Tauhid

Tauhid adalah kewajiban pertama dan utama bagi setiap mukalaf. Tauhid adalah perkara yang memasukkan seseorang ke dalam Islam. Dan dengan tauhid diharapkan seseorang meninggalkan dunia ini. Tidaklah jin dan manusia diciptakan kecuali untuk mewujudkan tauhid. Dan para Rasul diutus untuk mendakwahkan tauhid, sebagaimana kitab suci diturunkan untuk menjadi pedoman dalam tauhid.

Maka tauhid harus dikenal dan dipelajari sehingga diketahui dan diwujudkan secara benar. 

Definisi Tauhid

Secara bahasa

Kata tauhid (التوحيد) adalah bentuk mashdar dari kata kerja “wahhada – yuwahhidu” (وَحَّدَ – يُوَحِّدُ). Dan kata kerja ini tersusun dari tiga huruf utama; waw, haa, dan daal. 

Ibnu Faris berkata, “(Huruf) waw, haa dan daal, adalah satu akar kata yang menunjukkan kepada makna kesendirian (keesaan, hal yang tunggal).[1]

Maka kata kerja “wahhada” memiliki arti menjadikan sesuatu sebagai sesuatu yang satu. [2] [3]

Hanya saja ketika dikatakan “Mentauhidkan Allah” maknanya adalah menisbatkan dan meyakini keesaan (sifat tunggal) bagi Allah, bukan menjadikan Allah sebagai sesuatu yang satu. Karena keesaan Allah adalah sifat yang melekat pada Allah, bukan karena dijadikan oleh orang yang menjadikannya satu. [4]

Secara istilah

Para ulama telah menyebutkan pengertian tauhid dengan kalimat yang berbeda-beda dalam kitab-kitab mereka, meski inti dan hakikatnya adalah sama.

As-Safarini rahimahullah berkata, “Tauhid menurut (istilah) syar’i adalah mengesakan dzat yang disembah (yaitu Allah) dengan peribadahan, disertai keyakinan akan keesaan-Nya secara dzat, sifat dan perbuatan.” [5]

Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdulwahhab rahimahumullah berkata, “Agama Islam disebut tauhid karena agama ini dibangun di atas (keyakinan) bahwa Allah adalah tunggal (esa) dalam kerajaan-Nya, dalam perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Dia adalah tunggal dalam dzat-Nya dan sifat-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Dan Dia adalah tunggal dalam ilahiyah-Nya dan dalam peribadahan (hamba) kepada-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya. [6]

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Tauhid adalah keyakinan akan keesaan Allah dalam mencipta dan mengatur, dan pemurnian ibadah hanya kepada Allah, meninggalkan peribadahan kepada siapa saja selain Allah, serta menetapkan nama-nama yang maha indah dan sifat-sifat yang maha tinggi bagi Allah, dan mensucikan Allah dari berbagai kekurangan dan celaan.” [7]

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Tauhid kepada Allah adalah mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dan meniadakan persekutuan dari-Nya, dalam hak-hak Nya dan yang menjadi kekhususan-Nya.” [8]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Menurut syariat, tauhid adalah mengesakan Allah subhaanahu, dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya; yaitu dalam hal Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat.” [9] 

Dalil-dalil Tauhid

Sangat banyak dalil-dalil yang menunjukkan kepada tauhid, baik dari Al-Quran maupun As-Sunnah.

Allah berfirman,

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. [10]

Allah juga berfirman,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” [11]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Allah tabaaraka wa ta’aalaa berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang pada amalan itu dia menyekutukan sesuatu yang lain bersama dengan-Ku, maka Aku akan meninggalkan dia bersama dengan sekutunya.” [12]

Pembagian Tauhid

Yang dimaksud dengan pembagian tauhid di sini adalah perincian dan penjelasan tentang hal-hal apa saja yang wajib ditunggalkan atau diesakan berkenaan dengan hak-hak dan kekhususan Allah subhanahu wa ta’ala. Dan hal itu terdapat dalam tiga perkara; Rububiyah Allah, Uluhiyah Allah dan yang ketiga adalah dalam hal nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Pembagian tauhid seperti ini diperoleh dari istiqra’, yaitu penelitian secara menyeluruh terhadap dalil-dalil dari Al-Quran Al-Karim.

