.))

Hak untuk dihafal

Di antara hak Al-Quran, adalah dihafalkannya ayAt-ayat Al-Quran. Hanya saja harus dipahami bahwa Allah tidak membebani setiap individu untuk menghafal Al-Quran secara keseluruhan. Akan tetapi yang wajib bagi setiap individu untuk menghafalkannya dari Al-Quran adalah yang wajib dia gunakan untuk menegakkan shalat; yaitu surat Al-Fatihah.

Salah satu dalil akan hak dihafalkannya Al-Quran, adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Dikatakan (pada hari kiamat) kepada orang yang menghafal Al-Quran: Bacalah dan naiklah, dan bacalah dengan tartil sebagaimana kamu (dahulu) membaca di dunia. Karena tempat tinggalmu pada akhir ayat yang kamu baca. ((HR. Abu Daud, no. 1464.)) ((Shahihul Jami’, Al-Albani, no. 8122.))

Hak untuk ditadabburi

Tadabbur atau merenungi dan memperhatikan makna dan kandungan Al-Quran merupakan salah satu hak Al-Quran. Bahkan merupakan salah satu hikmah dan tujuan diturunkannya Al-Quran. Allah berfirman,

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (mentadabburi) ayAt-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” ((QS. Shad: 29.))

Hak untuk diamalkan dan diikuti petunjuknya

Yang dimaksud dengan hak untuk diamalkan, adalah mengamalkan kandungan yang ada dalam Al-Quran. Yaitu dengan meyakini kebenaran kabar berita yang ada dalam Al-Quran, melaksanakan perintah-perintah Al-Quran, dan menjauhi larangan-larangan Al-Quran.

Allah berfirman,

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” ((QS. Al-An’am: 155.))

Hak untuk dijadikan sumber hukum

Allah berfirman,

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Tentang sesuatu apapun yang kamu berselisih padanya, maka putusan hukumnya (diserahkan) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Hanya kepada-Nya lah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya lah aku kembali.” ((QS. Asy-Syura: 10.))

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Apa saja yang kalian berselisih padanya, baik tentang pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya, di antara perkara yang kalian tidak sepakat padanya, maka hukumnya kepada Allah. Yakni dikembalikan kepada kitab-Nya dan kepada sunnah Rasul-Nya. Maka hukum apa saja yang ditetapkan keduanya (Al-Kitab dan Sunnah), itulah yang hak (benar). Dan yang menyelisihi keduanya adalah batil (salah).” ((Taisirul Karimir Rahman, hlm. 753.))

Hak untuk dimuliakan dan diagungkan

Al-Quran adalah kalam Allah. Maka termasuk hak Al-Quran adalah untuk dimuliakan dan diagungkan. Sebagaimana kita mengagungkan dan memuliakan Allah, maka kita juga harus memuliakan dan mengagungkan kalam-Nya, yaitu Al-Quran. Dan di antara bentuk pengagungan terhadap Al-Quran adalah menjadikannya sebagai satu satunya petunjuk terbaik yang kita yakini kebenarannya, kita amalkan perintahnya dan kita jauhi larangannya.

Dari sini nampak sekali bahayanya pendapat sesat yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk. Karena apabila Al-Quran diyakini sebagai makhluk, maka otomatis pengagungan dan pemuliaan terhadap Al-Quran akan berkurang bahkan akan hilang. Sehingga hal itu bisa berdampak buruk pada munculnya keyakinan Al-Quran tidak layak dijadikan petunjuk. Karena mereka akan menganggap Al-Quran makhluk dan akal manusia juga makhluk, dan tidak ada keistimewaan atau kelebihan Al-Quran dari pada akal manusia. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan.

Hak untuk dijadikan obat penyembuh penyakit

Allah berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” ((QS. Al-Isra: 82.))

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Maka obat penawar yang dikandung oleh Al-Quran adalah bersifat umum. Obat untuk (penyakit) hati, seperti syubhat, kebodohan, pendapat yang rusak, penyimpangan yang buruk, dan niAt-niat yang jelek. Karena Al-Quran mengandung ilmu yakin yang akan menghilangkan semua syubhat dan kebodohan. Al-Quran juga mengandung nasihat dan peringatan yang akan menghilangkan semua bentuk syahwat yang menyelisihi perintah Allah. Demikian pula obat untuk badan dari berbagai penyakit-penyakitnya.” ((Taisirul Karimir Rahman, hlm. 465.))

Hak untuk disampaikan kepada umat manusia

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanAt-Nya.” ((QS. Al-Maidah: 67.))

Hak untuk tidak dipisahkan dari Sunnah

Al-Quran dan Sunnah adalah dua wahyu yang turun dari Allah sebagai petunjuk bagi umat manusia. Oleh karena itu, Al-Quran dan Sunnah adalah dua perkara yang tidak boleh dipisahkan. Klaim mengikuti Al-Quran tidak akan benar kecuali dengan mengikuti Sunnah (hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Karena Al-Quran sendiri memerintahkan kita untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sumber Sunnah.

Allah berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ((QS. Ali Imran: 31.))

Allah juga berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” ((QS. Al-Hasyr: 7.))

Terlebih lagi, banyak sekali perintah-perintah dalam Al-Quran yang bersifat global yang perlu penjelasan dari Sunnah. Sehingga tidak mungkin kita bisa mengamalkan Al-Quran kecuali dengan Sunnah.

Referensi