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Istiqra’ (penelitian secara menyeluruh) terhadap Al-Quran Al-Azhim menunjukkan bahwa tauhid kepada Allah terbagi menjadi tiga macam…” [13]

Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah mengomentari perkataan beliau dengan mengatakan, “Beliau rahimahullah telah mengingatkan bahwa macam-macam tauhid yang tiga ini diperoleh dengan istiqra’ (penelitian secara menyeluruh) terhadap nash-nash Al-Quran Al-Karim. Dengan ini diketahui bahwa pembagian tauhid merupakan hakikat syar’i yang diambil dari Kitab Allah, bukan hanya istilah yang dibuat oleh sebagian ulama.” [14]

Maka dari istiqra’ tersebut, para ulama membagi tauhid menjadi tiga macam:

  1. Tauhid Rububiyah.
  2. Tauhid Uluhiyah.
  3. Tauhid Asma wa Shifat.

Sedangkan ulama lain membaginya menjadi dua macam:

  1. Tauhid fil Ma’rifah wal Itsbat, yang mencakup Tauhid Rububiyah dan Asma wa Shifat.
  2. Tauhid fith Thalab wal Qashd, yaitu Tauhid Uluhiyah.

Dan tidak ada pertentangan antara dua metode pembagian tauhid ini.

Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdilwahhab rahimahumullah setelah menyampaikan pengertian tauhid yang mencakup tiga macam tauhid, beliau berkata, “Dan jika kamu mau, kamu bisa mengatakan; tauhid itu ada dua macam. Tauhid fil Ma’rifah wal Itsbat (tauhid dalam hal pengetahuan tentang kekhususan Allah dan dalam hal penetapan hak-hak Allah), yaitu Tauhid Rububiyah dan Asma wa Shifat. Dan (yang kedua) Tauhid fith Thalab wal Qashd (tauhid dalam hal perbuatan ibadah, niat dan tujuan hamba), yaitu Tauhid Ilahiyah wal Ibadah (Tauhid Uluhiyah)…” [6]

Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan Nya. Yaitu dengan meyakini bahwa hanya Dia semata yang mencipta seluruh makhluk. Dan bahwa hanya dia semata yang yang memberi rezeki kepada seluruh makhluk. Dan hanya dia penguasa seluruh kerajaan, yang mengatur seluruh alam semesta, yang mengangkat dan menurunkan penguasa, yang memuliakan dan merendahkan, yang berkuasa atas segala sesuatu, yang mengatur malam dan siang, yang menghidupkan dan mematikan. [15] 

Syaikh Sulaiman rahimahullah menerangkan, Tauhid Rububiyah adalah pengakuan bahwa Allah Rabb (Tuhannya) segala sesuatu, yang menguasai dan memilikinya, yang menciptanya, yang memberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi manfaat dan mudarat, yang esa dalam mengijabahi doa, yang menguasai semua urusan, seluruh kebaikan berada di tangan-Nya, yang mampu atas segala sesuatu yang Dia kehendaki, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu semua. Dan iman kepada takdir termasuk bagian dari tauhid rububiyah. [16] 

Dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan makna tauhid Rububiyah dengan mengesakan Allah dalam tiga perkara; dalam hal penciptaan, dalam hal kerajaan (kekuasaan dan kepemilikan), dan dalam hal pengaturan. [17] [18] 

Dalil-dalil Tauhid Rububiyah sangat banyak, di antaranya adalah firman Allah,

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” [19]

Juga firman Allah,

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu.” [20]

Allah juga berfirman,

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [21]

Dan Allah telah menjadikan fitrah seluruh makhluk mengakui Rububiyah-Nya. Sampai pun orang-orang musyrik yang membuat sekutu dan tandingan bagi Allah dalam hal ibadah, mereka pun mengakui keesaan Allah dalam hal Rububiyah. [22] Allah berfirman,

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ * قُلْ مَن بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُونَ

“Katakanlah: Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah: Maka kenapa kamu tidak bertakwa? Katakanlah: Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah: (Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” [23]

Oleh karena itu, seorang hamba tidak cukup hanya memiliki tauhid ini untuk masuk ke dalam Islam. Akan tetapi di samping adanya tauhid ini, dia juga harus melaksanakan konsekuensinya, yaitu Tauhid Uluhiyah. [24]

Tauhid Uluhiyah

Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam peribadahan. Yaitu, engkau tidak menjadi hamba kepada selain Allah. Engkau tidak menyembah atau beribadah kepada Malaikat, Nabi, wali, syaikh, seorang ibu, bapak, atau yang lain. Engkau tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah saja. Maka engkau mengesakan Allah semata dalam peribadahan. [25]

Dengan penjelasan lain, Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah ta’ala dalam perbuatan yang dilakukan oleh hamba; seperti doa, nadzar, menyembelih, berharap, rasa takut, tawakal [26], memohon pertolongan, meminta perlindungan, dan lain sebagainya.

Dan tauhid ini, adalah yang terkandung dalam firman Allah,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” [27]

Juga dalam firman-Nya,

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Maka sembahlah Dia, dan bertawakal lah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” [28]

Juga dalam firman-Nya,

فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: Cukuplah Allah bagiku; tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” [29] [30]

Tauhid ini adalah agama ini secara keseluruhan dari awal sampai akhirnya, lahir dan batinnya. Dan tauhid ini adalah yang menjadi awal dan akhir dari dakwah semua para Rasul. Dan tauhid inilah yang menjadi makna kalimat “Laa ilaaha illallah”. [30]

Allah telah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” [31]

Allah juga berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami mewahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25)

Tauhid ini juga disebut dengan Tauhid Ibadah, ditinjau dari sisi peribadahan yang menjadi sifat hamba. Di mana seorang hamba wajib untuk beribadah kepada Allah secara ikhlas (dengan memurnikan) ibadah itu hanya kepada Allah, karena hajat dan kebutuhan hamba kepada Allah. [32]

Tauhid Asma wa Shifat

Tauhid Asma wa Shifat adalah mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi hak Allah. Maka tauhid ini mengandung dua perkara penting:

Pertama; menetapkan seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Kedua; meniadakan penyerupaan. Yaitu, kita tidak menjadikan adanya sesuatu yang serupa bagi Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. [33] 

Sebagai contoh: As-Samii’ (السميع) adalah Allah. As-Samii’ (yang artinya maha mendengar) adalah salah satu nama Allah yang khusus bagi Allah jika disandarkan kepada Allah. Dan menunjukkan sifat Allah, mendengar. Maka nama-nama dan sifat-sifat ini jika disandarkan kepada Allah, wajib untuk diesakan bagi Allah. Maka pendengaran yang sempurna tidak dimiliki kecuali oleh Allah. Penglihatan yang sempurna tidak dimiliki kecuali oleh Allah. Kekuasaan dan kemampuan yang sempurna tidak dimiliki kecuali oleh Allah. Dan begitu seterusnya. [34] 

Hakikat tauhid Asma wa Shifat berdiri di atas tiga pondasi:

  1. Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah, sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Serta meniadakan apa saja yang ditiadakan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Meniadakan penyerupaan kekhususan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.
  3. Tidak berusaha mencari tahu tentang hakikat dan gambaran hakiki dari sifat-sifat Allah. Karena hakikat dari sifat-sifat Allah termasuk perkara yang gaib. [35] [36]

Di antara dalil Tauhid Asma wa Shifat, Allah berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [37]

Allah juga berfirman,

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ

“Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi.” [38]

 

Allah berfirman,

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” [39] 

Hubungan Antara Tiga Macam Tauhid

Tiga macam tauhid di atas tidak boleh dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lain. Karena antara satu macam tauhid dengan yang lain memiliki keterkaitan yang sangat erat. 

Tauhid Rububiyah menuntut dan mengharuskan adanya Tauhid Uluhiyah. Maknanya, orang yang mengakui rububiyah Allah, maka dia tertuntut untuk mengakui bahwa tidak ada yang berhak mendapatkan peribadahan hamba kecuali hanya Allah saja. Dan barangsiapa yang telah mentauhidkan Allah dalam hal Rububiyah secara sempurna, maka hal itu akan menyebabkan dia beribadah hanya kepada Allah. [40] [41] 

Sedangkan Tauhid Uluhiyah mengandung Tauhid Rububiyah. Maknanya, setiap orang yang telah mentauhidkan Allah dalam beribadah kepada-Nya, maka berarti dia telah mengakui Rububiyah Allah. [42] 

Adapun Tauhid Asma wa Shifat, maka dia mencakup Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah sekaligus. Karena di antara nama Allah adalah Ar-Rabb yang dalam nama ini terkandung makna bahwa Allah memiliki sifat Rububiyah. Sedangkan nama dengan lafal “Allah” mengandung makna bahwa Allah memiliki sifat Uluhiyah. [43]

Maka seseorang dikatakan sebagai orang yang bertauhid apabila telah mewujudkan tiga macam tauhid itu seluruhnya. Dan barangsiapa mengaku telah melaksanakan salah satu dari tiga macam tauhid ini namun tidak melaksanakan yang lain, bisa dipastikan bahwa dia tidak melaksanakan tauhid tersebut secara sempurna sebagaimana yang diinginkan.

Kalimat Tauhid

Kalimat Tauhid adalah satu kalimat yang merepresentasikan makna tauhid secara menyeluruh. Kalimat yang dimaksud adalah kalimat لاَ إِلهَ إِلاَّ الله (Laa ilaaha illallah), yang maknanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan hanya Allah saja.

Rukun Kalimat Tauhid

Dari kalimat tauhid ini bisa diambil dua rukun yang keduanya harus terpenuhi seluruhnya agar seseorang benar-benar dikatakan bertauhid.

Rukun pertama: An-Nafyu (peniadaan)

Yaitu meniadakan hak-hak ketuhanan dan sifat-sifat ketuhanan dari selain Allah. Maka kita tiadakan dari selain Allah, sifat rububiyah, demikian pula sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak, dan kita tiadakan pula hak untuk diibadahi dan disembah.

Rukun kedua: Al-Itsbat (penetapan)

Yaitu menetapkan hak-hak ketuhanan dan sifat-sifat ketuhanan itu hanya untuk Allah semata. Maka kita menetapkan hanya untuk Allah, sifat rububiyah, sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak, dan kita tetapkan pula hak untuk diibadahi dan disembah hanya untuk Allah semata. 

Jika kita memperhatikan dalil-dalil tauhid, pasti akan kita dapati dua rukun ini. Misalnya dalam firman Allah,

فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” [44]

Ingkar kepada thaghut (semua sesembahan selain Allah) adalah makna dari rukun yang pertama, An-Nafyu. Sedangkan beriman kepada Allah adalah makna dari rukun yang kedua, yaitu Al-Itsbat.

Demikian pula perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang Allah sampaikan dalam Al-Quran,

إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ * إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي

“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (Allah) yang menciptakan aku.” [45]

Maka perkataan beliau, “Aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah” merupakan makna dari rukun yang pertama, yaitu peniadaan hak disembah dari selain Allah. Sedangkan perkataan beliau “Kecuali (Allah) yang telah menciptakan aku”, merupakan makna dari rukun pertama, yaitu penetapan hak untuk disembah bagi Allah. [46]

Syarat-syarat Kalimat Tauhid

Dan kalimat tauhid ini akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya apabila terpenuhi syarat-syaratnya. Adapun syarat-syarat kalimat tauhid adalah sebagai berikut. [47] 

1- Mengilmui makna kalimat tauhid, termasuk mengilmui dua rukun yang terkandung di dalamnya; yaitu peniadaan (an-nafyu) dan penetapan (al-itsbat). Allah berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan yang hak) selain Allah.” [48]

2- Yakin akan kebenaran kandungan makna yang ditunjukkan oleh kalimat tauhid, dan tidak ada keraguan sedikit pun padanya. Allah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu.” [49] 

3- Menerima dengan hati dan lisan, apa yang menjadi tuntutan dan konsekuensi dari kalimat tauhid, tidak mendustakan ataupun menolaknya. Allah berfirman tentang orang-orang kafir,

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ * وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” [50] 

4- Tunduk (inqiyad) dan pasrah terhadap apa yang ditunjukkan oleh kalimat Tauhid, dan tidak meninggalkannya. Allah berfirman,

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” [51]

5- Jujur dalam mengucapkan kalimat tauhid, tidak berdusta padanya. Di mana dia mengucapkan kalimat itu secara jujur dari hatinya dan ada kesesuaian antara lisan dan hati. Allah berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ * يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ * فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [52] 

6- Ikhlas dalam kalimat tauhid. Yaitu membersihkan amalan-amalan dari berbagai kotoran-kotoran syirik. Allah berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” [53]

7- Mencintai kalimat tauhid dan apa yang menjadi konsekuensi dan kandungannya. Termasuk juga mencintai orang-orang yang bertauhid, yang berpegang teguh dengan tauhid dan berusaha memenuhi syarat-syaratnya. Serta membenci lawan dari tauhid. Allah berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” [54]

Lawan Tauhid

Tauhid memiliki lawan yang harus dihindari dalam rangka merealisasikan tauhid. Secara ringkas, lawan tauhid terbagi menjadi dua; pembatal tauhid, dan pengurang kesempurnaan tauhid. [55]

Pembatal Tauhid

Yang dimaksud dengan pembatal tauhid, adalah yang bisa menggugurkan seluruh amalan dan membatalkan agama Islam seseorang. Pembatal ini tercakup dalam tiga hal:

Kufur besar dengan berbagai macam bentuknya

Allah berfirman,

وَمَن يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” [56]

Syirik besar dengan berbagai macam bentuknya

Allah berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapus amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [57]

Nifak besar dengan berbagai macam bentuknya

Allah berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” [58] 

Pengurang kesempurnaan Tauhid

Adapun pengurang kesempurnaan tauhid, adalah berbagai kemaksiatan dan penyimpangan yang bisa mengurangi kesempurnaan tauhid namun tidak membatalkan dan merusak tauhid dari dasarnya. Dan yang termasuk pengurang kesempurnaan tauhid adalah kufur kecil, nifak amali (nifak kecil), syirik kecil, dan umumnya dosa-dosa besar. Dosa-dosa seperti ini apabila ada pada diri seorang hamba maka akan mengurangi kesempurnaan tauhidnya, dan imannya akan berkurang. 

Keistimewaan Tauhid

Tauhid memiliki keistimewaan dan keutamaan yang sangat banyak, yang menunjukkan akan tingginya kedudukan tauhid. Di antara keistimewaan tauhid adalah sebagai berikut: [59]

Tauhid adalah tujuan diciptakannya manusia dan jin

Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” [60]

Tauhid adalah poros dakwah para Nabi dan Rasul

Maksudnya, bahwa dakwah seluruh para Nabi terpusat dan tegak di atas tauhid. Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” [61] 

Tauhid adalah kewajiban yang paling pertama bagi seorang mukalaf

Maka hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang manusia untuk masuk ke dalam agam Islam adalah tauhid. Demikian pula hal pertama yang wajib didakwahkan oleh seorang pendakwah adalah  tauhid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan hanya Allah. [62] [63] 

Tauhid adalah sebab untuk mendapatkan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat

Allah berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [64] 

Dalam tauhid terdapat keselamatan dari kebingungan dan kontradiksi

Berbeda dengan akidah dan keyakinan lainnya, pasti akan terdapat kontradiksi dan kebingungan bagi para pemeluknya. Hal ini karena tauhid bersumber pada Al-Quran yang berasal dari Allah. Sedangkan akidah dan keyakinan lain berasal dari makhluk. Dan Allah telah berfirman,

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [65]

Tauhid adalah keyakinan yang sesuai dengan fitrah dan akal yang sehat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

“Tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan melainkan dilahirkan di atas fitrah. Lalu kedua orang tuanya menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi. Sebagaimana binatang ternak mengeluarkan anak yang sempurna, apakah kamu mendapati cacat (telah terpotong sebagian anggota tubuhnya) padanya? [66] [67]

Binatang ternak terlahir dari induknya dalam keadaan sempurna anggota tubuhnya. Kemudian apabila terputus salah satu anggota tubuhnya, baik kaki, tangan, telinga atau yang lain, maka itu bukanlah dari asal penciptaan binatang ternak tersebut. Akan tetapi itu adalah akibat perbuatan manusia setelah binatang itu lahir dalam keadaan sempurna.

Demikianlah anak manusia yang dilahirkan. Dia berada dalam keadaan fitrah sampai orang tuanya yang menyimpangkan anak tersebut dari fitrahnya. Dan dalam hadits ini Rasulullah n tidak mengatakan “atau kedua orang tuanya menjadikannya muslim”, karena agama Islam dan tauhid itulah agama fitrah.

Tauhid adalah tali ikatan yang hakiki dan akan terus berlaku di dunia dan akhirat

Allah berfirman,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” [68]

Maka semua hubungan di antara sesama manusia akan terputus kecuali hubungan yang dibangun di atas tauhid dan keimanan kepada Allah.

Keselamatan sumber pengambilan tauhid

Karena tauhid diambil dari sumber yang jelas kebenarannya dan tidak akan terkena kebatilan sedikit pun. Yaitu Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang keduanya adalah wahyu dari Allah.

Allah menjamin penjagaan tauhid dan agama tauhid

Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” [69]

Allah juga berfirman,

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” [70]

Tauhid mengandung buah dan keutamaan yang sangat banyak di dunia dan akhirat

Buah dan Faedah Tauhid

Tauhid memiliki buah dan faedah yang sangat banyak tidak terhitung dan tak terhingga. Allah mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ *تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” [71]

Berikut ini di antara buah dan faedah dari tauhid yang akan diperoleh seorang hamba di dunia dan akhirat. [72]

1- Semua kebaikan yang didapati seorang hamba di dunia dan akhirat, demikian pula keburukan yang terluput dari seorang hamba di dunia dan akhirat; adalah buah dan pengaruh dari tauhid.

2- Di antara buah terbesar dari tauhid adalah diterimanya amal seorang hamba. Karena amalan seorang hamba tidak akan sah dan diterima kecuali jika dibangun di atas tauhid. Sehingga tauhid bagaikan fondasi bagi suatu bangunan amal. Oleh karena itu Allah berfirman,

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya diberi balasan dengan baik.” [73]

Allah juga berfirman,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” [74]

3- Mendapatkan keberuntungan dan kedudukan tinggi di dunia dan akhirat. Allah berfirman,

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” [75]

Dan “Al-Falah” (keberuntungan) adalah satu kata yang digunakan untuk mengungkapkan diraihnya kebaikan di dunia dan akhirat. Maka kebaikan dunia dan akhirat tidak akan bisa diraih kecuali dengan tauhid dan mengikhlaskan agama hanya untuk Allah.

4- Mendapatkan surga dan selamat dari neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan sesuatu pun kepada Allah, niscaya dia masuk surga. Dan barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan sesuatu kepada Allah, niscaya dia masuk ke dalam neraka. [76]

5- Orang yang bertauhid akan menjadi lapang dadanya. Dan lapangnya dada seseorang akan sesuai dengan kadar kesempurnaan tauhid pada dirinya. Allah berfirman,

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [77]

Maka hidayah Allah dan tauhid adalah sebab terbesar untuk lapang dada. Sedangkan syirik dan kesesatan adalah sebab terbesar sempit dan sesaknya dada seorang hamba.

6- Dengan tauhid, Allah menjanjikan kemuliaan dan kemenangan di dunia, serta kekuasaan di muka bumi dan baiknya keadaan.

Allah berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [78]

7- Tauhid akan membuka bagi seorang hamba pintu kebaikan, kebahagiaan, kegembiraan, kelezatan hidup, kenyamanan, dan ketenteraman. Allah berfirman,

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ * وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [79]

Referensi

  1. Mu’jam Maqayis Al-Lughah, 6/90.
  2. Al-Qamus Al-Muhith, 414.
  3. Mausu’atul Aqidah wal Adyan wal Firaq wal Madzahib al-Mu’ashirah, 2/773.
  4. Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyyah, Syaikh Muhammad bin Ahmad As-Safarini, 1/56-57.
  5. Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyyah, 1/57.
  6. Taisirul Azizil Hamid, hlm. 120.
  7. Aqidatu At-Tauhid, hlm. 20.
  8. Min Ma’aalim at-Tauhid, hlm. 17.
  9. Al-Qaulul Mufid, 1/5.
  10. QS. Ar-Ra’d: 16.
  11. QS. Al-Ikhlas: 1-4.
  12. HR. Muslim no. 2985.
  13. Al-Qaulus Sadid fii Ar-Radd ‘ala Man Ankara Taqsimat Tauhid, Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr, hlm. 23.
  14. Al-Qaulus Sadid fii Ar-Radd ‘ala Man Ankara Taqsimat Tauhid, Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr, hlm. 30.
  15. Aqidatut Tauhid, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hlm. 22.
  16. Taisirul Azizil Hamid, hlm. 120-121.
  17. Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, 1/21.
  18. Al-Qaulul Mufid, 1/5.
  19. QS. Al-A’raf: 54.
  20. QS. Ali ‘Imran: 189.
  21. QS. Hud: 6.
  22. Aqidatut Tauhid, hlm. 23.
  23. QS. Al-Mu’minun: 86-89.
  24. Taisirul Azizil Hamid, hlm. 121.
  25. Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, 1/24.
  26. Aqidatut Tauhid, hlm. 42.
  27. QS. Al-Fatihah: 5.
  28. QS. Hud: 123.
  29. QS. At-Taubah: 129.
  30. Taisirul Azizil Hamid, hlm. 124.
  31. QS. An-Nahl: 36.
  32. Aqidatut Tauhid, hlm. 43.
  33. Al-Qaulul Mufid, 1/12.
  34. Durus Muhimmah li ‘Aammatil Ummah fil Aqidah, Syaikh Ahmad Muhammad Shadiq An-Najjar, hlm. 14.
  35. Durus Muhimmah li ‘Aammatil Ummah fil Aqidah, hlm. 22.
  36. Mausu’ah Al-Aqidah Wal Adyan, 2/785-786.
  37. QS. Al-A’raf: 180.
  38. QS. An-Nahl: 60.
  39. QS. Asy-Syura: 11.
  40. Aqidatut Tauhid, hlm. 37.
  41. Durus Muhimmah li ‘Aammatil Ummah fil Aqidah, hlm. 40.
  42. Durus Muhimmah li ‘Aammatil Ummah fil Aqidah, hlm. 40.
  43. Durus Muhimmah li ‘Aammatil Ummah fil Aqidah, hlm. 39.
  44. QS. Al-Baqarah: 256.
  45. QS. Az-Zukhruf: 26-27.
  46. Aqidatut Tauhid, hlm. 46-47.
  47. Ma’aarijul Qabul, 2/418-424.
  48. QS. Muhammad: 19.
  49. QS. Al-Hujurat: 15.
  50. QS. Ash-Shaffat: 35-36.
  51. QS. Luqman: 22.
  52. QS. Al-Baqarah: 8-10.
  53. QS. Al-Bayyinah: 5.
  54. QS. Al-Baqarah: 165.
  55. Min Ma’aalim At Tauhid, hlm. 27-29.
  56. QS. Al-Maidah: 5.
  57. QS. Az-Zumar: 65.
  58. QS. An-Nisa: 145.
  59. Min Ma’aalim At-Tauhid, hlm. 5-16.
  60. QS. Adz-Dzariyat: 56.
  61. QS. An-Nahl: 36.
  62. HR. Al-Bukhari no. 25.
  63. HR. Muslim no. 21.
  64. QS. Al-An’am: 82.
  65. QS. An-Nisa: 82.
  66. HR. Al-Bukhari no. 1358.
  67. HR. Muslim no. 2658.
  68. QS. Az-Zukhruf: 67.
  69. QS. At-Taubah: 33.
  70. QS. Ar-Rum: 47.
  71. QS. Ibrahim: 24-25.
  72. Min Ma’aalim At-Tauhid, hlm. 42-47.
  73. QS. Al-Isra: 19.
  74. QS. At-Taubah: 54.
  75. QS. Al-Baqarah: 5.
  76. HR. Muslim no. 93.
  77. QS. Al-An’am: 125.
  78. QS. An-Nur: 55.
  79. QS. Thaha: 123.